Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tim Legal di Bawah Pohon Beringin
Pukul tujuh pagi, gang sempit Tambora yang biasanya hanya diramaikan oleh suara panci dan teriakan ibu-ibu menyuruh anaknya mandi, kini dipenuhi oleh pemandangan yang jauh lebih asing—tiga mobil sedan hitam mengkilap berhenti berurutan tepat di depan shelter kaca pangkalan "PODOMORO", disusul sebuah minibus putih bertuliskan Kirana Law Partners di bagian pintunya.
Arya, yang baru saja selesai membantu ibunya membungkus nasi timbel untuk dagangan pagi, keluar dari rumah dengan mata masih sedikit sembab akibat kurang tidur semalam. Ia menghela napas panjang melihat rombongan berjas rapi yang mulai turun satu per satu dari kendaraan mereka, membawa koper-koper dokumen dan tabung gulungan peta yang tampak sangat tidak sinkron dengan pemandangan kabel listrik semrawut di atas kepala mereka.
"Secepat ini?" batin Arya, sedikit terkejut namun juga lega. "Citra beneran nggak main-main soal janjinya semalam."
Seorang pria berusia awal empat puluhan dengan kacamata berbingkai tipis dan map kulit di tangan melangkah maju, mengulurkan tangan dengan sopan begitu melihat Arya mendekat. "Selamat pagi. Saya Bimo Aditya, kepala tim legal properti dari Kirana Law Partners. Ibu Citra Kirana menugaskan kami untuk menangani kasus sengketa lahan di sini. Apakah Anda Saudara Arya Prasetya?"
"Iya, Pak. Saya sendiri," jawab Arya sambil menjabat tangan itu, meski di dalam hatinya masih sedikit tidak percaya bahwa dalam waktu kurang dari dua belas jam, sebuah firma hukum korporat sekelas ini sudah bisa mengerahkan pasukan lengkap ke gang sesempit ini. "Terima kasih banyak sudah mau repot-repot dateng pagi-pagi, Pak Bimo."
"Ini bukan soal repot, Mas Arya," Pak Bimo tersenyum tipis, matanya menyapu deretan rumah petak di sekitarnya dengan tatapan profesional yang teliti. "Ibu Citra memberi instruksi sangat jelas—kasus ini prioritas utama, di atas semua urusan korporat lain minggu ini. Jadi mohon kerja samanya. Kami butuh bicara dengan seluruh warga yang punya dokumen kepemilikan lahan, sekecil apa pun bentuknya."
Bang Jay, yang sejak tadi mengintip dari balik shelter kaca sambil menyeruput kopinya, akhirnya keluar dengan wajah setengah percaya setengah tidak. "Ini beneran pengacara asli, Ya? Bukan settingan lagi kayak dulu waktu Nona Nadia sama Nona Citra ribut rebutin lu?"
"Ini beneran, Bang," jawab Arya sambil menahan senyum kecut. "Dan ini urusan serius. Tolong kumpulin semua warga yang punya girik atau surat tanah lama. Kita butuh semuanya."
Dalam waktu kurang dari satu jam, halaman shelter kaca pangkalan yang biasanya hanya diisi belasan driver ojol kini berubah menjadi semacam posko darurat. Meja-meja kayu panjang dari warkop Mbak Sri disusun berjajar, di atasnya tergelar peta lama kelurahan, fotokopi girik yang sudah menguning, dan sertifikat-sertifikat tanah adat yang selama puluhan tahun hanya disimpan di dalam kotak kayu atau lipatan lemari pakaian.
Pak Surya duduk di kursi paling depan, menyerahkan dokumen keluarganya kepada seorang paralegal muda bernama Sinta yang bekerja dengan teliti, memindai setiap lembar dengan pemindai portabel sambil sesekali mencatat sesuatu di tablet digitalnya.
"Pak Surya," Sinta bertanya sambil menatap salah satu lembar surat keterangan yang cetakannya sudah buram, "ini tanda tangan lurah tahun berapa ya, Pak? Bagian tanggalnya agak susah dibaca."
"Itu tahun tujuh puluh delapan, Nak," jawab Pak Surya dengan suara serak yang berwibawa, matanya yang mulai rabun menyipit mencoba membantu membaca tulisan yang sudah pudar. "Waktu itu Bapak masih muda, ikut rombongan sama almarhum Bapaknya Bang Jay buka lahan ini dari rawa-rawa. Kelurahan yang urus waktu itu udah gabung sama kelurahan yang sekarang, jadi mungkin arsipnya agak susah dilacak."
Sinta mengangguk sambil mencatat, lalu berpaling ke arah Pak Bimo yang sedang memeriksa dokumen lain di ujung meja. "Pak Bimo, dari yang saya lihat sejauh ini, pola dokumennya konsisten. Ada belasan keluarga dengan girik dan surat keterangan kelurahan lama yang tanggalnya saling berdekatan, sekitar akhir tahun tujuh puluhan sampai awal delapan puluhan. Ini menunjukkan penghunian yang memang sudah sangat lama dan terorganisir, bukan okupasi liar."
"Bagus," Pak Bimo mengangguk, wajahnya mulai menunjukkan sedikit optimisme. "Itu poin kuat pertama kita. Tapi kita masih perlu membandingkannya dengan sertifikat yang diklaim oleh Pratama Land Development. Mereka bilang membeli lahan ini dari pihak ketiga tahun 2019. Kita perlu tahu siapa pihak ketiga itu, dan bagaimana mereka bisa mengklaim kepemilikan atas tanah yang jelas-jelas sudah dihuni puluhan tahun."
Arya, yang sejak tadi duduk di samping ayahnya sambil sesekali membantu menerjemahkan istilah hukum yang tidak dimengerti warga lain, merasakan God-Phone di sakunya bergetar pelan. Ia melirik layarnya diam-diam, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: ANALISIS DOKUMEN SEDANG BERLANGSUNG.]
[Catatan: Sistem mendeteksi anomali pada salinan sertifikat Pratama Land Development yang sempat ditunjukkan kurir kemarin. Nomor registrasi notaris pada sertifikat tersebut menggunakan format penomoran yang baru mulai berlaku tahun 2021—dua tahun setelah tanggal transaksi yang tertera. Ini adalah kejanggalan administratif yang signifikan, namun sistem tidak dapat memberikan bukti hukum resmi. Verifikasi lebih lanjut memerlukan akses ke database notaris resmi, yang berada di luar jangkauan kemampuan sistem.]
[Saran: Sampaikan kejanggalan ini kepada tim legal profesional Anda untuk diverifikasi melalui jalur resmi.]
Arya mengernyit, mencerna informasi itu dengan hati-hati. Ia tahu betul bahwa membocorkan informasi yang "entah dari mana ia tahu" bisa menimbulkan kecurigaan aneh, jadi ia memutuskan untuk menyampaikannya dengan cara yang lebih masuk akal.
"Pak Bimo," Arya mendekat, mencoba terdengar sesantai mungkin. "Kemarin waktu kurirnya nganterin surat, saya sempat lihat sekilas salinan sertifikat yang mereka lampirkan. Nomor registrasinya kayaknya format baru deh, Pak. Saya pernah bantu nganterin dokumen notaris buat penumpang, jadi agak hafal formatnya."
Pak Bimo menatap Arya dengan alis terangkat, tampak sedikit tertarik. "Format baru? Bisa dijelaskan lebih detail?"
"Kalau nggak salah, formatnya pakai kode provinsi tiga digit di depan. Setahu saya, format itu baru diberlakukan Kementerian ATR/BPN sekitar tahun 2021," jawab Arya, mencoba terdengar seyakin mungkin meski sebenarnya informasi itu murni hasil bisikan sistem.
Sinta, yang mendengar percakapan itu, langsung membuka laptopnya dan mengetik cepat, memeriksa arsip peraturan kementerian yang bisa diakses publik. Beberapa detik kemudian, matanya melebar.
"Pak Bimo," Sinta berbisik, suaranya bergetar oleh antusiasme profesional. "Benar. Format penomoran tiga digit kode provinsi ini memang baru resmi diberlakukan lewat surat edaran Kementerian ATR/BPN pertengahan 2021. Kalau sertifikat Pratama Land Development mengklaim transaksi terjadi tahun 2019 tapi nomor registrasinya menggunakan format 2021... itu berarti dokumen itu kemungkinan besar dipalsukan, atau setidaknya diproses ulang belakangan dengan tanggal mundur."
Seluruh meja mendadak hening. Bang Jay yang sedang duduk di samping Dedi langsung berdiri, matanya berbinar penuh semangat. "Jadi maksudnya, mereka bohong soal surat itu, Ya?!"
"Belum tentu bohong seratus persen, Pak," Pak Bimo cepat-cepat menahan euforia yang mulai menyebar. "Tapi ini kejanggalan yang sangat serius. Kalau memang benar dokumennya diproses ulang dengan tanggal mundur, itu bisa jadi indikasi pemalsuan dokumen negara—yang merupakan pelanggaran pidana, bukan cuma sengketa perdata biasa." Ia menatap Arya dengan pandangan yang penuh rasa hormat baru. "Mas Arya, informasi ini sangat berharga. Saya akan minta tim kami mengajukan permintaan verifikasi resmi ke kantor pertanahan terkait nomor registrasi ini. Kalau terbukti, ini bisa membalikkan seluruh posisi kita."
Arya mengangguk, menyembunyikan kelegaan yang bercampur dengan rasa bersalah kecil karena harus berbohong soal sumber informasinya. "Maaf ya, sistem, gua terpaksa ngaku-ngaku tau soal format nomor segala. Tapi demi Tambora, apa boleh buat."
Siang harinya, di tengah kesibukan tim legal yang terus memverifikasi dokumen satu per satu, sebuah mobil sport kuning terang berhenti mendadak di ujung gang, membuat beberapa anak kecil yang sedang bermain kelereng berlarian menjauh dengan kagum. Dari dalamnya, keluar dua orang pria berpakaian safari hitam yang wajahnya tidak asing bagi Arya—mereka adalah bagian dari rombongan yang dulu menemani Reynald Pratama saat insiden di depan gedung SCBD.
"Wah, wah," salah satu pria itu bersuara dengan nada mengejek, melangkah mendekat sambil mengedarkan pandangan ke seluruh area pangkalan yang kini dipenuhi tim pengacara. "Ternyata benar laporannya. Si ojol kampungan ini beneran manggil pengacara buat ngelawan perusahaan besar. Lucu juga."
Arya berdiri tegap, menghalangi jalan pria itu sebelum sempat melangkah lebih dekat ke arah meja dokumen. "Ada perlu apa, Mas? Ini area privat, bukan tempat wisata."
"Cuma mau nyampein pesan dari Bos Hendarto," pria itu tersenyum sinis, mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku dalamnya dan melemparkannya ke atas tanah di depan kaki Arya. "Katanya, daripada capek-capek berantem di pengadilan yang makan waktu bertahun-tahun, mendingan terima aja tawaran kompensasi ini. Cukup lumayan buat modal pindahan ke daerah lain. Anggap aja rezeki nomplok."
Arya tidak bergerak untuk mengambil amplop itu, matanya menatap tajam ke arah pria tersebut. "Bilang sama Bos Hendarto lu, kita nggak butuh kompensasi buat ninggalin rumah yang udah kita tinggalin turun-temurun. Kalau dia emang punya hak sah atas tanah ini, biar pengadilan yang mutusin. Bukan lewat ancaman terselubung kayak gini."
Pria itu mendengus, wajahnya sedikit mengeras mendengar penolakan yang begitu tegas. "Sombong amat lu, Ojol. Oke deh, terserah. Tapi inget, tujuh hari itu bukan waktu yang lama. Kalau kalian masih di sini pas eksekusi, jangan salahin kami kalau caranya jadi kurang manusiawi."
Ancaman terselubung itu membuat suasana di sekitar pangkalan mendadak tegang. Beberapa warga yang mendengar mulai berbisik cemas satu sama lain, sementara Pak Bimo yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan segera melangkah maju dengan wajah serius.
"Permisi," Pak Bimo menyela, suaranya tenang namun tegas khas seorang pengacara berpengalaman. "Kalau saya boleh tahu, apakah ancaman yang baru saja Anda ucapkan direkam oleh siapa pun di sini? Karena itu tadi terdengar sangat mirip dengan intimidasi terhadap proses hukum yang sedang berjalan, yang merupakan pelanggaran pidana tersendiri."
Wajah pria berpakaian safari itu langsung memucat mendengar kata "direkam". Ia melirik ke sekeliling dengan gugup, menyadari bahwa beberapa warga sudah mengangkat ponsel mereka sejak tadi, merekam seluruh interaksi tersebut tanpa ia sadari.
"K-kami cuma nyampein pesan," pria itu buru-buru berkelit, suaranya kehilangan nada sombong yang tadi. "Nggak ada maksud ngancem apa-apa."
"Bagus kalau begitu," Pak Bimo tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam mengawasi. "Karena kalau memang ada maksud ngancem, saya pastikan itu akan menjadi bukti tambahan yang sangat berharga di persidangan nanti."
Kedua pria itu saling pandang, lalu bergegas kembali ke mobil sport mereka tanpa mengambil kembali amplop yang sudah dilemparkan, meninggalkan gang Tambora dengan kecepatan yang menunjukkan kekesalan yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Arya menghela napas panjang, mengambil amplop itu dari tanah dan menyerahkannya kepada Pak Bimo tanpa membukanya. "Ini, Pak. Mungkin bisa jadi bukti tambahan juga."
Pak Bimo menerima amplop itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam kantong bukti plastik yang sudah disiapkan timnya. "Terima kasih, Mas Arya. Tindakan intimidasi seperti ini justru memperkuat posisi hukum kita. Orang yang yakin dengan hak kepemilikannya biasanya tidak perlu mengancam pihak lain untuk mundur."
Menjelang sore, setelah tim legal Citra selesai mengumpulkan seluruh dokumen dan berjanji akan kembali besok pagi dengan hasil verifikasi awal dari kantor pertanahan, Arya duduk kelelahan di teras rumahnya, menatap langit Tambora yang mulai berubah warna jingga keunguan.
Bu Aminah keluar dari dalam rumah, membawa dua gelas teh hangat dan duduk di samping anaknya. "Capek ya, Le? Seharian ini rumah kita rame banget kayak lagi ada hajatan."
"Capek, Bu. Tapi ini capek yang beda," jawab Arya sambil menerima gelas teh itu, menghirup aromanya yang sederhana namun menenangkan. "Capek karena harus mikirin gimana caranya ngelindungin semua orang di sini."
Bu Aminah menatap anaknya lama, tangannya yang kasar mengelus pundak Arya dengan penuh kasih sayang. "Ibu bangga sama kamu, Arya. Dari kecil kamu emang selalu gitu—lebih mikirin orang lain daripada diri sendiri. Tapi Ibu juga khawatir, Le. Orang-orang kaya kayak keluarga Pratama itu, mereka punya kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangin. Ibu takut kamu kecapekan ngelawan sesuatu yang terlalu besar."
Arya tersenyum tipis, menatap ibunya dengan mata yang penuh keyakinan yang tumbuh perlahan sepanjang hari ini. "Ibu tenang aja. Kita nggak sendirian. Ada Nona Citra yang kirim tim pengacara terbaiknya, ada Mbak Alya yang siap manggil bantuan dari kenalan papanya, ada Bang Jay, Dedi, sama seluruh warga yang siap berjuang bareng-bareng. Selama kita punya bukti yang bener dan orang-orang yang mau berdiri bareng kita, gua yakin kita bisa menang."
God-Phone di saku Arya bergetar pelan sekali lagi, memancarkan cahaya hijau lembut.
TING-TONG!
[RANGKUMAN STATUS SISTEM GODJEK — SORE INI]
[Progres Investigasi: Kejanggalan nomor registrasi pada sertifikat Pratama Land Development telah disampaikan ke tim legal profesional untuk verifikasi resmi. Estimasi hasil verifikasi: 2-3 hari kerja.]
[Peringatan Sistem: Pihak Pratama telah melakukan upaya intimidasi langsung terhadap komunitas Tambora, namun berhasil direkam oleh warga sebagai bukti tambahan. Analisis: Hendarto Pratama kemungkinan akan meningkatkan tekanan dengan cara yang lebih terselubung dalam waktu dekat, mengingat upaya intimidasi terbuka pertama telah gagal total.]
[Catatan Tambahan: Sistem mendeteksi adanya nama seorang notaris bernama "Bambang Wirasena" yang tercantum dalam dokumen sertifikat Pratama. Nama ini pernah muncul dalam catatan investigasi tim legal terkait kasus penggusuran lahan lain di Jakarta Utara tiga tahun lalu, yang saat itu juga dihentikan karena ditemukan kejanggalan serupa. Pola ini menunjukkan kemungkinan modus operandi berulang yang lebih besar dari sekadar kasus Tambora.]
Arya menatap notifikasi terakhir itu dengan alis berkerut, merasakan firasat bahwa apa yang sedang mereka hadapi mungkin jauh lebih besar dari sekadar dendam pribadi Reynald Pratama terhadap dirinya. "Notaris yang sama, modus yang sama, di kasus penggusuran lain? Ini bukan cuma soal Tambora doang kayaknya. Ini kayak ada pola yang lebih gede lagi di belakangnya."
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan angin sore Tambora menerpa wajahnya yang lelah, sementara di dalam benaknya, sebuah pertanyaan baru mulai terbentuk—pertanyaan yang mungkin akan membawanya jauh lebih dalam ke dalam jaringan kejahatan terselubung yang selama ini tersembunyi di balik kemewahan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
"Bu," ujar Arya pelan, menatap ibunya yang masih duduk di sampingnya. "Kalau ternyata ini bukan cuma soal tanah kita doang, gimana ya?"
Bu Aminah menatap anaknya dengan mata yang penuh kelembutan, meski ada sedikit kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya. "Apa pun itu, Le, yang penting kamu tetap jadi Arya yang jujur dan berani kayak sekarang. Selama kamu berjuang buat hal yang benar, Ibu bakal selalu dukung kamu, apa pun risikonya."
Malam mulai turun perlahan di gang sempit Tambora, membawa serta ketegangan yang belum sepenuhnya reda namun juga harapan baru yang mulai tumbuh di antara warga yang sebelumnya merasa tak berdaya. Di kejauhan, di balik gedung-gedung tinggi yang berkilau di cakrawala Jakarta, sebuah jaringan kejahatan yang jauh lebih besar dan lebih gelap dari yang pernah dibayangkan Arya sedang menunggu untuk terungkap—dan perjuangan mempertahankan sebidang tanah di gang sempit ini baru saja menjadi pintu gerbang menuju kebenaran yang jauh lebih besar.