Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Pertemuan Tak Sengaja
Hari demi hari berlalu, Gita semakin di sibukan dengan aktivitas barunya sebagai mahasiwa dan juga pegawai swalayan. Ia hampir tak memiliki waktu lagi untuk membantu neneknya di toko atau hanya sekedar mengantarkan pesanan.
Hal ini membuat Gita cemas akan kesehatan neneknya yang semakin menua. "Nek, masih belum dapat karyawan barunya?" tanya Gita sembari menyantap sarapan paginya.
Sementara Cempaka tengah sibuk membuat adonan kue. "Nenek sudah tempel pengumuman di beberapa tiang, mungkin nanti akan ada yang baca."
"Nek, kenapa tidak masang iklan di internet saja? Pasti akan ada yang langsung baca, kalau Nenek tempel di tiang listrik bisa saja kertasnya terbawa angin atau terkena hujan. Aku bantu pasangkan iklan lowongan kerja di internet ya..."
"Jangan, Git!" cegah Cempaka. "Lowongan pekerjaan ini, Nenek buat untuk orang-orang yang tidak punya internet."
"Nek, ini zaman sudah modern. Tidak mungkin ada orang yang tak menggunakan internet."
"Ada," Cempaka terpaksa meninggikan nada bicaranya. "Nenek yakin pasti ada, kau tenang lah. Fokus saja dengan kuliah dan pekerjaanmu, katanya kau mau membantu Gala memberantas mafia tanah perkebunan supliernya."
"Nenek tahu dari mana?" Seingat Gita, ia tidak pernah menceritakan masalah itu pada neneknya.
"Kemarin Gala yang cerita, dia meminta doa kepada Nenek agar usahanya di lancarkan. Tentu saja Nenek pasti mendokan dan mendukungnya, Nenek sudah gerah dengan para pengusaha yang bertindak seenaknya merampas hak rakyat kecil." Cempaka menerawang jauh saat kepergian anak semata wayangnya, firasatnya mengatakan kejadian itu bukanlah sekedar kecelakaan tunggal biasa.
Kecelakaan itu terjadi pasti ada kaitannya dengan program yang tengah di buat oleh putranya, tapi sayangnya tidak ada yang bisa ia perbuat, ia tidak memiliki bukti apapun. Untuk itulah, Cempaka mendukung Gala membatu orang-orang yang tak mendapatkan keadilan.
"Sudah sana pergi, sudah siang ini," lanjut Cempaka.
Gita buru-buru menghabiskan suapan terakhirnya, ia kemudian beranjak dari tempat duduknya menghampiri Cempaka. "Aku pergi dulu ya, Nek. Assalamualaikum." Setelah mencium neneknya, ia bergegas keluar dari rumah menuju kampus.
***
Sementara itu di tempat berbeda, seharian penuh Kai merasa gusar menatap handphonenya yang tak kunjung berdering. Sudah beberapa hari ini ia menunggu telepon atau pesan masuk dari Gita, tapi gadis itu sama sekali tak menghubunginya.
Apa jangan-jangan dia berbohong? Atau sebenarnya dia kesal dengan pertemuan pertama yang tidak mengesankan karena Kai lupa membawa dompet?
Kai begitu menyesali dirinya tak mengantar Gita pulang, sehingga ia tidak tahu dimana gadis itu tinggal, dan kini ia kembali kehilangan jejaknya. Kesal memikirkan Gita yang tak kunjung menghubunginya, Kai memutuskan berjalan-jalan sembari membeli keperluan pribadi untuk mengisi unit apartemennya yang masih kosong.
Ia meraih kunci mobil di atas meja kerjanya, kemudian keluar ruangan. Begitu akan memasuki lift, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Jiva. "Hai Gema, kamu mau kemana? Bukankah sebentar lagi kita ada meeting?" Jiva menarik lengan Kai menuju ruang meeting.
Namun Gema langsung menepisnya. "Ada Glen disana, kalian meeting saja tanpa aku. Ada hal penting yang harus aku urus."
"Urusan penting apa?" tanya Jiva penasaran.
"Bukan urusanmu," jawab Kai dingin. Di samping ia sedang galau memikirkan Gita, melihat tingkah Jiva yang menyebalkan membuat suasana hatinya semakin buruk.
"Dasar pria menyebalkan," gerutu Jiva ketika ia tidak dapat menyusul Gema, sebab pintu lift sudah terlebih dahulu tertutup. "Awas saja kau, nanti kau yang akan mengemis-ngemis cinta kepadaku."
***
Mungkin memasak bisa sedikit menghiburnya, pikir Kai. Sudah lama sekali ia tidak memasak, terakhir kali ia memasak sebelum ia pindah sekolah ke New York. Saat itu orang tuanya belum resmi bercerai, dan ayahnya masih hidup.
Setelah tinggal di New York, Mutiara nyaris melarang Kai memegang alat masak. Wanita itu menyuruh Kai untuk fokus belajar dan melupakan hobbynya. Tapi sekarang Kai sudah tinggal sendiri, ia bebas melakukan apapun yang ia mau.
Tiba di swalayan Kai memborong banyak bahan makanan, sekelebat ia berkhayal jika Gita mencicipi ice cream buatannya. Tapi sepertinya khayalan itu sia-sia, karena sampai saat ini gadis itu belum juga menghubunginya, akun YM nya bahkan sudah tidak aktif lagi sejak malam mereka bertemu.
Kai kembali memasukan handphone ke sakunya setelah meastikan Gita memang belum menghubunginya, ia kembali menelusuri rak bumbu dapur. Kai mengambil garam, lada bubuk, penyedap, dan sebagainya. Ketika ia mengambil sekotak teh, secara tak sengaja ia melihat sesosok gadis yang membuatnya uring-uringan beberapa hari belakangan ini.
Tanpa pikir panjang, Kai langsung mendorong belanjaannya menuju rak sebelah. Dimana ia melihat gadis dengan seragam swalayan, tengah sibuk mencatat stok tepung di rak sebelahnya. "Gita..." panggil Kai.
Gita menoleh ke arah Kai, ia terkejut bertemu dengan pria itu di tempat kerjanya. Seketika ia teringat jika dirinya sampai sekarang belum menghubungi Kai sebab banyaknya tugas kuliah dan pekerjaan yang di jalaninya. "H-hai..." sapa Gita gugup.
"Kau bekerja di sini?" tanya Kai.
Gita mengangguk. "Maaf aku belum sempat menghubungimu."
"Tidak apa-apa," ucap Kai. "Git, apa nanti malam kau ada acara? Maksudku aku ingin mengajakmu makan malam, mengganti yang kemarin. Aku akan buat yang lebih special karena aku yang akan memasakan untukmu di apartemenku. Bagaimana?"
Gita jadi teringat dengan cerita almarhum ayah angkatnya tetang Kai yang memiliki hobby memasak. "Satu jam lagi jam kerjaku selesai, apa kau tidak keberatan menunggu?"
Kai menggeleng. "Tidak. Kebetulan aku juga masih ingin berbelanja, nanti aku tunggu di parkiran ya." Ia pamit meninggalkan Gita, Kai tak ingin mengganggu pekerjaan gadis itu dan ingin dia cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Selesai berbelanja, Kai menunggu Gita di pintu keluar karyawan. Ia sengaja tak menunggu di parkiran sebab khawatir Gita akan menghindarinya. "Kalau begini dia tidak bisa kabur dariku," gumam Kai.
Benar saja beberapa menit kemudian beberapa karywan keluar dari pintu tersebut, ia keluar dari mobilnya begitu melihat sosok Gita diantara para karyawan yang keluar. "Gita..." panggil Kai.
Gita menoleh, ia tersenyum sembari menghampiri Kai. "Kok nunggu di sini? Katanya di parkiran."
"Biar deket aja," dusta Kai. "Ya udah yuk masuk," ia membukakan pintu mobil untuk Gita dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
Gita terdiam memandangi mobil mewah Kai. "Kamu pinjam lagi?"
Kai tertawa. "Udah cepetan masuk."
Begitu mereka dalam perjalanan menuju apartemen, Kai menceritakan jika kemarin ia sengaja meminjam motor security kantornya karena khawatir terjebak macet.
Gita mengangguk mengerti, sebetulnya sejak awal ia sudah menduganya. Dari aroma minyak wangi yang di kenakan Kai saja, ia sudah tahu bahwa kondisi financial Kai jauh di atasnya. Tapi ia tak mengatakan hal itu pada Jiva, sehingga Jiva menganggap Kai pria miskin hanya kerena motor pinjaman, dan tak jadi mentraktirnya di restoran.
"Gita, kenapa kau selalu menghindariku? "
"Hmmm...itu?" Gita tidak bisa mengatakan jika sebenarnya Jiva lah yang tak ingin bertemu dengan Kai. "Karena aku hanya pegawai swalayan," dustanya.
"Kau tidak perlu merasa minder, aku justru senang dengan wanita pekerja keras sepertimu," Kai tersenyum memandangi Gita. "Orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu,"
'Orang tua?' gumam Gita, apakah ini waktu yang tepat untuk mempertemukan Kai dengan Nenek? Pikir Gita. "Kai, bagaimana kalau kita masaknya di rumahku saja?"
"Di rumahmu? Bagaimana dengan orang tuamu? Bagaimana kalau mereka keberatan?"
Gita menggelengkan kepalanya. "Nenekku pasti akan senang berkenalan denganmu. Percayalah!! Kau mau kan?"
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa
di mata Jiva, kamu tetep ibu yang terbaik untuknya
paling gak, dengan foto tersebut Gita dan juga Jiva bisa membayangkan wajah Sarah di kala rindu