Namanya adalah Senja Putri Pratama. Seorang remaja perempuan yang menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya.
Ayahnya sudah meninggal kala ia dan adiknya masih kecil, dan ibunya juga sudah meninggal beberapa bulan silam.
Almarhum ibunya pernah mengatakan bahwa tuhan akan mengirimkan malaikat tak bersayap yang akan selalu menemani hari-hari sulit Senja.
Arjuna Alexsa, seorang laki-laki yang tidak lain kekasih Senja yang selalu hadir menemani setiap hari-hari sulit Senja.
Namun, apa jadinya ketika laki-laki yang di anggap Senja sebagai malaikat tak bersayap itu justru membuat suatu masalah?
Apa yang akan di lakukan oleh Senja terhadap kekasihnya bernama Arjun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Nurcahyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realita Hari Jum'at
Kumandang adzan terdengar ramai dengan iringan ceramah dimana-mana ketika hari jumat tiba. Sungguh indah suara adzan yang ter-kumandang, meski pun terdengar bersahut-sahutan. Namun hal itu justru membuat suasana menjadi nyaman.
Di sebuah rumah sederhana, Senja duduk dengan karis di ruang tamu, mereka sedang makan nasi dengan sayur soup buatan ibu.
Sementara Putra sedang menunaikan sholat jumat yang memang wajib bagi seorang laki-laki.
Senja dan Karus duduk berhadapan sambil menikmati sayur buatan ibu. Namun Senja tidak sedang benar-benar menikmati soup tersebut, pikirannya kembali ke mimpinya tadi malam. Sungguh, mimpi itu benar-benar menakutkan sekali.
Namun disisi lain ia juga merasa terobati rasa rindu kepada ayahnya. Senja tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kepada adik-adiknya.
Sebenarnya bukan tidak berani, namun ia takut Karis dan Putra berfikir yang tidak-tidak sama dengan dirinya.
Di tengah lamunannya, Senja di kagetkan oleh ibu yang sudah duduk di samping Karis.
"Kamu mikir apa Sen?" tanya ibu Marinah
"Tidak bu, tidak mikir apa-apa." Jawab Senja dengan senyuman.
"Oh iya nanti kalau Putra sudah pulang suruh dia segera makan ya."
"Ibu ke kamar dulu mau sholat"
Tidak lama setelah kepergian ibu ke kamar Putra datang dengan menggunakan sarung dan peci. Ia duduk di samping Senja.
"Ibu masak apa kak?"
Senja hanya diam dan menunjukkan mangkuk berisi soup miliknya. Entah kenapa suasana siang itu benar-benar canggung. Tidak seperti biasanya mereka saling diam tidak melemparkan topik pembicaraan.
Putra pergi dari ruang tamu menuju dapur. Di tengah situasi yang mencemaskan bagi Senja, kucing hitam datang mengeong di depan rumah. Pikiran Senja langsung pergi kemana-mana.
Bukankah menurut orang-orang kucing hitam itu adalah satu dari beberapa hewan penanda kematian seseorang?
"Kenapa kak?" Karis bingung akan apa yang sedang terjadi pada kakaknya. Namun Senja tidak menjawab pertanyaan Karis.
Ia meletakkan mangkuknya dan berlari keluar untuk mengusir kucing tersebut. Senja menghentak-hentakkan salah satu kakinya, namun kucing itu malah tidak menjauh.
Senja mengusir kucing berwarna hitam dari pandangannya sambil menghentakkan kakinya lebih keras lagi. Sampai pada akhirnya kucing itu berlari kencang meninggalkan depan rumah Senja.
Nafas lega terlihat dari mimik wajah Senja. Setelah itu ia masuk dan duduk sambil memegangi mangkuk berwarna putih. Karis bingung dengan sikap kakaknya yang tidak seperti biasanya.
Ia ingin bertanya namun takut untuk memulainya. Suara adzan atau pun ceramah sudah berhenti 15 menit yang lalu.
Tiba-tiba suara Putra membuat ketegangan antara Senja dan Karis pecah.
"Kak kemari cepat!!" teriak Putra dari suatu ruangan
"Cepatlah kemari!" perintahnya sekali lagi.
Senja dan Karis kemudian berlari cepat menuju sumber suara. Mereka mendapati Putra yang sedang memeluk ibu Marinah diatas sajadah.
' Ada apa ini ' (Karis)
Karis bingung dengan apa yang tengah di lihatnya. Ia memilih mendekat dan melihat kondisi ibu daripada banyak tanya. Namun Senja justru tidak berani mendekat ke ibunya, bayangan-bayangan mimpi tadi malam sungguh menakutkan baginya. Ia benar-benar takut hal itu terjadi.
Karis berusaha menenangkan suasana dengan bertindak lebih tenang. Ia mendekatkan jari telunjuknya di bawah lubang hidung ibu.
DEGGGG.
Nafas Karis lah yang kini berpacu kencang, ia mengulanginya lagi dan lagi, namun tidak ada hembusan nafas yang ia rasakan. Ia berusaha mencari hal lain.
Karis memegangi pergelangan tangan ibu sebelah kiri. Dan kali ini air matanya yang berbicara, seolah menjelaskan kepada Senja dan Putra apa yang sebenarnya terjadi pada ibu.
Senja sungguh tidak percaya dengan wajah pasrah dan air mata Karis.
"Nggak Ris kamu pasti salah!!"
Senja berjalan mendekat dan memastikan sendiri keadaan ibunya. Berharap Karis salah dan ia benar. Namun ia sendirilah yang salah, ibu benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada tubuhnya.
Wajahnya pucat, bibirnya pucat, matanya tertutup, kulitnya pun pucat, nafas dan denyut nadinya tidak terdeteksi. Putra langsung memeluk tubuh ibunya erat-erat setelah itu air mata mulai keluar dari matanya. Tidak ada isak tangis terdengar dari Putra, namun air mata yang keluar cukup menjelaskan betapa mendalamnya luka itu.
Karis memeluk i tubuh ibu Marinah yang sudah kaku. Ia mengecupi pipi wanita kuat yang selama ini membesarkannya.
Air matanya mulai berjatuhan di pipi ibu Marinah, ingin rasanya keajaiban datang dan memberikan kejutan bahwa ibu hidup kembali.
Mereka bertiga memeluk i tubuh ibu dengan rasa cinta dan kasih sayang layaknya cinta seorang ibu kepada putra putrinya sewaktu kecil.
' Tuhan kenapa mimpi ku benar-benar terjadi? kenapa kau benar-benar mengambil ibu di saat kami belum mampu membanggakannya? ' (Senja)
Sesak terasa menghantam dada mereka, rasanya ini benar-benar seperti mimpi. 25 menit lalu ibu duduk di ruang tamu dan memberi pesan supaya Putra makan ketika pulang.
Apakah ini benar-benar mimpi? betapa malang nasib ketiga anak yang masih perlu bantuan dari seorang orang tua. Mereka bahkan sudah kehilangan ayah dan ibunya, sementara hari esok masih panjang dan harus tetap di jalani. Waktu akan terus berjalan dengan pasti dan apakah Senja harus benar-benar menjadi pengganti ibunya?
' Bagaimana hidup kami kelak tuhan? '
Itu adalah salah satu pertanyaan Putra yang mewakili semuanya. Mimpi buruk yang mereka takutkan benar-benar terjadi.
Ibu pergi meninggalkan Senja, Karis dan Putra untuk selamanya. Keajaiban yang mereka harapkan tak kunjung tiba. Dan ini bukanlah mimpi, ini benar-benar realita yang sedang terjadi.
Seberapa kuat pun mereka menunjukkan belas kasih dan menangis kepada tuhan realita ini akan tetap terjadi. Rela tak rela mereka harus meng ikhlaskan kepergian ibu tercinta.
Satu persatu mereka menciumi pipi ibu dan memeluknya erat, sebelum ia tidak akan bisa melakukannya lagi.
' Ternyata kau benar-benar menjemput ibu yah, Senja titip ibu di sana ' (Senja)
' Doa kami untuk ibu selamanya ' (Karis)
' Putra janji bu, akan menjaga kakak-kakak Putra. Tenang lah ibu di alam sana ' (Putra)
semngat ya kak
di tunggu feedback-nya
owh ya thor fav karya ak juga ya. Saling support... 😊