"Ah sakit pak, tolong jangan..." Pekik Jihan ketika tangan kekar itu berusaha menggapai sebuah aset yang selama ini ia rawat dan ia jaga.
Bukannya menyingkir pria itu malah semakin mengurung tubuh mungil itu dan terus berusaha melanjutkan aksinya.
Jihan, gadis 19 tahun duduk di bangku kuliah semester 3. Merantau di kota besar untuk menimbah ilmu. Berharap dengan berpendidikan bagus dia bisa merubah nasib keluarganya.
Namun, hidup di kota tidaklah mudah. Apalagi Jihan hanya mengharap biaya kiriman dari keluarganya yang tidak seberapa besar.
Apalagi saat ini dia butuh uang untuk ujian semester 3. Mau tidak mau dia harus mencari pinjaman.
"Seperti yang sudah kita sepakati Jihan, kamu harus menepatinya"
Perkataan bapak kos membuat tubuh Jihan diam dan berhenti meronta. Dia terpaksa pasrah menerima apa yang akan bapak kos nya lakukan kepadanya.
Kira kira, apa yang akan bapak kosnya lakukan? apa sebenarnya kesepakatan yang mereka buat?
yukk ikuti terus kisah Jihan dan bapak kos nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Dia Menghindar?
Rian pulang dari kantor. Edo dengan setia membantu dirinya turun dari mobil.
Saat akan masuk ke dalam rumah, mata Rian melirik kearah kosan di samping rumah besar miliknya. Ada rasa penasaran muncul di relung hatinya ketika menatap salah satu pintu kamar kos.
Benar, Rian penasaran dengan Jihan yang tak kunjung muncul. Semenjak kejadian malam itu, Jihan seakan menghindar darinya.
"Apa dia marah?"
"Apa dia membenci ku?"
"Ah, kenapa aku harus memikirkan dia. Dia bukan siapa siapa."
Hati Rian terus berkata kata, berperang antara memikirkan gadis itu atau mengabaikannya.
"Boss." Panggil Edo. Dia mengikuti arah pandang Rian pada kos kosan milik nya.
"Apa anda ingin ke sana?" Tawar Edo.
"Tidak, aku ingin masuk saja" Jawab nya.
Edo mengangguk, dia mulai mendorong kursi roda masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, mereka di sambut oleh Fio dan juga Jordan.
"Eh putra mama sudah pulang."
"Boss" Sapa Edo memberi hormat pada Jordan dan Fio.
Jordan mengangguk dan tersenyum, kemudian mereka mendekati Rian.
"Ayo sini, kita minum teh dulu."
Fio mendorong kursi roda putranya menuju ke ruang keluarga, di ikuti oleh Edo yang berjalan di belakang Jordan.
"Bagaimana Edo, apa perusahaan baik baik saja?"
"Tentu bos, tuan muda Rian memimpin dengan sangat baik. Bahkan tidak ada klien yang berkutik apa bola tuan muda sudah berkata dan bertindak tegas." Tutur Edo menjelaskan.
Jordan tersenyum bangga mendengarnya, Rian selalu membuat dirinya bangga. Meskipun perusahaan milik Rian bukanlah turunan dari nya, melainkan rintisan dari Rian sendiri.
"Bagus, anak ku selalu membuatku bangga" Sela Fio, dia tersenyum senang dan mengusap lengan putranya.
Mereka mengobrol soal perkembangan bisnis dan juga perjalanan pasar akhir akhir ini. Namun, tidak dengan Rian. Dia terus memikirkan gadis yang dia sendiri tidak tahu mengapa selalu ada di dalam benaknya.
"Kenapa aku selalu memikirkan dia?" Gumam Rian dalam hati.
Saking asiknya dengan pemikiran sendiri, Rian sampai tidak sadar ketika papa nya sejak tadi memanggil dirinya.
"Bagaimana Rian?"
"Rian?"
"Rian?"
"Huh, apa?" Sahut Rian di panggilan ke tiga.
"Kamu melamun nak, apa ada sesuatu yang mengganggu pemikiran mu?" tanya Fio lembut.
"Ah tidak ma, aku hanya lelah saja. Apa aku boleh beristirahat lebih dulu?"
"Oh benarkah? tentu sayang, kamu memang harus banyak beristirahat."
"Edo, tolong antar Rian dulu yah ke kamar" Titah Fio pada Rian.
"Baik ibu bos"
Edo langsung bergerak cepat, membawa Rian masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar, Edo tidak langsung keluar. Tanpa basa basi Edo duduk di tepi ranjang milik Rian.
"Apa gadis itu mengganggu mu?"
"Gadis mana?" Rian pura pura tidak tahu.
"Jangan berbohong dan jangan bersikap seolah aku tidak tahu." Balas Edo memutar mata, dia malas dengan sikap Rian yang selalu menyimpan sendiri.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!" Rian menghindar, dia pergi ke kamar mandi.
Namun, menghindar dari Edo tidaklah semudah itu. Dengan sigap dia menahan kursi roda Rian, lalu menariknya agar lebih dekat dengan dirinya.
"Apa kamu merindukannya? dia sudah satu Minggu tidak bertemu dengan mu" Tanya Edo penuh selidik.
"Siapa yang kamu bicarakan sih, aku tidak tahu." Rian terus mengelak, tapi Edo tidak akan mudah tertipu.
"Jihan, tentu saja kamu merindukan dia kan?"
Deg.
Rian mendadak gugup, dia ingin mengelak tapi Edo tahu gelagat ini.
"CK, kamu merindukan dirinya!" decaknya.
Fyuu..
"Aku tidak merindukannya, aku hanya penasaran. Mengapa dia mendadak tidak mendekati ku lagi."
"Itu namanya kamu merindukannya" Cerca Edo.
"Tidak, aku hanya heran. Biasanya dia selalu mencari masalah dengan ku!" Rian masih mengelak dan tidak mau mengakui kalau dia merindukan Jihan yang selalu membuatnya kesal.
"Itu namanya rindu bego."
CK.
Mata Rian melebar besar, Edo berani mengatainya bego.
"UPS maaf boss, aku tidak sengaja" Sesak Edo tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Apa kau sudah bisa hidup huh?" Seru Rian pura pura marah. Padahal dia hanya bercanda dan Edo tahu akan hal itu.
Mereka tertawa bersama, hubungan persahabatan seperti inilah yang Rian inginkan. Tidak seperti dirinya dan Rico, mereka hanya selalu membahas bisnis dan selalu membahas jabatan. Terkadang Rian lelah dengan sikap Rico seperti itu.
Hingga sebuah bukti, dan beberapa tingkah Rico membuat Rian curiga akan sikapnya itu.
Cukup lama Rian dan Edo bercanda riah di dalam kamar. Akhirnya asisten sekaligus sekretaris itu pamit undur diri. Rian pun ikut mengantarnya ke depan pintu. Kali ini statusnya sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang atasan.
"Aku pulang dulu, besok aku akan datang ke sini lagi bersama beberapa jadwal padat mu" Ujarnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Terserah kau saja" Balas Rian.
Edo terkekeh pelan, lalu kemudian dia melakukan mobilnya meninggalkan rumah atasan sekaligus sahabatnya.
Setelah memastikan Edo sudah pergi, Rian berbalik hendak masuk ke dalam rumah. Tapi, tampa sengaja telinganya tidak sengaja menangkap pembicaraan anak kos nya.
"Kasian banget yah Jihan, dia sejak kemarin kesana kemari mencari pekerjaan paru waktu."
"Iya benar, dia bahkan tidak sempat istirahat."
"Apa kondisi keluarga nya ambruk lagi yah?"
Rian masih terdiam, dia bahkan tidak membalas sapaan anak kos nya yang dengan ramah menyapa dirinya.
Di dalam benak Rian hanya ada Jihan dan masalah yang gadis itu alami.
"Apa dia memiliki masalah?"
"Kenapa dia tidak membicarakan dengan ku?"
Rian bergumam sendiri, tanpa dia sadari dirinya sedang berpikir seolah Jihan sudah biasa meminta bantuan kepada dirinya. Padahal dia sama sekali tidak mengingat akan hal itu.
"Ada apa ini, kenapa aku seolah sudah sering membantunya?"
"Aiss..."
Sementara di lain tempat, Jihan tengah sibuk melayani para pelanggan di sebuah cafe. Dia berlari ke sana kemari menerima orderan dari para pelanggan, kemudian kembali berlari untuk mengantarkan pesanan mereka.
"Huhh, lelah sekali mencari uang ini!" Lenguh nya sambil menghela nafas dalam kemudian mengembuskan kasar.
"Pelayan!"
"Yah!" Jihan segera berlari menuju ke pelanggan, tersenyum ramah dan berusaha untuk terlihat baik baik saja.
"Aku mau kopi es dan Nasi goreng ayam crispy." Ucap pelanggan.
"Baik nona, tunggu sebentar yah" balasnya dengan tersenyum ramah. Kemudian, Jihan berjalan cepat menuju ke dapur, melaporkan apa saja yang baru saja pelanggan pesan.
Beginilah pekerjaan Jihan selama 1 Minggu ini. Dia tidak bis beristirahat, bahkan dia tidak bisa bertemu dengan sang pujaan hati .
Ingin rasanya Jihan bercerita dengan Fio. Tapi Jihan juga sadar diri, dia sudah banyak merepotkan wanita itu. Meskipun Fio sangat senang bila Jihan mau meminta bantuan kepada dirinya.
Tepat pukul 11 malam, barulah Jihan bisa pulang ke kos. Dia terkejut saat membuka gerbang dan berjalan menuju ke kamar kosnya. Dia di sambut oleh pria yang tengah duduk di kursi roda dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Dari mana saja kamu?"
"Hu?"