Vania Keisha Edward, hidupnya terasa begitu sempurna, terlahir menjadi seorang putri tunggal dari penguasa kaya raya membuat dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan begitu mudah. Bahkan pria yang begitu ia cintai bisa dengan mudah ia dapatkan untuk menjadi calon suaminya.
Namun sebuah tragedi terjadi, bak tersambar petir. Suatu pagi dia tiba-tiba terbangun di sebuah pesantren dan akan di nikahi seorang lelaki yang tak dia kenal yang merupakan keluarga kiayi.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan Vania dan akan seperti apa kehidupan Vania selanjutnya.
Ikuti cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di tinggal ke Pesantren.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Mobil Afham sudah memasuki pintu utama mansion, karena terus berbincang membahas resepsi dengan sang istri, dia sampai tak sadar sudah sampai saja.
"Dek. Malam ini aku ada jadwal di pesantren apa adek mau ikut?" Afham mulai bertanya setelah mematikan mesin mobilnya.
"Pesantren?" Vania sampai langsung berbalik menghadap Afham. Bukannya baru kemarin pulang dari sana dan sekarang ada jadwal lagi. Ternyata suaminya ini benar-benar sibuk dengan segala rutinitas nya, baru juga beres urusan kantor kini harus ke pesantren. "Apa harus ke sana lagi. Apa tak lelah, Kak?"
"Iya, ada kajian tausiyah mingguan. Dan sore nya sebelum magrib ada jadwal ku mengajar anak-anak santri." Afham langsung menjawab dengan senyuman, bahkan tangannya mengelus kepala Vania seolah tak perlu mengkhawatirkan nya, "Jika Adek merasa lelah tak ikut juga tak apa-apa?" ucapnya lagi.
Masih banyak waktu untuk kembali membawa Vania ke pesantren dan memperkenalkan dunianya yang penuh dengan pembelajaran Islam dan ke aqidahan.
Vania sesaat terdiam, kalau begitu berarti suaminya harus berangkat sekarang, dia tak mau di tinggalkan tapi ikut ke sana juga belum siap, dia cukup lelah dengan kegiatan hari ini, terlebih bayang-bayang teriakan warga kala itu masih terngiang-ngiang di kepalanya membuat dia kembali merasakan takut.
"Kapan Kak Afham kembali. Tidak akan menginap di sana kan?" tanyanya ragu, dia tidak ingin menjadi penghalang segala kegiatan rutinitas suaminya. Tapi untuk kali ini saja jangan tinggalkan dia terlalu lama karena dia masih sedang berusaha menata hatinya.
"Tidak, aku tidak akan menginap. Insyaallah aku kembali sekitar jam sepuluh malam. Tidak apa-apa kan?" Ada sedikit keraguan di hati Afham, raut wajah istrinya tiba-tiba terlihat murung seolah tak ingin di tinggalkan. Tapi tanggung jawabnya sebagai seorang muslim sekaligus guru untuk murid-muridnya harus di taati.
"Iya." Vania langsung mengangguk, hanya sebentar tak apa dia bisa menunggu dengan Khumaira. Namun masih ada benak di kepalanya. "Kak, apa masih harus mengikuti kajian tausiyah, padahal Kak Afham sudah sangat sempurna dengan segala yang Kak Afham ketahui. Kenapa?" ucapnya penuh tanya. Dari setiap tutur kata dan tingkah nya saja ilmu Kak Afham tak bisa di ragukan. Dan sekarang masih mencari apa lagi. Bukannya tinggal menjalani hidup dengan keimanan.
Afham langsung tersenyum menggerakkan tangannya mengelus punggung tangan Vania, "Dek, bukan kita yang pintar, tapi Allah yang beri pemahaman, bukan kita yang mampu, tapi Allah yang menolong kita, bukan kita yang kuat tapi Allah yang menguatkan kita." tuturnya dengan lembut. Jangan memvonis kesempurnaan ada di diri kita, karena tanpa Allah kita bukan siapa-siapa, tak akan bisa apa-apa, dan tak akan tahu apa-apa.
Selayaknya ilmu adalah cahaya dalam hati, sepanjang hayat pula kita harus mencari nya untuk menerangi dan menumbuhkan keimanan kita, bukan hanya sekedar ilmu dalam pengalaman dan ajaran, tapi ilmu yang akan menuntun kita kembali pada yang maha kuasa. Percuma kita mendapatkan semuanya tapi tertanam dalam hati bahwa itu adalah kuasa kita, itu adalah kepandaian kita, maka terhalang lah semua ibadah kita dengan sebuah kekufuran yang tak kasat mata.
"Bukannya itu sulit. Bahkan terkadang kita merasa semua itu adalah kemampuan kita."
"Iya, makanya kita di tuntut untuk belajar, menuntut ilmu sepanjang hidup kita." Afham berusaha menjelaskan dengan rinci, bahwasanya bagi setiap muslim, maupun muslimah. Baik kecil, dewasa, tua, semaunya di tuntut untuk mencari ilmu. Bukan hanya sampai bisa, atau sampai tahu. Menuntut ilmu itu di wajibkan dari mulai kita lahir sampai masuk lubang kubur tanpa henti.
Bukan hanya sampai di ilmu syariat, yang membahas tentang aspek lahiriah dari setiap ibadah atau pekerjaan yang dilakukan seorang hamba, dan ilmu tasawuf yang membahas perihal batin, hati seorang hamba dalam membersihkan hati mereka dari segala sifat tercela ketika melakukan ibadah, tapi juga harus di lengkapi dengan ketauhidan yang hakiki.
"Maksudnya?" Kepala Vania semakin mumet, tolong di perjelas karena dia belum mengerti akan yang di ajarkan suaminya.
"Sama hal nya seperti yang di lakukan adek sekarang. Adek ingin menjadi seorang muslimah yang baik, maka adek mempelajari aturan dan tata cara shalat, dan itu adalah bukit adek mempelajari ilmu syariat dalam aspek lahiriah saja."
"Berarti masih banyak yang harus ku pelajari?"
Afham sampai tersenyum dan mengiyakan. "Iya, adek tak cukup sampai di sana, Adek harus meningkatkan ilmu adek, dan mengatur hati adek agar shalat Adek lebih afdol. Maka itu di namakan dengan ilmu tasawuf. Yang mana adek harus mengatur hati adek, jangan sampai saat shalat tertanam sedikit pun sifat ria, bahkan takabur, yang akan merusak sholat kita."
"Maka saat itulah ilmu tasawuf membimbing hati kita agar perlahan meningkatkan keimanan kita, bahwasanya segala sesuatu bukanlah kuasa kita, bukan ilmu kita, bukan kepandaian kita melainkan semuanya adalah kuasa Allah, semuanya adalah ilmu Allah, yang Allah perlihatkan pada kita, sehingga timbullah keyakinan dalam hati, kalau semuanya adalah kuasa nya Allah. Saat itulah ketauhidan kita muncul, dan insyaallah jika keyakinan sudah tertanam dalam hati, segala yang kita lakukan akan menjadi sebuah ibadah, karena terus di barengi dengan keyakinan yang hakiki."
"Itu sulit, Kak."
"Iya, karena kemampuan itu bukan timbul dari diri kita yang mampu, melainkan Allah yang akan memberikan kemampuan itu, maka jangan pernah berputus asa untuk mengharapkan ridho nya bagaimana pun caranya. Dan begitulah yang akan lakukan sekarang. Menjalani kehidupan dengan terus mengharap ridho, Nya. Baik mencari ilmu secara langsung maupun menyampaikan nya pada orang lain."
"Masyaallah...." Vania sampai tertegun menatap Afham. Sungguh mulia suaminya ini, bahkan rasanya dia tak mampu menggapai nya. "Alhamdulillah Ya Allah. Engkau telah menjadikan lelaki ini menjadi suami hamba. Dan semoga Engkau memberkahi pernikahan ini dan kita senantiasa berjalan bersama menuju ridho, Mu."
"Amiiin." Afham langsung tersenyum lebar dan langsung mendekatkan wajahnya mengecup kening istrinya ini. "Aamiin, Dek."
"Jadi Adek tidak keberatan kan aku tinggal, sebentar?" Afham kembali bertanya untuk memastikan. Jangan nanti saat dia tinggal Vania malah tak baik-baik saja.
"Iya, tidak apa-apa. Kedepannya insyaallah aku akan ikut dengan Kak Afham." Vania langsung mengangguk dengan senyuman, pergilah dan jangan mengkhawatirkan nya. "Hati-hati aku akan menunggu!"
...***...
Vania langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur Khumaira, karena adik iparnya mengizinkan dia melakukan apa saja, dia benar-benar merebahkan tubuhnya di sana tanpa malu.
Khumaira yang melihat itu sampai tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Bagaimana hari ini, apa begitu melelahkan sampai kau frustasi seperti itu?" ucapnya bertanya. Dari raut wajah Vania saja dia bisa menebak perasaan sahabat nya itu.
"Jangan di tanya lagi. Itu sungguh melelahkan." Vania sampai antusias, langsung mengubah posisi jadi tengkurap menyangga kepala dengan kedua tangannya menghadap Sifa yang tengah duduk di sofa. "Kau tahu bahkan tadi rasanya aku ingin membuka baju dan kerudungn ku saking sesak nya. Aku tak terbiasa dengan itu Sifa. Itu terasa menyiksa."
Khumaira sampai terkekeh, kini Sifa yang dia kenal kembali lagi. Lihat bahkan penampilannya sekarang pun demikian, yang tadi siang menggunakan pakaian muslimah rapi kini menggunakan tank top dengan celana kulot berukuran setengah paha saja. Benar-benar sosok Vania Edward si primadona kampus.
"Kenapa tak mengungkapkan itu pada Bang Afham?" tanyanya sambil tersenyum kecil.
"Kau gila. Gak mungkin lah. Aku malu tahu." Raut wajah Vania kini kembali frustasi, bagaimana tidak malu. Dia yang petakilan dengan segunung kekurangan bersanding di samping orang sekelas Kak Afham, membuat dia menciut bak sekecil semut, dan dia benar-benar harus menjaga sikap, "Akh, rasanya aku lebih memilih di perhatikan presiden dari pada di perhatikan Kak Afham."
Khumaira sampai tertawa, apa seistimewa itu Bang Afham di mata Vania, padahal menurut nya Bang Afham biasa saja. Dia bahkan berani meledak dan mengancam nya.
"Ngomong-ngomong, berapa kali jadwal Kak Afham ke pesantren?" Vania kembali bertanya, tubuh yang tadi sudah rebahan kembali bangkit lagi.
"Emm, tergantung, tapi jadwal pasti nya tiga kali. Dan yang tidak pernah terlewatkan sekalipun pada hari Jumat." Khumaira langsung menjawab, bahkan tersenyum nanar melihat kakak iparnya ini. Kenapa terlihat jelas sekali dia tak mau di tinggalkan Bang Afham.
"Jumat, emang ada apa dengan hari Jumat. Kenapa tak pernah terlewatkan sekalipun?"
Khumaira hanya bisa menghela nafas, cukup bawel juga istri Abang nya itu. "Ya, kalau hari Jumat, ada kegiatan jumatan, Vania. Fardhu kifayah hukumnya untuk lelaki dewasa menjalankan sholat Jumat. Dan bang Afham selalu menjalankan nya di pesantren."
"Oh....." Bibir Vania seketika langsung membulat, dia baru tahu tentang itu. "Lalu kapan istirahat nya, kenapa sepertinya jadwalnya sibuk sekali?" tanyanya semakin penasaran.
"Tanyakan saja langsung pada Bang Afham. Kau kan istrinya." Khumaira malah menyeringai, kalau tahu dari dirinya bagaimana mereka akan pendekatan dengan lebih intens, biarkan saja mereka saling mengenal dengan caranya masing-masing. "Sudah kalau lelah istirahat saja."
"Aisst, dasar pelit." Vania kini kembali merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar, dengan hati yang penuh harap suaminya cepat pulang.
...***...
"Khumaira."
Khumaira sampai terbangun, suara Abang nya terdengar begitu jelas bersamaan dengan suara pintu kamar yang ingin di buka. Dia yang tengah tidur di sofa sampai langsung bangkit mengambil ponselnya, dan membukakan pintu.
"Bang?" Panggilnya saat melihat Abang nya terlihat masuk, ini sudah jam sebelas malam dan tak biasanya Abang nya pulang larut, biasanya juga langsung menginap di pesantren.
"Mana Vania?" Afham langsung bertanya, dia begitu khawatir saat tadi dia masuk kamar tak mendapati istrinya di sana.
"Tuh?" Khumaira langsung menunjuk ke tempat tidur, memang tak bisa membedakan, mana Vania, mana selimut, mana guling bantal. Keadaan tempat tidurnya sudah acak-acakan di jamah Kaka iparnya itu. Dia bahkan tak bisa tidur bersama di sana.
Seketika Afham langsung menghela nafas lega dengan seulas senyum, "Apa dia sudah shalat isya?" tanyanya sambil melangkah menghampiri Vania, duduk di tepi ranjang dan perlahan mengelus kepala yang tengah terlelap itu.
"Belum, tadi kita memang berjamaah shalat magrib bersama ummi dan Abie, dan setelah itu Vania tertidur. Aku tak tega membangunkannya." Khumaira langsung menjelaskan, biarkan Abang nya yang membangunkan istrinya itu.
"Dek." Walau tak tega, Afham kini perlahan membangunkan Vania. Menyentuh pundak dan perlahan menggerakkan nya. "Bangun, Dek." panggilnya lagi.
"Emm," Vania mulai terbangun, mengucek matanya untuk melihat siapa yang tengah duduk di samping nya. "Kak," panggilnya dengan mata yang masih sayu. Ini bukan mimpi kan, rasanya masih setengah sadar. "Sudah pulang?" ucapnya dengan begitu senang. Dia sampai menarik suaminya itu dan langsung memeluknya. "Aku ngantuk ayo tidur."
Afham sampai kaget, terlebih rangkulan Vania begitu kencang, "Dek, jangan di sini. Kita kembali ke kamar." ucap nya mulai tak tenang, lihat bahkan sang adik sudah melotot saat melihat Vania tiba-tiba memeluk nya.
"Aisst, kalau cara nya seperti itu mana akan bangun, Bang. Angkat saja sana. Kalian menanggung sekali. Kalau mau berpelukan di kamar kalian sana!"
Afham sampai terkekeh mendengar omelan sang Adik, kini dia benar-benar mengangkat Vania untuk memindahkannya.