Gue sebenarnya suka sama Lo, Lo mau gak jadi pacar gue?
Mata Zea terbelalak rasa bahagia tak terkira saat mendengar ucapan Fero
Namun hanya seketika rasa bahagia itu hilang saat mendengar kelanjutan ucapan Fero
Kira-kira kalau gue ngomong begitu diterima apa gak ya sama Shena?"
"Hah, Shena?"
"Iya gue suka sama Shena, Ze. Gue mau jadiin dia pacar gue. Gimana menurut Lo?"
Zea menelan salivanya dengan susah payah. Lagi-lagi dia tertipu dengan ucapan sahabatnya yang selalu menggantung itu.
Zea gadis cantik berhidung mancung yang mencintai sahabatnya sendiri. suatu hari dia pernah tidak sengaja mengucapkan perasaannya tapi malah ditertawakan oleh Fero.
Sahabat tetaplah akan menjadi sahabat tidak pernah berubah menjadi cinta. itu yang selalu Fero usapkan pada Zea
Fero yang tidak peka terhadap perasaan Zea malah berusaha mengejar cinta Shena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAHABAT 28
Zea dan Rini saling berpegangan tangan berharap rasa gugup yang mereka rasakan sedikit berkurang
Lomba drama akan di mulai tiga puluh menit lagi. Kelas Zea mendapat nomor urut lima, sementara kelas Rini mendapat nomor urut tujuh.
“Gugup gue Rin” kata Zea sambil mengusap dadanya berulang kali. “Menurut lo siapa yang bakal jadi pengeran gue”
Rini mengedikkan bahu. :Gue saja nggak tahu siapa yang jadi pengeran gue, Ze. Mana ada waktu gue untuk memikirkan siapa pangeran lo”
Zea mencebik dan mendorong bahu Rini pelan. Tidak ada satu pun orang yang terbesit di dalam pikirannya saat ini. Lagi pula Zea banyak tidak kenal dengan kakak kelas, jadi dia tidak bisa menebak siapa yang bakal jadi pangerannya nanti.
“Lo ngerasa aneh nggak sih, Ze. Lo lihat pangeran di kelas 11 IPS 2, itu kan anak kelas mereka. Si Bobi itu loh katanya dia jadi pengeran. Liat saja itu si Rangga, anak IPA, dia juga jadi pengeran. Nggak ada itu kelas yang jadi pengeran dari kelas 12
Lomba drama Cinderella ini hanya diikuti oleh anak kelas 11 saja, kelas 10 dan 12 tidak diikut sertakan.
Zea mengangguk-anggukkan kepalan, dia sejak tadi merasa bingung. Kenapa hanya kelas mereka berdua yang tidak tahu siapa yang jadi pangerannya.
“Iya kok bisa sih? Bukannya yang menjadi pengeran itu dari kelas dua belas ya? Penasaran gue” kata Zea, akhirnya Zea memanggil Aura dan meminta ketua kelasnya itu bertanya pada kelas sebelah.
“Oke, gue tanyain dulu” Aura segera menghampiri Bobi dan dia pun terlihat bicara dengan pangeran kelas 11 IPS 2 itu.
Tak lama kemudian Aura kembali dengan wajah sedikit panik.
“Bagaimana?”
Aura menelan salivanya dengan susah payah, lalu menjawab pertanyaan Zea.”Katanya nggak ada itu peraturan kayak begitu. Maksud gue itu, peraturan awalnya memang kayak begitu pangerannya dari kelas 12, tapi dua minggu yang lalu peraturannya berubah.”
“Hah? Masa sih nggak ada yang ngasih tahu kita kalau peraturannya di rubah?”
Kebetulan sekali saat itu Eros lewat, Aura pun memanggil ketua OSIS itu.
“Loh, yang minta peraturan di rubah itu kan Fero. Mas sih dia nggak ngasih tahu ke kalian”
Zea dan Aura saling pandang. “Fero?”
Eros mengangguk “Iya, Fero”
Zea ingin bertanya lebih lanjut, tapi eros pamit undur diri karena masih banyak urusan yang harus dia urus.
“Fero! Cari Fero, Ra. manusia kampret itu kenapa nggak ngasih tahu kita sih?” Zea menggebu-gebu, kalau saja saat ini Fero ada di hadapannya, pasti dia sudah ngeplak kepala Fero sambil berteriak, “Sialan lo Fero!”
Sedangkan Rini sudah kembali ke kelasnya untuk menyampaikan berita yang baru saja dia dapat.
...ΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu yang di cari malah sedang berdebat dengan Evan, jangan lupakan Nando yang sedang berdiri di pojokan sambil memegang beberapa lembar kertas.
“Ck! Sampai kapan mau debat? Ini bentar lagi mulai lo” kata Nando sambil berdecak malas.
“Evan yang mulai, bisa-bisanya dia ngubah dialog di waktu yang genting kayak gini.”
Nando mendelik melihat Evan yang kini duduk di kursi dan membuang mukanya. Seperti orang yang tidak sudi melihat Fero.
“Udahlah, Van. Lo suka banget mancing-mancing Fero, suka banget lo melihat dia ngereog”
“Gue nggak mancing, memang Fero nya saja yang baperan. Males gue ngajarin kalau tahu kayak gini” sahut Evan tanpa memandang Fero. “Gue kan Cuma mau buat lo nggak kesusahan pas di panggung nanti, Fer. Lo sudah latihan dari dua minggu yang lalu, tapi masih saja nggak hafal-hafal, makanya gue nyariin pakai kalimat lain saja, biar nggak repot pas di panggung nanti”
Fero mendengus kesal. “Kenapa ngasih sarannya nggak jauh-jauh hari? Kenapa harus hari H banget, bego! Lagian gue sudah hafal kok kemarin, nggak tahu kenapa sekarang malah lupa”
Evan melirik sinis geram sekali dia dengan manusia bernama Fero ini. “Alah kebanyakan alasan lo!”
“Nando juga nggak hafal itu, kenapa gue doang yang lo saranin ganti dialog?” protes Fero. “Drama Cinderella sialan!”
Ya benar sekali. Fero dan Nando ikut lomba drama Cinderella. Nando yang awalnya mendapat lomba teka-teki itu merengek pada Fero saat Fero menemui ketua OSIS untuk mengubah peraturan, dia meminta agar menjadi pangeran di kelasnya. Entah bagaimana ceritanya Rini yang awalnya mendapat peran ibu tiri pun berubah menjadi peran Cinderella
Kata Fero, “Inilah keuntungan punya dalam”
“Dih, lo sendiri yang ngrengek mau dapat peran pangeran, sekarang malah ngumpat. Aneh lo” Evan menuding wajah Fero menggunakan penggaris yang sejak tadi dia pegang. “jangan samapi dramanya kacau. Kalian tidak tahu seberapa sulit Zea sama Rini ngapalin dialog mereka”
Fero dan Nando menghela napas. Sebenarnya mereka bukannya tidak hafal, mereka hanya gugup, jadilah melupakan sebagian besar hafalan dialog mereka. Belum lagi mereka sama sekali belum pernah latihan bersama Zea dan Rini. Selama latihan Evan lah yang berperan sebagai Cinderella, jadi wajar saja jika kedua pemuda itu gugup dan lupa dengan dialog mereka.
“Ini masih di belakang panggung, bagaimana kalau tampil nanti. Ingat, kalian di tonton banyak orang, jangan sampai buat malu”
Evan kembali berceramah, dia sudah pelatih drama sungguhan. Ngeri sekali melihat wajahnya, apalagi melihat penggaris yang ada di tangannya itu.
“Woy, mau sampai kapan kalian di situ? Lomba sudah mau mulai itu” ucap salah satu anggota OSIS yang bertugas untuk berpatroli mengamankan sekolah. Dia tahu jika Fero dan Nando ikut lomba drama karena tadi Evan sudah minta ijin untuk memakai ruang kosong itu, katanya untuk latihan.
“Iya, iya. Ini kita sudah selesai” sahut Evan. “Yuk cabut, gue sudah capek sama kalian berdua”
Fero dan Nando akhirnya pasrah, entah bagaimana mereka di atas pentas nanti. Semoga saja mereka tidak mempermalukan diri sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zea menggigit-gigit kuku jarinya, pertanda jika dia saat ini sedang gugup. Sebentar lagi giliran kelasnya untuk tampil, tapi sampai detik ini Zea belum tahu jika Fero akan menjadi pangerannya nanti.
Kata Aura jangan pikirkan tentang pangeran, kalaupun nanti tidak ada yang muncul menjadi Pangeran untuk Zea, maka Ali yang akan maju dan berperan sebagai pangeran tampan.
“Tenang saja Ze. Ali hafal kok dialog pangerannya” kata Aura tadi.
Zea berdecak memikirkan Ali yang akan maju menjadi pangeran. Ali berperan sebagai ayah Cinderella, tidak mungkin tiba-tiba muncul menjadi pangeran. Ya, walaupun perannya sebagai ayah Cinderella hanya seuprit, karena ayah Cinderella meninggal dunia saat scene pertama.
Zea takutnya nanti malah penonton berpikir kalau pangeran itu adalah reinkarnasi ayah Cinderella, kan tidak lucu. Lagi pula wajah Ali tidak mendukung untuk mejadi pangeran, begitu kata Zea di dalam hatinya.
Zea tadi sempat menawarkan Deral saja yang menjadi pengeran, tapi Aura dengan wajah paniknya melarang tawaran Zea itu.
Kata Aura dia yakin nanti pangerannya pasti muncul tiba-tiba. Dan lagi Aura mengatakan jika tidak ada yang muncul, maka Ali yang memerankan peran pangeran.