Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 06
Pagi itu Maya bangun sebelum azan subuh.
Ia duduk di tepi kasur, menatap lemari tua di depannya. Di dalam lemari itu hanya ada beberapa kebaya sederhana, seragam kerja, dua baju rumah, dan satu kotak kecil berisi perhiasan imitasi. Tidak ada apa pun yang pantas dipakai untuk menikah dengan laki-laki seperti Raka Wijaya.
Menikah.
Kata itu masih terasa tidak masuk akal.
Semalam setelah Raka pergi, Maya duduk lama di ruang tamu. Sari datang mengetuk pintu, wajahnya penuh pertanyaan karena seluruh gang sudah tahu ada mobil mewah, pria berjas, dan pengumuman pernikahan mendadak.
Maya hanya mengatakan, “Aku hamil.”
Sari tidak langsung percaya. Lalu ia melihat hasil pemeriksaan di tangan Maya dan menangis lebih dulu.
“Ya Allah, May… di umur kita?”
Maya juga ingin menangis, tapi air matanya seperti tertahan di tempat yang terlalu dalam.
Sekarang, ketika matahari belum naik dan rumah masih sepi, rasa takut itu datang lagi. Bagaimana kalau keluarga Raka menolak? Bagaimana kalau ia hanya menjadi aib yang harus disembunyikan? Bagaimana kalau setelah anak itu lahir, ia disuruh pergi?
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor Bima.
`Bu Maya, Pak Raka akan tiba pukul tujuh. Mohon siapkan KTP, KK, akta kematian suami, dan dokumen lain yang kemarin sudah difoto. Tim hukum sudah berkoordinasi dengan petugas pencatatan.`
Maya membaca pesan itu tiga kali.
KK.
Ia menatap dokumen di meja. Dalam kartu keluarga itu, namanya tertulis sebagai kepala keluarga. Dimas dulu pernah berkata, “Nanti kalau aku sudah mapan, Ibu tinggal ikut aku saja.” Tapi sejak menikah, Dimas lebih sering ikut keluarga Vina daripada datang ke rumah ini.
Maya mengambil dokumen satu per satu.
Ketika sampai pada akta kematian Hendra, jarinya berhenti.
“Maaf,” bisiknya pelan.
Ia tidak tahu kepada siapa ia meminta maaf. Kepada suaminya yang sudah lama meninggal, kepada dirinya yang dulu memilih hidup sendiri, atau kepada anak dalam kandungannya yang datang tanpa ia rencanakan.
Pukul tujuh tepat, mobil Raka berhenti di depan rumah.
Kali ini Maya sudah siap. Ia memakai kebaya krem sederhana, jilbab warna senada, dan sepatu hitam yang biasa ia pakai ke acara pengajian. Tidak mewah, tapi bersih.
Raka turun dari mobil.
Ia memakai setelan gelap. Tidak ada bunga, tidak ada senyum, tidak ada kata manis. Namun ketika matanya jatuh ke wajah Maya, ia diam dua detik lebih lama.
“Kamu sudah makan?”
Maya tidak menyangka itu pertanyaan pertamanya.
“Belum.”
Alis Raka langsung turun. “Kenapa?”
“Terlalu pagi. Saya tidak lapar.”
“Mulai hari ini, alasan itu tidak berlaku.”
Ia membuka pintu mobil. Di kursi belakang sudah ada kotak makanan.
“Bubur ayam. Tanpa sambal. Dokter bilang perutmu harus diisi.”
Maya menatap kotak itu.
Hal kecil seperti itu membuat dadanya sesak lebih daripada lamaran mendadak.
“Saya bisa makan nanti.”
“Makan sekarang.”
“Tuan Raka—”
“Raka.”
Maya terdiam.
“Kalau sebentar lagi kamu menjadi istriku, berhenti memanggilku Tuan.”
Wajah Maya panas.
“Pak Raka.”
“Mas Raka.”
Ia hampir tersedak udara.
Raka menatapnya datar, seolah tidak baru saja membuat jantungnya kacau.
“Atau kamu mau memanggil suamimu Pak terus di depan orang?”
Maya membuka kotak bubur agar punya alasan menunduk. “Mas Raka.”
Suara itu sangat pelan.
Tapi Raka mendengarnya.
Sudut matanya melembut sesaat, lalu hilang.
Proses hari itu berjalan cepat, tapi tidak sesederhana yang Maya bayangkan. Ada petugas, saksi, pengacara, dan beberapa berkas yang harus dibaca. Karena status Maya janda dengan dokumen lengkap dan Raka belum pernah menikah, semuanya bisa diproses secara resmi. Raka memastikan tidak ada celah hukum yang bisa dipakai siapa pun untuk menyerang mereka nanti.
Di sebuah ruangan kecil yang dingin, Maya duduk di samping Raka.
Petugas menanyakan kesediaan mereka.
Ketika giliran Maya menjawab, suaranya hampir tidak keluar.
Ia melihat tangannya sendiri di pangkuan. Tangan yang kasar karena sabun dan cairan pembersih. Tangan yang pernah memandikan Dimas, mencuci baju Vina saat melahirkan, mengelus kepala cucunya ketika demam.
Tangan itu sekarang akan menjadi tangan istri Raka Wijaya.
“Saya bersedia,” ucapnya.
Raka menjawab setelahnya. Suaranya rendah, stabil, tanpa ragu.
“Saya bersedia.”
Tidak ada tepuk tangan meriah.
Tidak ada keluarga besar.
Tidak ada ibu yang menangis bahagia.
Namun saat buku nikah dan dokumen pencatatan diserahkan, Maya merasa dunia yang selama ini menginjaknya tiba-tiba bergeser sedikit.
Ia bukan lagi perempuan yang bisa dipaksa Pak Burhan.
Ia bukan lagi ibu yang bisa diancam Dimas tanpa saksi.
Ia sekarang istri seseorang.
Dan seseorang itu adalah Raka Wijaya.
Setelah semua selesai, Bima mengambil beberapa foto formal untuk dokumen.
“Bu Maya, Pak Raka, mohon berdiri lebih dekat.”
Maya bergerak sedikit.
Raka melihat jarak di antara mereka, lalu langsung menarik bahunya pelan.
Tubuh Maya kaku.
“Jangan seperti foto dengan petugas pajak,” gumam Raka.
Bima batuk menahan tawa.
Maya menatap Raka dengan mata membesar. Pria itu tetap tanpa ekspresi, tapi telinganya tampak sedikit merah.
Foto diambil.
Di layar kamera, Maya melihat dirinya berdiri di samping Raka. Ia masih tampak canggung, wajahnya pucat, tapi tangan Raka berada di bahunya seperti pagar yang tidak akan membiarkan orang menariknya pergi.
Setelah keluar, Maya mengirim foto itu ke Dimas.
Tangannya gemetar sebelum menekan kirim.
Raka melihat layar ponselnya.
“Kamu ingin dia tahu?”
“Dia harus tahu. Supaya berhenti memaksa saya bertemu Pak Burhan.”
Pesan terkirim.
Kurang dari satu menit, Dimas menelepon.
Maya memandang layar sampai panggilan hampir berakhir. Lalu ia mengangkat.
“Ibu gila?” suara Dimas langsung meledak. “Ibu benar-benar menikah dengan dia?”
Maya menutup mata. “Jaga bicaramu.”
“Apa Ibu sadar apa yang Ibu lakukan? Keluarga Vina sekarang mempermalukanku. Pak Burhan minta uang tanda jadi dikembalikan. Dari mana aku dapat uang?”
“Itu bukan urusan Ibu.”
“Bukan urusan Ibu?” Dimas tertawa kasar. “Aku anak Ibu!”
Maya memegang ponsel lebih erat. “Justru karena kamu anak Ibu, Ibu berharap kamu malu.”
Di seberang, Dimas terdiam sesaat.
Lalu suaranya berubah dingin.
“Kalau Ibu memilih laki-laki itu daripada aku, jangan salahkan aku kalau aku juga memperlakukan Ibu sebagai orang luar.”
Sebelum Maya menjawab, Raka mengambil ponselnya.
“Bagus. Mulai sekarang, ingat kata-katamu.”
“Tuan Raka—”
“Masih ingin modal proyek? Kembalikan dulu uang yang kamu terima untuk menjual ibumu. Setelah itu belajar mencari uang tanpa mengorbankan perempuan yang melahirkanmu.”
Panggilan diputus.
Maya menatap Raka. “Dia akan semakin marah.”
“Dia memang harus marah. Orang seperti dia baru bergerak kalau kepentingannya terganggu.”
Maya ingin membela Dimas seperti kebiasaan lama. Ia ingin berkata anaknya tidak seburuk itu, hanya tertekan, hanya salah jalan. Tapi kata-kata itu tersangkut.
Karena Raka benar.
Bima mendekat. “Pak, apartemen sudah siap. Barang Bu Maya akan dijemput tim sore ini.”
Maya langsung menoleh. “Barang saya?”
Raka menjawab, “Kamu tinggal denganku mulai hari ini.”
“Tidak bisa. Rumah saya—”
“Rumahmu dijaga. Sertifikatmu di tanganmu. Tapi kamu tidak tinggal sendirian dalam kondisi hamil risiko tinggi, sementara anakmu dan keluarga istrinya baru saja mengancam.”
“Saya bisa menjaga diri.”
Raka menatapnya.
“Kemarin kamu pingsan dua kali.”
Maya kehabisan kata.
Apartemen Raka berada di gedung tinggi dengan keamanan berlapis. Lift khusus membawa mereka langsung ke unit paling atas. Ketika pintu terbuka, Maya hampir lupa bernapas.
Ruang tamunya luas, dengan jendela kaca dari lantai ke langit-langit. Jakarta terhampar di bawah seperti peta bercahaya. Lantainya dingin, perabotnya rapi, semuanya wangi dan mahal.
Maya berdiri di dekat pintu, takut menginjak terlalu jauh.
Raka membuka lemari sepatu, mengeluarkan sandal rumah baru.
“Pakai ini. Lantainya dingin.”
Maya menerima sandal itu.
Ukurannya pas.
“Anda sudah menyiapkan?”
“Mas.”
Maya menunduk. “Mas Raka sudah menyiapkan?”
“Bima yang membeli.”
Dari belakang, Bima langsung menatap lantai, pura-pura tidak mendengar.
Raka membawa Maya ke kamar. Kamar itu besar, dengan ranjang luas dan lemari kosong di satu sisi.
“Mulai sekarang ini kamarmu.”
Maya menegang. “Kamar saya?”
“Kamar kita.”
Wajahnya panas lagi.
Raka membuka pintu lain. “Kamar mandi di dalam. Pegangan anti-slip sudah dipasang. Dokter bilang kamu tidak boleh jatuh.”
Maya melihat ke kamar mandi. Benar. Ada alas anti-slip, bangku kecil, handuk baru, bahkan sabun tanpa aroma tajam.
Ia tidak tahu kapan semua itu disiapkan.
Mungkin sejak semalam.
Maya menyentuh gagang pintu, lalu tiba-tiba berkata, “Mas Raka.”
Raka berhenti.
“Saya tidak tahu bagaimana menjadi istri orang kaya.”
“Aku juga tidak tahu bagaimana menjadi suami perempuan yang keras kepala dan selalu lupa makan.”
Maya menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia hampir tersenyum.
Raka melihat senyum kecil itu. Matanya berhenti di bibir Maya terlalu lama, lalu ia memalingkan wajah.
“Istirahat. Setelah makan siang, dokter datang.”
“Dokter datang ke sini?”
“Ya.”
“Saya bisa ke rumah sakit.”
“Kamu bisa. Tapi tidak perlu.”
Maya duduk di tepi ranjang. Ranjang itu terlalu empuk, membuat tubuhnya tenggelam sedikit. Ia memegang perutnya tanpa sadar.
Di tempat yang asing, di tengah hidup yang berubah dalam satu hari, detak kecil dari ruang USG tadi kembali teringat.
Raka berdiri di depan pintu.
“Maya.”
Ia mendongak.
“Di rumah ini, jangan takut meminta apa pun.”
Maya menatapnya lama.
Ia hampir berkata bahwa ia tidak terbiasa meminta.
Tapi Raka sudah berbalik, meninggalkannya dengan pintu terbuka setengah.
Maya duduk sendiri di kamar besar itu.
Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia tidak mendengar suara Dimas menuntut sesuatu.
Keheningan itu terasa asing.
Dan menakutkan.
Karena terlalu damai.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍