Jangan lupa mampir ditempat ini...!
Menceritakkan seorang cewek ceria dan kocak masuk ketubuh sahabat jauh setelah pergi dan jarang bertemu.
bagaimana kisahnya, dan mampukah dia menerima jadi diri barunya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon THAN PUR2507, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episodes 28.
Setelah mobil yang dinaiki oleh Darius pergi jauh dari tempat tersebut. Jihan kemudian mengambil napas dalam-dalam, sempat menahan jengkel dengan perilaku Darius padanya yang menurutnya aneh.
Memang Jihan kurang tahu hubungan Shella dengan Darius itu sebatas apa. Sampai-sampai begitu bersikap manis dan pengertian padanya seperti yang ia ketahui.
"Hari ini nak Darius sedikit aneh dan tidak seperti biasanya!."gumam ibu namun ucapannya cukup jelas didengar oleh Jihan disampingnya
"Maksut ibu biasanya Darius nggak bertingkah begitu?."sela Jihan menanyakan perkataan yang ibu ucapkan barusan
"Iya Jihan, nak Darius itu sulit bicara dengan seorang wanita seusianya. Dulu pun ada seorang wanita yang ingin berkenalan dengannya, tetapi diabaikan olehnya."jawab ibu mengatakan kejadian disaat itu
"Tapi kenapa lain ketika bertemu denganmu Jihan, wajahnya saja terlihat senang dan seperti menyembunyikan perasaan suka padamu. Melihat dari tatapan matanya ibu sangat yakin kalau dia menyukaimu."tambah ibu mengungkapkan keanehan yang dilihat didepan matanya
Mendengarnya Jihan mulai semakin bingung dengan ucapan dan dugaan ibunya itu. Mungkinkah memang benar Shella memiliki hubungan spesial dengan Darius.
"Ibu bisa saja, mungkin itu nggak bener. Lagipula dia orang kaya dia juga punya tipe cewek yang disukai olehnya, yang terpenting bukan aku."ujar Jihan dengan nada rendah tidak menganggap ucapan ibunya serius
Entah dugaan ibu itu benar Jihan masih harus butuh penjelasan pada Shella secara langsung dan jelas.
"Permisi apa saya boleh beli kue yang ini dua!."ucap seorang wanita muda dengan wajah ramah berdiri didepan menjualnya
Ketika ibu dan Jihan mengobrol membahas soal Darius. Seorang pembeli seketika menyadarkan mereka berdua, dan membuat mereka kembali fokus melayani pembeli.
"Tentu, yang ini berada!."
"Dua saja berapa harganya."
Setengah hari pun berlalu, dengan wajah lelah dan senang karena kue-kue diatas mereka hampir terjual habis. Membuat ibu tersenyum senang sambil menatap Jihan yang juga sama lelah sepertinya.
"Sebaiknya kamu istirahat dirumah biar ibu yang jual sisanya, kamu pasti sudah capek setengah hari bantu ibu jualan kue."ucap ibu berdiri dibelakang Jihan sambil menepuk pelan bahu putrinya
Jihan menolehkan wajahnya menatap ibu, lalu mengeleng pelan tidak ingin pulang dan akan membantu ibu sampai kue terjual habis.
"Nggak usah bu, Jihan masih bakal tetap temani ibu jualan sampai kue terjual habis. Lagian cuma sisa sedikit nanggung kalau pulang duluan."ujar Jihan mengelengkan kepalanya menolak ucapan ibunya
Berjualan kue ini membuat Jihan banyak belajar dan menambah pengalaman, dulu ia hanya menjadi tukang kasir diresto tempatnya bekerja sebelumnya.
Ternyata ia baru tau rasanya jualan ditepi jalan lebih menyenangkan, semua pembeli banyak yang ramah dan sopan.
Tidak seperti diresto bahkan para pelayan disana terkadang suka bicara kasar dan suka menyindir pelanggan yang menurut mereka miskin.
"Bener kamu tidak mau pulang!."
"Bener bu."jawab Jihan sambil mengangguk tetap ingin menemani sampai selesai
******
Setelah jam makan siang selesai, semua pekerja dikantor kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Diruangan yang cukup luas dengan banyak sekali dokumen-dokumen penting diletakkan disana. Darius duduk dikursi besarnya, bersandar sambil melamun memikirkan sesuatu yang sedikit menganggu pikirannya saat ini.
"Tuan apakah saya boleh masuk?."ucap seorang pria yang tidak lain asistennya sendiri
Mendengar suara dari luar ruangannya Darius membuka matanya yang sebelumnya terpejam. Menatap kearah pintu dengan wajah berkerut merasa gelisah.
"Ya, masuk saja!."jawab Darius singkat
Tak lama setelah Darius bicara, asisten pribadinya masuk kedalam ruangannya sambil membawa map berwarna biru ditangannya.
Dengan langkah besarnya Kevin melangkah mendekati meja dan meletakkan dokumen yang ia bawa diatas meja.
"Tuan anda perlu menandatangani dokumen ini."ucap Kevin dengan singkat mengatakan keperluannya
"Baiklah!."angguk Darius pelan lalu mengambil pulpen ditempatnya dan mulai menandatangi
"Hanya ini saja?."tanya Darius dengan wajah sedikit kurang bersemangat
Hampir tiga kali ia menandatangai kertas kontrak. Setelah memastikan semua telah ditandatangani Kevin mengelengkan kepalanya pelan.
"Ya tuan, hanya ini saja."jawab Kevin dengan tenang lalu menutup kembali dokumen tersebut
"Kenapa wajah tuan begitu murung, bukankah tadi siang begitu semangat. Apakah ada sesuatu yang sedang anda pikirkan?."ucap Kevin yang memberanikan diri untuk bertanya
Sejak masuk kedalam Kevin sempat melirik kalau bosnya terlihat sangat murung dan banyak pikiran. Jadi karena itulah dia memberanikan diri untuk bertanya langsung.
"Bukan apa-apa, hanya masalah kecil saja."ujar Darius dengan nada pelan tatapannya melirik Kevin lesu
"Jika butuh apapun jangan sungkan untuk bicara pada saya. Mungkin saja saya bisa membantu tuan."ujar Kevin dengan siap membantu apapun
"Makasih, tapi untuk saat ini tidak dulu."jawab Darius tersenyum tipis mengerti perasaan Kevin yang ingin membantunya
Kemudian Kevin memutuskan untuk pergi dan kembali melanjutkan pekerjaan. Merasakan suasana hening kembali, Darius meraih sebuah kotak berwarna hitam diatas meja.
Mengeluarkannya dan mengenggamnya pelan sesekali menatapnya dengan tatapan menyembunyikan kesedihan dibalik tatapan tenangnya.
"Hanya inilah pemberian terakhir ayah, tapi gimana caranya bisa jelasin pada mama kalau Darius belum siap untuk menikah."ucap Darius sambil mengusap sebuah liontin lama milik ayahnya yang selalu disisinya
"Bagaimana pun Darius belum siap!."ujarnya gelisah
******
Sehari pun berlalu, kini langit-langit mulai berwarna hitam kebiruan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang sangat melelahkan Darius kini sedang berjalan keluar dari kantor.
Akan tetapi disaat Darius melangkah keluar, langkahnya seketika dihentikan oleh suara seorang wanita yang berjalan berlawanan darinya.
"Darius untung aku tidak terlambat, kupikir kamu sudah pulang duluan."ucap Nabila terdengar senang karena rupanya bisa bertemu dengan Darius
"Ada perlu apa kamu kesini?."tanya Darius dengan nada santai menatap Nabila didepannya
"Begini tadi mama memintaku untuk menemuimu dan meminta kita makan malam bersama malam ini!."ujar Nabila dengan nada lembut
Mengatakan alasan dari mamanya tadi supaya Darius tidak menolak ajakan darinya. Karena menurutnya sangat sulit mengajak Darius makan malam bersama.
"Gue lagi nggak minat, mending tunda aja."tolak Darius dengan sopan ajakan Nabila meski itu memang kemauan mamanya
Darius melangkahkan kakinya melewati Nabila dengan acuh, lagipula ia tidak ingin pergi kemana-mana dan ingin cepat pulang.
Namun disisi lain Nabila tidak akan melepaskan Darius begitu saja. Untuk bisa mengajaknya pergi malam ini, segala cara akan ia lakukan.
"Tunggu Darius, apa kamu akan menolak kemauan mama kamu?."ucap Nabila dengan nada penekanan pada mama Darius sendiri yang menginginkannya
Tangannya yang digenggam erat oleh Nabila, Darius mengangkat bola matanya rendah. Menghela napasnya terdengar berat lalu melepaskan tangan Nabila dan berbalik menatapnya.
"Oke, kita pergi!."jawab Darius dengan wajah pasrah namun masih terlihat tenang dan dingin itu
Mendengar bahwa Darius menerima ajakannya, Nabila tersenyum kegirangan didalam hatinya. Kemudian mereka berdua pun berjalan bersama menuju restoran favorit Darius.
Hanya itu aja sih dari author terimakasih atas waktunya yang saat ini baca/Bye-Bye//Smile//Grievance/