Zanna Kemal lebih memilih tinggal seorang diri setelah ayahnya meninggal dunia dari pada tinggal bersama ibu dan ayah tirinya, hidup dengan sederhana menjadi seorang perawat di rumah sakit swasta di kota Praha. Anna begitu ia disapa suatu hari terpilih menjadi perawat untuk merawat anak sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja yang bernama Kerem Abraham, ia sudah terbaring koma selama dua belas tahun akibat kecelakaan yang dialaminya.
Setelah beberapa bulan merawat Kerem, pria itu pun akhirnya sadar dari komanya, tapi sejak Kerem sadar mereka tidak pernah bertemu lagi.
Bagaimana kisah pertemuan mereka kembali sehingga keduanya terikat dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau bodoh sekali...
Anna masih memencak-mencak kesal menaiki tangga, ia menghempaskan pintu kamar dengan keras lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Aduhhh…. Anna mengaduh kesakitan ketika lututnya berbenturan dengan tempat tidur.
“Aduhhh…. Sakit sekali…,” Anna mendesis sambil meniup lukannya untung saja lukanya tidak kembali berdarah. Anna mengalihkan
tatapannya pada paper bag yang tergeletak begitu saja diatas kasur ia pun
menjangkaunya dan memeriksa isinya, ia melihat satu helai gaun berwarna maroon
dan juga lengkap dengan pakaian dalamnya. Ia mengambil kantong yang satunya dan
mengeluarkan semua isi dalamnya ternyata berisi peralatan kosmetik.
“Apakah dia yang membelikan semua ini, tapi mana mungkin ia tau kosmetik perempuan,” guman Anna pada dirinya sendiri. Ia meletakan kembali diatas kasur ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.
****
Kerem menyimpan semua berkasnya dan mematikan laptopnya bersiap untuk pulang karena sudah masuk jam makan siang. Tapi baru saja ia bangun dari duduknya terdengar ketukan pintu dari luar, ia pun menyuruhnya
masuk dan terkejut melihat steven yang mucul dibalik pintu tersenyum lebar
padanya.
“Hai, tumben sekali kau datang tidak memberi kabar,” tanyannya menysul Steven.
“Aku sengaja memberikan kejutasn padamu,” sahutnya mendudukan tubuhnya di sofa, dan Kerem pun ikut mendudukan tubuhnya disana bersebrangan dengan tempat duduk Steven.
“ Sorry ya semalam,” ujar Kerem menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa.
“Iya, tak masalah kita masih bisa melakukannya lain waktu.”
“Kerem...” panggil Steven menatap serius pada Kerem.
“Eehmm,” jawab Kerem melirik jam di pergelangan tanganya.
“Semalam, aku bertemu dengan seorang wanita di bar, dia cantik sekali,” Steven senyum-senyum sendiri membayangkan wajah Anna.
“Terus sudah kau dapatkan nomor ponselnya.”
Steven tergelak mendengar pertanyaan Kerem, ia mengusap-usap dagunya,” jangan nomor ponselnyan namanya saja aku tidak tau.”
“Benarkah,” Kerem menatap Steven tidak percaya karena ia tau Steven adalah pawang penakluk hati wanita. “Akhirnya ada juga wanita yang tidak tertarik padamu,”kekeh Kerem mengejek Steven.
Steven memang terkenal playboy, ia pandai sekali bermulut manis kalau sudah merayu wanita bertolak belakang dengan dirinya, begitu pun Cristian. Tapi ia melihat Steven tidak pernah benar-benar serius menjalin
hubungan dengan seorang wanita, ia hanya untuk sekedar bermain-main saja.
"Tapi bukan Steven jika langsung menyerah, aku kan terus memburuhnya sampai aku mendapatkannya,” tukasnya penuh percaya diri.
“Kalau begitu aku ucapkan selamat berjuang untukmu,” gelak Kerem yang disambut tawa keras oleh Steven.
“Ayo temani aku makan siang, aku akan menghubungi Cristian untuk bergabung bersama kita” ajak Steven mengambil ponsel dari saku jasnya.
“Aku…
Baru saja Kerem menyahuti perkataan Steven terdengar deringan ponselnya dari saku jasnya, Kerem pun segera mengambil ponselnya dan menautkan kedua alisnya saat melihat nama yang terterah dilayar ponselnya, ia melirik sekilas pada Steven yang terlihat sibuk dengan ponselnya., ia pun bangkit dan
menjauh dari Steven.
“Hallo, ada apa.”
“Kau kemana lama sekali, aku sudah kelaparan ini.”
“Iya tunggulah sebentar lagi, aku segera pulang.”
“Harus cepat karena tidak ada yang bisa dimakan lagi disini.”
“Iya…kau ini cerewet sekali.” Kerem menutup panggilan dan melihat Steven sudah berdiri dibelakangnya.
“Maaf Stev, aku tidak bisa makan bersama kalian karena aku sudah buat janji dengan keluargaku.”
“Keluargamu atau kekasihmu,” Tanyanya penuh selidik. Steve teringat perkataan wanita di bar waktu itu, dan ia juga melihat Kerem seperti menyembunyikan sesuatu darinya dan juga Cristian.
“Terserah kau saja,” sahutnya santai menyimpan ponselnya kembali.
“Ayo kita pergi,” lanjutnya melangkah menuju pintu keluar dan diikuti oleh Steven dibelakangnya.
“Jadi benar kau sekarang memiliki kekasih, tapi kenapa tidak kau kenalkan padaku dan Cristian.” Steven yang masih penasarn terus bertanya pada Kerem.
“Sudahlah, nanti kau juga tau,” elak Kerem tak ingin membahasnya dengan Steven yang pastinya tak akan ada putusnya.
“Wah…aku penasaran siapa wanita yang sudah bisa menaklukan hati pangeran es ini,” ujar Steven merangkul pundak Kerem dan menepuk-nepuknya pelan.
“Kalau begitu kita makan bareng saja, ajak kekasihmu biar kita bisa kenalan juga,” bujuk Steven tak mau menyerah. Kerem melirik sekilas pada Steven lal menjauhkan tangannya dan bergegas membuka pintu, Steven terus mengikuti langkah Kerem.
“Kau pelit sekali,” dengus Steven begitu mereka sudah berada dalam lift dan Kerem masih saja diam seribu bahasa. Tak lama keduanya pun tiba dilantai dasar, Kerem berjalan dengan langkah lebar sambil memakai kaca hitamnya. Kedua pun berpisah di parkiran karena mereka membawa mobil
masing-masing.
*****
“Kau lama sekali,” rengek Anna begitu melihat kedatangan Kerem, ia yang tengah berbaring disofa segera mendudukan tubuhnya dan menyusul langkah Kerem.
“Belajarlah untuk bersabar,”sahut Kerem santai.
“Bagaimana lukamu,” tanyanya meneliti wajah Anna dan memegang dagunya.
“Nanti aku belikan salep meghilang memar. Bagaimana dengan lututmu.” Kerem menurunkan pandangannya dan sedikit berjongkok, Kerem yang begitu perhatian
padanya membuat Anna salah tingkah.
“Sudah lebih baik, mungkin dua satu atau dua hari lagi akan mengering,” sahut Anna. Kerem mengangkat sedikit tangan Anna melihat luka di sikunya.
“Syukurlah, ayo kita makan,” ajaknya membawa dua kantong makanan
di tangannya, ia terus berjalan menuju meja makan dan diikuti oleh Anna. Kerem
meletakan kantong yang ditentengnya diatas meja sedangkan Ann amengambil gelas
dan piring untuknya dan Kerem. Ia mendudukan tubuhnya disalah satu kursi disana dan menatap Kerem mengeluarkn makan yang dibawahnya tadi, Anna pun menyaut kantong yang satunya dan membantu mengeluarkannya.
“Kenapa kau begitu banyak membeli makanan,”tanyanya menatap makanan diatas meja dan Kerem bergantian. Semua makanan itu sangat asing dimatanya tapi terlihat sangat menggiurkan.
“Katanya kau kelaparan, jadi sengaja aku belikan banyak dari pada nanti kau memankanku,” Kerem berkata menarik senyum lebar di wajahnya.
“Kau bisa tersenyum juga rupanya,” goda Anna yang takut terpesona senyum manis Kerem.
“Kau pikir aku robot,” sahutnya ketus tentu saja senyum manisnya pun sudah lenyap. Dan Anna pun merasa menyesal karena sudah mengodanya tak bisa melihat senyuman manisnya.
“Kau cepat sekali marah, aku cuma bercanda,”sahut Anna mengerucutkan bibirnya.
“Sudah jangan bicara lagi katanya kau lapar.” Kerem ikut mendudukan tubuhnya di depan Anna dan mengambil piring yang terletak di depan Anna.
Tanpa bicara lagi kedua pun segera mengisi piringnya dengan makanan yang sudah tersaji di depannya, Anna mengambil sumpit yang sudah disediakan disana dan memasukan potongan daging itu ke mulutnya.
“Ini enak sekali, apakah ini juga makanan china aku baru mencicipinya,” mulutnya bergumana sambil mengunya makana dalam mulutnya.
“Bukan, ini makan korea. Kau tau korea bukan,” jawab Kerem diselah kunyahannya.
“Tentu saja aku tau, tapi aku belum pernah mencicipi makanannya. Aku hanya pernah mencoba beberapa masakan China dan Jepang saja.”
"Kau harus mencoba makan asia lainya karena masakan asia sangat enak,”sahut Kerem menatap Anna yang begitu menikmati makanannya.
“Tentu saja aku mau asalkan kau yang mentraktirku,” Anna berkata dengan senyum lebarnya.
Tapi apakah ini halal,” tanyannya lagi menghentikankan kunyahannya.
“Tidak.”
“Apa…!”
Anna langsung mengeluarkan makanan itu dari dalam mulutnya, Kerem tak dapat menahan tawanya melihat ekspresi lucu Ann ayang terlihat begitu panic, “kau ini bodoh sekali, tentu saja ini halal.” Anna yang barus saja bangkit dari hendak pergi menahan
langkahnya, dan melototkan matanya pada Kerem yang sudah keterlaluan padanya.
“Kau ini menyebalkan sekali,” Anna menghentakan kakinya kesal pada Kerem. Lalu kembali mendudukan tubuhnya.
“Kau bodoh kenapa mudah sekali percaya, seharusnya kau pikir mana mungkin aku membeli makanan yang tidak halal.”
“Enak saja kau bilang aku bodoh, aku ini bodoh hanya bila berdekatan denganmu saja, seharusnya aku tidak boleh dekat-dekat denganmu.” Anna berucap dengan nada begitu kesal.
“Eee enak saja malah menyalahkanku, kalau bodoh ya bodoh saja.”
“Kalau aku bodoh mana mungkin kau terpilih untuk merawat….
Anna menutup mulutnya untung saja ia cepat tersadar sehingga tidak sampai keceplosan.
“Terpilih untuk merawat apa,” Tanya Kerem.
.
.
.
.
Bersambung
Selamat membaca 🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak readers 👍👍
ana jangan pernah percaya sama temen dekat...