Di Chicago modern, kekuasaan bukan lagi soal siapa yang paling banyak menembak. Tapi siapa yang paling bersih menutupinya.
Kenalan dengan Luca Rossi, si Cleaner. Dia bukan tukang bersih-bersih biasa, tapi Consigliere dingin yang jadi otak di balik organisasi mafia Moretti. Dinding kantornya rapi, suit-nya mahal, tapi tangannya berlumur semua dirty work Keluarga—dari pembukuan yang dimanipulasi sampai menghilangkan jejak kejahatan.
Masalahnya, kini Keluarga Moretti di ambang collapse. Bos lama sekarat. Kekuasaan jatuh ke tangan Marco, si pewaris baru yang psikopat, ceroboh, dan hobi bikin drama. Marco melanggar semua aturan, dan Luca tahu: kalau dia diam, seluruh empire mereka hancur. Dengan bantuan Sofia, istri Bos yang terlihat polos tapi menyimpan banyak kartu, Luca memutuskan satu hal brutal: Ia harus mengkhianati bos barunya sendiri.
Di tengah rencana kotornya, Luca bertemu Isabella. Dia cantik, pintar, dan vibe-nya langsung nyambung sama Luca yang kaku. Luca akhirnya merasakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: THE LEGACY PROTOCOL
Malam di Chicago tidak pernah benar-benar gelap; ia hanya berubah warna menjadi biru elektrik dan perak di balik kaca antipeluru lantai 80 Moretti Tower. Di ruangan itu, Luca Rossi berdiri sendirian. Di usianya yang kini menyentuh akhir kepala empat, ia tampak seperti personifikasi dari kontrol yang mutlak. Rambutnya yang mulai beruban di bagian pelipis justru menambah aura otoritas yang tenang, sejenis ketenangan yang hanya dimiliki oleh pria yang telah mengubur cukup banyak rahasia untuk memenuhi sebuah katedral.
Di hadapannya, tiga layar holografik menampilkan aliran data yang tak pernah berhenti. Itu adalah detak jantung dari kerajaan bayangannya: pergerakan saham The Elena Foundation, logistik global yang tersamarkan, dan yang paling krusial, The Ghost Protocol—sebuah algoritma pertahanan yang secara otomatis menghapus setiap jejak digital yang mengaitkan namanya dengan kekerasan masa lalu.
Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah garis merah tipis muncul di sudut layar paling bawah. Itu bukan serangan brute force seperti yang dilakukan The Syndicate di Berlin sepuluh tahun lalu. Ini adalah sesuatu yang lebih personal. Sesuatu yang disebut "The Genesis File."
Luca menyentuh layar dengan jari yang tidak gemetar. File itu adalah rekaman CCTV hitam-putih dari sebuah gang di Palermo, bertanggal dua puluh lima tahun yang lalu. Itu adalah malam pertama ia menjadi The Ghost. Malam di mana ia membunuh untuk pertama kalinya demi melindungi Elena.
"Bagaimana mungkin ini masih ada?" bisik Luca pada kesunyian.
Ia telah menghabiskan jutaan dolar dan ribuan jam kerja Isabella untuk memastikan rekaman itu musnah dari setiap server di bumi. Namun, di sana, di layar itu, ia melihat dirinya yang lebih muda, penuh amarah, memegang senjata dengan tangan yang masih bergetar.
Sebuah pesan muncul di bawah video tersebut:
"Kesucian adalah sebuah kebohongan yang mahal, Tuan Rossi. Saatnya membayar tagihannya."
Pagi harinya, suasana di markas kampanye Elena di Magnificent Mile sangat kontras dengan ketegangan pribadi Luca. Elena, yang kini menjadi kandidat Senator terkuat di Illinois, sedang dikelilingi oleh staf muda yang ambisius. Ia adalah simbol harapan, seorang wanita yang mengubah tragedi pribadi menjadi misi kemanusiaan global.
Luca masuk ke ruangan itu, dan kerumunan staf segera memberikan jalan. Mereka menghormatinya sebagai "Tuan Rossi," sang arsitek di balik kesuksesan Elena. Namun, Elena melihat sesuatu yang berbeda di mata Luca. Ada bayangan yang sudah lama tidak ia lihat sejak hari-hari mereka di Napoli.
"Luca," sapa Elena, suaranya kini memiliki nada otoritas seorang politisi ulung. "Kau terlihat kurang tidur. Apakah ada masalah dengan pendanaan di Eropa?"
"Kita perlu bicara, Senator," jawab Luca pendek.
Mereka pindah ke ruang kerja pribadi Elena yang kedap suara. Luca menyerahkan sebuah tablet terenkripsi. Elena melihat rekaman Palermo itu, dan untuk sesaat, topeng ketenangannya retak. Wajahnya memucat, tangannya yang mengenakan cincin zamrud mahal bergetar kecil.
"Ini... ini seharusnya sudah hilang," bisik Elena. "Jika ini keluar sekarang, sepuluh tahun kerja keras kita, Yayasan, kampanye Senat... semuanya akan runtuh dalam semalam. Mereka akan menyebutku sebagai 'Ratu Mafia'."
"Aku tahu," kata Luca, suaranya berat. "Seseorang telah menemukan celah dalam sejarah kita yang paling dalam. Seseorang yang tidak menginginkan uang, Elena. Mereka menginginkan kehancuran moral kita."
"Siapa?"
"Aku sedang mencarinya. Tapi kau harus tetap tenang. Jangan ubah jadwalmu. Jika kau terlihat panik, pers akan menciumnya," perintah Luca.
Saat ia berjalan keluar, Luca menyadari satu hal yang menyakitkan: Elena tidak lagi bertanya bagaimana perasaannya atau apakah ia aman. Elena hanya peduli pada perisai itu. Perisai yang ia bangun dengan darah kini telah menjadi lebih penting daripada pria yang membangunnya.
Luca kembali ke markas pribadinya. Ia tahu hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa membantu melacak sumber Genesis File tanpa meninggalkan jejak lebih lanjut.
Ia membuka jalur komunikasi merah yang belum pernah disentuhnya selama tiga tahun. Jalur menuju Isabella.
"Aku sudah menunggumu, Luca," suara Isabella terdengar melalui pengeras suara, jernih dan tajam seperti kristal yang pecah. "Aku melihat pergerakan di dark web enam jam yang lalu. The Genesis File sedang dilelang di pasar tertutup."
"Siapa penjualnya, Isabella?"
"Seorang anonim yang menyebut dirinya 'The Archivist'. Dia tidak menggunakan protokol mafia. Dia menggunakan taktik aktivis. Dia ingin mengungkap 'Kebenaran Besar'. Luca, ini bukan tentang dendam keluarga lagi. Ini adalah generasi baru yang membenci dunia yang kau bangun."
"Berapa banyak waktu yang kita punya?"
"Lelang berakhir dalam dua puluh empat jam. Jika kita tidak memenangkan file itu atau menghancurkan sumbernya, ia akan dilepaskan ke setiap kantor berita besar di dunia pada jam sibuk kampanye Elena," jelas Isabella.
"Aku akan ke Jenewa," kata Luca. "Isabella, aku butuh kau di sana secara fisik. Aku tidak bisa melakukan ini dari balik layar lagi."
"Jenewa? Itu adalah sarang bagi intelijen global, Luca. Jika kau tertangkap di sana, tidak ada jumlah kedermawanan Elena yang bisa menyelamatkanmu."
"Aku sudah mati sejak lama, Isabella," jawab Luca dingin. "Yang tersisa hanyalah pekerjaan pembersihan ini."
Jenewa di musim dingin adalah labirin kabut dan kemewahan yang sunyi. Luca tiba di sebuah vila pribadi di pinggiran Danau Leman. Di sana, Isabella menunggunya.
Pertemuan mereka kali ini tidak memiliki ketegangan seksual atau emosional seperti di Paris atau Berlin. Mereka adalah dua orang tua yang telah menjadi budak dari sistem yang mereka ciptakan sendiri. Isabella terlihat lebih kurus, matanya selalu waspada, tangannya terus bergerak di atas keyboard.
"Penjualnya ada di bunker data di bawah pegunungan Alpen," kata Isabella, menunjuk ke peta digital. "Ini adalah fasilitas penyimpanan data pribadi yang paling aman di dunia. The Archivist beroperasi dari sana karena hukum privasi Swiss melindunginya."
"Bagaimana kita masuk?"
"Kita tidak masuk sebagai penjahat, Luca. Kita masuk sebagai auditor," Isabella tersenyum tipis. "Aku telah memalsukan surat perintah dari Bank Sentral Eropa. Kita punya waktu tiga jam untuk menemukan server mereka dan menghapus file itu secara permanen."
Luca memeriksa senjatanya—sebuah pistol khusus yang tidak mengandung logam, dirancang untuk melewati pemindai paling canggih. "Vito dan timnya akan mengalihkan perhatian di luar?"
"Vito sudah di posisi. Tapi Luca... ada sesuatu yang harus kau tahu. The Archivist... dia bukan orang asing."
Luca berhenti menarik pelatuk senjatanya. "Apa maksudmu?"
Isabella ragu sejenak. "Data biologis yang terlampir pada profil enkripsinya... dia memiliki DNA Mancini. Luca, dia adalah putra dari salah satu pria yang kau bunuh di gang Palermo itu. Dia telah menghabiskan dua puluh tahun untuk mencarimu."
Luca terdiam. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada peluru manapun. Lingkaran kekerasan yang ia pikir telah ia putus dengan membangun yayasan filantropi, ternyata hanya tumbuh subur di dalam kegelapan, menunggu untuk menuntut balas.
Fasilitas itu adalah keajaiban teknologi. Dinding baja putih, lampu neon biru, dan suhu udara yang diatur secara presisi untuk menjaga ribuan server tetap dingin. Luca dan Isabella bergerak seperti bayangan di koridor yang steril.
Vito memulai pengalihannya di gerbang depan, menciptakan kegagalan sistem tenaga listrik yang memberikan Luca jendela waktu lima menit untuk masuk ke ruang server utama.
Di dalam ruangan yang bising dengan suara kipas pendingin, Luca menemukan seorang pemuda yang duduk di depan konsol utama. Pemuda itu tidak terlihat seperti pembunuh. Ia tampak seperti seorang cendekiawan, mengenakan kacamata dan sweter wol sederhana.
"Kau akhirnya datang, Tuan Rossi," kata pemuda itu tanpa berbalik. "Atau harus kupanggil The Ghost?"
Luca menodongkan senjatanya. "Hapus filenya, Nak. Jangan buat aku melakukan sesuatu yang akan kusesali."
Pemuda itu, yang namanya ternyata adalah Julian, berbalik dan menatap Luca dengan mata yang penuh dengan kebencian murni namun terkendali. "Menyesal? Kau sudah menghancurkan hidupku dua puluh lima tahun lalu. Kau mengambil ayahku, dan kau menggantinya dengan apa? Sebuah yayasan amal? Kau pikir beberapa juta dolar untuk anak yatim bisa mencuci darah di tanganmu?"
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk melindungi seseorang yang tidak bersalah," jawab Luca, suaranya parau.
"Elena tidak pernah tidak bersalah, Luca! Dia adalah bagian dari mesinmu!" teriak Julian. "Aku sudah menekan tombol upload. Dalam sepuluh menit, seluruh dunia akan tahu siapa Senator favorit mereka sebenarnya."
Isabella, yang sedang sibuk di konsol lain, berteriak, "Luca! Enkripsinya terlalu kuat! Aku tidak bisa menghentikan unggahannya dari sini. Kita butuh kunci fisik dari Julian!"
Luca mendekati Julian. Ia bisa saja menembaknya, tetapi ia melihat dirinya sendiri di mata pemuda itu—seorang anak yang hidupnya hancur oleh kekejaman dunia.
"Julian, dengarkan aku," kata Luca, menurunkan senjatanya. "Jika kau melepaskan file itu, kau tidak hanya menghancurkan Elena. Kau menghancurkan harapan ribuan orang yang bergantung pada yayasan itu. Kau akan memulai perang saudara di Chicago yang akan membunuh lebih banyak ayah. Apakah itu yang kau inginkan?"
"Aku ingin keadilan!"
"Di dunia kita, tidak ada keadilan. Yang ada hanyalah pembersihan," kata Luca. "Biarkan aku melakukan pembersihan terakhir. Ambil nyawaku, tapi hapus file itu. Biarkan Elena tetap menjadi perisai bagi mereka yang membutuhkannya."
Julian ragu. Untuk sesaat, ruangan itu terasa membeku.
Tiba-tiba, lampu darurat menyala merah. Pasukan keamanan bunker telah menyadari kehadiran mereka. Tembakan terdengar dari arah koridor.
"Isabella, ambil kuncinya!" perintah Luca.
Isabella bergerak cepat, merebut flash drive dari leher Julian di tengah kekacauan. Julian mencoba melawan, tetapi Luca mendorongnya ke lantai saat peluru menembus kaca ruang server.
"Hapus semuanya, Isabella! Sekarang!" teriak Luca sambil membalas tembakan ke arah pintu.
Isabella memasukkan kunci itu dan jemarinya menari di atas keyboard. "Proses penghapusan dimulai... 10%... 40%... Luca, kita harus pergi!"
Luca tertembak di bahu, tetapi ia terus berdiri, menjadi barikade manusia antara Isabella dan pasukan keamanan. Ia melihat Julian yang ketakutan di bawah meja.
"Pergilah, Nak!" teriak Luca. "Gunakan uang yang kumasukkan ke rekeningmu untuk membangun hidup yang tidak berdarah! Jangan menjadi sepertiku!"
Julian, melihat pengorbanan pria yang ia benci, akhirnya melarikan diri melalui jalur darurat.
"90%... 100%. Data musnah. Genesis File telah dihapus dari semua cache," suara Isabella terdengar lega.
Vito masuk ke ruangan dengan timnya, memberikan perlindungan bagi Luca dan Isabella untuk mundur. Mereka melarikan diri ke dalam kegelapan pegunungan Alpen saat bunker itu meledak dalam sabotase digital yang menghancurkan seluruh server di dalamnya.
Kembali ke Chicago, kemenangan Elena sebagai Senator diumumkan secara resmi di semua saluran berita. Ia berdiri di podium, tampak bercahaya dan suci, sementara jutaan orang bersorak untuknya.
Luca menonton dari kejauhan, di sebuah klinik pribadi tersembunyi. Bahunya dibalut, dan wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. Isabella duduk di sampingnya, memegang segelas wiski.
"Dia menang," kata Isabella, menunjuk ke layar TV. "Dia tidak akan pernah tahu seberapa dekat dia dengan kehancuran."
"Itu memang tugasnya, Isabella," jawab Luca. "Menjadi cahaya. Dan tugasku adalah tetap berada di bayangan, memastikan cahaya itu tidak pernah padam."
Elena menelepon Luca beberapa jam kemudian.
"Luca, kita berhasil," suara Elena terdengar penuh kegembiraan politik. "Laporan audit yayasan sudah keluar, dan kita bersih. Terima kasih atas kerja kerasmu di Eropa. Sekarang, kita punya pekerjaan besar di Washington."
Elena tidak bertanya tentang luka Luca. Dia tidak bertanya tentang Julian. Baginya, pembersihan itu hanyalah sebuah transaksi administratif yang sukses.
Luca menutup telepon. Ia merasa hampa. Ia telah menyelamatkan perisai itu, tetapi ia menyadari bahwa ia telah kehilangan wanita yang ia cintai sejak lama. Elena yang ia lindungi di Palermo telah mati, digantikan oleh entitas politik yang ia ciptakan sendiri.
Sepuluh tahun lagi berlalu.
Luca Rossi kini adalah seorang pria tua yang tinggal di sebuah vila sunyi di pinggiran Como, Italia. Ia telah pensiun sepenuhnya. Moretti Corp kini dijalankan oleh Vito dengan pengawasan Isabella dari kejauhan. Elena adalah salah satu politisi paling berpengaruh di Amerika, sosok yang dikagumi di seluruh dunia sebagai "The Saint of Chicago."
Suatu sore, Luca duduk di terasnya, menatap danau yang tenang. Seorang pemuda mendekatinya—Julian. Pemuda itu kini telah menjadi seorang arsitek bangunan, bukan arsitek data.
"Kau masih hidup, Hantu," kata Julian, duduk di kursi sebelah Luca.
"Aku bertahan hidup untuk melihat apakah pilihanku benar," jawab Luca.
"Elena melakukan banyak hal baik," Julian mengakui. "Tapi setiap kali aku melihatnya di TV, aku melihat wajah ayahku. Dan aku melihatmu."
"Itulah harga dari sebuah warisan, Julian," kata Luca. "Tidak ada yang benar-benar bersih. Kita hanya bisa memilih noda mana yang ingin kita tunjukkan pada dunia."
Luca menyerahkan sebuah buku catatan kecil kepada Julian. "Ini adalah lokasi semua dana rahasia yang tidak diketahui Elena. Gunakan untuk membantu mereka yang benar-benar terlupakan. Biarkan ini menjadi pembersihan terakhirku yang sesungguhnya."
Julian mengambil buku itu, mengangguk, dan pergi tanpa kata-kata.
Luca menutup matanya. Ia mendengar suara ombak dan angin. Ia merasa damai untuk pertama kalinya dalam lima puluh tahun. Ia telah menjadi The Ghost, The Cleaner, dan The Don. Ia telah membangun sebuah kerajaan kesucian di atas fondasi dosa.
Di Chicago, Senator Elena Moretti sedang memberikan pidato tentang integritas. Di Eropa, Isabella sedang menghapus jejak digital terakhir dari keberadaan Luca Rossi.
Dan di Como, Luca Rossi menghembuskan napas terakhirnya. Ia mati dalam kesunyian, tanpa nisan yang menyebutkan namanya, tanpa sejarah yang mencatat jasanya. Ia mati sebagai hantu yang sesungguhnya—bersih, tak terlihat, dan akhirnya, bebas.