NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."

Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.

Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sedari tadi Zakia yang duduk di brankar Rumah sakit memperhatikan Daren yang sedang melaksanakan sholat tahajjud, darahnya berdesir hebat ketika Daren berdzikir dengan suara pelan namun terdengar menenangkan.

Menenangkan? Sejak kapan suara orang bisa membuat hati dan kepala Zakia merasa tenang, seolah-olah semua masalah dunia bisa hilang hanya dengan melihat suaminya itu.

Daren ini, kelihatan dari luar seperti orang biasa, tidak terlalu menonjolkan ibadah yang ia laksanakan, padahal kenyataannya bahkan jauh lebih baik dari yang terlihat di luarnya.

Seketika Zakia menatap dirinya, ia mau dari luar atau dari dalam terlihat hampir sama saja, tetapi Daren? Suaminya itu menciptakan benteng tak terlihat yang membuat orang lain tak bisa mengenal sepenuhnya siapa dirinya dan bagaimana kelakuannya.

Hanya orang terdekat yang bisa menembus benteng itu, lalu sekarang Zakia termasuk orang yang berhasil menembus benteng kokoh tersebut, sehingga ia tahu kebiasaan Daren dengan penampilannya sangat berbeda jauh.

'Ya ampun gue mikirin apasih!' batin Zakia geram.

Ia menunduk sebentar lalu kembali menatap aktifitas sang suami. Dilihat-lihat pria itu lebih memilih sederhana padahal memiliki kelebihan dari segala hal dan punya iman tebal yang tak terlihat oleh orang luar.

Selang beberapa menit kemudian, Daren membereskan perlengkapan sholatnya. Ia berjalan ingin mengambil air minum, tapi yang membuat Daren sedikit risih dan heran, kenapa sedar tadi Zakia menatapnya seperti itu?

Alis wanita itu tertekuk, matanya menajam, istrinya ini tidak kesurupan kan?

"Bang Daren jangan lupa hutangnya!" tegas Zakia.

Daren melongo mendengar itu.

"Hutang? Hutang apa? Nafkah yang kemaren dikasi udah abis ya? Mau nambah lagi?"

"Ha?"

Kini Zakia yang melongo, ini Daren sedang pamer harta kekayaan atau bagaimana? Apakah dia lupa sebanyak apa uang yang ia transfer kemarin? Bahkan setengahnya saja belum habis, mereka belanja pagi tadi untuk persiapan stok makanan selama seminggu dan itu juga dibayar pakai uang Daren bukan pakai uang bulanan yang diberi oleh suaminya itu!

"Bukan itu! " Zakia merengut.

"Lah, terus apa dong?" tanya Daren penasaran, yang ia tahu selama ini dirinya tidak pernah berhutang dengan Zakia, apa dia yang lupa?

Zakia menggeram gemas, sholatnya baru selesai beberapa menit yang lalu, sebelum sholat sudah diajak rundingan tapi pria ini malah lupa.

"Hutang cerita sama gue? Dokter bilang apa! Jangan pura-pura lupa dan jangan di potong-potong ya ceritanya!" seru Zakia sewot.

Daren seketika terdiam, masalah itu ternyata. Tapi mau dari mana dimulai? Daren memperhatikan lama wajah Zakia, Daren baru sadar bukan hanya watak wanita ini yang keras kepala tapi fitur wajahnya juga tegas, sangat mendukung semua prinsip hidup yang ia gendong selama ini.

Tapi, kalau dikatakan semuanya apakah raut wajah tegas itu masih bisa bertahan atau akan mengendur selayaknya bunga yang sudah layu?

'Kalau gue ceritain semuanya, apa dia sanggup dengerinnya? Tapi kalau disembunyiin juga ga ada gunanya, ini penyakit dia dan berhak tahu,' batin Daren.

"Cepetan jangan bengong gitu!" paksa Zakia.

Daren meminum airnya hingga tanda lalu berjalan ke arah Zakia. Wanita itu terlihat tidak sabar menunggu.

"Ligamen lo robek," ungkap Daren.

Zakia membeku.

"Pas kemaren lo dipukul itu kan ada cedera di kaki lo, cuman karena ga diobati dan ditambah lagi kejadian tadi siang, jadi sakitnya makin parah."

Zakia mendengar itu spontan membuang wajahnya dari pandangan Daren, berarti rasa sakit yang dia rasakan selama ini bukan karena keseleo atau segala macamnya? Melainkan ada bagian yang rusak dan bahkan semakin parah!

"Jadi karena cederanya parah gitu, kata dokter lo harus pakai kursi roda, " lanjut Daren.

Zakia meremat ujung selimutnya mendengar itu, semakin panjang penjelasan Daren maka semakin bertambah rasa sakit yang menggerogoti hatinya.

Ligamen robek? Kursi roda? Sejenak Zakia menatap kakinya, bagaimana bisa tungkai yang selalu ia bawa ke mana-mana untuk melawan dunia bisa terbujur kaku tak berdaya seperti ini.

Pikiran Zakia kembali menerawang kejadian yang membawa malapetaka itu, andai saja kemarin Zakia mengunci pintu, andai Zakia kemarin berhati-hati dan andai saja kemarin dia tidak ke gudang, pasti Zakia tidak akan mengalami hal ini.

Dia pasti bisa berjalan normal tanpa harus merasakan sakit, pasti masih bisa bekerja dan pasti masih bisa mengejar semua impiannya. Tapi sekarang? Bahkan untuk membawa dirinya ke mana-mana pun dia tak mampu!

Kejadian itu membuat Zakia merasa bukan hanya harga dirinya yang direnggut, melainkan fungsi organ tubuhnya juga dikikis secara perlahan.

Daren merasakan semua dari tatapan Zakia, diam namun penuh ketakutan, penuh beban dan penuh pikiran.

"Tapi gapapa, semuanya bakal diobati secara bertahap kok, lo ga selamanya pakai kursi roda, untuk sekarang pakai kursi roda dulu, entar baru pakai tongkat dan baru bisa jalan utuh kayak dulu," kata Daren menenangkan.

Daren tau, Zakia pasti sedih dengan kondisinya saat ini, tak dapat dipungkiri Daren juga sakit hati melihat kondisi istrinya saat ini, bagaimana perasaan Zakia? Bagaimana cara Zakia bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini?

Bukankah itu akan melelahkan? Karena rasanya Zakia seperti belajar dari awal, padahal dia sudah pernah melangkah begitu jauh.

"Berarti gue bakal cacat?" tanyanya.

Daren terdiam, ia menunduk sebentar lalu mendongak kemudian menggeleng.

"Ga cacat, cuman masih dalam masa pemulihan aja," jawabnya lagi.

Zakia tertawa sinis, itu kalimat penenang, tapi sayangnya telinga Zakia seolah-olah tuli mendengar kalimat itu.

"Itu memang masa pemulihan, nanti juga lo bakal bisa berjalan kayak biasa kok."

"Tapi kemungkinannya kecil kan?"

"Ga kecil dan ga besar juga, tapi dibanding kecil dan besar kemungkinan lo buat bisa jalan lagi itu besar, tinggal kita aja nanti yang berusaha," jawab Daren panjang.

Kita? Apa maksud Daren dengan kata kita? Apakah pria itu mau merepotkan dirinya sendiri hanya untuk menjaga wanita yang terjebak dalam keadaan seperti ini?

Kenapa Daren ini terdengar seperti orang yang penuh persiapan? batin Zakia.

"Untuk beberapa hari ini lo dirawat inap dulu, habis itu kita pulang baru kita rawat jalan."

Zakia tak menjawab, ia melirik Daren yang berjalan kembali ke arah sofa. Apakah pria itu akan tidur? Tapi melihat Daren yang sudah mulai membaringkan tubuhnya, Zakia sudah mendapatkan jawaban untuk pertanyaan itu.

Zakia melihat Daren, pria itu terlihat tidak nyaman dengan posisi tidurnya, sofa itu sempit dan bahkan tidak ada bantalnya.

Apa suaminya itu bisa nyaman?

Tiba-tiba sebuah pemikiran yang menurut Zakia konyol muncul di kepalanya.

Bagaimana kalau mereka tidur berdua?

Zakia menggeleng kencang, ia melihat brankar yang dia tiduri, cukup luas dan mampu menampung mereka berdua, lalu ia melihat Daren yang sangat kurang nyaman dengan posisi tidurnya.

'Emang gapapa ya kalau dia gue ajak tidur di sini?'

'Tapi kalau dia nolak, pasti gue malu banget!'

Perang batin pun dimulai, Zakia sudah membuka mulutnya ingin berbicara namun ia tutupkan kembali. Dua kali dia melakukan itu sampai akhirnya dia kesal sendiri.

Zakia sejenak berpikir, sejak kapan dia sepeduli ini dengan Daren suaminya itu?

Hah persetan, yang penting dia sudah mencoba, anggap saja ini sebagai balas budi karena Daren telah membantunya, masalah Daren mau atau tidak itu bisa belakangan!

"Bang Daren," panggil Zakia.

"Bang Daren," panggilnya lagi, namun tidak ada sahutan.

"Abangg!" kata Zakia dengan suara lumayan keras.

Syukurnya Daren langsung berbalik dengan alis yang menukik heran.

Melihat wajah Daren seperti itu, keberanian Zakia seketika menciut.

"Apa?"

Terserahlah! Anggap saja ini balas budi, ingat cuman bala budi! tekan Zakia di pikirannya.

"Mau tidur di samping gue ga? Kasurnya lumayan besar dan nyaman, dari pada tidur di sofa," ajak Zakia.

Daren diam, tak merespon ucapan Zakia. Zakia yang melihat itu jadi malu sendiri, memang seharusnya tadi dia diam saja, jangan ada ide seperti ini, jadinya malu sendiri kan!

Iya Zakia iy atau kok cuman balas budi, tpi gapapa lah y sekalian modus sama suami sendiri hehehehe.

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!