DALAM PROSES EDIT, MOHON MAAF ATAS KETIDAK NYAMANANNYA
mature content 💏
harap bijaksana dalam membaca, usia diharapkan diatas 18++
menjadi istri kedua bukan keinginanku, karena sejatinya aku tak ingin berbagi
~alana mahen~
aku mencintai sahabat masa kecilku disaat aku juga memuja wanita lain
~narendra sakabumi~
yang suka baper akan cerita poligami lebih baik melewatkan cerita ini
~author~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nophie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. Dilema
Drrrt drrttt… suara ponsel yang bergetar mengganggu tidur Saka yang sedang nyaman memeluk istrinya.
“Siapa sih yang ganggu aku pagi buta begini?” gunam Saka sambil melirik layar ponselnya,
ternyata paman Yara yang menelepon.
Saka pun segera bangun dan meninggalkan ruangan rawat inap Alana, karena takut Alana
akan terbangun karena suara nya nanti.
“Assalamuaalaikumm … ada apa paman?” tanya Saka setelah menutup pintu ruangan Alana dan berjalan di lorong rumah sakit itu.
“Kamu dimana, Ren?” tanya paman Yara.
“Saya lagi dirumah sakit di Jakarta, paman!” jawab Saka singkat.
“Owh, siapa yang sakit? “ tanya Paman Yara lagi.
“Alana ….” Jelas Saka singkat…
“Ada apa, paman? Ada kabar tentang Yara?” tanya Saka dengan nada hati hati, dia tahu
kalau paman Yara tidak suka saat menghadapi kenyataan Saka menikah lagi dengan Alana dan menduakan keponakannya, sekalipun itu adalah permintaan dari Yara sendiri.
“Ehm, iya… Yara drop lagi, dokter Michele tidak berani melakukan kemo, saat ini Yara hanya terapi obat saja, karena kondisinya sangat tidak memungkinkan.” Jelas paman Yara dengan nada sedih.
“Paman, Rendra usahain siang ini sudah sampai ke sana, untuk meminta gambaran jelas dari dokter Michele. Sehingga kita tahu langkah apa yang harus kita ambil.
Beberapa dokter yang Rendra mintain pendapat profesionalnya selalu bilang
dengan stadium Yara dan penyakitnya, kita harus banyak berdoa dan berharap
mukjizatnya. Semua pengobatan sudah Rendra usahakan, karena Rendra berharap
siapa tahu berbuah hasil. Rendra juga kasihan dengan kondisi Yara, tubuhnya
sudah melemah dan lelah.“ ujar Saka dengan nada sendu.
“Kita harus bagaimana, Ren?” sergah paman Yara dibarengi dengan isak tangisnya yang pecah disana. Yara sudah ia anggap sebagai anaknya, karena paman Yara tidak memiliki
anak, hanya Yara lah tumpuan kasih sayang mereka.
“Berdoa dan berpasrah, Rendra akan berusaha membuat Yara bersemangat, siapa tahu itu akan membuat dia semangat untuk melakukan pengobatan.” Kata Saka sambil menyemangati dirinya sendiri, karena sejatinya ragawinya lelah harus membelah dirinya ke Yara dan Alana yang sama sama membutuhkan perhatiannya,
“Baiklah, Ren.. Paman tunggu keputusanmu disini… maaf mungkin kamu kesusahan karena Alana dan Yara sakit bersamaan, mudah mudahan kamu bisa memprioritaskan mana yang lebih penting untuk kamu dahulukan.” Paman Yara masih saja tidak mau mengerti kondisi Saka yang menghadapi dilema diantara dua wanita yang sama sama
dicintai, meskipun kalau harus jujur Saka sekarang tahu siapa yang lebih
memiliki hatinya dari dulu sampai sekarang.
“Ya paman… Rendra tahu.” Sahutnya lirih sambil menutup teleponnya, karena paman Yara sudah menutup teleponnya sepihak.
Saka menghela nafasnya dengan kasar dan kembali membuka pintu ruang rawat inap Alana dan melihat Alana yang masih dengan damai tidur, iya setelah dipeluk dan
dibelai perutnya oleh Saka, Alana merasa tidurnya lebih berkualitas.
Saka hanya bisa memandangi dan menggunamkan kata maaf berulang ulang, karena dia yang sudah menarik Alana kedalam pusaran masalah yang menjerat mereka berdua.
Saka memeluk Alana dengan posisi tubuhnya membungkuk dan mencium wajah Alana yang tampak damai. Tiba tiba Alana membuka matanya dan mendapati wajah Saka yang sangat dekat dengan wajahnya.
“Kamu terbangun karena aku, sayang?” tanya Saka dengan suara lirih.
“Hmm… jam berapa ini? Aku ingin pulang.” Sahut Alana dengan suara khas sehabis bangun tidur.
“Nanti kalau dokter sudah mengijinkan, kita pulang!” kata Saka sambil membelai rambut Alana yang panjang dan merapikan anak rambut yang berkeliaran liar menutupi sebagian wajah Alana yang cantik.
“Maunya sekarang, Bby! Aku kangen sama Genta.” Rengek Alana manja, sesuatu yang gak pernah ia lakukan sebelumnya, sejurus membuat Saka terheran, tapi ia suka kalau
Alana manja seperti ini padanya. Saka merasa dibutuhkan dan diinginkan.
“Baik, nanti aku suruh Lio membereskan administrasinya. Kita pulang sehabis ini, mandi dulu ya? Apa mau daddy mandikan? Hmmh?” tanya Saka sambil menaik turunkan alisnya menggoda Alana yang memukul dada Saka perlahan.
“Kalau dimandiin kamu, bisa jadi 2 jam gak selesai selesai mandinya.” Sergah Alana
sambil memutar bola matanya dengan kesal.
“Loh kan biar bersih luar dalam, jadi harus teliti, sayang…” jawab Saka sambil tersenyum
senyum gak jelas.
“Dasar, daddy mesum!” potong Alana sambil mencebikkan bibirnya seraya turun dari
ranjang hendak beberes dan mandi. Saka hanya memandangi Alana dengan pandangan
sayang.
“Sayang, ayah minta kita tinggal dirumahnya. Kamu gak apa kan?” tanya Saka dengan hati
hati, ia ingat salah satu syarat dia menikah dengan Alana adalah dia tidak ingin tinggal bersama orang tuanya ataupun orang tua Alana.
“Iya… tapi kalau kamu pas pergi aja, sekarang kita balik ke rumah kita saja, sayang… aku gak suka merepotkan siapapun sebetulnya.” Jelas Alana dengan lembut.
“Baiklah… kapanpun aku disini, kita balik kerumah ya, biar bisa bebas untuk bermain sama kamu, sayang..”
“Hubbyyy!!!”
“Itu kalau kamu mau , kalau gak ya gak pa pa… he he he “ lanjut Saka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alana tidak menjawab, ia hanya melirik Saka dengan tatapan tajam, tapi sumpah demi apapun, lirikan mata Alana terkesan seksi dan menggoda bagi Saka.
“Kamu segera bersiap, aku akan manggil Lio untuk mengurus administrasi untuk kepulanganmu.” Ujar Saka dengan nada lembut, ia langsung mengirim peesan untuk Lio agar segera membereskan urusan administrasi rumah sakit, dan memberitahu kalau sore dia akan kembali berangkat ke Singapura untuk kembali mengurus Yara. Untuk sementara urusan kantor diurus oleh trio kwek kwek aja deh, batin Saka dalam
hati. Dia sangat tidak tega kalau harus membebani Alana dengan urusan kantor,
karena Alana sedang hamil muda.
“Lala sayang, selama kamu hamil, kamu gak usah kerja ya … biar urusan kantor diurus
sama Lio saja. “ seru Saka karena Alana masih ada di kamar mandi.
Ceklek…
“Kenapa, Bby? Aku gak dengar kamu minta apa?” tanya Alana lagi dengan polosnya. Alana sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai.
“Aku bilang karena kamu hamil, kamu gausah kerja, nanti kamu lemas lagi, kasihan dedeknya.” Jawab Saka dengan hati hati, sambil kemudian memeluk Alana yang sudah harum, menaruh kepalanya di ceruk leher Alana.
“Bby, kamu kan tahu kalau orang hamil gak boleh stress?” tanya Alana dengan lembut, ia
tahu bagaimana menaklukkan Saka.
“ Hmm, iya dong, kamu gak boleh pikiran, makanya aku gak ijinin kamu kerja.”
“Kalau aku dirumah terus, aku bakal stress dong, gimana kalau aku tetep kerja, tapi aku
janji buat hati hati dan gak kecapean, bahkan kalau aku cape bisa istirahat di
kamar rahasia kamu kan? Kalau aku dirumah kasihan dedek bisa ikutan stress.”
Jawab Alana dengan lembut sambil mengelus tangan Saka yang melingkar di
pinggangnya.
.
.
.
TBC