Aruna tahu hidupnya tidak lama lagi. Demi suami dan putri kecil mereka, ia memilih sesuatu yang paling menyakitkan... mencari wanita yang akan menggantikannya.
Alana hadir sebagai babysitter tanpa mengetahui rencana besar itu. Adrian salah paham dan menilai Lana sebagai perusak rumah tangga. Namun, pada akhirnya Aruna memaksa keduanya menikah sebelum ia pergi untuk selamanya.
Setelah Aruna tiada, Adrian larut dalam rasa bersalah dan menjauh dari istri keduanya. Lana tetap bertahan, menjalankan amanah Aruna meski hatinya terus terluka. Situasi semakin rumit saat Karina, adik Aruna berusaha merebut Adrian dan menyingkirkan Lana.
Akankah Adrian berani membuka hati untuk Alana, tanpa mengkhianati kenangan bersama Aruna? Atau justru semuanya berakhir dengan luka yang tak tersembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 28.
Setelah pesta pernikahan resmi yang diadakan Adrian berjalan begitu hangat dan indah, kehidupan mereka berdua mulai tenang.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Suatu sore ketika Alana pulang dari supermarket, seseorang mengikutinya dari kejauhan. Pria itu berwajah kusut, dengan bekas luka di pelipisnya. Dia adalah Hendra, ayah tiri Alana yang dulu pernah menjualnya untuk melunasi utang sebelum akhirnya masuk penjara.
Begitu Alana menjauh dari supermarket, tangan kasar menariknya masuk ke dalam sebuah mobil.
“Diam! Kalau tidak, aku buat kau menyesal,” desis suara yang masih sangat Alana kenali.
“Bapak?” Alana membeku, matanya membulat. Nafasnya tercekat, seolah masa lalu yang kelam itu kembali menghantuinya.
Hendra menyeringai, “Akhirnya kau hidup enak juga, ya? Nikah sama orang kaya. Kalau saja dulu kau mau nurut, aku nggak harus hidup begini.”
Alana menggigit bibirnya, menahan rasa takut yang mulai merayap.
“Pak... tolong jangan lakukan ini lagi. Aku bisa bantu, tapi jangan dengan cara begini.”
Tapi Hendra malah menyalakan mobil dan pergi meninggalkan area parkir.
Sementara itu, di kantor Adrian…
Adrian baru saja menandatangani berkas kerja sama baru saat ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Ia hampir mengabaikan, tapi sesuatu membuatnya mengangkat.
“Kalau mau istrimu tetap hidup, siapkan uang dua miliar. Aku beri waktu dua jam.”
Suara serak di seberang membuat Adrian menegang.
“Istriku?” suaranya merendah, bergetar menahan amarah.
“Ya. Alana. Aku tahu siapa dia... dan aku tahu seberapa berharganya dia buatmu.”
Klik, sambungan terputus.
Adrian berdiri dengan wajah pucat, lalu langsung memanggil Assistennya.
“Cari keberadaan Alana, tadi dia pamit ke supermarket dekat rumah. Cek CCTV, cepat!”
Di tempat persembunyian
Hendra mengikat tangan Alana dengan tali plastik di sebuah rumah tua di pinggir kota.
“Aku cuma butuh uang. Setelah itu, kau bebas.”
Alana memandangi pria itu dengan pandangan sakit hati. “Pak, kenapa belum berubah juga? Uang bukan segalanya... aku bisa bantu Bapak cari kerja, atau—”
“Diam!” bentak Hendra. “Kau pikir aku mau kerja kasar lagi? Kau hidup mewah sekarang, tapi lupa siapa yang dulu kasih kau makan!”
“Bapak memang pernah kasih aku makan, tapi bapak juga yang tega jual aku demi bayar judi bapak! Untung saja aku dapat uang pinjaman, kalau tidak... aku udah jadi perempuan hina!"
“Diam!“
Tak sampai satu jam kemudian…
Mobil hitam Adrian berhenti di depan rumah tua itu, puluhan anak buahnya sudah mengepung.
“Pastikan dia nggak terluka,” suara Adrian dingin, matanya tajam penuh amarah.
Hendra menodongkan pisau ke arah Alana begitu mereka menerobos masuk.
“Jangan mendekat! Aku bunuh dia!”
“Pak! Tolong berhenti! Aku akan maafin Bapak, asal Bapak mau bertobat dan berubah...“ suara Alana gemetar.
Hendra mulai gemetar, pisau itu menurun perlahan. Tapi ketika salah satu anak buah Adrian bergerak, pria itu panik dan mendorong Alana hingga terjatuh.
Adrian berlari ke arah istrinya, menariknya ke dalam pelukan.
“Sudah, sayang, aku di sini. Kamu aman sekarang.”
Air mata Alana pecah di bahunya.
“Dia ayah tiriku… dia yang dulu menjualku…”
Adrian mengepalkan tangan, namun menahan diri.
“Bawa dia ke polisi!” Ucapnya tenang namun tajam.
Saat Adrian menoleh, jantungnya serasa berhenti berdetak. Alana terkulai tak sadarkan diri di pelukannya. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menggendong istrinya dan melarikannya ke rumah sakit dengan wajah panik.
Beberapa menit yang terasa seperti selamanya, akhirnya dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Adrian dengan suara bergetar.
Dokter menatapnya tenang. “Istri Anda butuh pemeriksaan lanjutan, Tuan. Tapi sejauh ini, saya menduga beliau sedang dalam masa awal kehamilan. Hanya saja, kondisi kandungannya cukup lemah karena adanya trauma... mungkin ada tekanan psikis yang berat.”
Adrian tertegun. “Ha... hamil?” Suaranya serak, matanya berkilat seolah baru diberi keajaiban. Tapi kegembiraannya segera meredup saat mendengar kata lemah dan trauma.
“Dok, tolong... lakukan apa pun yang terbaik untuk istri dan anak saya.”
“Tenang, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik.”
Setelah dokter pergi, Adrian masuk ke ruang rawat. Alana sudah tertidur setelah disuntik obat penenang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah wanita yang begitu berarti baginya. Dengan lembut, jari-jarinya menyapu pipi Alana yang pucat.
“Maaf... aku gagal menjagamu,” bisiknya lirih.
Dua jam berlalu. Ketika Alana akhirnya membuka mata, ruangan itu terasa hangat. Adrian masih di sana, duduk di sisinya dengan tatapan penuh penyesalan. Dan di kursi sebelahnya, ada sosok yang membuat Alana sempat tercekat—Nyonya Ratna.
“Kamu harus banyak istirahat, Adrian akan menjagamu setiap saat. Untuk sementara, biar adiknya Adrian yang urus perusahaan. Kamu cuma perlu fokus jaga dirimu dan anakmu. Jangan pikirkan yang lain...” Ibu mertuanya itu itu tetap berwajah ketus seperti biasanya, tapi kali ini suaranya terdengar berbeda. lebih lembut, dan perhatian.
Setelah melihat bukti dan kebenaran bahwa Aruna sendirilah yang meminta Alana menikahi Adrian, dan mendengar bagaimana beratnya hidup menantunya itu sejak dulu, perlahan hati Nyonya Ratna mulai melunak.
Alana memandang ibu mertuanya dengan mata basah. Tak menyangka wanita itu yang dulu begitu dingin padanya, kini perhatian padanya.
“S-saya hamil...?” suaranya hampir tak terdengar, antara kaget dan bahagia.
Adrian menggenggam tangannya erat, lalu menunduk mencium keningnya. “Ya, sayang. Alima akan punya adik... dan kita, akan jadi orang tua lagi.”
“Dan aku,” timpal Nyonya Ratna sambil melipat tangan di dada, “Akan punya cucu lagi. Jadi tolong, kamu harus jaga diri sendiri dan anak ini.“
Alana terkekeh pelan, air matanya menetes bukan karena sedih melainkan karena bersyukur. Dalam badai yang baru saja menimpanya, ternyata Tuhan menitipkan harapan kecil dalam rahimnya. Sebuah kehidupan baru, tanda bahwa cinta yang tulus memang selalu menemukan jalannya meski dari reruntuhan luka.