Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18. Keriuhan Pecah di Balai Kampung
Semua yang hadir disekitaran Balai Kampung semakin bertanya-tanya diantara mereka.
"Aneh ya, si Slamet itu, kok bisa-bisanya melakukan hal itu?"
"Sahabatan, tetapi mengapa bisa-bisanya melakukan tindakan yang seperti itu? Harjo yang disukai, Jhon yang di kenalkan!"
"Mengapa juga Dia harus membenci Harjo yang tidak tahu-menahu kejadian di rumah makan tepi sungai itu? Harjo dipersalahkan, padahal Harjo tidak berada di tempat itu?"
"Sudah gila mungkin si Slamet itu, karena banyak di tolak oleh perawan-perawan di Kampung Kita ini."
"Slamet ternyata memang bukan orang yang baik, bahaya jika berteman dengannya."
"Teganya Dia menipu Bu guru yang cantik dan baik hati itu!"
"Memangnya kamu kenal dengan ibu guru yang bernama Wati itu."
"Ya, Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya di pertemuan pertanian di Balai Kampung Kita ini. Si Harjo pun sering bertemu dengannya pada waktu itu. Orangnya ramah dan supel pula."
"Ya Saya juga pernah bertemu dengannya, wanita muda yang juga adalah guru dari anak Saya. Baik dan perhatian orangnya, jahat sekali Pak guru Slamet itu. Kalau cintanya ditolak tidak selayaknya Fia melakukan hal seburuk itu."
Berbagi perkataan keluar di luar ruangan Balai Kampung tempat dimana warga Kampung Surya Kencana menikmati hari libur ini dengan menyimak permasalahan yang sedang di usut tuntas di dalam Balai Kampung saat ini.
Semua larut menikmati dan mengeluarkan pendapatnya masing-masing sesuai kata hati dan pengalamannya masing-masing.
Para pedagang minuman dan snack juga mendapatkan keuntungan yang besar sebab banyak diantara warga membawa keluarga dan anak-anak.
Mereka yang kepanasan dan kelaparan menghabiskan uang di saku mereka untuk membeli tanpa harus keluar Balai Kampung, agar tidak ketinggalan informasi yang ada di dalam ruangan Balai Kampung ini.
Cuaca di Kampung Surya Kencana saat ini memang sedikit panas sehingga membutuhkan asupan air minum yang cukup banyak, serta makanan ringan untuk mengganjal perut mereka.***
Kembali ke dalam ruangan.
Kepala Kampung segera mengatakan kesimpulannya.
"Kamu Arif dan Udin Saya nyatakan bersalah atas semua permasalahan ini. Kalau kalian dapat meminta maaf kepada Harjo dan Harjo memaafkan, maka permasalahan ini dapat kita selesaikan sampai di sini saja. Semua keputusan Saya kembalikan kepada Harjo tanpa pemaksaan. Sebab dari hasil keterangan yang Saya telah dapatkan, kalian juga memiliki permasalahan terhadap Harjo, namun dipicu oleh ajakan Slamet, kalian menjadi ikut turut menyerang Harjo. Tentu hukuman ini juga disertai peringatan keras jika terulang kembali tentu sanksi yang lebih keras yang akan kalian dapatkan!" Tutur Kepala Kampung kepada Arif dan Udin.
Lalu kepala Kampung menghadapkan wajahnya kepada Slamet.
"Kamu sungguh telah mempermalukan kampung ini. Seorang guru, anak mantan kepala Kampung, beraninya melakukan hal seburuk ini. Seharusnya kamu sudah tidak layak lagi berada di Kampung ini, sebab berbagai perbuatan kamu terhadap warga yang memiliki anak gadis perawannya banyak yang telah kamu sakiti. Saya juga telah menerima berbagai keluhan mengenai hal tersebut, serta keluhan dari sekolah dan pihak pemerintah daerah, baik dari kecamatan maupun dinas diatasnya. Mereka sudah mempertanyakan keberadaan Kamu disetiap kegiatan yang mereka lakukan, Kamu tidak pernah hadir, padahal Kamu adalah seorang guru yang seharusnya menjadi ujung tombak dibidang Kamu. Keluhan-keluhan ini, sudah disampaikan kepada Saya dan Saya berharap banyak kepada kamu sebagai guru yang memahami mengenai kesehatan, dapat berperan aktif membantu mensosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan dan pertanian sehingga Kampung kita dapat mendorong kemajuannya!" Kepala Kampung merasa sangat menyesalkan akan kelakuan Slamet yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat.
"Kamu akan di beri hukuman melakukan kegiatan sosial berupa penyuluhan kesehatan dan pertanian bagi warga Kampung serta membersihkan aliran air di Kampung kita, sehingga nyamuk demam berdarah maupun malaria tidak mewabah di kampung kita ini. Dan juga meminta maaf kepada Harjo dan juga kepada Ibu Guru Wati." Kepala Kampung menyampaikan hukuman Slamet yang tentunya lebih berat dari Arif dan Udin.
Arif dan Udin awalnya merasa sedih akan hukuman mereka, berubah menjadi merasa senang karena hukuman Slamet lebih berat daripada mereka, wajah mereka berdua terlihat semringah.
Kepala Kampung melihat perbedaan roman wajah mereka dan merasa kalau Slamet tidak akan mampu mengerjakannya sendiri maka segera memberikan keputusan tambahan,
"Kalian berdua Arif dan Udin juga harus turut serta membantu Slamet membersihkan gorong-gorong dan aliran air, sebab ini semua demi kebaikan kampung kita bersama. Saya harap kalian dapat bekerja sama." tambah Kepala Kampung.
"Tetapi Pak...?" Arif mencoba menolak, namun tidak berani, sebab Kepala Kampung segera menunjukkan wajah marah dan melototkan matanya ke arah Arif.
Beberapa saat kemudian Kepala Kampung, mempersalahkan Arif, Udin dan Slamet meminta maaf. Namun sebelumnya Kepala Kampung meminta pendapat dari Harjo selaku orang yang mendapatkan penganiayaan.
"Baik sekarang Saya persilahkan Kepada Kamu Jo. Apakah ada hal yang kamu rasa kurang tepat akan keputusan Saya ini?" Tanya Kepala Kampung, memberikan kesempatan kepada Harjo untuk memberikan pendapatnya sebelum Slamet dan kawa-kawan meminta maaf.
"Saya sih, merasa tidak pernah ada permasalahan dengan mereka, namun jika ada hal yang kurang baik dari apa yang telah saya perbuat selama ini terhadap mereka. Saya secara pribadi meminta maaf dan semoga setelah hari ini tidak ada lagi permasalahan yang tersimpan untuk kemudian hari. Saya rasa demikian saja." jawab Harjo yang membuat orang yang mendengar ucapan Harjo merasa simpati terhadap ucapannya.
Banyak yang merasa Harjo bersikap kesatria dengan mau memaafkan mereka, namun ada saja di antara mereka yang merasa Harjo terlalu lunak, dan merasa seharusnya Harjo meminta ganti rugi atau sejenisnya.
Kemudian Pak Kepala Kampung juga mempersilakan kepada Widuri untuk mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Silakan buat Mak Widuri siapa tahu ada hal yang ingin diucapkan?" Pak Kepala Kampung menanyakan sekaligus mempersilahkan Widuri memberikan pendapatnya.
"Baiklah Pak. Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari. Saya tegaskan Saya dan Harjo belum memiliki hubungan apa-apa sampai saat ini. Di kemudian hari siapapun yang dekat dengan Saya adalah hak Saya untuk memilih siapa pun calon pendamping hidup Saya. Tidak ada satu orang pun yang dapat menghalanginya, sebab Saya sudah dewasa dan pastinya suatu saat Saya akan menikah. Saya mohon kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Terima kasih atas waktu dan kesempatannya!" Widuri merasa lega dengan semua hal yang sudah dapat di keluarkannya dari dalam hatinya. Walaupun masih ada sedikit perasaan cemas dan was-was jikalau dikemudian hari kejadian seperti ini akan terulang kembali.
"Baiklah Saya meminta maaf secara tulus kepada Kamu Widuri sebab telah membuat kamu khawatir dan terganggu atas kejadian ini..." perkataan Arif terhenti karena banyak orang yang mulai menyorakinya, sebab seharusnya permintaan maaf Arif kepada Harjo, walaupun Widuri juga tersakiti.
"Huuu.. "
Suara riuh rendah terdengar di luar Balai Kampung.
"Baiklah tidak apa-apa permintaan maafmu kepada Mbak Widuri, namun kalau bisa lebih tulus kepada Harjo, karena Harjo lah orang yang kalian keroyok." Pinta Kepala Kampung menengahi dan meluruskan ucapan dari Arif, agar masyarakat di luar ruangan Balai Kampung tidak merasa aneh akan ucapan Arif.
"Em.. Ba... Baik Pak, maaf kalau saya Salah." Ungkap Arif sedikit malu-malu.
"Ya, sudah tidak apa-apa. Lanjutkan!" Perintah Kepala Kampung.***
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru