Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guru
"Telah aku katakan, ini akan menyita waktu," Metallo mulai memegang perutnya yang mulai berbunyi keroncong, "Apakah kalian berdua mau menjadi patung yang tidak berguna disini?" tanya dengan raut wajah yang sangat cemberut.
"Apa yang hendak engkau lakukan, Metal?" tanya Dabllo kebingunan.
Festo ingin mengikuti Metallo yang kini mulai melangkah meninggalkan ruangan itu, namun langkah kakinya terhenti ketika Ibu Leni tersadar dari lamunannya.
"Metallo, mau kemanakah engkau? Masih tidak mau mendengarkan aku?"
"Tidak kemana-mana, Bu. Tapi aku tidak suka diperlakukan seperti ini," Pintanya seraya melangkah mundur ketempat semuladengan raut wajah yang sangat kusam, oleh karena lapar dan juga tidak merokok.
"kalian bertiga berlutut disitu," pintanya sembari menunjuk ke arah kanan tempat dia duduk.
Gak ada sepatah katapun yang terungkap dari mereka bertiga selain menjalani semuanya dengan penuh beban.
"Ada apa? Apa yang mereka lakukan?"
"Kenapa mereka berlutut?"tanya siswa-siswi kepada sesama mereka seraya melangkah menuju ruangan itu.
"Aku sama sekali tidak mengetahuinya," jawab salah seorang siswi yang menatap tajam mereka bertiga dari balik jendela.
Melihat siswa-siswi yang kini mulai berdatangan, Ibu Leni mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka yang berada diluar ruangan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya kepada beberapa siswi yang berdiri di dekat jendela sembari mantap mereka bertiga yang sedang menjalani hukuman dari Ibu Leni.
"Tidak, Bu," jawab salah seorang siswi sembari menggaruk-garukkan kepalanya.
"Menjauh dari sini," pinta Ibu Leni tersadar akan tindakan yang diambilnya membuat mereka bertiga menanggung malu yang begitu dalam.
setelah beberapa siswi itu menjauh, Ibu Leni langsung bergegas menuju kedalam ruangan, "Berdir! Kalian bertiga."
Ketiganya saling bertatapan sesaat sebelum berdiri, dilain sisi mereka sangat bingung melihat tingkah Ibu Leni yang seakan-akan yak memikirkan lagi perbuatan yang mereka lakukan terdapatnya.
"Apa yang diinginkannya dari kita?" tanya Festo sembari mengelus lutut dan juga bokongnya yang masih terasa sakit.
"Diam! Ikuti saja apa yang dia kehendaki,"cetus Dabllo mendorong pundaknya.
Seketika Festo menjerit kesakitan sebab pukulan yang diterimanya dari Ibu Esi masihbawa perih yang seakan-akan disengat serangga, sedangkan Metallo terlihat tak ada keraguan sama sekali terhadap perlakuan Ibu Leni kepada mereka bertiga.
"Apa lagi yang kalian tunggu?"tanya Ibu Leni dengan nada yang sangat antusias, namun tatapannya masih menyimpan keegoisan mereka bertiga, hingga membuat ketiganya merasa sangat bersalah dengan tindakan yang telah mereka lakukan.
"Bu, maaf atas perbuatan yang telah kami lakukan, sebab telah mengusik benakmu," pinta Dabllo yang merasa sangat bersalah dengan perbuatannya, dilain sisi justru sangat takut jikalau apa yang dilakukannya dapat berakibat pada nilai etitut yang ditanam nya akan menurun.
Melihat Dabllo meminta maaf, naluri Festo terpanggil walau masih ada bekas dendam tergores rapi di dalam dirinya, sebab Ibu Leni menghajarnya tanpa memikirkan betapa dalamnya sakit yang dia tanggung.
"Maafkan aku juga, Bu. Maafkanlah perbuatanku, baik yang baru saja terjadi maupun yang telah berlalu di hari-hari kemarin."
Metallo menatap sinis keduanya sesaat, sebelum mengahlikan pandangannya kepada Ibu Leni yang kini menatapnya penuh antusias, "Maaf, Bu. Terima kasih karena telah hadir dalam kehidupanku, Terima kasih pula, karena engkau telah memberikan pelajaran yang berharga buat kami."
Ibu Leni diam sesaat sebelum wajah lesuhnya lenyap, dia kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka bertiga dengan penuh ceria, seakan-akan tidak terjadi sesuatu yang membuatnya merasa terusik oleh mereka bertiga.
"Mana mungkin aku tidak memaafkan kalian, sedangkan harta berharga bagiku adalah kalian. Nak, tanpa kalian aku tidak mungkin berdiri disini seperti saat ini, demikian pula sebaliknya, tanpa aku tak mungkin juga ada kalian yang berdiri di hadapanku...."
Ibu Leni menghela nafas panjang, dia kemudian mempersempit ruang antara dirinya dengan meraka sebelum memberikan sebuah sentilan manja di kening mereka, "Jangan lakukan lagi, iya."
"Sakit, Bu."
"Makanya jangan lakukan hal-hal konyol yang bisa membuat orang lain terbakar amarahnya. Tindakan kalian telah melebihi kesabaranku, hingga aku berbuat demikian."
Dia kemudian melangkah kembali ke ketempat duduknya, kedua tangannya kini dikatupkan di atas meja, "Ingat! Lain kali jangan lagi lakukan hal yang serupa, apa lagi yang kalian perbuat itu terhadap orang-orang yang lebih dewasa dari kalian ataupun yang lebih kecil dari kalian, sebab perbuatan yang kalian taman hari ini akan ada balasannya ketika tua menanti."
"Iya, Bu. Terima kasih atas sangsi yang kami terima," pinta Metallo sembari tertawa kecil mengejek Dabllo dan Festo.
"Sudahlah... Sekarang kalian boleh istrahat," pinta Ibu Leni yang hendak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menikmati segarnya udara di luar ruangan.
"Terima kasih, Bu."
Ketiganya pun langsung meninggalkan ruangan mereka, namun langkah kaki mereka terhenti ketika mendengar lonceng berakhirnya istrahat telah berbunyi, yang menandakan mata pelajaran akan dimulai dan seluruh siswa-siswi tidak diperbolehkan untuk pergi ke kantin lagi, sehingga membuat ketiganya merasa sangat kecewa.
"Jikalu kalian ingin pergi ke kantin, silahkan saja," pinta Ibu Leni yang menatap penuh rasa bersalah.
Ketiganya saling bertatapan sesaat, sebelum Dabllo menyakinkan Ibu Leni, "Tidak... Aku masih kuat, bahkan sehari penuh tidak membutuhkan asupanpun kusanggup, asalkan...."
"Asalkan apa? Jangan bilang merokok," cetus Ibu Leni sembari tertawa kecil, sebab dia kerap kali menjumpai mereka di kantin merokok tanpa ada rasa takut, sekalipun ada guru yang mengetahui itu mereka tidak menghiraukannya, khusus Metallo.
"Tidak, Bu," pinta Metallo.
"Hm... Sudah berapa kali engkau kedapatan merokok? Berhentilah merokok, Nak. Oleho karena Rokok tidak baik untuk kesehatanmu."
Dabllo dan Festo tertawa mengejeknya, oleh karena ketiganya selalu pergi bersama-sama ke kantin ataupun kebelakang ruang mereka jikalau ingin merokok, dan kerapkali mereka kedapatan sedang merokok oleh Ibu Leni.
"Kalian berdua juga sama halnya dengan dia. Jangan tertawa! Merokok sangat tidak baik untuk kesehatan dan juga sangat mengganggu pertumbuhan kalian, apalagi umur kalian masih sangat mudah."
"Iya," jawab keduanya tak berkutik lagi selain melangkah menuju ke tempat duduk mereka menunggu siswa-siswi lain yang masih berada di luar.
Selepas kejadian itu, materi yang mereka pelajari berjalan lancar seperti biasanya hingga bel pertanda waktu belajar di sekolah telah selesai, dibunyikan.
"Metallo, aku numpang bersamamu, iya," keluh Nia.
Metallo mengerutkan dahinya, sebab ia tidak membawa motor yang selalu digunakan untuk mempercepat langkahnya, namun kali ini dia tidak membawanya, "Numpang? Nanti aku gendong, iya," cetusnya sembari tertawa kecil.
"Maaf, aku lupa," Nia kemudian memasukan seluruh perlengkapannya kedalam tas, "Indri... Tunggu Aku, iya."
"Iya, Na. Yuk... Pulang," pinta Indri yang kini mulai melangkah pergi.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman yang telah mendukung karyaku sampai sejauh ini.🙏🙏🙏Salam shantun🙏🙏🙏
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??