Proses Revisi.
Sebelum membaca jangan lupa di Favoritin ❤️ dulu ya Kakak.
"Mas. Sebenarnya cinta kamu itu sebanyak apa sih sama aku, sampai sekarang aku belum percaya punya suami sebaik kamu." Puji Kanaya menatap dalam manik mata Rangga penuh gemas.
"Yang jelas selama kamu bernafas, maka selama itu aku candu padamu sayang. Bahkan ketika alam semesta merebut mu paksa, aku akan tetap hanya candu pada satu nama yaitu Kanaya Herazille, kamu adalah Canduku, cinta mati ku, apapun akan ku lakukan demi kebahagian mu sayang. Aku sangat beruntung, sekalinya aku jatuh cinta, cintaku jatuh di orang yang tepat seperti kamu......" ucap Rasa penuh cinta memandangi wajah istrinya.
.
.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Selalu ikuti dan dukung cerita Kamu adalah Canduku ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hertati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-28
"Apa sayang yakin?" tanya dr. Rian melihat arah telunjuk Rania pada rumah sakit pikihannya.
"Iya aku yakin sayang. Rumah sakit ini berada di Negara JP aku mengetahuinya, rumah sakit itu memang sangat bagus sayang"
"Darimana sayang tahu" tanya dr. Rian dengan wajah bodohnya...
D**asar dr. Rian, apa dia lupa kekasihnya itu Hampir 4 tahun di Negara itu
"Sayang, apa kamu lupa, aku kuliah di Negara JP, hampir 4 tahun aku disana. tentu saja aku tahu rumah sakit itu" ucap Rania geleng-geleng kepala, merasa heran dengan kekasihnya itu.
"Ah iya yah, aku sungguh lupa sayang. Baiklah aku akan membawanya kesana." ucap dr. Rian mantap.
"Aku ikut ya sayang"
"Tidak. Bukankah sayang baru pulang, bagaimana bisa sayang kembali lagi ke Negara JP. Apa sayang tak rindu dengan orang tua sayang." ucap dr. Rian memandangi wajah kekasihnya itu yang mulai cemberut.
"Sayang, kan aku bisa berkata jujur dengan mereka. Sayang aku ingin sekali membantumu. Bukankah memang lebih baik aku ikut, kan aku sudah mengetahui tentang Negara JP, jadi sayang tidak kebingungan saat tiba disana."
"Tapikan sayang..."
"Ah pokoknya aku ikut. titik. "
Rania bersikukuh untuk ikut menemani kekasihnya ke Negara JP, dr. Rian yang tak bisa menolaknya terpaksa pasrah, memang ada benarnya juga Rania bisa membantunya saat di Negara JP.
Akhirnya dr. Rian setuju membawa Rania ikut bersamanya. dr. Rian menemui dokter yang merawat Kanaya meminta untuk dikeluarkan surat rujukan agar ia bisa memindahkan Kanaya ke Rumah sakit Hiraka. Pukul 18.45 segala administrasi dan keperluan untuk membawa Kanaya ke Negara JP sudah selesai. dr. Rian mengantarkan Rania untuk pulang kerumahnya.
Mereka tiba di kediaman keluarga Artono pukul 19.30. Rania menawarkan dr. Rian untuk masuk, namun pria itu menolak. Bukan karena takut tidak diterima, melainkan waktunya belum tepat, ia pun menolak ajakan Rania dengan halus.
"Maaf sayang aku belum bisa mampir, waktunya belum tepat, lain kali saja yah, lagian aku juga harus menyiapkan keperluanku untuk keberangkatan besok" ucap dr. Rian mengelus rambut Rania didalam mobil.
"Hem, baiklah" Rania menghela nafas kecewa, tapi dia tak ingin memaksa kekasihnya mengingat masalah yang sedang dihadapi kekasihnya itu, ia pun turun dari mobil dr. Rian setelah memberikan pelukan.
"Sayang, kabarin aku jadwal berangkat besok yah" ucap Rania sambil menutup pintu mobil dan berbicara lewat kaca mobil yang terbuka, terlihat dr. Rian mengangguk setuju, membuatnya tersenyum, Rania pun melambaikan tangannya dan dr. Rian segera melajukan mobilnya pulang.
Rania memasuki rumah mewah itu dengan tergesa-gesa, ia begitu semangat ingin memberesi barang-barangnya untuk berangkat kembali besok ke Negara JP, sampai ia tak sadar ada sepasang mata yang meliriknya dengan bingung. Saat Rania ingin menginjakkan kakinya ditangga, suara pria itu mampu menghentikan langkahnya..
"Wah, wah, tuan putri ternyata sudah kembali, tapi begitu angkuh yah, sampai tak ingin menyapa kakaknya ini" ucap pria itu yang tak lain adalah Rangga menyindirnya namun nadanya seperti ejekan. Rania yang mendengar suara itu langsung menoleh dan menyengir..
"Hehehe, kakakk" ucap Rania berlari memeluk kakaknya yang sedang duduk di sofa ruang tamu itu. Rangga pura-pura melepas pelukan itu dan memasang wajah masam, ia ingin mengerjai adik sepupunya yang sudah dianggap seperti adik kandung sendiri. Rania cemberut ketika kakaknya melepaskan pelukannya.
"Kakakkk" ucapnya manja sambil memasang wajah imutnya, ah sungguh Rangga sangat gemas dengan adiknya itu. Rangga mencubit pipi Rania, membuat wanita itu sedikit kesakitan.
"Sakit Kak" sambil mengelus pipinya
"Biarin" ucap Rangga santai. "Kamu kapan nyampenya, kok gak ngabarin kakak"
"Baru tadi pagi kak. hehe maaf lupa kak."
"Kamu itu masih muda tapi sudah lupa terus"
"Hihi. Kak. besok aku harus kembali lagi ke Negara JP."
"Hah untuk apa. kamu bukannya sudah lulus. baru juga pulang Uda mau balik lagi. apa kamu gak rindu sama keluarga mu?" Rangga menghujani Rania dengan banyak pertanyaan.
"Em. bukan begitu kak. Sebenarnya Kak..." Rania kelihatan bingung ingin jujur tapi takut kakaknya marah.
"Ada apa dek. Kamu menyembunyikan sesuatu dari kakak ya." Rangga memicingkan matanya menatap Rania
"Kak. sebenarnya aku sudah punya pacar"
"Terus"
"Kakak gak marah?"
"Buat apa marah, kamu sudah dewasa, memang sudah sepantasnya kamu memilikinya"
"Tapi Kak"
"Tapi apa dek... Apa kamu sudah berbuat diluar batas"
"Husttt. kakak ini ngomong apa sih. sembarangan aja."
"Terus, maksudnya kamu apa dek"
"Pacar ku semalam menabrak seseorang Kak, dan sekarang wanita itu sedang koma. "
"Terus dek, apa hubungannya sama kamu"
"Kami ingin membawanya ke Negara JP, disana ada rumah sakit yang bagus, semoga bisa membantu penyembuhan wanita itu kak.."
"Terus kamu ingin ikut dengan pacarmu" tanya Rangga menggoda. Membuat Rania malu.
"Iya kak" ucap Rania malu-malu.
"Gak bisa. kamu gak boleh pergi bareng dia."
"Tapi kan kak, aku yang lebih mengenal Negara JP. aku bisa membantunya disana kalau nanti dia butuh sesuatu."
"Kamu tenang saja, biar kakak akan menyuruh Sekretaris kakak Vino yang menemaninya disana, kan Vino masih di Negara JP saat ini" ucap Rangga tandas.
"Kak, biarkan aku ikut yah kak" bujuk Rania.
"Gak boleh dek, perempuan dan laki-laki kalau selalu bersama kemana-mana gak baik. Apalagi kalau Om sampai tahu, Om bisa marah tahu gak dek." Rangga memperingati adiknya itu, dia sudah berjanji pada Omnya untuk selalu menjaga adiknya itu dengan baik. Itu sebabnya dia begitu ketat pada Rania. Rania yang mendengar nama Papanya menjadi diam. memang benar Papanya itu terlalu protektif dengan dirinya. akhirnya Rania menghela nafas panjang.
Rania mengalah akhirnya dia tak jadi ikut dengan dr. Rian untuk membawa Kanaya. Rania pun menghubungi kekasihnya memberi tahu bahwa dia tak diizinkan oleh kakaknya ikut dan memberi tahu juga bahwa sudah ada seseorang yang akan menemani dr. Rian selama di Negara JP. Rangga menelepon Sekretaris Vino untuk membantu dr. Rian yang akan tiba besok di Negara JP.
*****
dr. Rian sudah berada didalam pesawat jet pribadi yang dipinjamkan oleh kakak Rania, yaitu Rangga, agar lebih mudah membawa Kanaya yang masih dibalut dengan alat-alat medis itu.
Sebelum memejamkan mata untuk beristirahat, dr. Rian menatap Kanaya penuh iba.
"Bertahanlah, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan dirimu, maafkan aku" ucapnya lirih. kemudian dr. Rian beristirahat berhubung waktu untuk menempuh Negara JP memakan waktu yang lama.
Setelah beberapa jam lamanya didalam pesawat, akhirnya jet pribadi yang mewah itu mendarat sempurna diatas gedung rumah sakit Hiraka.
Sekretaris Vino yang sudah diperintahkan oleh bosnya untuk membantu dr. Rian sudah berada diatas gedung dengan para dokter dan perawat yang siap membantu membawa pasien darurat untuk masuk.
Melihat Pesawat itu sudah mendarat sekertaris Vino mendekati dr. Rian dan menyapanya. Kemudian ia memerintahkan para dokter untuk membawa pasien. Vino mendekati pasien itu dan sangat terkejut melihat sosok yang menjadi pasien darurat itu.
"Nona Kanaya" ucapnya membuat dr. Rian menoleh pada Vino menatapnya dengan bingung.
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊