NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015

Aku Semakin Menyukaimu

Hari pertama pembacaan naskah Gerbang Majapahit berakhir dengan Gunawan mengusir semua orang tepat pukul enam sore.

"Pulang. Otak aktor juga butuh tidur," katanya sambil mengibaskan naskah. "Dan Rayhan, kalau kamu masih berdiri di depan studio seperti papan reklame berjalan, aku akan minta keamanan menyeretmu."

Seluruh ruangan langsung menahan tawa.

Rayhan yang benar-benar masih berdiri di dekat pintu hanya menatap Gunawan dengan wajah datar.

"Om tidak akan berani."

"Aku tidak berani karena aku masih butuh dana film, bukan karena kamu menakutkan."

"Itu tetap tidak berani."

Gunawan memukul dahinya sendiri dengan naskah. "Kiara, bawa dia pergi. Aku tidak sanggup melihat wajah dinginnya lebih lama."

Kiara yang sedang merapikan tas hampir menjatuhkan botol air.

"Om, kenapa saya?"

"Karena cuma kamu yang dia dengar."

Kalimat itu membuat beberapa kru kembali melirik sambil tersenyum. Wajah Kiara langsung panas. Ia buru-buru memasukkan naskah ke tas, menarik Santi yang sudah hampir tertawa, lalu berjalan keluar.

Di koridor studio, Rayhan mengikuti dengan langkah santai.

"Kamu puas?" bisik Kiara.

"Puas karena apa?"

"Semua orang makin salah paham."

"Mereka tidak sepenuhnya salah."

Kiara berhenti.

Rayhan juga berhenti.

Santi yang berjalan di belakang mereka langsung pura-pura menerima telepon, lalu mundur beberapa langkah. Pengkhianatan itu semakin lama semakin lancar.

Kiara memeluk tas naskah di dada.

"Koh Rayhan."

"Hmm?"

"Jangan bicara seperti itu di tempat umum."

"Baik. Aku bicara di tempat pribadi."

Kiara sadar terlambat bahwa ia baru saja membuka jalan untuk jebakan kalimat itu. Ia menatap Rayhan, ingin marah, tetapi pria itu terlihat terlalu tenang sampai kemarahannya kehilangan tempat berdiri.

Di luar studio, hujan turun tipis. Jalanan Jakarta memantulkan lampu kendaraan dalam garis-garis panjang. Adi sudah menunggu dengan mobil, tetapi Rayhan tidak langsung membuka pintu.

"Makan malam dulu."

"Aku harus pulang."

"Kamu belum makan sejak siang."

"Aku makan bubur darimu."

"Itu bukan makan malam."

Kiara menatapnya curiga. "Kamu selalu punya jawaban."

"Untukmu, aku menyiapkan banyak."

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dada Kiara seperti disentuh dari dalam.

Akhirnya ia ikut.

Rayhan membawanya ke sebuah rooftop restaurant di kawasan SCBD yang malam itu tidak menerima tamu lain. Kiara tidak bertanya apakah tempat itu memang tutup atau sengaja dikosongkan. Ia sudah mulai belajar bahwa beberapa pertanyaan tentang Rayhan hanya akan membuatnya pusing.

Meja mereka berada di dekat kaca besar. Di luar, gedung-gedung tinggi Jakarta tenggelam dalam gerimis dan cahaya. Di atas meja, makanan hangat disusun tanpa berlebihan, kebanyakan lembut, tidak pedas, dan jelas dipilih dengan mempertimbangkan kondisi jantung serta obatnya.

Kiara mengambil sendok, lalu menatap Rayhan.

"Kamu benar-benar membaca semua catatan dokter, ya?"

"Ya."

"Tidak ada yang kamu lewatkan?"

"Ada."

"Apa?"

"Cara membuatmu tidak marah saat aku mengikutinya."

Kiara hampir tersedak sup.

Rayhan menyodorkan air putih dengan tenang.

"Pelan-pelan."

"Kamu jangan membuatku tersedak, lalu menyuruh pelan-pelan."

"Aku akan belajar."

Kata itu membuat Kiara diam.

Belajar.

Rayhan sering mengatakan hal yang terdengar mustahil. Ia akan belajar menjaga tanpa mengurung. Belajar menjadi baik padanya. Belajar menunggu batas yang Kiara pasang. Untuk pria yang bisa memindahkan uang lima ratus miliar dengan satu pengumuman, kata belajar justru terdengar lebih mahal daripada semua hadiahnya.

Mereka makan dalam diam beberapa menit.

Diamnya tidak canggung. Atau mungkin Kiara mulai terbiasa dengan kehadiran Rayhan yang memenuhi ruang tanpa harus banyak bicara.

Setelah supnya tinggal setengah, Kiara akhirnya bertanya, "Mimpi itu... kamu belum menjelaskan."

Rayhan meletakkan sumpit.

Udara di antara mereka berubah.

"Aku tahu."

"Kenapa kamu tahu aku bermimpi?"

"Karena aku juga bermimpi."

Walau sudah menebak, mendengarnya langsung tetap membuat kulit Kiara meremang.

"Apa itu ingatan?"

Rayhan menatap hujan di balik kaca.

"Sebagian."

"Sebagian?"

"Ada hal-hal yang belum bisa kujelaskan tanpa membuatmu semakin takut."

Kiara menggenggam gelas air. "Aku sudah takut."

Rayhan menoleh padanya.

Kejujuran itu keluar sebelum Kiara sempat menyaringnya. Tapi setelah terucap, ia tidak menariknya kembali.

"Aku takut karena kamu tahu terlalu banyak. Aku takut karena kamu muncul terlalu tepat. Aku takut karena kamu bisa lembut sekali, lalu sedetik kemudian membuat orang lain kehilangan segalanya. Aku takut karena di mimpi itu, kamu mengunciku."

Wajah Rayhan memucat tipis.

Kiara menarik napas.

"Tapi aku juga takut karena setelah semua itu, aku tetap ingin bertemu kamu."

Kali ini, Rayhan benar-benar tidak bergerak.

Kiara menunduk, pipinya panas.

"Aku tidak tahu apa namanya. Mungkin karena kamu menolongku. Mungkin karena di dunia ini aku terlalu sendirian. Mungkin karena aku bodoh."

"Jangan bilang begitu."

Suara Rayhan rendah.

Kiara mengangkat wajah.

"Aku semakin menyukaimu," katanya pelan.

Kalimat itu jatuh di meja seperti sesuatu yang rapuh.

Rayhan menatapnya seolah seluruh kota di luar kaca menghilang.

"Kiara."

"Tapi aku belum siap kalau kamu terlalu cepat. Aku belum siap jadi milik siapa pun. Aku belum siap diberi rumah, perusahaan, dunia, lalu kehilangan diriku sendiri."

"Aku tidak mau kamu kehilangan dirimu."

"Kamu yakin?"

Rayhan tidak langsung menjawab.

Justru jeda itu membuat Kiara lebih percaya daripada janji yang terlalu cepat.

"Aku menginginkanmu sampai tidak masuk akal," kata Rayhan akhirnya. "Kalau aku mengikuti bagian terburuk diriku, aku akan menyembunyikanmu dari semua orang."

Napas Kiara tertahan.

Rayhan menatapnya, tidak bersembunyi dari sisi gelap kata-katanya.

"Tapi kamu akan membenciku."

"Ya."

"Aku tidak sanggup jika kamu membenciku."

Kalimat itu begitu pelan sampai hampir tenggelam dalam suara hujan.

Kiara melihat pria di depannya. Pewaris Purnawan Group. Villain kejam dalam novel. Pria yang membuat ballroom diam hanya dengan satu kalimat. Tetapi saat mengatakan ia tidak sanggup dibenci Kiara, matanya terlihat seperti seseorang yang berdiri di tepi jurang.

Hati Kiara melunak tanpa izin.

"Koko."

Kata itu keluar sangat pelan.

Rayhan membeku.

Kiara sendiri membeku setelah menyadarinya.

Terlambat.

Mata Rayhan berubah.

Semua kesabaran yang sejak tadi ia susun rapi seperti retak oleh satu panggilan. Ia tidak bergerak mendadak. Tidak menyentuh Kiara. Tapi udara di sekitar mereka menjadi lebih panas, lebih sempit.

"Ulangi," katanya.

Kiara memegang gelas lebih erat. "Tidak."

"Sayang."

"Jangan pakai suara begitu."

"Suara bagaimana?"

"Seperti..." Kiara kehilangan kata dan makin malu. "Seperti kamu tahu aku akan menurut."

Rayhan menunduk sedikit, senyumnya tipis dan berbahaya.

"Apakah kamu akan menurut?"

"Tidak."

"Sayang sekali."

Kiara ingin berdiri, tapi kakinya terasa aneh. Bukan karena sakit. Lebih karena tatapan Rayhan membuat seluruh tubuhnya sadar bahwa ia sedang berdua dengan pria dewasa yang sangat ia sukai dan sangat seharusnya ia waspadai.

Rayhan bangkit lebih dulu.

Ia berjalan ke sisi meja Kiara, lalu berhenti satu langkah darinya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat aroma kayu cendana kembali mengisi napasnya.

"Aku tidak akan menyentuhmu kalau kamu tidak mengizinkan."

Kiara menatap tangan Rayhan yang berada di sisi tubuhnya. Jari-jarinya panjang, tenang, tetapi buku-bukunya masih menyimpan ketegangan.

"Kalau aku izinkan?"

Pertanyaan itu keluar seperti bisikan.

Rayhan menatap matanya.

"Aku akan sangat sulit berhenti."

Jantung Kiara berantakan.

Ia seharusnya mundur.

Ia justru berdiri.

Jarak mereka tinggal setengah langkah. Hujan mengetuk kaca, pelan dan terus-menerus. Di luar, Jakarta tampak jauh. Di dalam, semua yang ada hanya napas Rayhan dan panas di pipi Kiara.

Rayhan mengangkat tangan, berhenti di udara.

"Boleh aku menciummu?"

Kiara menggigit bibir.

Pertanyaan itu lembut.

Tetapi tatapannya tidak lembut sepenuhnya. Ada lapar yang ditahan, ada rindu yang tidak ia mengerti, ada kesabaran yang hampir patah.

Kiara tahu jika ia berkata tidak, Rayhan akan berhenti.

Pengetahuan itu justru membuatnya berani.

Ia mengangguk kecil.

"Boleh."

Rayhan menyentuh pipinya lebih dulu, sangat hati-hati, seperti memastikan ia tidak berubah pikiran. Ibu jarinya mengusap sudut mata Kiara yang entah sejak kapan basah.

"Jangan takut."

"Aku tidak takut."

"Kamu gemetar."

"Itu karena kamu terlalu dekat."

Senyum Rayhan menyentuh matanya.

Lalu ia menunduk.

Ciuman pertama itu tidak datang seperti serangan.

Ia datang seperti hujan yang akhirnya menyentuh tanah panas. Pelan, hangat, membuat dada Kiara kosong dan penuh pada saat yang sama. Bibir Rayhan menempel lembut di bibirnya, menunggu, menahan diri, memberi ruang baginya untuk mundur.

Kiara tidak mundur.

Tangannya justru naik, mencengkeram lengan kemeja Rayhan.

Napas Rayhan berubah.

Ciuman itu menjadi sedikit lebih dalam, masih terkendali, tapi cukup membuat lutut Kiara melemah. Dunia mengecil menjadi aroma cendana, suara hujan, dan tangan Rayhan yang menjaga pinggangnya sebelum ia benar-benar kehilangan keseimbangan.

Ketika akhirnya Rayhan melepaskan jarak sedikit, Kiara menunduk dengan wajah merah padam.

"Kamu..."

Suaranya habis.

Rayhan menyentuhkan dahinya ke dahi Kiara.

"Aku?"

"Kamu jahat."

Tawa rendah keluar dari dada Rayhan, pendek dan lembut.

"Aku baru menciummu sekali, Sayang."

"Sekali saja sudah begini."

"Berarti aku harus lebih hati-hati lain kali."

Kiara mengangkat wajah cepat. "Siapa bilang ada lain kali?"

Rayhan menatap bibirnya, lalu kembali ke matanya.

"Kamu."

"Aku tidak bilang."

"Tanganmu belum melepas bajuku."

Kiara menunduk.

Benar.

Jari-jarinya masih mencengkeram kemeja Rayhan.

Ia buru-buru melepas, tapi Rayhan menangkap tangannya, mencium punggung jarinya dengan sangat ringan. Gestur itu jauh lebih sopan daripada ciuman tadi, tapi entah kenapa membuat wajah Kiara semakin panas.

"Pulang sekarang," kata Rayhan pelan. "Sebelum aku benar-benar sulit berhenti."

Kiara mengangguk, terlalu malu untuk bicara.

Namun saat mereka berjalan menuju lift privat, Kiara diam-diam menyentuh bibirnya.

Jantungnya masih kacau.

Tubuhnya masih lemas.

Dan di antara semua rasa takut, bingung, malu, serta waspada yang berdesakan di dadanya, satu perasaan tumbuh paling jelas.

Ia memang semakin menyukai Rayhan Purnawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!