#cerita ini sequel dari novel 'MY LOVELY IDIOT HUSBAND' ya...
***
Amel harus menerima kenyataan, menikah dengan laki-laki yang mencintai sahabatnya sendiri karena sudah hamil akibat kesalahan yang tidak disengaja.
Apakah Amel bisa menjalani biduk pernikahannya dengan seorang Daniel Ariesta, yang terkenal keras kepala. Bahkan dalam pernikahannya, lelaki itu masih saja memikirkan cinta pertamanya.
Ikuti kisah mereka kuy! #My_Stubborn_Boss
Follow IG amih juga : @amih_amy
fb : amih amy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARUS TERBIASA
Daniel membiarkan Amel melahap makanan jatah dirinya juga. Seolah baru menemukan makanan enak, Amel makan dengan rakusnya tanpa menyisakan sedikitpun untuk suaminya.
Bahkan wanita itu tanpa rasa malu untuk menyuruh Daniel untuk memasak lagi, mumpung masih jadi suami istri, kapan lagi seperti ini? Benar 'kan?
"Apa wanita hamil semuanya sepertimu?" Daniel begitu heran dengan nafsu makan Amel yang begitu luar biasa. Padahal sebelumnya, porsi makan wanita itu biasa saja jika diajak makan di luar sebelum dirinya ketahuan hamil.
Amel mendongakkan pandangannya dari piring ke arah wajah Daniel, sambil mengerjapkan matanya dengan berlagak polos, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu." Kilahnya.
Daniel mendengus, jujur saja dia merasa kesal. Kalau saja anak yang ada dalam kandungan Amel itu bukan anaknya, sudah dipastikan Daniel akan menyuruh wanita itu untuk membayar semua makanannya. Enak saja, makan gratis dimasakin pula!
"Bos tidak makan?" Tanya Amel, yang melihat Daniel hanya diam saja melihat dirinya makan sendirian. Padahal tadi lelaki itu sudah memasak ulang untuk jatahnya makan siang.
"Perutku tiba-tiba kenyang saat melihat dirimu makan. Aku sudah tidak lapar." Ketus Daniel sambil beranjak berdiri hendak pergi meninggalkan Amel.
"Aku mau tidur siang dulu, jangan lupa cuci piring bekas makanmu itu! Jatah makananku jangan kau makan pula! Jika bangun tidur aku lapar, aku malas masak lagi nantinya." Sungut Daniel dengan nada memerintah. Amel hanya mencebikkan bibirnya.
"Hah, siapa juga yang mau makan lagi, orang aku udah kenyang. Hah ... bisa gila aku lama-lama jadi istrinya dia!" Gerutu Amel dalam hatinya.
Amel melampiaskan kekesalannya pada makanan yang bersisa satu suap lagi di piringnya, mengunyah makanan itu dengan luapan emosi, seolah sedang mengunyah bosnya sekaligus suaminya sendiri.
***
Setelah makan siang, Amel pun kembali ke dalam kamar. Kamar bernuansa putih itu sangat nyaman ia tempati, wanita yang tengah hamil muda itupun membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. Berbeda sekali dengan kasur lantainya yang ada di kontrakan.
Sejenak Amel terbuai dengan kemewahan, berasa dirinya berubah menjadi seorang Cinderella. Tetapi tak lama dirinya pun sadar, semua yang ada di di hadapannya itu hanyalah bayangan semu, yang bisa saja hilang suatu waktu.
Amel menghela nafas kasarnya, mencoba membuang perasaan sedihnya yang semakin lama malah semakin menyesakkan dada. Untuk apa dirinya terus-menerus meratapi nasibnya, sekarang yang terpenting adalah menjaga kandungannya dengan baik, agar anaknya bisa tumbuh dan berkembang dengan sehat di dalam rahimnya. Karena itulah tujuan Daniel menikahinya.
Amel akhirnya memutuskan untuk memejamkan matanya, saat rasa kantuk mulai mendera indera penglihatannya.
***
Rasa nyaman dengan suasana kamar yang begitu tenang, ditambah dengan kasur yang begitu empuk dan terasa lembut. Membuat seorang Amel enggan sekali membuka matanya.
Sepertinya Amel terlalu asyik berkelana di dunia mimpinya, dirinya sampai tidak tahu waktu, dan sudah tertidur sampai hari sudah mulai gelap.
Suara ketukan pintu yang terdengar berkali-kali, begitu mengganggu ketenangan wanita itu. Amel mengerjapkan matanya, dan saat matanya terbuka sebelah dirinya langsung terperanjat, dan duduk sambil melihat ke sekitarnya.
"Lah, kok gelap?" Seru Amel sambil duduk bersila. Matanya berkeliling ruangan yang terlihat remang-remang, dan berhenti pada kaca jendela yang masih terbuka tirainya. Hanya cahaya lampu dari luar dan sinar rembulan yang tampak bersinar ikut membantu pencahayaan di ruangan itu.
"Eh ... sudah malam ternyata." Gumamnya lagi sambil menggaruk kepalanya sendiri.
"Ameeeeel ... Ameeeeel ...." Teriak seseorang di luar kamar yang diyakininya adalah Daniel. Diiringi dengan ketukan pintu yang sempat terjeda sejenak.
"Ups ... gawat nih! Si bos pasti marah." Amel tersentak, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil menatap ke arah pintu kamar.
"Ameeeeel, kalau gak dibuka juga aku dobrak pintunya ya!" Teriakan Daniel mulai terdengar lagi, dan ditambah dengan sebuah ancaman yang membuat Amel semakin ketakutan.
Wanita itu lantas turun dari tempat tidurnya sambil berteriak. "Iya Bos, sebentar!"
Setengah berlari Amel menuju pintu, untung saja tidak ada yang menghalangi jalannya, karena wanita itu tidak sempat menghidupkan lampu.
"Iya Bos, ada apa?"
Wajah Daniel sudah terlihat emosi, wajahnya ditekuk begitu kesal. Apalagi mendengar pertanyaan konyol dari wanita yang baru saja ia jadikan istri. Ingin sekali Daniel mengusirnya saat ini.
"Ada apa kamu bilang? Kamu ngapain aja di dalam? Itu kenapa lampunya padam? Memangnya tidak bisa kamu nyalakan?" Daniel membombardir Amel dengan berbagai pertanyaan sekaligus omelan.
"I-Iya, Bos. Aku nyalakan dulu."
Amel berucap gugup, lalu menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah dengan kelalaiannya. Wanita itu langsung berbalik masuk lagi ke dalam kamar, hendak mencari saklar lampu kamarnya.
Akan tetapi karena suasana kamar yang sedikit temaram, hanya ada cahaya lampu dari arah luar yang tersorot dari jendelanya yang masih terbuka. Amel merasa kesulitan mencari saklar tersebut. Terlebih dirinya baru menempati kamar itu. Jadi, dia tidak tahu tempat saklarnya dimana.
Terasa begitu lama, Daniel pun tidak sabar. Lelaki itu memutuskan untuk masuk kedalam kamar yang minim pencahayaan. Daniel juga merasa sedikit kesulitan untuk berjalan menuju tempat saklar. Akan tetapi dirinya sudah tahu dimana letak saklar lampunya, sehingga langkahnya pun langsung tertuju kearah sana.
Sedangkan Amel masih berputar-putar menyusuri setiap sisi ruangan tersebut, tangannya terus meraba-raba dinding kamar, dan disaat yang bersamaan tangan mereka menyentuh saklar yang sama. Daniel lebih lebih dulu menyentuhnya sehingga saat lampu menyala tangan Amel sudah berada di atas tangan Daniel secara tidak sengaja.
Tentu saja kini tubuh mereka saling berdekatan dan juga kedua matanya saling bertatapan. Amel terkesiap, kedua matanya terbuka lebar seolah ingin keluar dari kelopaknya. Sejenak tatapan mereka terkunci, tapi Amel langsung mengalihkan pandangannya sesaat setelah dirinya sadar.
"Ma-maaf, Bos." Ucap Amel sambil menundukkan kepalanya, tangannya langsung ia tarik dari tangan Daniel yang masih memegang saklar.
Daniel melipat tangannya di depan dada, seolah bersiap untuk menghakimi istrinya. "Sekarang jelaskan! Kenapa dari tadi kamu gak keluar kamar? Kamu gak berniat mau bunuh diri 'kan?" Desaknya.
Amel seketika mendongak mendengar Daniel menuduhnya seperti itu, kenapa pikiran Daniel bisa sejauh itu?
"Aku cuma ketiduran, ngapain aku mau bunuh diri?" Celetuk Amel.
Daniel terdiam, ia turunkan tangannya sambil memicingkan matanya menatap Amel dengan tatapan tajam.
"Ketiduran? Dari tadi siang ...? Kamu tidur apa pingsan?" Daniel mengomel lagi.
Ingin sekali Amel menyumpal mulut lelaki itu dengan lakban, kasar sekali dia! Tetapi sayangnya hal itu hanya bisa terbayangkan dalam pikirannya saja. Amel hanya bisa menerima, dan dirinya juga harus terbiasa. Membiasakan diri dengan sikap Daniel selama sembilan bulan lamanya. Astaga ... semoga saja Amel tidak gila!
Amel menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Berharap hal itu bisa membuat stok sabarnya semakin bertambah.
"Iya, Bos ... iya ... aku minta maaf!" Tegas Amel sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan Daniel.
Daniel melemaskan bahunya yang dari tadi terasa tegang, perasaan kesal yang mencokol di hatinya mulai sedikit mereda. Mau marah juga percuma, lelaki itu tidak bisa mengusir istrinya.
"Ya udah, kali ini aku maafkan. Jangan diulangi!" Seru Daniel dengan penuh penekanan.
"Walaupun kamu di sini tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah, lantas kamu bisa malas-malasan kayak gitu. Aku sekarang suamimu, suka gak suka kamu harus ikuti aturanku. Mengerti!" Lanjut Daniel menceramahi.
Amel hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda mengerti, namanya juga seorang istri, harus patuh pada perintah suami.
***
Bersambung....
Amih mau minta maaf nih, masalah grup yang amih bubarin dulu. Nanti aja kalian pecinta setia novel amih masuk lagi ya, tapi jangan sekarang. Nanti aja! Nanti amih kasih kabar.
Eh, jangan lupa like, komentar dan votenya ya! Sama Rate bintang jangan ampe turun tuh. Oke! See you....
semangat thor💪🏻👍🏻
Suka banget sama perjuangan adel untuk mempertahankan segalanya,
gass lanjut baca.