"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."
Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.
Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.
Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28 : Ketakutan Selena di Depan Mata.
Suasana jalan Pandanaran sudah mulai padat merayap. Mobil Rani melaju dengan kecepatan normal membelah jalanan. Suara klakson dari beragam jenis kendaraan saling beradu, bercampur dengan lagu blackpink yang berjudul stay terdengar. Rani memutar lagu kesukaannya agar suasana di dalam mobil tidak terlalu sunyi.
Selena yang sudah duduk manis di samping Rani hanya menatap keluar dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dikuasai beragam pertanyaan semalam. Laptop yang menyala sendiri, email anonim yang terus mengirimkan pesan serta perasaan seperti diawasi terus menerus masih menggema di bayangnya.
"Selena," Rani perlahan mengguncangkan bahu Selena dengan tangan kirinya dan berusaha untuk fokus menyetir.
"Kenapa. Ada apa. Kusut banget tuh muka. Padahal perasaan tadi waktu gue jemput bahagia banget. Ini kok tiba-tiba gini lagi?"
Perlahan, Selena menghela napasnya dalam-dalam. "Nggak papa. Gue oke kok. Versi yang masih hidup. Soalnya ketenangan gue udah tergadai."
"Astaga dragon. Masih dikasih napas aja harus bersyukur neng," cibir Rani pada Selena.
Mendengar hal itu, Selena hanya tersenyum simpul. Perasaannya tidak benar-benar dapat dijelaskan secara detail. Karena dia pun bingung harus menjelaskannya bagaimana.
Lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah. Seketika, mobil yang dikendarai Rani pun menginjak rem perlahan. Bersamaan dengan itu, gawai Selena bergetar.
Ia membuka gawai dan terkejut dengan siapa yang mengirim pesan. Hal itu membuat dahinya sedikit mengeryit.
Aksa Maheswara
Nama yang akhir-akhir ini membuat dia merasa harus curiga pada pemilik nama tersebut karena kelakuannya terlampau tenang.
"Ran. Gue dapet pesan." Tutur Selena pelan.
"Ha dari siapa. Jawab dong. Siapa tau penting," respon Rani.
"Aksa Maheswara." Respon Selena singkat.
Ekspresi Rani sedikit terkejut. Ia melirik singkat ke Selena dan fokus menyetir. "Aksa yang kemarin itu?"
"Huum."
Lampu lalu lintas kembali berubah hijau. Rani dengan cepat menurunkan rem tangan dan menekan pedal gas perlahan.
"Len, lagi nggapain? Sibuk nggak? Kalau nggak sibuk, aku pengen ketemu di PawPaw cafe sore ini, bisa nggak?"
Jemari Selena masih menggantung di atas layar gawai. Rasanya ia ingin mengetikkan sesuatu untuk membalas, namun hati kecilnya dipenuhi keraguan.
"Gimana. Dia ngajak kemana?"
"Dia ngajak ketemu lagi di PawPaw cafe. Sore nanti setelah pulang kerja," terang Selena.
"Dan lu mau?" Tanya Rani ingin mengkonfirmasi apakah Selena mau bertemu atau tidak dengan Aksa.
"Gue belum tau," Selena menjawab jujur pertanyaan Rani.
"Misal lu ngerasa ada yang aneh dan buat lu nggak enak....."
"Hemthh. Justru karena nggak enak itulah gue kepo," Selena memotong secara cepat pernyataan Rani.
Rani sebenarnya sudah ada perasaan tidak enak dengan Aksa sejak awal. Tapi, karena Selena bersikeras ya sudah dia diam saja.
"Ya sudah, gue temanin nggak nanti sore," Rani menawarkan diri untuk menemani Selena.
"Nggak usah, ketemunya juga di tempat ramai. Nggak bakal macam-macam lah si Aksa. Mana berani," respon Selena.
******
Suasana kantor Sagara Pustaka sudah terpantau sepi. Hari ini para pegawai pulang cepat karena salah satu petinggi di kantor itu ada yang melangsungkan pernikahan.
"Ran, anterin ke PawPaw cafe lagi, boleh?".
"Ya udah ayo gue anterin," respon Rani dengan muka yang sedikit khawatir.
"Makasih ya sist. Doakan semoga gue dapat jawabannya nanti pas ketemu sama Aksa."
Rani hanya mengangguk dan meninggalkan Selena. Begitu mobil Rani menghilang dari pandangannya. Selena segera masuk dan bersiap.
"Ingat Sel. Cuma ketemu aja. Cuma ngobrol. Bajunya jangan aneh-aneh," gumamnya.
Ketika tengah bersiap, gawainya bergetar kembali.
"Aku sudah di PawPaw cafe. Duduk di dekat jendela. Jangan buru-buru kesini nya."
"Oke."
Selena membalas dengan cepat dan singkat. Ia buru-buru memesan taksi untuk ke PawPaw cafe.
******
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Selena sampai di PawPaw Cafe. Ia memesan taksi karena Rani tiba-tiba ada acara. Jadi tidak bisa mengantarnya.
Suasana PawPaw Cafe sore itu terbilang cukup ramai. Aroma kopi dan beberapa kue manis siap menggoda Selena begitu ia melangkahkan kakinya masuk. Tak lupa, kucing-kucing imut di sana pun segera menghampiri Selena.
Netranya langsung melihat sekeliling cafe dan tak lama ia menangkap sosok Aksa.
Ia duduk tenang, punggungnya ditegakkan, satu tangan memegang secangkir kopi dan yang satu lagi memainkan gawai.
Perlahan, setelah memesan apa yang diinginkan, Selena mendekati Aksa.
"Eh maaf ya, udah lama kah nunggunya? Tadi macet," keluh Selena. Ia pun meletakkan tasnya di meja.
"Ah tidak masalah. Aku tidak lama. Baru saja kok," respon Aksa.
"Kamu santai banget. Kek nggak ada beban," tutur Selena memantik pembicaraan.
"Menyesap kopi cukup membantu membuatku tenang," katanya dengan sedikit terkekeh.
Pelayan cafe pun mengantarkan pesanan Selena. Segelas cokelat dingin dan kue coklat kesukaannya.
"Terima kasih, kak."
Pelayan itu lalu tersenyum ramah, meninggalkan Selena dan Aksa untuk kembali berbincang.
"Terlihat lelah akhir-akhir ini. Ada masalah apa?" Tanya Aksa.
"Setiap hari aku selalu gelisah," ungkap Selena akhirnya.
"Hemthh.... Maaf, aku mendengar sedikit tentang kasus mu. Maaf kalau ini menyinggung kamu, Selena." Kata Aksa pelan.
"Santai aja, udah biasa kok." Jawab singkat Selena.
Mendengar respon Selena, Aksa mengangguk perlahan. Matanya sedikit menelisik Selena dengan cara yang cukup membuat Selena tidak nyaman.
"Begini, aku sebenarnya mengajakmu bertemu karena beberapa hal, Selena." Ungkap Aksa.
"Nah, ngomong lah. Mumpung aku udah ada disini," jawab Selena semangat.
"Aku punya firasat kamu sedang diposisi yang sangat nggak aman."
Selena seketika terdiam. Jantung nya seketika berdetak lebih kencang. "Apa maksudnya?"
"Kadang, bahaya itu datang bukan dari orang yang terlihat marah. Melainkan orang yang terlalu tenang."
Ada yang aneh dengan kalimat yang dilontarkan Aksa. Kalimat itu seperti email anonim yang pernah Selena terima.
"Kenapa mirip banget kek email anonim yang selalu gue terima ya," gumamnya perlahan.
"Apa, email anonim?" Aksa ikut terkejut.
"Huum.... Dan kalimat yang kamu ucapkan itu terlalu mirip untuk dibilang kebetulan," tambahnya.
"Aku juga tidak tau. Mungkin karena ada orang yang menganggap bahwa orang yang memiliki pola pikir tenang sering melihat pola yang sama."
"Tapi, kalimat tersebut terlalu mustahil untuk disebut sebagai kebetulan saja." Tambah Selena.
Suasana seketika hening. Perlahan, senyum Aksa memudar. Namun dengan segera senyumnya kembali lagi.
"Terlalu curiga dengan orang yang ingin membantumu tidak baik, Selena." Tuturnya lembut. "Namun tenang saja. Aku tidak menyalahkan mu."
Aksa kembali membuang pandangannya ke luar jendela. "Aku hanya berniat membantumu. Karena aku tau rasanya dipermainkan oleh keadaan, Selena."
"Klasik sekali pernyataan mu, Aksa," gumam Selena.
"Hahaha. Dan sepertinya kamu tidak terlalu menyukai jawaban klasik ya."
"Betul. Aku tidak menyukai jawaban klasik. Karena bisa jadi jawaban itu bukan jawaban tulus," ujar Selena cepat.
Kali ini, tatapan Aksa pada Selena lama, "Kamu cukup pintar ternyata, Selena."
"Tidak juga. Kamu saja yang terlalu tenang, Aksa. Jarang sekali aku menemukan lelaki yang setenang ini."
Dan untuk kali pertama, Aksa tidak langsung merespon pernyataan Selena.
Suasana seketika hening. Lalu ada kucing orange gemuk mendekat ke Selena. Ia bermanja-manja dan Aksa melihat keduanya pun gemas dan memperlihatkan sisi lembutnya.
"Siapa namamu, kucing manis," tanya Aksa dengan lembut.
"Hai Om. Namaku Nindya, aku kucing perempuan om," kata Selena dengan suara yang dibuat seolah-olah imut.
Aksa memperhatikan lebih dalam wajah Selena.
"Oh tuhan. Kapan aku bisa memiliki dia sepenuhnya. Tanpa ada campur tangan dari Bhima Artha Pradana. Sang pengecut sejati," gumamnya.
Selena Aria Widyantara sudah masuk terlalu jauh dalam permainan yang baru saja dimulai.
******