NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 — Mecha Jelek di Forum Kubus

Pak Cakra menembak murid pertama bahkan sebelum peluit kelas berbunyi.

Bola cat merah melesat dari ujung senapan latihan, mengenai bahu seorang murid berat yang masih sibuk mengatur sarung tangan. Murid itu terhuyung, belum sempat protes, bola kedua sudah mengenai lututnya.

“Mati,” kata Pak Cakra.

Seluruh lapangan tembak Damokles langsung diam.

Pak Cakra berdiri di ujung lintasan dengan senapan latihan di satu tangan. Tubuhnya tidak tinggi besar, tetapi matanya membuat orang merasa sedang dibidik bahkan ketika ia menatap tanah.

“Di medan sungguhan,” katanya, “musuh tidak menunggu kalian selesai memakai sarung tangan.”

Peluit kelas berbunyi setelah kalimat itu selesai.

Terlambat.

Tiga murid sudah kena cat.

Tri berdiri di baris belakang, membawa senapan latihan yang lebih berat daripada kualitasnya. Ia melihat jalur gerak Pak Cakra, posisi kaki, sudut laras, dan kebiasaan kecil sebelum menembak: bahu kiri guru itu turun setengah ruas setiap kali berganti target.

Tanda yang bagus.

Tanda yang bisa dipakai.

Hendra berdiri dua baris di sampingnya, wajahnya masih kurang tidur. “Gue dengar kelas ini cuma dasar.”

Tri menatap tiga murid bercat merah. “Dasar pemakaman.”

Pak Cakra tiba-tiba menoleh.

Tembakan datang.

Tri menjatuhkan tubuh ke samping.

Bola cat lewat di atas telinganya dan mengenai murid di belakang.

Murid itu berteriak, “Pak! Saya belum bergerak!”

“Karena itu kau mati.”

Tri berguling, mengangkat senapan, dan menembak.

Bola catnya tidak menuju dada Pak Cakra.

Terlalu jelas.

Ia menembak ke lantai logam di depan kaki kanan guru itu. Bola cat pecah, menyebarkan lapisan licin tipis. Pada saat Pak Cakra menggeser berat badan untuk membidik murid lain, telapak sepatunya tergelincir setengah ruas.

Hanya setengah.

Tri menembak lagi.

Kali ini ke laras senapan Pak Cakra.

Cat biru pecah di sisi laras.

Lapangan membeku.

Hendra membuka mulut.

Pak Cakra menatap cat biru di senjatanya, lalu menatap Tri.

“Kau menembak senjata guru?”

Tri bangkit perlahan. “Kalau menembak dada Pak, saya pasti kena duluan.”

“Jadi kau memilih merusak alat.”

“Alat lebih mudah ditangani daripada orang.”

Beberapa murid menahan napas.

Pak Cakra berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat murid di sekitar Tri mundur sedikit, seolah-olah cat merah bisa menular.

Ia berhenti satu meter di depan Tri.

“Namamu.”

“Tri, Pak.”

“A tingkat Daya Indra. Planet 3212. Masuk lewat pinjaman.”

Tri menahan keinginan bertanya apakah data utang juga muncul di daftar guru.

“Ya, Pak.”

Pak Cakra mengangkat senapan yang terkena cat biru. “Kau punya wajah tebal.”

“Terima kasih, Pak.”

“Itu bukan pujian.”

“Saya terima yang gratis.”

Lapangan sunyi satu detik.

Lalu Hendra batuk keras untuk menutup tawa.

Pak Cakra menatap Tri lebih lama. Tidak marah. Lebih buruk. Tertarik.

“Mulai hari ini,” katanya, “kau berdiri di baris depan.”

Tri merasa seluruh kelas melihat punggungnya seperti melihat orang yang baru membeli peti mati.

Pak Cakra berbalik. “Dan karena Tri baru saja menunjukkan bahwa senjata guru bisa diserang, semua orang boleh mencoba.”

Lapangan langsung hidup.

Sepuluh murid menembak.

Pak Cakra menghilang dari garis bidik mereka seperti bayangan yang digunting. Cat merah membalas dari segala arah.

Dalam tiga puluh detik, setengah kelas mati.

Tri terkena satu tembakan di pinggang.

Bukan karena lambat.

Karena ia mencoba membaca langkah ketiga Pak Cakra dan guru itu sengaja membuat langkah keempat.

Saat kelas selesai, seragam latihan Tri punya tiga noda merah, satu noda biru di tangan, dan nilai tambahan kecil karena menjadi orang pertama yang mengenai senjata Pak Cakra.

Hendra menatap noda itu saat mereka berjalan ke kantin lima.

“Gue tidak tahu harus bilang lo hebat atau bodoh.”

“Pilih yang ada hadiah.”

“Bodoh biasanya tidak ada hadiah.”

“Berarti hebat.”

Kantin lima Damokles lebih mirip gudang makanan untuk orang yang baru keluar dari pertarungan. Porsinya besar, rasanya lurus, dan harganya masih membuat Tri menghitung napas. Hendra memesan dua nampan, satu untuk dirinya, satu untuk Tri.

Tri menatap nampan kedua. “Gratis?”

“Gue sedang merayakan.”

“Apa?”

Hendra mengambil kursi. “Pengumuman resmi keluar. Angkatan kita punya satu Komandan tingkat 3S.”

Tri duduk. “Lo.”

“Tidak mau kaget?”

“Gue sudah kaget waktu lo bayar makan.”

Hendra melempar sachet saus ke kepalanya. “Sialan. Ini 3S, Tri. Planet Wanagiri hampir membuat parade. Keluarga gue hampir pingsan karena akhirnya bisnis sampah punya barang yang tidak bisa dibuang.”

Tri membuka lauk. “Selamat. Berarti nanti kalau gue buat masalah, lo bisa memerintah orang lain menyelamatkan gue.”

“Gue Komandan, bukan penjaga anak liar.”

“Lebih mahal mana?”

“Lo benar-benar rusak.”

Hendra makan dua suap, lalu suaranya turun. “Kekaisaran mengirim surat kedua setelah hasil 3S keluar. Prajna juga. Tapi gue sudah tanda tangan Damokles.”

Tri melihatnya.

Hendra mengangkat bahu. “Kau pikir cuma lo yang bisa memilih tempat murah karena keras kepala?”

“Gue memilih murah.”

“Gue memilih tempat yang tidak mengikat gue jadi hiasan keluarga.” Hendra menusuk lauk dengan garpu. “Di sini, kalau gue kuat, gue kuat. Kalau gue bodoh, gue dihajar. Jelas.”

Tri mengangguk.

Itu alasan yang lebih mahal daripada hemat.

Ia tidak mengejek.

Malam itu, setelah kelas berakhir dan Hendra tidur di kursi kamar 707 karena katanya “Komandan 3S juga butuh tempat mengeluh yang tidak formal”, Tri membuka Forum Kubus.

Forum itu seperti pasar rongsok untuk otak Empu Mecha.

Ada desain serius, pertengkaran material, pameran simulasi, ejekan terhadap gambar jelek, dan orang-orang kaya yang meminta solusi murah tetapi tersinggung saat disebut murah.

Tri masuk dengan akun baru.

ID:

MelaratTanpaMecha.

Ia menatap kolom unggahan.

Selama satu jam, ia menggambar rangka Mecha hemat bahan. Bukan rancangan final. Bukan karya terbaik. Hanya sesuatu yang membuat tangannya gatal sejak melihat nomor tujuh belas: bagaimana jika mesin tua itu dibuat dengan jalur beban yang lebih masuk akal, tanpa pelat sok gagah, tanpa sendi bodoh yang meminta dicabut?

Ia membuat dada terlalu kotak.

Kaki terlalu panjang.

Bahu tidak simetris.

Kepala kecil seperti baut tertinggal.

Jelek.

Sangat jelek.

Tetapi jalur bebannya bersih.

Penggunaan bahan turun dua puluh tujuh persen.

Tekanan Daya Indra pada manuver dasar turun.

Ruang perawatan sendi terbuka dari tiga arah.

Kalau dipakai orang miskin, setidaknya ia tidak perlu menjual ginjal hanya untuk mengganti lutut.

Tri menulis judul:

Rangka hemat untuk pilot miskin yang masih ingin hidup.

Ia mengunggahnya.

Hendra membuka satu mata dari kursi. “Lo masih bangun?”

“Menghina estetika forum.”

“Apa?”

“Tidur.”

Hendra benar-benar terlalu lelah untuk bertanya.

Di planet lain, di ruang kerja yang lebih bersih daripada seluruh kamar 707, Rakha Adiwangsa sedang memeriksa Forum Kubus dengan wajah bosan.

Sebagai MaestroRakha, ia menerima puluhan tag setiap malam.

Sebagian besar buruk.

Sebagian lagi lebih buruk tetapi percaya diri.

Lalu satu gambar muncul di daftar baru.

Mecha itu jelek sampai Rakha berhenti minum.

“Apa ini?”

Ia memperbesar gambar.

Kaki terlalu panjang.

Bahu kiri seperti lupa digambar.

Kepala kecil.

Proporsi memalukan.

ID pengunggah: MelaratTanpaMecha.

Rakha hampir menutup halaman.

Kebiasaan profesional menyelamatkannya.

Ia menjalankan simulasi dasar.

Angka pertama muncul.

Rakha berhenti bernapas.

Ia menjalankan ulang.

Angka kedua lebih bersih.

Ia memasukkan pembebanan tingkat A, lalu simulasi bahan campuran murah. Struktur itu tidak runtuh. Ia memasukkan manuver tajam. Rangka itu bergoyang, tetapi jalur tekanannya menyebar seperti seseorang menulis ulang tulang mesin dari awal.

Rakha duduk tegak.

“Tidak mungkin.”

Ia membuka arsip pribadinya, membandingkan dengan rancangan S tingkat terbaik yang selama ini ia simpan sebagai kebanggaan. Rancangan jelek itu tidak lebih mewah, tidak lebih kuat secara bahan, tetapi efisiensi bebannya menyentuh titik yang seharusnya tidak dicapai oleh gambar forum iseng.

Satu persen lebih rendah pada tekanan sendi.

Tiga persen lebih hemat pada jalur energi.

Dalam dunia Empu Mecha, satu persen bisa berarti reputasi seumur hidup.

Rakha menatap layar.

“Empu S mana yang punya selera seburuk ini?”

Ia membuka kolom komentar.

Komentar pertama sudah muncul:

Jelek. Hapus.

Komentar kedua:

Ini Mecha atau meja lipat?

Rakha mengetik balasan, lalu menghapusnya.

Ia tidak ingin orang lain melihat terlalu cepat.

Ia menyimpan gambar.

Lalu menjalankan simulasi ketiga, keempat, kelima.

Semua hasilnya tetap mengganggu.

Di layar, Mecha jelek itu berdiri diam, seperti sampah yang tahu dirinya sebenarnya emas.

Rakha menatap nama MelaratTanpaMecha.

“Ini bukan gambar iseng,” gumamnya. “Ini orang yang tahu persis bagaimana membuat sistem lama malu.”

Ia mendekat ke layar.

“Siapa kau?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!