Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 ~
“Ada apa ini?”
Kiran masih menahan geram dengan meremass dress yang dia kenakan. Sedangkan Emran seakan tidak merasa bersalah meninggalkan Kiran dan melewati Brama begitu saja.
“Kiran, ada apa?” tanya Brama. Melihat raut wajah sang istri yang terlihat menahan kesal, ia pun mendekat. “Kalian bertengkar?”
“A-ku mau pulang,” ujar Kiran dengan suara bergetar.
“Kamu ditunggu Ayah, ayo.” Brama meraih tangan Kiran, tapi ditepis.
“Aku mau pulang.”
“Hadapi dan jangan lari dari masalah. Kalau kamu pergi, menghindar apalagi sembunyi hanya akan membuat musuhmu bangga dan menang. Ayo, kita masuk.”
“Tapi mereka bukan musuhku, mereka keluargaku.”
“Kalau begitu tidak ada alasan untuk menghindar.”
“A-ku tidak suka Ibuku dihina. Aku salah, tapi bukan juga salahnya. Bahkan aku tidak mengenal seperti apa ibuku. Wanita yang aku kenal sebagai ibu hanya Bunda.”
Brama mengusap kepala Kiran. Sangat terlihat kalau wanita itu tertekan dan banyak beban di pundaknya. Kali ini tidak terlihat air mata, berusaha menjadi wanita yang kuat.
“Ada aku disampingmu, ayo.”
Yudis masih duduk di sofa tadi, Emran di sofa berhadapan dengan Kiran dan Brama. Emran menatap sinis pada Kiran, padahal tadi sedang bicara serius dengan ayah mereka.
“Seharusnya ada Erlan juga biar jelas arahan Ayah,” ujar Yudis membuka percakapan. “Ayah sudah tua, semua yang kita miliki akan dirasakan dan dilanjutkan oleh kalian. Emran, belajar giat dari Brama dan Iwan,” ungkap Yudis.
“Baik, Yah.”
“Lupakan dulu masalah perempuan, kami masih muda. Langkahmu masih panjang, jangan sampai masalah perempuan hanya menghambat gerakmu.”
Emran terdiam dan sempat menunduk meskipun kembali menatap ayahnya.
“Kamu Kiran, kapan mau fokus bantu ayah. Ayah tahu kamu punya basic, Ayah tahu ini dari pembimbing magang kamu. Brama, jangan hanya membimbing Kiran menjadi istrimu. Bimbing juga dia agar bisa meneruskan semua ini.”
Brama menatap Kiran di sampingnya.
“Saya bagaimana Kiran, tidak bisa memaksanya.”
“Ayah ingin kamu pertimbangkan lagi.”
Perbincangan tersebut cukup lama, Kiran lebih banyak diam. Apalagi Emran sempat menatap seakan mereka musuh. Alih-alih membalas, Kiran malah mengabaikan membuat Emran kesal.
“Aku tidak bisa antar pulang, sudah ada supir menunggu di bawah,” ujar Brama sambil merangkul bahu Kiran posesif.
“Hm, tapi aku mau mampir beli desert.”
Brama mengangguk lalu mengacak rambut Kiran. Emran yang mengekor langkah pasangan itu mendengus kesal melihat interaksi kemesraan kakak dan kakak iparnya.
“Kak Kiran.”
Kiran dan Brama menoleh, ternyata Erlan. Bocah itu terlambat datang karena jadwal kuliah. Dengan Kiran, Erlan memang memiliki kedekatan yang berbeda dibandingkan Emran dengan Kiran.
“Hei Kak, sombong sekali. Mentang-mentang sudah jadi istri.”
Erlan merentangkan tangannya, Kiran pun melepaskan rangkulan Brama dan merangsek memeluk Erlan.
“Kangen,” ujar Kiran.
“Kangen tapi tidak ada pulang, telpon atau chat.”
Brama sempat menoleh pada Emran yang menjauh menerima telepon, mungkin saja dari Vira. Melihat interaksi Erlan dan Kiran, Brama bergegas menarik tubuh Kiran agar lepas dari pelukan adiknya.
“Jangan lama-lama.”
“Dih, posesif. Aku ‘kan adiknya,” seru Erlan.
“Tetap saja kamu laki-laki,” sahut Brama. Kiran terkekeh melihat Brama sepertinya cemburu.
“Tapi aku masih kangen Erlan,” rengek Kiran.
“Kamu bebas peluk aku, Erlan sudah ditunggu Ayah. Sana,” usir Brama.
"Ish. Tidak asyik, Kak telpon aku ya.” Kiran mengangguk lalu melambaikan tangan karena Brama sudah memaksanya menuju lift.
“Benar kata Erlan, Mas Bram nggak asyik. Kita baru ketemu dan ….”
Kiran tidak melanjutkan ucapannya karena bibir Brama sudah membungkam mulutnya. Beruntung mereka berada di lift dan hanya berdua. Bukan menolak, Kiran menikmati dan mengalungkan tangannya di leher sang suami. Seakan lupa kalau mereka berada di tempat umum.
“Itu baru asyik.”
Kiran mencebik dan hanya diam ketika Brama mengusap bibirnya yang basah.
“Setelah ini aku ada janji dengan klien di luar, kalau tidak sudah aku bawa kamu ke ruanganku. Kita bisa melakukan hal yang lebih asyik di sana.”
“Tuh ‘kan mesum.”
“Tapi kamu menikmati kemsemuman ku ‘kan?”
Kiran mengedikan bahunya. Brama terkekeh dan kembali merangkul bahu wanita itu. Keluar dari lift dan berjalan di lobby, pasangan itu kembali menjadi perhatian. Bahkan Brama sampai membuka pintu untuk Kiran lalu melambaikan tangan.
“Makin mesra aja nih,” ejek Iwan yang baru datang setelah makan siang.
Brama mengabaikan dan meninggalkan Iwan, yang masih mengoceh menggodanya.
***
“Apa Pak Brama tahu, Nona Kiran mau turun di sini?”
“Iya. Aku sudah bilang. Hanya beli desert, nggak lama kok.”
Supir Kiran tidak ingin kejadian lagi, tidak menurunkan istri majikannya di lobby melainkan di basement dan terus mengikuti kemana wanita itu pergi. Memang benar menuju desert store dan Kiran mengantri memilih dan membayar di kasir lalu kantong belanjanya diambil alih dan dibawa oleh supir yang merangkap bodyguard.
Saat hendak kembali ke parkiran melewati stage di mana ada performance artis dadakan yang viral di aplikasi media sosial. Cukup ramai penonton dan Kiran terpisah dari supirnya.
“Pak, saya ke toilet … loh.” Kiran menatap sekeliling dan tidak menemukan supir yang sejak tadi mengikutinya. “Nanti aku telpon, udah nggak tahan,” ujar Kiran bergegas.
Kiran akan menghubungi Brama menanyakan nomor pria yang tadi menghilang, tapi urung karena pandangannya tertuju pada pasangan yang dia kenal. Karena penasaran Kiran terus melangkah mengikuti pasangan itu dan jarak mereka tidak jauh.
“Emran dengan … Vira. Bukannya Kak Indra dan ….”
Pasangan itu berbalik membuat Kiran panik dan seseorang menarik tubuhnya lalu berjalan di koridor menuju toilet.
“Tunggu! Hei lepaskan tanganku!”
dari awal bab, dah trasa beda aja👍