Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan—terutama bagi Althea Reycecilia Rosewood, wanita dewasa berusia 27 tahun berparas cantik, dibalut pakaian casual yang membuatnya terlihat elegan, tatapan lembut dengan mata penuh kenangan. Setelah lama tinggal di luar negeri, ia akhirnya kembali ke Indonesia, membawa harapan sederhana 'semoga kepulangannya tak menghadirkan kekecewaan' Namun waktu mengubah segalanya.
Kota tempat ia tumbuh kini terasa asing, wajah-wajah lama tak lagi akrab, dan cerita-cerita yang tertunda kini hadir dalam bentuk kenyataan yang tak selalu manis. Namun, di antara perubahan yang membingungkan, Althea merasa ada sesuatu yang masih mengikatnya pada masa lalu—benang merah yang tak terlihat namun terus menuntunnya kembali, pada seseorang atau sesuatu yang belum selesai. Benang yang tak pernah benar-benar putus, meski waktu dan jarak berusaha memisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon About Gemini Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Phoenix
Beberapa hari ini Aleron dan Althea sangat disibukan dengan masalah proyek Phoenix sehingga beberapa hari ini baby Cio banyak menghabiskan waktunya bersama nenek dan kakeknya. Malam itu ruang keluarga mansion terasa begitu hangat. Lampu gantung berkilau lembut, cahaya keemasan menyoroti tawa kecil yang keluar dari bibir Mariana dan Harry. Baby Cio, dengan piyamanya yang lucu bergambar beruang, duduk manis di pangkuan Harry, sesekali menggeliat sambil menggenggam jari kakeknya.
Al bersandar santai di sofa, matanya tetap tak lepas dari putra kecilnya itu. Senyum samar tersungging, meski kepalanya sibuk dengan rencana final esok hari.
“Al…” Mariana tiba-tiba menoleh, menyeletuk sambil merapikan bantal di sebelahnya.
“Coba kamu lihat Althea di ruang kerjamu. Dari selesai makan malam tadi dia langsung pamit, sibuk mempersiapkan langkah final kalian besok. Thea sudah bekerja sangat keras… kamu harus menjaga dia, melindungi dia.”
Harry mengangguk, menepuk lembut punggung Baby Cio. “Benar kata Mommy. Jangan biarkan Thea memikul semuanya sendirian, Al.”
Al menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Baik, Mom, Dad… aku titip Cio sebentar. Aku akan menghampiri Thea."
"Tanpa kamu suruh, lagi pula Baby Cio akan tidur bersama kami malam ini. Dia pasti juga sudah kenyang. ASI Thea juga sudah mommy masukkan ke botol susu.”
Harry cepat-cepat menyela, wajahnya sok serius. “Hei, aku dan istriku juga ingin selalu dekat dan tidur bersama cucu kami.”
Al mendengus, memutar matanya dengan malas. “Dad… jangan akuisisi anakku.”
Suasana pun pecah oleh tawa Mariana. Harry hanya mengangkat bahu pura-pura tak bersalah, sementara Baby Cio tertawa ikut-ikutan meski tak mengerti apa-apa.
Al akhirnya beranjak, langkah kakinya membawanya ke ruang kerja. Dari celah pintu yang terbuka, ia menemukan pemandangan yang sudah tak asing: Althea duduk di meja kerjanya, matanya fokus pada sketsa desain yang menumpuk di hadapannya. Pensil menari di atas kertas, sesekali ia meraih kertas lain, membandingkan, mencatat, bahkan tidak sadar sama sekali bahwa ada seseorang yang berdiri di sana.
Al menggeleng pelan, matanya melembut. Sudah berulang kali ia katakan pada Thea untuk tidak memforsir diri, ia bisa menanganinya. Tapi keras kepala Thea—itulah yang selalu membuatnya kagum sekaligus khawatir.
Perlahan, Al melangkah mendekat. Ia menepuk lembut bahu Thea.
“Thea…” suaranya rendah.
Althea tersentak kecil, menoleh. “Al? Aku—aku harus menyelesaikan ini. Besok—”
“Besok biar aku yang urus,” potong Al, lalu tangannya bergerak menutup buku sketsa di meja.
“Sekarang yang harus kamu lakukan hanya istirahat. Kamu sudah bekerja lebih dari cukup, Thea.”
Althea hendak membantah, tapi sebelum kata-kata keluar, Al sudah meraih pergelangan tangannya, membantunya berdiri. Tatapan Al menahan semua argumen yang ingin keluar dari mulutnya. Ada sesuatu di sana—campuran proteksi, ketulusan, dan cinta.
“Percayalah padaku,” bisik Al.
Dengan enggan, Thea menuruti langkahnya. Mereka berjalan berdampingan menuju kamar. Sesampainya di sana, Thea otomatis mencari Baby Cio. Matanya menyapu ranjang, lalu ia menoleh ke Al dengan bingung.
“Cio…?”
Al tersenyum samar, menutup pintu di belakang mereka. “Cio tidur bersama Mommy dan Daddy malam ini. Jangan khawatir.”
Pipi Thea merona, rasa canggung menyergap dadanya. Biasanya, jika mereka tidur bersama, Baby Cio selalu ada di antara mereka. Rasanya aneh… seolah ruang itu terlalu dekat hanya untuk mereka berdua.
Thea pun akhirnya merebahkan diri, membelakangi Al, pura-pura sibuk dengan posisinya sendiri. Namun beberapa detik kemudian, lengan hangat melingkar dari belakang. Al memeluknya erat, dagunya bertengger di bahu Thea.
“Apa kamu malu?” bisik Al dengan nada menggoda.
“Kita sudah sering tidur bersama dulu.”
Thea menggigit bibirnya, wajahnya panas. Dalam hati ia merutuki kebodohannya. Memang benar… dulu, saat semuanya terasa sederhana, ia sering tertidur di samping Al, merasakan ketenangan dalam pelukannya.
Al kemudian dengan lembut membalikkan tubuh Thea hingga menghadapnya. Matanya menatap dalam, penuh kehangatan. Lalu, tanpa kata, ia mengecup kening Thea. Satu per satu kecupan turun ke kedua matanya, lalu ke pipinya, hingga akhirnya mendarat lembut di bibirnya.
Thea terkejut, matanya melebar. Namun kecupan itu membawa ingatan lama—kecupan yang dulu selalu Al berikan setiap kali ia gelisah, setiap kali ia tak bisa tidur. Kecupan yang dulu mampu membuatnya tenang.
“Tidurlah,” bisik Al, suaranya lirih namun penuh kepastian.
“Aku janji… besok semuanya akan selesai.”
Al memeluknya erat, tangannya mengelus lembut rambut Thea. Thea akhirnya memejamkan mata, perlahan melepaskan semua beban dalam kehangatan yang hanya bisa ia temukan dalam pelukan pria itu.
Dan malam itu, di antara detak jantung yang beradu, mereka berdua tahu—besok adalah hari besar, tapi untuk saat ini, yang mereka butuhkan hanyalah istirahat… bersama.
♾️
Pagi itu, mansion keluarga Moonstone dipenuhi aroma harum kopi dan croissant hangat yang baru keluar dari oven. Meja makan panjang bergaya klasik Eropa sudah tertata rapi dengan piring porselen putih berpinggir emas, vas bunga mawar segar di tengah meja, serta aneka hidangan sarapan: omelet keju, smoked salmon, roti panggang, salad segar, dan buah-buahan yang dipotong indah.
Al dan Thea turun bersama dari lantai atas. Thea dengan setelan kerja elegan berwarna beige, rambutnya diikat rapi, sementara Al dengan jas hitam simpel tanpa dasi terlihat tegas namun hangat.
Baby Cio pagi itu duduk di high chair kecil di samping Harry, mengenakan jumper putih dengan bordiran bintang emas. Tawa renyahnya terdengar setiap kali Harry mengajaknya bercanda. Mariana menyuapi cucunya potongan kecil buah pisang yang sudah dihancurkan, dan wajah Baby Cio tampak sumringah.
“Selamat pagi, Mommy, Daddy,” sapa Thea dengan senyum sopan, menunduk sedikit.
“Selamat pagi, sayang. Duduklah. Kalian tidak sarapan dulu?” Mariana langsung meraih tangan Thea dengan lembut, seolah ingin memastikan menantunya makan dengan cukup.
“Sepertinya tidak mom, kami akan sarapan dikantor saja.” jawab Thea sambil tersenyum tipis.
Harry mengangkat alis. “Nah, itu dia yang selalu aku khawatirkan. Kau sibuk mengurus semuanya, tapi lupa dirimu sendiri. Thea, kau harus ingat, cucuku ini butuh ibunya sehat. Jadi makanlah yang banyak.”
Thea mengangguk, merasa hangat di dadanya. “Baik, Daddy.”
Al menambahkan sambil menyendokkan makanan ke piring Thea, “Dengar kan, sayang? Kalau Mommy dan Daddy sudah bicara, aku juga nggak bisa melindungimu lagi. Jadi kita wajib sarapan.”
Semua tertawa kecil. Suasana meja makan terasa akrab, penuh kehangatan keluarga. Mariana bahkan berkata, “Kami akan menjaga Cio. Mommy ingin mengajaknya jalan-jalan di taman kota. Kau tenang saja di kantor, Thea.”
Thea menatap mereka penuh syukur. “Terima kasih, Mommy, Daddy. Aku benar-benar bersyukur punya kalian.”
♾️
Siang hari, suasana beralih ke ruang meeting utama MS Corporation yang megah, dengan dinding kaca tinggi yang memperlihatkan panorama kota Paris. Sebuah meja panjang dari marmer hitam berkilau dipenuhi dokumen, laptop, dan layar proyektor yang menampilkan sketsa desain Phoenix.
Ruang meeting besar di lantai tertinggi hotel mewah itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang jatuh berkilau di atas meja panjang marmer hitam. Di sisi kanan duduk Aleron Rafael Moonstone, berdampingan dengan Althea Reycecilia Rosewood yang tampak rapi dengan setelan kerja gelapnya, membawa map desain Phoenix. Wajahnya tenang tapi matanya tajam. Beberapa tim MS Corporation berada di belakang mereka, mencatat.
Di sisi lain, pihak Valmont sudah hadir lengkap. Bukan hanya tim desain mereka, tetapi juga CEO Valmont, Adrien Valmont—seorang pria berusia empat puluhan, berpenampilan licin dengan jas biru navy yang dipadukan dasi merah darah. Ia duduk paling depan, menatap Aleron dengan senyum tipis, seolah yakin akan kemenangan mereka. Di sampingnya, Lauren, manajer desain Valmont, tampak menunduk penuh percaya diri.
Suasana awalnya hening. Adrien Valmont, CEO Valmont, menyilangkan tangan di dadanya. Senyum tipisnya terkesan meremehkan. Lalu Adrien membuka pembicaraan dengan nada santai tapi menyindir.
“Mr. Moonstone… proyek Phoenix Anda terdengar besar, tapi di dunia perhiasan, bukan sekadar konsep yang berbicara. Kami juga punya desain—dan, kebetulan, beberapa sketsa kami sangat mirip dengan yang Anda klaim milik tim Anda.”
Thea langsung menegang. Tangannya menggenggam map desainnya erat.
“Karena memang itu milik kami,” jawabnya lantang. “Anda tidak hanya meniru, tapi menyalin mentah-mentah. Phoenix bukan sekadar proyek, itu hasil kerja keras bertahun-tahun.”
Lauren, manajer desain Valmont, menyela dengan nada tajam.
“Semua orang bisa menggambar burung api, Miss Rosewood. Tidak ada yang eksklusif di sini. Mungkin Anda terlalu emosional—atau… tim Anda tidak bisa membedakan inspirasi dengan klaim berlebihan.”
Al langsung mengangkat alisnya, matanya dingin menusuk Lauren.
“Hati-hati dengan kata-katamu. Kami punya cukup bukti untuk menunjukkan bahwa desain itu dicuri, termasuk detail teknis yang tidak mungkin Anda dapatkan kecuali dari dalam tim saya sendiri.”
Adrien mencondongkan tubuh ke depan, suaranya tenang tapi mengandung provokasi.
“Mr. Moonstone, bisnis ini kejam. Kadang-kadang orang kehilangan kendali atas bawahannya. Kalau ada yang bocor… mungkin salah Anda sendiri. Mengapa menyalahkan Valmont?”
Suasana ruangan mengental, udara seakan berat untuk dihirup. Thea hampir berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena emosi, tapi Al menahan tangannya pelan di bawah meja, memberi isyarat agar ia tetap duduk.
“Adrien…” suara Al rendah, datar, tapi mengandung ancaman halus, “kau pikir aku tidak tahu bagaimana Valmont bermain di belakang layar? Kau menuduh orang lain, padahal timmu sendiri yang kotor.”
Adrien Valmont tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.
“Kotor? Atau mungkin kau hanya takut kalah, Moonstone? Semua orang tahu reputasimu perfeksionis. Sedikit saja ada yang menyaingi, kau langsung teriak pencurian.”
Thea tak tahan lagi. Ia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya tajam menusuk.
“Reputasi Phoenix bukan sekadar nama. Setiap garis desain punya identitas. Kalau Anda berani menyangkal, mari kita buka satu per satu detail teknisnya—dari pola batu, pengukuran, sampai ukiran simbol. Lihat siapa yang lebih dulu memilikinya. Kami punya rekam jejak digital dan timeline kerja yang jelas. Apa Valmont berani menunjukkan hal yang sama?”
Lauren, yang sedari tadi terlihat percaya diri, tiba-tiba berkedip gugup. Ia melirik Adrien sekejap, lalu menjawab dengan suara meninggi,
“Semua desain kami orisinal! Tuduhan seperti ini mencemarkan nama baik Valmont.”
Al langsung menepuk meja dengan telapak tangannya. Suara tamparan telapak tangan Al di atas meja menggema keras di ruangan. Semua orang refleks terdiam. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit berkilau, seakan ikut menyoroti tatapan tajam Al yang kini menusuk langsung ke arah Adrien dan Lauren.
“Cukup!” suara Al berat, dingin, namun berwibawa.
“Jangan berani bicara soal nama baik jika kalian sendiri yang menginjaknya. Aku tahu persis kapan desain Phoenix disusun, siapa yang menggambarnya, siapa yang menyetujui tiap revisinya. Semua itu terekam, terdokumentasi. Valmont tidak akan bisa menyangkal.”
Thea menghela napas panjang, menahan gejolak emosinya. Ia membuka map di hadapannya, lalu mendorong beberapa lembar sketsa ke tengah meja. Jemarinya sedikit bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah.
“Ini bukti kami. Coretan tangan, revisi digital, dan cap waktu—semua jelas menunjukkan bahwa karya Phoenix asli dari tim kami. Bagaimana dengan Valmont? Hanya muncul tiba-tiba dengan desain yang kebetulan identik, bahkan detail terkecilnya.”
Lauren terdiam, matanya berlari mencari alasan. Adrien, dengan arogan, mencoba tetap tenang. Ia tersenyum tipis, seolah ingin mengubah arah diskusi.
“Moonstone… desain bisa mirip. Dunia ini penuh dengan inspirasi. Kalau burung api jadi simbol, siapa pun bisa menggunakannya. Kau tidak bisa memonopoli imajinasi.”
Al mendengus pelan, ekspresi wajahnya kaku.
“Benar. Inspirasi bisa dimiliki siapa saja. Tapi tidak dengan file kerja internal. Tidak dengan kode akses yang hanya timku punya. Dan jelas, tidak dengan catatan bocor dari orang dalam.”
Ruangan seakan membeku. Tim Valmont saling pandang, sebagian menunduk, sementara pihak MS Corporation tetap duduk tegak, menatap lawan mereka dengan dingin.
Thea menyilangkan tangan di depan dada, tatapannya menusuk Lauren.
“Lucu sekali. Katanya orisinal, tapi kalian bahkan menyalin pola ukiran yang hanya punya makna pribadi bagiku. Apa itu juga kebetulan? Atau hasil ‘kerja sama gelap’ kalian dengan seseorang?”
Lauren membeku di kursinya. Adrien menoleh cepat, tatapannya memberi peringatan halus agar Lauren diam. Tapi gestur itu justru semakin memperjelas ada yang disembunyikan.
Al tersenyum miring, matanya dingin. Ia bersandar sedikit ke kursinya, lalu berkata dengan suara rendah yang membuat semua orang menelan ludah.
“Kalau begitu… mari kita buktikan di sini dan sekarang. Aku minta seseorang masuk untuk bicara. Orang yang kalian kenal… sangat baik.”
Al melirik asistennya, memberi isyarat. Pintu ruang meeting terbuka perlahan. Langkah kaki bergema di lantai marmer, membuat suasana tegang semakin mencekik.
Suasana ruang meeting terasa tegang, udara seolah menahan napas. Semua mata tertuju pada pintu yang perlahan terbuka. Dari baliknya, seorang pria berusia sekitar 30-an masuk dengan langkah ragu. Wajahnya pucat, kemejanya kusut seolah ia menahan kegelisahan sejak tadi.
Itu adalah mantan karyawan Moonstone Corp. Namanya Daniel Hartono, dulu staf desain bagian digital rendering. Ia pernah menjadi salah satu anak buah berbakat, namun rekam jejaknya ternoda oleh kasus korupsi internal kecil—memotong biaya proyek untuk keuntungan pribadi. Al-lah yang langsung menandatangani surat pemecatannya dua tahun lalu.
Ketika Daniel melangkah masuk, suasana mendadak berubah. Dari pihak Valmont, Lauren tampak menegang. Ia bahkan sempat menyentakkan kursinya sedikit, matanya membesar melihat Daniel. Adrien mencoba tetap tenang, namun jemarinya mengetuk meja tak sabar.
Daniel berhenti di sisi meja panjang itu, tepat berseberangan dengan Al dan Thea. Tatapannya tidak bisa menatap lurus ke depan.
Al menyandarkan tubuhnya ke kursi, kedua tangannya bersedekap, tatapan dingin menusuk.
“Daniel Hartono.” Suaranya berat, tegas. “Sudah lama, bukan? Terakhir kita bertemu, kau bahkan tidak berani menatap mataku setelah laporan korupsi terbukti.”
Daniel menelan ludah, wajahnya semakin pucat. “Pak… Pak Moonstone, saya—”
Al mengangkat tangannya, menghentikan alasan itu. “Tidak perlu berputar-putar. Kita semua di sini tahu mengapa kau ada. Kau dipekerjakan oleh seseorang di Valmont. Kau membawa data internal Phoenix keluar, menjualnya, dan kini mereka menggunakan hasil curian itu.”
Lauren spontan menoleh cepat. “Itu fitnah!” katanya dengan suara tinggi, namun terdengar goyah. “Kami tidak pernah…—”
Thea memotong dengan dingin. Ia menyodorkan dokumen di hadapannya ke tengah meja.
“Ini, Lauren. Log aktivitas Daniel sebelum keluar dari perusahaan. Semua file yang ia akses, kebetulan hanya berkaitan dengan proyek Phoenix. Dan setelah itu, desain kalian tiba-tiba muncul dengan pola, struktur, bahkan detail mikro yang sama. Jangan katakan ini kebetulan.”
Daniel menutup wajahnya dengan satu tangan, tubuhnya gemetar. Adrien mengetukkan jarinya lebih keras kali ini, suaranya berat.
“Moonstone, berhenti membuat drama. Orang ini jelas hanya ingin membalas dendam karena dipecat. Kau tidak bisa menjadikan ocehan seorang mantan karyawan sebagai bukti sah.”
Al perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya kini lebih dingin, menusuk seperti belati.
“Apa kau pikir aku datang tanpa persiapan? Semua rekaman, semua transaksi transfer keuangan Daniel sudah di tangan kami. Nomor rekening yang menampung dana ‘kompensasi’ dari Valmont. Kau pikir bisa menyembunyikannya?”
Lauren terhenyak, wajahnya pucat pasi. Matanya melirik Adrien dengan panik, sementara Adrien masih berusaha mempertahankan ekspresi tenang, meski rahangnya mengeras.
Daniel akhirnya tak tahan. Suaranya pecah, penuh rasa bersalah.
“Ya… benar! Saya… saya butuh uang. Setelah dipecat, hidup saya hancur. Utang menumpuk, keluarga… hampir meninggalkan saya. Saat itu, saya bertemu Lauren—dia bilang dia bisa membantu. Dia bilang saya hanya perlu… memberikan sedikit informasi desain yang masih saya simpan. Saya… saya tidak menyangka mereka akan menyalin mentah-mentah karya Phoenix.”
Kata-kata itu jatuh seperti bom di ruang meeting.
Thea menutup matanya sejenak, menahan perasaan marah bercampur getir. Lauren membeku, wajahnya memerah, lidahnya kelu. Adrien berdiri mendadak, kursinya bergeser kasar.
“Cukup! Ini semua omong kosong! Valmont tidak pernah… tidak pernah melakukan pencurian!”
Namun Al tetap duduk tenang. Tatapannya dingin, tak bergeming. Ia mengetukkan jarinya ke meja, satu kali, lalu berkata lirih tapi penuh kuasa.
“Adrien, kau bisa berteriak sekeras apa pun. Tapi fakta tidak berubah. Bukti ada di tanganku. Timku bisa mempresentasikan sekarang juga, lengkap dengan alur transaksi, akses file, dan jejak digital yang ditinggalkan Daniel. Aku hanya ingin melihat sejauh mana kalian berani menyangkal di depan semua orang.”
Hening.
Suasana ruang meeting berubah menjadi kuburan sunyi. Pihak Valmont saling pandang dengan wajah menunduk. Lauren gemetar di kursinya, Adrien berdiri kaku, wajahnya kehilangan warna.
Sementara itu, Thea dan Al duduk berdampingan—tegas, solid, dan menang.
Hening yang mencekam menggantung di udara. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar, seolah ikut menghitung waktu menuju kehancuran reputasi Valmont.
Adrien masih berdiri, namun kini terlihat goyah. Rahangnya mengeras, urat lehernya menegang, sementara Lauren menunduk, wajahnya basah oleh keringat dingin. Daniel tampak seperti orang yang baru saja mengeksekusi hukuman mati untuk dirinya sendiri—pundaknya jatuh, pandangannya kosong.
Al perlahan bangkit dari kursinya. Ia tidak perlu membentak, tidak perlu mengeluarkan suara keras. Justru ketenangannya yang membuat semua orang di ruangan itu tertunduk.
“Moonstone Corporation tidak datang untuk berdebat. Kami datang untuk menunjukkan bahwa Phoenix adalah hasil karya kami. Tidak ada yang bisa menyangkal—bukan kalian, bukan siapapun.”
Thea menatap lurus ke arah Adrien. Tatapannya menusuk, matanya berkilat marah.
“Kau tahu rasanya bagaimana? Melihat karya yang kubangun dengan darah, waktu, dan air mata, tiba-tiba dipajang seolah milik orang lain? Kau bahkan tidak menghargai seni yang lahir dari jiwa, Adrien. Kalian hanya mencuri. Dan itu… menjijikkan.”
Lauren spontan menangis kecil, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Adrien ingin membantah, namun setiap kata terasa lumpuh di tenggorokannya.
Al meletakkan sebuah map di meja.
“Di dalamnya, ada laporan lengkap. Rekaman percakapan Daniel dengan salah satu eksekutif Valmont. Bukti transaksi keuangan. Dan timeline pergerakan file yang bocor. Jika kalian masih ingin bermain bersih, kita bisa menyelesaikannya di sini. Tapi jika kalian keras kepala… jangan salahkan aku kalau semua ini bocor ke media internasional.”
Wajah Adrien memucat. Nama besar Valmont bisa runtuh dalam semalam jika hal itu benar-benar terjadi. Investor akan menarik dana, mitra akan memutus kontrak, reputasi keluarga Valmot hancur tak bersisa.
Thea meraih tangan Al di bawah meja, menggenggam erat. Ia merasakan dinginnya jari Al, tapi juga ketegasan yang membuatnya tenang. Al menoleh sekilas, memberikan tatapan singkat penuh keyakinan: kita menang.
Adrien akhirnya terpaksa duduk kembali, suaranya keluar serak.
“…Apa yang kau inginkan, Moonstone?”
Al tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai sayatan dingin.
“Hanya satu: pengakuan. Tarik semua klaim Valmont atas desain yang kalian curi. Dan pastikan tidak ada satu pun pihak eksternal yang melihat Phoenix sebagai milik selain Moonstone Corporation. Itu saja.”
Lauren menoleh panik pada Adrien, seolah meminta jalan keluar. Namun Adrien hanya menunduk, menutup wajah dengan tangannya, menyerah.
“Baik,” katanya pelan, hampir tidak terdengar. “Kami… akan menarik semuanya.”
Thea menarik napas panjang, matanya memerah namun suaranya tegas saat menimpali:
“Dan pastikan kalian mengumumkannya sendiri. Dunia harus tahu siapa yang sebenarnya berbohong di sini.”
Al dan Thea berdiri, merapikan jas dan dress mereka dengan tenang, lalu berjalan keluar ruangan tanpa menoleh sedikit pun. Mereka meninggalkan ruang meeting dengan langkah mantap, sementara pihak Valmont terpuruk di kursi masing-masing.
Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Thea akhirnya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.
“Al… kita benar-benar menang, kan?” suaranya bergetar.
Al menoleh, menatap wajah Thea yang berusaha tetap tegar. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipinya lembut.
“Kita tidak hanya menang, Thea. Kita sudah menegakkan kebenaran.”
Thea tersenyum tipis, lalu menunduk, menahan air mata haru. Al menggenggam tangannya, menuntunnya keluar koridor panjang hotel menuju lift.
Di dalam lift, Al menatap pantulan mereka berdua di cermin dinding. Ia, Thea, dan bayangan kekuatan yang kini menyatu.
“Phoenix bukan hanya proyek,” ujar Al lirih namun penuh arti. “Phoenix adalah keluarga kita. Dan tidak ada yang bisa merampas itu darimu.”
Thea menutup mata, menempelkan kepalanya di bahu Al. Untuk pertama kalinya sejak perang dingin dengan Valmont dimulai, ia merasa benar-benar aman. Lift turun perlahan, membawa mereka keluar sebagai pemenang mutlak.