Cinta Anarya kepada Daneesa menciptakan masalah berkepanjangan hingga berujung pada menderitanya buah hati mereka. Kehamilan Daneesa menjadi boomerang bagi keluarga besar Bramantyo. Pasalnya, mereka tak setuju dengan hubungan Anarya dengan Daneesa.
Kematian Daneesa menjadi awal penderitaan batin yang harus ditanggung oleh Anarya dari masa ke masa. Setumpuk penyesalan tak mampu mengubah apapun dan tak mampu mengembalikan apa yang telah sirna.
Nesa Putri Anarya, itulah nama buah hati mereka yang juga harus merasakan getirnya perlakuan keluarga Bramantyo yang merasa telah tercoreng dengan kehadiran Nesa kecil.
Pernikahan Anarya dengan Lasmi justru menjadikan kehidupan gadis kecil itu semakin dalam kehinaan. Seorang anak yang tak pernah tahu apa kesalahannya, namun dianggap pantas untuk menerima buah dosa dari kedua orang tuanya.
Kisah yang penuh liku-liku kehidupan sehingga memiliki ending cerita yang tak tertebak seperti rahasia kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 Terlampau Sakit
Suasana di dalam mobil berubah menjadi kaku, beku mengalahkan dinginnya es krim yang sedang dinikmati oleh Nesa.
Anarya seperti menyadari ada yang berubah dari sikap Daneela dan Bu Bram. Tak ada sedikit pun kata yang menghiasi perjalanan mereka. Bahkan ketika telah sampai di rumah kediaman keluarga Bramantyo.
Pak Bram seolah menangkap kegelisahan istrinya, ia pun mendekati wanita yang sengaja menyibukkan diri di perpustakaan mininya.
"Mama kenapa? Dari tadi hanya bolak-balik buku, ganti buku lagi, bolak-balik lagi."
"Nggak apa, Pa."
"Pasti ada yang dipikirkan."
"Nggak, Pa."
"Jangan bohong. Kalau tidak ada yang dipikirkan, pasti baca bukunya dengan posisi yang benar ... nggak terbalik macam itu."
Bu Bram terperanjat. Segera ia lihat buku yang telah beberapa menit ia pegang. OMG ... benar, terbalik.
Bu Bram meletakkan kembali buku dan duduk menghadap suaminya. Bulir bening telah menggantung di sudut netra.
"Kenapa? Cerita ke Papa, tapi yang jujur. Papa nggak suka dengan kebohongan Mama selama ini."
Dada Bu Bram seperti dihantam batu besar, pelak mengenai ulu hati. Sesak ia rasa, ada banyak hal yang harus ia akui.
"Mama yang menyebabkan Daneesa meninggal, Pa." lirih dan berat Bu Bram mengatakan itu.
Sendi Pak Bram seketika lemas seperti dilucuti, tenggorokannya tercekat. Ia tak menyangka istrinya sudah sejauh itu melakukan kesalahan.
"Mama menyesal, Pa. Tapi Mama juga takut jika Daneela melaporkan Mama ke polisi." Bu Bram semakin nampak frustasi sehingga bahunya terguncang karena isakan tangis yang akhirnya pecah.
Pak Bram paling tidak bisa melihat air mata istrinya, namun untuk kali ini rasa iba itu terkalahkan oleh rasa geram dan kecewa. Ia hembuskan napas kasar.
"Apakah Anarya dan Daneela sudah tahu tentang hal ini?" selidik Pak Bram.
"Daneela sudah tahu, Pa. Tadi waktu beli es krim, kami berpapasan dengan Lasmi. Dia benar-benar ular yang mampu mematuk orang yang dulu pernah membelanya habis-habisan."
"Ini semua adalah resiko yang harus Mama tanggung atas perbuatan Mama di masa lampau."
"Apa yang harus Mama lakukan, Pa?"
"Tenanglah, malam ini harus kita selesaikan. Apapun hasilnya, Mama harus mau mengakui semua kesalahan dan meminta maaf."
"Iya, Pa." Bu Bram menyandarkan kepala ke bahu suaminya, teduh begitu ia rasa dalam pelukan lelaki yang selama ini telah bersabar menghadapi keegoisannya.
****
Cahaya lampu hias di ruang tengah telah bersiap menjadi saksi dari sebuah pengakuan kesalahan masa lampau. Selepas makan malam yang penuh kecanggungan, akhirnya Pak Bram memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga.
Beberapa kali terdengar hembusan napas berat dari Bu Bram. Ruang keluarga yang biasanya begitu nyaman, kini ia rasa seperti ruang pengadilan yang begitu menakutkan. Kecemasan demi kecemasan telah merongrong ketenangannya.
Pak Bram menduduki sofa tengah, tepat di bawah potret keluarga. Sedangkan Bu Bram dan Daneela duduk di sofa yang berseberangan. Jelas nampak dari sorot netra mereka, memancarkan semburat saling bertolak. Kecemasan dengan kebencian.
Anarya yang duduk di kursi roda memilih berada di sebelah Daneela. Ia raih jemari Daneela dan mengeratkan pegangan. Netranya mengisyaratkan untuk berhenti bersikap seperti itu.
"Baiklah. Kita tak perlu berlama-lama." Pak Bramantyo menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Daneela, kamu pastinya sudah tahu apa yang dilakukan istriku. Sebagai seorang suami aku telah gagal mendidiknya. Sudah sepatutnya segala kesalahan ditimpakan padaku, karena akulah penanggungjawabnya."
Mendengar itu, Bu Bram menatap suaminya dengan haru. Ia tak menyangka sebaik itu hati lelaki yang sering ia abaikan, bahkan hampir hilang rasa hormat kepadanya. Tak terasa bulir bening kembali jatuh, terlampau banyak sesal yang menyeruak di dada.
"Aku ingin memohon kepadamu, demi anakku dan juga cucuku. Maafkan istriku dan bersedialah menjadi menantu kami." Binar itu begitu penuh harap.
"Jujur, Pak Bramantyo. Kata maaf itu tak mampu menebus kesalahan istri anda. Bahkan tak mampu menghapus duka dari seorang ibu yang harus kehilangan anaknya." Daneela dengan tatapan penuh amarah yang coba ia redam.
"Ya, aku tahu."
"Tak satu pun orang tahu dan paham kondisi Mamaku waktu itu. Hampir depresi karena ia harus menerima kenyataan yang teramat menyakitkan. Dalam satu tahun ia harus kehilangan Ayah dan setelahnya Daneesa."
"Anda tahu selama delapan tahun ia menghabiskan air mata di sudut kamar dengan memandangi foto putrinya?"
Hening. Waktu berasa terhenti tatkala Daneela menumpahkan apa yang dirasakan Bu Rani. Sakit yang melebihi tikaman ribuan pisau.
"Kalian tak pernah tahu bagaimana Mamaku menjalani hari-harinya dengan derai air mata. Bahkan ketika Anarya mengambil Nesa kecil, ia pun sama tak pernah berpikir bahwa bayi itu adalah pengganti dari Daneesa."
Anarya terhenyak. Benar, ia tak pernah berpikir sejauh itu. Karena waktu itu ia hanya ingin Daneesa tetap hidup dalam setiap hembusan napasnya. Melihat Nesa membuatnya kembali semangat menjalani kehidupan.
"Daneela --" Anarya mencoba menggenggam tangan Daneela namun ia tak menyangka wanita itu menepisnya.
"Kamu tahu kenapa aku membenci kalian? Awalnya aku benci kesombongan kalian, namun sekarang aku lebih membenci kalian. Khususnya kamu Nyonya Bramantyo." Pandangan Daneela menghunjam ke Bu Bram yang seketika menghambur memohon maaf kepada Daneela.
"Maafkan aku, aku bukanlah malaikat berhati suci. Esok hari, pagi-pagi aku akan segera pergi dari sini. Aku bertahan hanya karena tak ingin merusak kebahagiaan Nesa hari ini."
"Tolong, Daneela maafkan aku. Kita bisa benahi semuanya bersama-sama. Aku akan mohon maaf ke Bu Rani."
"Tidak. Anda tidak saya ijinkan membuat luka baru pada hati rentan seorang ibu yang telah bertahun-tahun menderita karena ulah anda."
"Kalau begitu maafkan aku. Tetaplah tinggal di sini."
"Sekali lagi saya perjelas, aku bukan malaikat yang berhati suci. Aku bisa memaafkan keangkuhan Anda, tapi tidak dengan percobaan pembunuhan itu."
"Aku tidak berniat membunuhnya, sungguh."
"Apa perlu polisi yang menyelidikinya?"
"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu."
"Daneela, cukup!" Kini Anarya nampaknya ia kehilangan kesabaran.
"Daneela, aku tahu kamu belum bisa memaafkan istriku. Tapi tolong jangan bawa kasus ini ke polisi." Pak Bram menimpali.
"Bangunlah, Ma. Jangan memohon lagi." Anarya memegang bahu Bu Bram dan mengajaknya masuk ke kamar.
"Mama istirahat, biar Anarya yang menyelesaikan semua masalah ini." Dengan lembut Anarya mengusap bahu mamanya, ia berusaha menenangkan wanita yang telah kuyu dengan air mata.
"Maafkan Mama, Nak."
"Sudah, Ma. Sekarang Mama istirahat. Anarya akan keluar sebentar, masalah ini harus selesai malam ini juga."
Bu Bram hanya bisa mengangguk pasrah. Ia sudah putus asa tak tahu harus berbuat apalagi. Sekarang yang ada hanyalah sesal.
Anarya kembali ke ruang keluarga, kemudian menarik lengan Daneela dengan kasar.
"Narya, hentikan!" titah Pak Bramantyo.
"Tidak, Pa. Aku harus menyelesaikan semua dengan caraku." Tanpa menghiraukan Pak Bram, Anarya terus menarik tangan Daneela dan melajukan kursi roda menuju ruang perpustakaan mini.
"Daneela, kita harus selesaikan semuanya malam ini juga," ucap Anarya setelah meminta Daneela duduk di kursi.
"Apanya yang mau diselesaikan? Kamu ingin memaksaku untuk memaafkan kelakuan jahat Mamamu?"
Anarya mematung. Wajah garang yang ia tampakkan kini meluruh berganti wajah memelas. Ia pegang kedua tangan Daneela dan merangkumkan ke wajahnya.
"Tatap aku, Daneela."
"Apa kamu tak melihat banyak luka di sana?"
"Apa kamu akan terus membuat luka itu lebih dalam lagi?"
Daneela tercekat. Goresan-goresan kesedihan begitu menyayat hati. Tak ada pendar bahagia yang ia temukan di netra kelam itu.
"Bukan hanya Mamamu yang menderita, tetapi aku juga teramat sangat tersiksa, Daneela."
"Aku mencintai Daneesa begitu banyak, hingga hati ini penuh dengan semua tentangnya. Dia cinta pertamaku dan terakhir. Apa kamu pikir aku bahagia selama ini?"
Pandangan Daneela nanar, ia mencoba membuang tatapannya agar air mata yang ia coba tahan tak jatuh.
"Baiklah jika kamu tak bisa memaafkan Mama. Namun, lihatlah Nesa yang membutuhkan kita. Apa kamu juga akan menyakiti keponakanmu yang hingga sekarang terus memanggilmu 'Mama' tanpa ia tahu kenyataan sebenarnya."
"Beri aku waktu, Anarya."
"Berapa lama?"
"Entahlah."
"Aku butuh kepastian, Daneela. Apa kamu tak mencintaiku?"
"Sayangnya rasa benciku lebih besar dari rasa cintaku, Narya."
"Itu artinya --"
"Sudahlah. Aku lelah dan ingin istirahat. Aku tetap pada pendirianku, besok pagi-pagi aku akan pergi."
"Daneela, aku mohon."
"Maaf, aku nggak bisa. Tapi tenanglah, aku tak akan membawa kasus ini ke polisi. Aku tak ingin Mamaku kembali hancur hatinya karena mengetahui putrinya meninggal akibat percobaan pembunuhan."
Daneela melenggang keluar, meninggalkan Anarya yang masih memandangnya dengan sejuta kecewa.