NovelToon NovelToon
Berjodoh Dengan CEO Cantik

Berjodoh Dengan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Cintamanis
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: anjarthvk

Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.

Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.

"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Pengakuan dan Tanggung Jawab

...Selamat membaca semuanya.....

Senyuman yang sangat manis, tatapan yang begitu dalam. Keduanya seringkali terlena akan situasi tersebut. Untung saja Boris selalu tersadar saat akan melewati batasanya.

Tangan kekarnya terulur membelai lembut kepala Rania. Dia abaikan status kerja mereka. Anggap saja antara pria dan wanita dewasa yang sedang dilanda asmara.

"Saya takut Nona terluka atau sakit. Jadi, katakan saja sejujurnya pada saya jika nona sedang terluka."

Rania mengumpulkan semua keberaniannya, tapi rasanya tidak benar jika harus mengaku sekarang. Melihat keraguan dalam mata Rania, Boris membelai lembut pipi Rania dengan tatapan dalam. Memberikan Rania kepercayaan dan keyakinan penuh, jika dia akan baik-baik saja setelah mengatakannya.

"Aku dilecehkan, Kim Do Woo," jujur Rania, tangan Boris mengepal kuat menahan emosi, matanya ikut terpejam.

Lalu dia membuka kembali matanya, sorot mata dingin bercampur khawatir dan menyesal dengan penuh rasa bersalah.

"Apa yang dia lakukan?"

Rania memegang kedua lengan Boris, dia tuntun ke arah dua benda kenyal miliknya. Tangan Boris langsung mengepal kuat sebelum menyentuh dua benda tersebut.

Boris merengkuh tubuh Rania lebih dulu, menyalurkan rasa hangat dan kekuatan untuk Rania. Dia merasa ceroboh dan lalai menjaga wanita itu, padahal Tuan Frederick sudah memberikan tanggung jawab penuh kepadanya.

"Besok ikut aku! Aku akan membunuh pria brengsek itu!" Rania menggeleng mendengar ucapan tegas dari Boris.

Boris sontak langsung melonggarkan pelukan dan menatap Rania dengan bingung, "dia sudah berani menyentuhmu, aku tidak terima wanitaku di sentuh oleh pria lain," sentak Boris sedikit tidak terima dengan respon Rania.

"Ris, jangan gegabah! Dia bukan orang sembarangan," tangan lembut Rania mengelus rahang tegas Boris yang menegang menahan emosi.

"Aku tidak terima, Rania! Kau tunanganku! Kau tanggung jawabku sekarang!" Nada tinggi Boris tidak membuat Rania takut, justru dia tersenyum tipis mendengar ungkapan Boris yang mengakuinya sebagai tunangannya.

Cup.. Rania mencuri bibir tebal Boris singkat, emosi itu sedikit terendam hingga hembusan napas panjang keluar dan Boris merengkuh kembali tubuh Rania.

"Saya minta maaf, Nona. Saya belum bisa menjaga Nona dengan benar," rengkuhan yang terasa sangat erat membuat Rania menepuk-nepuk pelan punggung Boris.

"Yang sudah terjadi biarlah, Boris. Semua masih dalam tanggung jawab dan urusanku. Kamu di sini, aku sudah baik-baik saja."

Mereka saling menguatkan dan memahami, meskipun ada kejadian buruk yang sempat menimpa Rania. Itulah awal mula Boris menjadi lebih berhati-hati ke depannya.

Boris ingin bangkit tapi Rania justru mengeratkan rengkuhannya, dia tidak ingin banyak bicara. Dia rengkuh tubuh Rania dengan satu tangannya, dia bawa dalam gendongannya. Wanita yang sedikit terkejut dengan pergerakan Boris langsung mengeratkan pelukannya.

Pria itu berjalan menuju lemari pakaian, dan dia buka pintu lemari untuk mengambil kotak kecil. Perlahan dia bawa dan kembali duduk di atas kasur dengan posisi masih memangku Rania.

"Saya obati dulu tangan Nona," Rania melonggarkan pelukannya dan mengulurkan tangan kanannya yang terluka.

Aura dingin Boris terpancar seakan menusuk di mata Rania. Dia mengerucutkan bibirnya saat dengan telaten Boris memberi obat ke luka-luka di tangannya. Sedikit perih, tapi Rania sudah biasa menahannya. Perlahan Boris membalut luka Rania dengan kain kasa, tapi dia ditahan oleh Rania.

"Biarkan saja terbuka, Ris. Biar cepat kering lukanya," pinta Rania Boris menatapnya dengan helaan napas singkat lalu mengangguk mulai mengerti.

Dengan rasa yang bercampur tidak jelas, kedua mata Boris berkelana di dalam manik yang berbinar sedikit kemerahan karena sempat berlinang air mata milik Rania. Tatapan keduanya mengartikan bahwa keduanya menyalurkan rasa khawatir dan ketenangan. Rasa khawatir Boris dan Rania yang meyakinkan pria itu bahwa dia baik-baik saja.

"Aku sudah baik-baik saja, Boris," senyuman lebar itu membuat Boris sedikit bisa mengendalikan emosinya yang tertahan.

Hanya rengkuhan hangat yang bisa Boris salurkan malam ini, menenangkan wanitanya dan dirinya sendiri tentang apa yang sudah terjadi.

...ΩΩΩΩΩΩ...

"Tuan Frederick meminta kita kembali pulang ke Indonesia. Project dengan pria itu mungkin akan diurus oleh tim lain." Boris melaporkan itu kepada Rania saat mereka berada di kamar dan bersiap-siap untuk ke studio.

Rania menganggukkan kepala memicingkan mata tajam ke arah Boris, "kau bercerita pada Papah ya?" tuduhnya mendapat gelengan cepat dari Boris.

"Kalau saya berbicara jujur pada beliau. Saya yakin pertunangan akan dibatalkan karena saya lalai menjaga Nona." Rania mendengus mendengar jawaban Boris.

"Papah tidak akan berani membatalkannya. Kalau Papah berani, aku akan merusuh di pusat produksi buat jadi perampok."

Boris tidak tahu ke mana arah jalan pikiran Rania, tapi dia sangat bersyukur karena wanita itu mampu melupakan kejadian yang lalu. Rania melihat Boris yang akan memakai dasinya, sebelum terbentuk Rania memanggil.

"Ris, kemarilah!" Boris mendekati Rania, wanita itu meraih dasinya dan membantu merapikan memakaikannya ke kerah Boris.

Rasanya sudah seperti diperhatikan oleh istri sendiri, Boris tersenyum tipis memandangi wajah cantik Rania.

Yang ditatap justru mengulas senyum manis, dia melirik mata Boris membuat pria itu tersadar dan langsung menoleh ke arah lain.

"Sudah. Rapi begini, mau ke mana? Bukannya kata Papah harus segera pulang?"

"Kita pulang dua hari lagi, Nona. Sahabat-sahabat saya mengajak main ke luar. Berhubung masih di sini, saya menyetujui ajakan mereka." Rania meliriknya sinis.

"Perasaan baru semalam memint maaf padaku karena lalai menjagaku. Sekarang justru kamu mau pergi main dan meninggalkan aku sendirian di kamar?" sindirnya sambil melipat kedua tangannya, dia bergerak duduk di atas ranjang, menatap Boris sinis.

"Bukan begitu, Nona." Boris enggan memberi jawaban yang jelas. "Sebenarnya Noah anak Lily datang ke sini menyusul Mamanya. Anak itu sangat dekat dengan saya, jadi takut nanti Nona tidak suka." Rania bangkit dari ranjang dan berhambur kepelukan Boris.

"Aku ikut." Boris tersenyum tipis mendengar rengekan Rania yang tetap meminta ikut pergi.

......Bersambung.........

Terima kasih yang sudah mampir.. Jangan lupa like dan komen ya. Maaf jika alurnya aneh atau berantakan..

•] Sejujurnya, aku sedang merindu. Tapi, saat aku kembali memutar memoriku. Kenyataan bahwa kamu tidak mempedulikanku, bahkan tidak menaruh hati padaku, membuatku tersadar. Aku harus melangkah mundur dan pergi. Tunjukkan sedikit padaku, jika kamu sedang bahagia. Agar aku tidak merasa sia-sia melakukan ini semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!