Hanya seorang penjual ikan disiang hari. dan pengantar barang dimalam hari itulah pekerjaan pria yang bernama Satria.
Di caci maki sudah menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan lebih parahnya lagi dia di khianati oleh istrinya sendiri dan hampir dibunuh oleh selingkuhan istrinya tersebut.
Tapi nasib merubah hidupnya sejak dia menolong seorang kakek tua misterius yang memberinya sebuah kalung pusaka naga.
Dan itu merubah hidupnya menjadi seorang penguasa.
Akhirnya Satria bertekad untuk membalas orang yang sudah merendahkan nya.
Penasaran dengan kisahnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Satria melepaskan preman itu. Preman itu memegangi tangannya yang terluka. Satria memberikan nomor teleponnya kepada pemilik warung tersebut.
"Paman, kalau mereka datang lagi membuat kekacauan, hubungi saja aku," pinta Satria.
"Baik tuan," jawab pemilik warung tersebut.
"Dan kamu," kata Satria menunjuk kearah pria itu.
"Jika kamu masih membuat keributan disini, maka aku tidak segan-segan menghabisi mu," ancam Satria.
"Ba-baik Tuan," jawab pria itu gugup.
"Pergilah, kali aku bebaskan. Tapi tidak untuk lain kali," kata Satria.
Tanpa berkata apa-apa, preman itu langsung pergi dari situ. Ia berlari terbirit-birit sambil memegangi tangannya yang terluka karena ujung sendok. Meskipun tidak tajam, tapi karena Satria menghujam kan nya terlalu kuat, jadi bisa membuat terluka.
"Paman jangan takut, mereka tidak akan berani lagi mengganggu disini," ucap Satria.
Kemudian Satria membayar bubur ayam yang ia pesan tadi. Bahkan Satria memberikan uang lebih kepada pemilik warung tersebut.
Satria pun segera pergi dari tempat itu, dengan mengendarai motor bututnya, Satria pergi ke perusahaan miliknya.
Satria pun tiba di perusahaan, sekuriti membungkuk hormat kepada Satria. Satria memarkirkan motornya ditempat parkir. kemudian ia masuk kedalam gedung perusahaan tersebut.
Para karyawan yang ada disitu semua membungkuk hormat. Mereka juga baru datang, sebenarnya masih ada waktu sebelum masuk kerja. Tapi mereka sengaja datang lebih awal.
Satria masuk kedalam lift menuju lantai atas tempat ruangan nya berada. Saat tiba dilantai yang dituju, pintu lift terbuka Satria keluar dari dalam lift Lalu masuk kedalam ruang kerjanya.
Pandangan Satria tertuju pada map yang belum sempat ia periksa kemarin. Kemudian Satria Satria masuk kedalam kamar mandi.
Ia ingin mandi terlebih dahulu, baru setelah itu ia akan bekerja. Dan nanti siang ia akan bertemu klien bersama Dewi.
Satria melepas pakaiannya satu persatu, kemudian ia berdiri dibawah shower dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
15 menit kemudian, Satria pun selesai mandi. Ia pun berganti pakaian dengan pakaian formal yang ada didalam lemari pakaian.
Satria sudah terlihat lebih tampan, kini iapun mulai mengecek dokumen yang belum sempat ia periksa.
Satria sangat serius dalam bekerja, sehingga melupakan waktu. Dewi masuk kedalam ruangan Satria dan melaporkan bahwa klien mereka sudah datang
Satria pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Dewi. Dewi yang berada dibelakang Satria seperti pengawal saja.
Tiba di ruangan yang dituju, Satria dan Dewi langsung masuk. Ternyata disana sudah ada Ariel yang bertugas mengantar mereka tadi keruangan pertemuan.
Klien tertegun saat melihat ketampanan Satria, wanita itu tidak berkedip beberapa saat.
"Mengapa tidak bilang kalau kliennya wanita?" tanya Satria.
"Maaf tuan muda," jawab Dewi.
"Selamat datang Nona," sapa Satria.
"Ah iya, maaf," ucapnya.
"Tidak saya sangka, ternyata tuan Satria orangnya sangat tampan dan gagah. Sangat sesuai dengan namanya," puji wanita itu.
"Bisa kita mulai, nona?" tanya Satria.
"Bahas soal kerjasama itu gampang, tuan Satria. Tidakkah anda ingin berbincang masalah lain terlebih dahulu?" tanya wanita itu sambil mengedipkan matanya sebelah.
Satria merasa risih dengan wanita didepannya. Apalagi wanita itu sangat genit. Yang kemarin saja Satria merasa jijik, ditambah lagi dengan wanita ini
"Kalau tidak ingin bahas kerjasama, lebih baik kami keluar. Ariel!!"
"Ya tuan muda," jawab Ariel.
"Tunjukkan jalan keluar pada tamu kita, dan antar hingga ke mobil," titah Satria.
"Baik tuan muda," jawab Ariel. Ariel segera melaksanakan perintah tuannya itu.
"Loh, bagaimana dengan kerjasama kita? Saya dan asisten pribadi saya sudah datang jauh-jauh untuk membahas kerjasama ini," ucap wanita itu.
"Dewi, berapa persen saham mereka?" tanya Satria.
"15 persen tuan muda," jawab Dewi.
"Kembalikan saham mereka sekarang," perintah Satria.
"Baik tuan muda," jawab Dewi.
Dewi dengan cekatan melaksanakan perintah dari tuan muda nya itu. Wanita itu tidak terima, ia merasa direndahkan oleh Satria.
"Kalian akan menyesal," ucapnya. Lalu pergi dari tempat itu.
Satria memang tidak suka wanita seperti itu. Kemudian ia berpesan pada Dewi untuk tidak menerima wanita seperti itu lagi.
"Baik tuan muda," jawab Dewi.
"Punya ketua terlalu tampan ternyata berbahaya juga," batin Dewi.
Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu, dan kembali keruang kerjanya masing-masing.
Tiba di ruang kerjanya, Satria duduk dikursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaannya. Dewi kembali masuk dan mengingatkan untuk makan siang.
Satria keluar untuk mencari makan siang, Satria mengajak Ariel, karena ia tidak enak sendirian. Ariel tentu saja tidak menolak.
"Kita kemana tuan?" tanya Ariel.
"Cari makanan yang enak, bisa antar kesana?" tanya Satria.
"Bisa tuan, kebetulan saya tau tempat yang enak. Tapi bukan di restoran, tuan," jawab Ariel.
"Gak masalah, aku juga tidak memilih tempat makan," ucap Satria.
Keduanya mengendarai satu mobil saja. Ariel membawa Satria ketempat makan yang katanya enak.
Sebuah tempat makan dipinggir jalan. Satria yang dari golongan orang susah dulunya pasti sudah terbiasa dengan makanan pinggir jalan.
Ariel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Karena tempatnya tidak terlalu jauh dari perusahaan milik Satria.
"Kita sampai tuan," kata Ariel.
Satria mengangguk, ia mengedarkan pandangannya kesegala arah. Pengunjung cukup ramai. Karena selain enak, harganya juga terjangkau.
"Silakan Tuan," ucap Ariel.
"Hmmm," jawab Satria.
Ariel keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Satria. Satria tidak protes, sebenarnya ia malas untuk dilayani seperti itu.
Satria mau mereka bersikap biasa-biasa saja meskipun Satria adalah ketua mereka. Satria dan Ariel pun duduk di bangku kosong. kemudian Ariel memesan makanan yang laris ditempat ini.
Tidak butuh waktu lama, pesanan merekapun sampai. Satria dan Ariel pun mulai makan, karena waktu istirahat siang tidak panjang.
Setelah selesai makan, Satria membayar semua makanan tersebut. Kemudian merekapun pergi dan kembali ke perusahaan.
Sementara di mansion milik Satria...
Shisi yang bekerja sebagai pelayan berulah. Karena dia tidak terima dijadikan pelayan oleh Satria.
"Heh kalian, aku ini calon nyonya kalian, kalian harus patuh padaku," kata Shisi.
Para pelayan hanya mencebikkan bibirnya. Mereka tidak takut kepada Shisi, karena mereka sudah mendapat kebebasan dari tuan mereka.
"Masih siang sudah mimpi," ucap kepala pelayan.
"Awas saja kalian kalau aku sudah menjadi istri Satria," kata Shisi.
"Silakan saja, kalau kamu calon istri Tuan muda, kamu tidak dibawa kesini sebagai pelayan," jawab pelayan lain.
Pelayan di mansion ini ada 10 orang dan ditambah Shisi menjadi 11 orang. Shisi menjadi bahan ledekan karena terlalu berhalusinasi. Mereka semua mengejek dan mentertawakan Shisi.
"Kita lihat saja nanti, aku akan pasti akan berhasil mendapatkan Satria," batin Shisi.
Mansion ini dijaga ketat oleh 100 prajurit. Sedangkan yang lainnya berada di sebuah mansion khusus untuk mereka semua. Yang mereka sebut markas.
Shisi masih tidak mau bekerja, karena ia menganggap dirinya adalah calon istri Satria. Para pelayan tidak peduli. Tapi kadang ada pelayan yang hilang kesabaran terhadap Shisi. Sehingga mereka menampar Shisi.
Tapi Shisi tidak pernah kapok sekalipun diperlakukan seperti itu.