Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Permisi, Tuan Adrian. Saya sudah membawa laporan penyelidikan tentang Bu Rani." ucap Leonard dengan hormat. Wajahnya dipenuhi keseriusan, sementara ia menyerahkan sebuah map cokelat ke atas meja.
Adrian yang sedang membaca berkas perusahaan perlahan mengangkat kepalanya.
"Masuk." ucap Adrian tenang. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya menunjukkan rasa penasaran.
Leonard melangkah masuk ke ruang kerja.
"Saya baru saja menerima semua hasil penyelidikan dari tim." lanjut Leonard serius. Rahangnya mengeras.
Adrian meletakkan pulpennya.
"Duduk." ucap Adrian singkat. Tatapannya tetap tertuju pada Leonard.
"Terima kasih, Tuan." balas Leonard sopan. Wajahnya dipenuhi rasa hormat.
Leonard membuka map tersebut satu per satu.
"Kami berhasil menemukan identitas lengkap Bu Rani." ucap Leonard. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.
Adrian langsung menatapnya lebih tajam.
"Lanjutkan." ucap Adrian dingin. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja.
"Nama lengkapnya Rani Saputri." jelas Leonard. "Usianya dua puluh enam tahun. Beberapa bulan lalu ia resmi bercerai dari suaminya yang bernama Arga."
Mata Adrian sedikit menyipit.
"Arga?" tanyanya pelan. Wajahnya mulai serius.
Leonard mengangguk.
"Benar, Tuan." jawabnya mantap. "Kami juga menemukan alasan perceraian mereka."
"Apa penyebabnya?" tanya Adrian. Nada suaranya terdengar lebih rendah.
Leonard menarik napas panjang.
"Bu Rani selama bertahun-tahun mengalami penghinaan dan perlakuan yang tidak layak." ucap Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi simpati.
Adrian terdiam.
Leonard kembali membuka lembar berikutnya.
"Mantan suaminya sering merendahkan fisik Bu Rani." lanjutnya. "Bahkan ibu mertuanya juga ikut menghina dan memperlakukannya seperti pembantu."
Rahang Adrian perlahan mengeras.
"Apakah ada bukti?" tanyanya dingin. Sorot matanya berubah tajam.
"Ada, Tuan." jawab Leonard tegas.
Leonard mengeluarkan beberapa foto.
"Ini foto-foto yang kami dapatkan dari tetangga sekitar." ucapnya sambil menyerahkan foto-foto tersebut.
Adrian mengambil semuanya.
Di dalam foto terlihat Rani sedang mengangkat galon, mencuci pakaian, memasak, hingga membersihkan halaman seorang diri. Sementara Arga dan ibunya hanya duduk menikmati makanan.
"Setiap hari?" tanya Adrian pelan. Alisnya berkerut.
"Iya, Tuan." jawab Leonard.
"Dan mereka membiarkannya melakukan semua pekerjaan rumah?" tanya Adrian lagi.
"Bukan hanya membiarkan." balas Leonard. "Menurut kesaksian tetangga, mereka sering memarahinya meski Bu Rani sudah bekerja tanpa henti."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Adrian menatap lama foto-foto tersebut.
"Tidak masuk akal." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang mulai tertahan.
Leonard kembali berbicara.
"Masih ada lagi, Tuan." ucap Leonard membuka suara.
"Katakan." balas Adrian.
"Bu Rani juga pernah menjual perhiasan miliknya diam-diam untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga." jelas Leonard.
Adrian mengangkat kepalanya.
"Suaminya tidak bekerja?" tanyanya dingin.
"Bekerja." jawab Leonard. "Tetapi penghasilannya sering habis untuk kepentingan pribadi. Sedangkan kebutuhan rumah justru banyak ditanggung Bu Rani."
Tatapan Adrian berubah semakin dingin.
"Apakah Arga pernah memukulnya?" tanyanya.
Leonard menggeleng pelan.
"Tidak ada bukti kekerasan fisik." jawab Leonard. "Tetapi kekerasan verbal terjadi hampir setiap hari."
Adrian mengepalkan tangannya.
"Kadang luka karena ucapan jauh lebih sulit sembuh." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang disembunyikan.
Leonard mengangguk setuju.
"Tuan..." panggil Leonard hati-hati. "Ada satu hal lagi."
"Apa?" tanya Adrian.
"Hari ini Arga bertemu Bu Rani di pasar." jawab Leonard.
Tatapan Adrian langsung berubah tajam.
"Apa?" ucapnya tegas. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
"Arga sempat mengejar Bu Rani." lanjut Leonard. "Untungnya Bibi Sari segera membawa Bu Rani pergi menggunakan mobil kita."
Adrian langsung berdiri dari kursinya.
"Kenapa baru sekarang kau melaporkannya?" tanyanya dingin. Rahangnya mengeras.
Leonard menundukkan kepala.
"Saya ingin memastikan semuanya lebih dulu." jawabnya penuh hormat.
Adrian berjalan menuju jendela besar.
"Pantas saja saat pulang wajahnya terlihat pucat." gumam Adrian pelan. Tatapannya menerawang keluar.
Beberapa detik kemudian...
"Tuan..." panggil Leonard.
"Cari tahu keberadaan Arga." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegasan.
Leonard sedikit terkejut.
"Maksud Tuan?" tanyanya hati-hati.
"Aku ingin mengetahui seperti apa kehidupan pria itu sekarang." jawab Adrian dingin.
"Baik, Tuan." balas Leonard mantap.
"Dan satu lagi." lanjut Adrian.
Leonard kembali menatap atasannya.
"Mulai hari ini, tingkatkan keamanan Bu Rani." ucap Adrian tegas. "Jangan sampai Arga mendekatinya lagi."
"Siap, Tuan." jawab Leonard tanpa ragu.
Saat Leonard hendak keluar, pintu ruang kerja kembali diketuk.
Tok... tok...
"Masuk." ucap Adrian singkat.
Nathan masuk dengan langkah cepat.
"Tuan, saya baru menerima kabar dari tim lapangan." ucap Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
"Ada apa?" tanya Adrian.
Nathan menatap Leonard sekilas sebelum kembali menoleh kepada Adrian.
"Arga terlihat masih berada di sekitar pasar selama hampir satu jam." jelas Nathan. "Dia terus mencari Bu Rani."
Sorot mata Adrian berubah semakin tajam.
"Sepertinya dia belum menyerah." ucap Nathan pelan.
Adrian mengembuskan napas panjang.
"Kalau begitu..." ucapnya dingin. Wajahnya dipenuhi ketegasan. "Jangan biarkan dia menemukan Rani sebelum Rani benar-benar siap menghadapinya."
"Siap, Tuan!" jawab Leonard dan Nathan bersamaan. Wajah keduanya dipenuhi tekad.
Di tempat lain, Rani sama sekali tidak mengetahui bahwa seseorang diam-diam mulai melindunginya dari balik bayang-bayang.
Sementara itu, Adrian berdiri memandang langit dari balik jendela ruang kerjanya.
Entah mengapa, sejak mengetahui semua masa lalu Rani, muncul keinginan kuat di dalam dirinya untuk memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti wanita itu lagi.