Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
"Aku ingin ke kamar mandi"
Zevanya langsung turun dari ranjang tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang menatap aneh ke arahnya.
Biarkan aku pergi, aku sepertinya terkena serangan jantung. Kenapa jantungku berdetak cepat sekali, berhenti menatapku seperti itu. Ia menggerutu didalam hati.
Aezar, dokter, dan dua suster lainnya hanya saling memandang berusaha mencerna kejadian tadi sambil melihat pintu kamar mandi yang ditutup rapat, tidak ada yang berniat untuk membuka percakapan lebih dulu.
Lima menit berlalu, dan tidak ada tanda-tanda Zevanya akan keluar, entah apa yang dilakukan gadis itu didalam sana.
Aezar berdeham sebelum memutuskan untuk mengusir semua orang.
"Kalian boleh pergi dulu, aku akan memberitahu jika ada sesuatu" katanya datar, meski raut wajahnya mulai menggelap.
"Kalau begitu kami akan keluar Tuan, jika terjadi sesuatu tolong segera memanggil kami" dokter menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan diikuti dua suster.
Mata Aezar menatap pintu kamar mandi yang masih belum terbuka, berjalan ke arahnya dan mengetuknya dengan pelan.
"Vanya"
"Kau kenapa? apa terjadi sesuatu?" tanyanya mulai khawatir.
"Zevanya"
Bahkan tidak ada suara air yang menetes, membuat Aezar mulai memikirkan berbagai hal buruk yang mungkin terjadi.
Sementara itu, didalam kamar mandi.
Zevanya sedang terduduk di sudut, pandangannya matanya sudah jelas seperti sedia kala, ia dapat melihat kamar mandi yang cukup luas dan bersih, itu menandakan operasinya berhasil.
Namun ada yang salah dengan jantungnya yang berdetak semakin kencang, seiring dengan suara ketukan pintu yang berubah menjadi gedoran keras.
"Vanya, jika kau tidak menjawab aku akan mendobrak pintunya" Teriakan khawatir Aezar kembali bergema, membuat Zevanya semakin gugup.
"A.. aku hanya sakit perut jangan membuat keributan" ia memaksakan mulutnya untuk menyahut, takut kalau pria itu benar-benar nekat mendobrak.
"Oh, aku akan menunggumu kalau begitu" Kali ini suaranya melembut, Zevanya menghembuskan nafas lega, suasana kembali menjadi tenang.
Kini giliran otak kecil Zevanya yang mulai dipenuhi pertanyaan yang bertubi-tubi,
Kenapa tiba-tiba ia menikah dengan pria itu?
Ia mulai mencari jawaban yang masuk akal, apakah ini kebetulan? apakah ini yang disebut takdir? tangannya meraba jantungnya yang masih berdetak kencang, teringat pada kata-kata yang pernah Aezar ucapkan,
"Kau mungkin kena serangan jantung ketika pertama kali melihat wajah tampanku"
Ia tidak sadar tertawa terbahak-bahak, menyadari kalau perkataan narsis pria itu benar-benar menjadi kenyataan sekarang.
Aezar mendengar suara tawa yang keras dari dalam, ia buru-buru menghampiri pintu kamar mandi lagi.
"Vanya, apa terjadi sesuatu?" nada khawatirnya masih belum hilang, itu hanya semakin menjadi-jadi.
Ia sungguh merasa sikap Zevanya aneh, apakah gadis ini benar-benar kerasukan jin? kenapa ia tertawa sendirian didalam kamar mandi, bathinnya.
"Tidak.. tidak" Zevanya menelan ludah dan merutuki dirinya karena kebodohan barusan.
Aezar dengan sabar kembali duduk, menunggu gadis itu keluar, namun menit demi menit berlalu dan ia sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
"Vanya.. aku akan keluar sebentar, Antoni bilang ada urusan mendadak" kata Aezar sebelum keluar kamar.
Zevnya berdeham dan mengiyakan.
Dua menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, terlihat kepala kecil mengintip dengan takut-takut, memandang seluruh ruangan memastikan apakah Aezar benar-benar sudah pergi.
Ia baru menghembuskan nafas lega saat kaki seseorang masuk ke sela pintu, membuatnya pintunya terganjal dan tidak bisa tertutup.
"Kau menghindariku?" suara Aezar datang bersamaan dengan wajah tampan yang menatapnya tajam.
Zevanya merasa dadanya sesak sekali lagi.
Sialan, dia mengerjai ku.
"Tidak.. ke- kenapa aku harus menghin-dari mu" ucapnya gagu, ia masih berpegangan pada pintu kamar mandi berusaha membentuk perisai.
"Benarkah?" Aezar tersenyum miring, wajahnya mendekati wajah Zevanya, namun gadis itu buru-buru mundur menjauh.
Melihat itu Aezar menggunakan kesempatan untuk masuk dengan paksa, dan membuat Zevanya akhirnya terjebak di sudut, tangannya yang berkeringat berpegangan erat pada westafel.
Aezar benar-benar menjebaknya, dua tangannya menggapai dinding, menghalangi tubuh kecil itu, seolah-olah serigala yang ingin memangsa hewan lemah.
"Kau tidak bisa kabur, kau harus memberitahukan keadaanmu pada dokter" kata pria itu. Semakin lembut, semakin membuat dua kaki Zevanya gemetaran.
"Aku akan ke ruangannya kalau begitu"
Aezar mendesah tidak puas melihat gadis itu terus menerus menunduk, menghindari tatapannya.
"Tapi kau belum menyelesaikan masalah kita" bisiknya,
"Masalah apa?"
"Kau belum membayarku. Aku menjagamu berhari-hari, aku membayar operasimu, aku bahkan meninggalkan urusan pekerjaan dan merawatmu. Kau harus membayar semua kerja kerasku selama ini" jelas Aezar,
Kau kan suamiku, memang sudah tugasmu merawatku, protesnya dalam hati namun ia sama sekali tidak berani mengatakannya dan akhirnya hanya mengalah.
"Bagaimana aku membayarmu?"
Aezar tersenyum jahat, jari telunjuknya mengangkat dagu Zevanya, memaksa gadis itu menatapnya.
"Pertama-tama kau harus sopan dulu, tatap aku jika sedang bicara" ia bisa melihat Zevanya menciut dengan gugup.
"Beri aku ciuman" tuntutnya kemudian.
"Apa?" mata Zevanya melotot hingga hampir keluar.
Aezar mengangguk, " Bayar aku dengan satu ciuman"
Zevanya memalingkan wajahnya ke arah lain, wajah itu panas dan memerah sekali lagi.
"Kenapa, kau malu? aku akan tutup mata kalau kau malu" Aezar menutup matanya, namun tangannya masih mengurung Zevanya, membuatnya mustahil melarikan diri.
Zevanya menelan ludah dengan susah payah, bagaimana mungkin ia punya keberanian untuk mencium wajah ini, ketika menatapnya saja sudah membuat seluruh badannya mati rasa.
"Vanya" Aezar masih menutup mata, wajahnya bersih, dengan hidung mancung dan bibir indah yang memanggilnya, pemandangan indah ini hanya membuat Zevanya mimisan.
Tidak. Dia tidak bisa
"Tutup saja matamu dan cium aku. Setelah itu aku akan membiarkanmu pergi"
Karena tidak bisa lagi memegang westafel, Zevanya akhirnya secara tidak sadar mulai mencengkeram ujung kemeja Aezar.
Wajahnya maju beberapa senti, itu hanya harus menempel kan? fikirnya, ia akan menempel dan menarik bibirnya setelah itu.
Namun setelah ia merasakan benda lengket itu dan ingin mundur tangan Aezar kembali memegang tengkuknya, membuatnya tidak bisa lepas.
Ciuman singkat itu berubah menjadi lebih intens, namun kali ini lembut dan memabukan. Aezar benar-benar tahu cara membuat jantungnya bekerja dua kali lipat.
Puas menyiksa bibir Zevanya ia menempelkan keningnya, menatap wajah cantik yang berubah merah.
"Karena kau sudah sembuh, sekarang giliran tugasmu untuk merawatku. Kau harus merawatku seumur hidup" kata-katanya seperti sedang membacakan perintah kaisar yang tidak boleh di tentang.
Aku mencintaimu untuk waktu yang sangat lama, jadi bolehkah aku serakah sekarang?
Zevanya masih terengah-engah mencari oksigen, namun detik berikutnya Aezar mulai menciumnya kembali.
Pria itu seperti tidak berniat melepaskannya sebelum bibirnya bengkak dan perih.
Jangan tanya apakah jantungnya masih berdebar, itu mungkin sudah berhenti berdetak dari tadi karena terlalu sibuk bekerja.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww