"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencintaimu
Gloria pamit keluar dari ruang rawat itu begitu melihat Nero datang. Seolah sengaja memberikan waktu untuk Nero dan Elle.
"Dia baru saja tidur. Dia masih sangat syok karena kejadian yang menimpanya," ucap Gloria di ambang pintu.
"Iya, Nyonya, terima kasih banyak." Nero menundukkan kepala sebagai bentuk hormat pada wanita paruh baya itu.
Gloria mengangguk, lalu menutup pintu tersebut.
Nero mendekati Elle, lalu duduk di kursi yang di sediakan di sana, tepat di samping tempat tidur pasien. Hatinya bergejolak tak karuan, merasa bersalah begitu besar karena dirinya lah Elle di culik dan menderita seperti ini.
Di raihnya tangan Elle, lalu digenggam sangat erat, seolah takut kalau gadis ini pergi meninggalkannya.
"Maafkan aku," lirih Nero, seraya mengecup punggung tangan tersebut dengan dalam dan cukup lama.
*
"Bagaimana keadaan putri kita?" tanya Ben pada istrinya yang baru keluar dari ruangan tersebut.
"Masih sangat syok." Gloria menjawab pelan lalu masuk ke dalam pelukan suaminya. Tentu sebagai orang tua sangat sedih dan terpukul karena melihat putrinya terluka parah seperti itu. "Ben, apa perlu kita bawa kembali Elle ke Barcelona? Sungguh, aku tidak tenang jika harus meninggalkan Elle di Kota ini," lirihnya dengan segala kecemasannya.
"Tidak perlu. Nero akan menjaganya," jawab Ben tidak setuju dengan saran istrinya.
Gloria mendongak, alisnya mengerut saat menatap suaminya.
Ben membalas tatapan istrinya lalu mengulas senyum, "kau tidak perlu khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir kalau kedua putriku mengalami peristiwa mengerikan di Kota ini," keluh Gloria, sekaligus memprotes keputusan suaminya.
"Ya, aku tahu perasaanmu karena aku adalah belahan jiwamu."
"Ck!" Gloria berdecak seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Ingat umur, sudah tua tapi masih saja suka menggombal!" Ocehnya, sembari memalingkan wajah, memasang raut kesal untuk menutupi rona merah di kedua pipinya.
Ben tergelak melihat tingkah istrinya ini yang selalu membuatnya gemas, "ayo, ikut denganku. Kali ini percaya padaku kalau ke depannya akan baik-baik saja, dan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Jika hal itu terjadi, maka aku akan memenggal kepala Nero!" seloroh Ben seraya menggandeng tangan istrinya menuju suatu tempat..
Gloria bergidik ngeri, meski ucapan suaminya cuma candaan tetap saja terdengar sangat menakutkan membuat bulu kuduknya merinding.
"Kita mau ke mana?" tanya Gloria penasaran.
"Ikut saja, kau akan tahu nanti," jawab Ben, menoleh dan tersenyum manis pada istrinya.
*
Tepat jam 9 malam Elle terbangun dari tidurnya. Ia tersentak kaget saat membuka mata saat melihat Nero duduk di dekatnya.
Nero yang tengah fokus menekuri layar ponsel, memeriksa pekerjaannya pun segera menoleh saat merasa ada yang memerhatikannya. Ia tersenyum lalu menyimpan ponselnya, "kau sudah bangun," ucapnya seraya mencondongkan setengah badan, meraih tangan Elle tapi ia terkejut saat gadis itu menepis tangannya. "Ada apa?" Nero masih berusaha tenang.
"K-Kau ... kenapa ada di sini?" tanya Elle dengan nada terbata-bata, dan kedua mata berkaca-kaca. "Harusnya kau pergi meninggalkan aku karena aku tidak cantik lagi ... hiks ... Hikss ..." Elle langsung menangkup wajahnya yang di balut perban.
"Tenanglah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi," ungkap Nero dengan nada serius, menatap dalam ke mata indah gadis dihadapannya ini. "Jangan menangis, aku akan selalu berada di sisimu," bisik Nero, memeluk dan menenangkan Elle.
Kelopak mata indah itu mengedip berulang kali hingga bulir air mata jatuh ke pipi yang dibalut perban. Ia meragu, tapi kata-kata Nero membuat hatinya tenang dan menghangat. Sungguh, dia sangat takut jika pria itu pergi meninggalkannya karena fisiknya tidak cantik lagi.
"Nero ..."
"Iya?"
"Aku mencintaimu."
"Iya, aku tahu." Nero menjawab singkat membuat Elle mengurai pelukan itu dengan paksa lalu memicingkan mata.
udh pada somplak setelah punya pawang masing-masing
dulu aj pada mauka datar tp sekarang pada saling ngeledek 😅😅😅😅
Elle belum sadar dirinya lg hamil, padahal nero yg mengalami gejala hamil simpatik mual dan muntah-muntah...
seorang mafia sangat kuat dan ditakuti terkapar jatuh sakit, nero sampai merasa tidak berguna takut ditertawakan sm anak buahnya...
nero ketula sering ngeledekin sipedro, nero sekarang merasakan apa dirasakan sipedro🤣🤭sekuat apapun nero tetap merasakan sakit juga
😀
fix Elle hamil🤔😁🤭
Nero lagi ngidam alias hamil simpatik...
kehamilan simpatik 🤣🤣🤣