Bagaimana rasanya jika kau menyukai sahabatmu sendiri, namun saat sahabatmu tahu, dia malah pergi menjauh? Apa yang akan kau lakukan?
Itu yang terjadi pada Veli. Gadis remaja yang baru mengenal cinta dan menyukai sahabatnya sendiri, yaitu Fikri.
Mereka bersahabat sejak kecil sampai mereka beranjak dewasa. Sebagai gadis normal lainnya, Veli mulai mengenal kata cinta dan orang yang pertama kali dia sukai adalah Fikri.
Disaat yang sama, Fikri juga mengenal jatuh cinta. Tapi orang yang dia cintai bukanlah Veli, melainkan Mia.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta segitiga antara ketiga remaja tersebut?
Saksikan ceritanya di sini..
Menghilang.
❗Akan segera dirilis, ayo buruan BACA sebelum diHAPUS❗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Hari ini Firki memaksa Mia untuk ke rumah Veli dan memintanya untuk meminta maaf pada sabahatnya itu. Mia sempat menolak tapi dia mengancam kalau pacarnya itu tidak mau meminta maaf maka dirinya akan marah.
Teng tong~
"Iya siapa?" sang pemilik rumah pun membukakan pintunya dan terkejut apa yang dia lihat.
"Kalian.., ngapain kesini?" tanya Veli agak kesal ke Mia.
"Mia mau minta maaf Vel," jawab Fikri sambil menyodorkan roti kesukaan Veli. Sedangkan Mia menahan kesal dan ingin menjambak wanita satu ini.
"Oh, silahkan masuk. Mama juga gak ada di rumah." Mereka pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Fikri sudah jarang kesini dan rindu akan semuanya, dan Anggi juga selalu pulang sore sedangkan ayah Veli selalu pulang sebulan sekali. Jadi, rumah ini terasa sepi dan kosong. Cuma ada meongan Fifi dari jauh dan suara larian kucing.
Di ruangan ini, mereka hanya mengobrol ringan dan Mia juga sudah meminta maaf, walau cuma berjabat tangan dan memintanya tidak ikhlas. Obrolan kali ini terasa hambar karena bagai ada penghalang antara kedua sahabat yang selalu akrab ini.
"Eh gue mau ke toilet ya Vel," ujar Fikri sambil berdiri dan berjalan ke arah toilet.
"Iya, gue juga mau ke dapur mau goreng risol, biasalah buatan Mama." Veli juga bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur.
"Ikut dong Vel," pinta Mia dan mengikuti gadis itu dari belakang. Veli rasa mungkin Mia sudah kapok dan akan menjadi temannya lagi seperti dulu.
Mereka akhirnya memasak bersama dan sesekali mengobrol, Mia sebenarnya masih kesal entah kenapa pada Veli tapi ia harus menuruti kata Fikri jika ingin pacarnya itu tidak marah. Tiba-tiba ada ide jahat yang muncul di kepala batunya itu. Fikri selesai hendak keluar dari toilet.
"Vel, minjem tangan lo deh. Coba gini," pintanya dan meraih tangan Veli dan menaruhnya di rambutnya. Dan menarik rambutnya sendiri seolah olah Veli yang menariknya.
Fikri pun keluar dari toilet dan Mia langsung berteriak. "Akkhhh, sakit Vel!!! Udah ihh, gue kan udah minta maaf!! Awww," ujarnya kesakitan. Veli pun kaget dan menggeleng. "Hah, apaan sih ih! Lepas!" teriak Veli.
Fikri yang melihat itu dari jauh seolah olah Veli menolak untuk melepaskan Mia, ia pun langsung berlari ke arah mereka.
"Iiihhh Vel, lo yang lepas!!! Sakit Vel. Huu~ sakiittt!! Lepas, gue kan udah minta maaf." Mia terus melakukan tindakan itu sampai Fikri datang ke mereka.
"Vel, apaan sih lo. Lepasin gak!" pekiknya panik.
"Apaan sih! Dia yang seharusnya lepasin. Tangan gue di tahan dia!" teriak Veli panik, niat apa lagi yang di lakukan Mia.
Fikri pun hendak memisahkan mereka. Namun Mia pintar dan menjatuhkan dirinya sendiri ke pelukan Fikri dan seolah-olah Veli yang mendorongnya.
Fikri terkejut dengan perlakuan kasar Veli. "Lo kok gitu sih! Gue tau lo kesel sama Mia tapi kan dia udah minta maaf. Parah lo Vel," ucap Fikri kecewa.
"Itu gak seperti yang lo liat Fik," ujar Veli nada memohon.
"Apaan! Gue jelas jelas ngeliat tadi." Fikri membawa Mia keluar dan mengambil tas Mia.
"Kita pulang." Fikri kecewa dan membawa Mia pergi yang sedang berpura-pura kesakitan itu.
"Tunggu Fik!" Veli mematikan kompor dan memukul meja. Ia kesal dan frustasi menghadapi gadis gila itu. Mengalah bisa terinjak, tidak mengalah malah di salahkan.
.
.
.
................
Kejadian kemarin sungguh membuat Veli kesal dan ingin menjambak betulan rambut Mia. Untuk menghilangkan kesal itu kini ia berjalan santai untuk ke toko buku untuk membeli novel novel baru.
"Gila tuh Mia kemaren, gue jadi gak enak kan sama Fikri. Malah besok lusa si Mia masuk sekolah lagi," gerutunya sambil berjalan santai.
Dia memandangi jalan yang di lalui kendaraan yang berlalau lalang. Dia jadi teringat dulu, saat smp. Dia selalu pulang bersama dengan Fikri saat itu, kenangan itu sungguh menyenangkan. Dan apakah akan kembali?
Rambutnya pun tertiup angin dan menutupi matanya. Dia jadi teringat juga, di saat ia main di bukit bersama sahabatnya waktu itu dan juga tentang rambut panjangnya yang sering di kepang oleh Fikri. Ia tersenyum kecil, namun sekarang rambut itu telah hilang, kini terganti dengan rambut palsu yang menutupi seluruh kepalanya.
Dia sebenarnya lelah selalu pergi kemoterapi. Dia rindu rambut panjangnya, dia suka menyisirnya walau memang melelahkan karena terlalu panjang. Namun, sekarang moment itu hanya sebuah kenangan yang pernah terjadi. Tapi kenapa semuanya perlahan menghilang?
Tentang Fikri yang jauh berubah seperti sebelumnya. Perhatiannya, keceriaannya, dan segalanya yang membuat Veli jatuh cinta perlahan mulai menghilang dari diri Fikri. Dan saat kejadian rumah pohon itu, tempat yang dulunya sangat memiliki kenangan indah, kini sudah pupus karena kejadian menyakitkan itu. Kejadian patah hati sepanjang masanya.
Semua perlahan menghilang.
Veli melamun sambil berjalan, dan tiba-tiba saja terdengar suara tertawa yang membuyarkan lamunannya. Ia pun menoleh ke arah itu, ke arah cafe yang depannya ada tempat duduk. Ia seperti kenal wanita yang bersama pria itu.
"Itu... Mia?" Veli pun berjalan agak cepat sambil menutup kepalanya dengan hoodienya.
Ia bersembunyi di balik pot pot besar yang di taruh sepanjang trotoar dan mengintai mereka berdua.
"Mia ngapain sama cowok itu? Kenapa gak sama Fikri?" Veli menajamkan matanya. Sepertinya mereka sangat akrab.
"Atau mungkin temennya ya?"
Saat sedang asik mengintai, Mia sadar seperti ada yang mengintipnya, dan menoleh ke arah pot besar itu. Veli tersentak dan membalikan badannya, tiba-tiba ternyata ada Farid di belakangnya.
Veli terkejut. "Ssttt, diem. Gue juga ngeliat dia," ujar Farid dan Veli hanya membulatkan bibirnya.
"Sini,"
Veli tidak mengerti. "Sini." Farid langsung merangkulnya.
Veli terkejut. "Ha? Ngapain?"
"Lo mau ketauan sama dia? Kita nyamar aja jadi couple biar dia gak curiga. Kita mata-matain dia, mau gak?" jelas Farid berbisik.
Veli mengerti dan mengangguk. "Ooh, oke oke."
Mia masih menatap mereka, dan pria di depannya heran kenapa Mia sangat khawatir. Terlihat sepasang kekasih dengan hoodie sedang saling rangkul, kelihatannya seperti mencurigakan bagi Mia. "Kamu kenapa sih?" kata cowok bernama Riko itu.
"Ha? Enggak kok sayang." Mia tersenyum hambar dan masih memperhatikan dua pasangan itu.
Riko melihat ke arah yang di lihat Mia, dan tersenyum jahil ke arah Mia. "Ooh jadi kamu mau di peluk kayak gitu?" Riko nyengir jahil ke arah Mia.
"Ha? Ahaha apaan sihh...." balas Mia.
Farid mempunyai ide bagus dan berbisik pada Veli. "Bagus gak?" katanya dan Veli pun menyetujui idenya itu. Farid pun mengambil masker yang di bawanya setiap hari dan membagi satu untuk Veli. "Pake nih," perintahnya.
Veli pun memakainya dan mereka berdua jalan mendekati Riko dan Mia. Dengan hati-hati mereka duduk di sebrang meja Mia dan berdiam di sana. Lebih tepatnya menguping.
"Lo yakin kita bisa denger dari sini?" tanya Veli sambil mengusap tangannya sendiri karena takut.
"Yaudah gimana entar aja. Kalo ketauan kita langsung lari." Farid memancarkan senyum bodohnya itu lagi. Veli pun berdecak khawatir.
Mia sadar bahwa kedua pasangan ini sangat mencurigakan untuknya. Karena dia juga waspada karena dengan berdua dengan Riko. "Rik, pergi yuk. Bosen," ajaknya sambil menarik tangan Riko.
"Ayo deh,"
Veli dan Farid melihat mereka pergi dan menganga. "Yaah pergi lagi mereka," pekik Veli.
"Ck, baru pengen nguping ya Vel?" ucap Farid dan Veli mengangguk sambil memajukan bibirnya.
"Eh by the way lo tadi mau ke mana?" tanya Farid bangkit dari kursi itu, di susul dengan Veli yang berdiri.
"Ke toko buku, mau ikut?" Farid pun mengangguk.
Lalu mereka berjalan kaki ke toko buku yang letaknya agak jauh dari cafe ini. Di perjalanan ia berpikir tentang bagaimana nanti ia pergi ke Singapura. Apakah sekarang saat yang tepat untuk memberi tahu semuanya?
Dalam lamunan itu Veli tenggelam, tidak bisa lagi memperhatikan sekeliling. Farid yang di sampingnya juga melamunan dengan berbagai pertanyaan di kepala.
"Vel, kenapa sih lo mimisan mulu? Apa gak di cek aja ke dokter?"
Sontak Veli terkejut, dan menjawab, "Ha? Hehe nggak kok, gak pa-pa. Paling cuma panas dalem aja,"
Farid berhenti berjalan dan Veli mengikutinya, lalu ia merangkup wajah Veli. "Vel, plis kalo ada apa-apa cerita ya sama gue. Gue janji bakal jadi orang yang bisa lo percaya." Veli pun tersenyum lalu mengangguk.
Mereka melanjutkan perjalanannya. Veli masih di kelilingi berbagai pertanyaan. Apakah benar jika Mia selingkuh? Lalu bagaimana Fikri jika semua itu benar? Jika Fikri tahu apakah yang terjadi? Apa ia akan terus membelanya?
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
karyax bagus...
walaupun sad ending, bikin nangis bombai tp puas ma endingx...
g nggantung, smua clear...
smangat selalu buat othor...