NovelToon NovelToon
Mertua Kaya Menantu Teraniaya

Mertua Kaya Menantu Teraniaya

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Anak Lelaki/Pria Miskin / Tamat
Popularitas:68.6k
Nilai: 5
Nama Author: fendy citrawarga

Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Minta Diajari Bela Diri

"Benar Mang, tadi pagi Amih ke rumah Emakku, ada telepon dari tetanggaku. Mpok Ipah. Yang neleponnya anaknya si Jojo," kata Kosim.

"Terus bagaimana keadaan Emakmu sekarang Den?" susul Mang Koyod lagi sangat prihatin takutnya terjadi apa-apa terhadap Mak Tiah.

"Alhamdulillah tak terjadi apa-apa. Tapi untuk memastikannya mungkin besok lusa aku akan menengoknya," ujar Kosim.

"Terus keadaan di rumah bagaimana Mang? Apakah Bapak sehat-sehat saja dan bagaimana dengan Kak Deni?" tanya Yani.

"Alhamdulillah Pak Haji baik-baik saja Jeng. Kak Deni masih terbaring sakit, belum bisa apa-apa meskipun tak separah sebelum-sebelumnya," balas Mang Koyod.

"Jeng tadi itu Bibi di rumah ketika kedatangan Bu Haji nyaris celaka gegara baju," ujar Bi Icih melaporkan tentang baju Yani yang terlihat oleh Amih Iah di kamar pribadi Bi Icih dan Mang Koyod.

"O ya? Nyaris celaka gegara baju bagaimana Bi?" tanya Yani penuh keheranan.

Semua mata memandangi Bi Icih yang akan menerangkan laporan tentang baju Jeng Yani.

"Gini Jeng. Tadi sewaktu Bu Haji mengontrol seluruh kamar di rumah Bibi yang maksudnya mencari Den Kosim dan Jeng Yani, ketika memeriksa kamar pribadi Bibi dan Mamang Bu Haji sempat melihat baju," ujar Bi Icih bikin penasaran yang mendengarkannya kecuali Mang Koyod dan Fitri yang sudah mengetahui ceritanya.

"Melihat baju siapa?"

"Melihat baju Jeng Yani, tampaknya Jeng Yani lupa membawa baju ketinggalan di rumah Bibi ketika akan pergi ke sini tempo hari," terang Bi Icih.

"O iya benar bajuku ketinggalan Bi, tadinya mau diambil kapan-kapan."

"Terus bagaimana reaksi Amih saat melihat bajuku Bi?"

"Ya dia mencurigai Bibi dan Mamang menyembunyikan Jeng Yani dan Den Kosim, paling tidak kata Amih Jeng Yani dan Den Kosim pernah mampir ke sini."

"Terus?" tanya Yani lagi.

"Terus Bibi bilang, benar ini baju kepunyaan Jeng Yani, tapi sekarang sudah menjadi milik Bibi karena sudah diikasihkan oleh Jeng Yani ketika Mamang masih bekerja di Pak Haji dulu sebelum diberhentikan oleh Bu Haji.

Begitu Bibi bilang. Akhirnya Amih tak mempermasalahkannya lagi," ujar Bi Icih semringah karena merasa telah menang ketika mendapat ancaman kekerasan dari Amih Iah.

"Tindakan yang bagus kamu Icih. Walaupun berbohong, tetapi ini demi keselamatan, ya tak mengapa," kata Bah Omod mengeluarkan sedikit fatwa, takut anaknya merasa memikul beban dosa karena telah berdusta.

"Iya Bah. habis harus bagaimana lagi cara menyelamatkan diri terutama Jeng Yani jika saya tidak berdusta. Ini bajunya Bibi bawa, Jeng," kata Bi Icih seraya menyodorkan baju milik Yani yang dibungkus kertas koran bekas.

"O ya terima kasih Bi atas bantuan menyelamatkan aku," timpal Yani senang dan menerima bungkusan baju dari Bi Icih.

"Padahal kasihkan aja Jeng untuk si Bibi 'kan ceritanya juga sudah dikasihkan?" kata Kosim sambil tersenyum.

"Enggak boleh, ini baju bekas aku pakai, gak baik. Biar nanti, insyaallah aku belikan baju baru buat Bibi," timpal Yani tak setuju memberikan baju bekas kepada istri ART-nya itu.

"Oh begitu, ya? Baguslah," ujar Kosim.

Akhirnya Yani tak memberikan baju itu kepada Bi Icih. Yani hanya mengucapkan terima kasih.

"Itu nyaris celaka yang pertama," kata Bi Icih.

"Masih ada cerita nyaris celaka lagi Icih?" tanya Ambu Usih.

"Ada Ambu. Kan tadi Bu Haji itu sangat marah sampai masuk ke dalam rumah pun tak mencopot sandalnya." tutur Bi Icih.

"Iya ceritanya bagaimana?" tanya Bah Omod.

"Sehabis Bu Haji memeriksa semua kamar di dalam rumah, terus ke dapur, terus ke kamar mandi. Tahu tak ada, Bu Haji berniat mau naik ke langit-langit rumah, namun tak ada tangga. Fitri bilang tak ada tangga, Bu Haji menyuruh harus ada tangga. Fitri melawan, Bu Haji murka, mau menjambak rambut Fitri, tetapi Fitri lihai berkelit sehingga Bu Haji terjatuh bibirnya kena papan hingga tampak lebam......." tutur Bi Icih panjang lebar.

"Ya Allah...sampai segitunya," Ambu Usih mengelus dada.

"Ketika Bibi mau menolong, Bu Haji enggak mau Jeng Yani, malah kian marah terutama kepada Fitri. Eh, ni anak malah terus melawan hingga Bu Haji tampak menyerah yang ujung-ujungnya mengajak berdamai

dan mengiming-iming uang sejuta rupiah, tetapi Fitri menolak," imbuh Bi Icih membuat yang lain terperangah atas keberanian Fitri.

"Kok Fitri punya keberanian begitu Bah?" tanya Bi Icih penasaran saja dengan anaknya yang kentara jadi jagoan.

"Itu sengaja Abah ajari di waktu senggang agar dia punya senjata kalau ada yang mau mengganggunya. Gadis remaja seumuran dia pasti banyak yang mengganggu, terutama para pria yang tak tahan godaan hasrat berahi melihat anak gadis. Abah tak menghendaki cucu Abah jadi korban kebiadaban pria buaya darat seperti itu. Ya alhamdulillah kalau sudah bisa digunakan, Fit," kata Bah Omod mengungkapkan kebahagiaannya karena Fitri sudah tampak menjadi wanita yang punya harga diri, tak mau disuap demi sebuah ambisi orang jahat padahal dia merengek ingin dibelikan HP baru.

"Iya maaf-maaf saja kepada Jeng Yani karena Fitri telah lancang berbuat sesuatu yang menyebabkan Bu Haji bibirnya lebam," kata Fitri baru bicara sembari menatap Yani.

"Enggak apa-apa Fit. Syukur aja Fitri bisa selamat dari ulah ibuku. Kalau Fitri tak melawan saat tadi, tentu saja entah bagaimana nasib Fitri dan ibumu," timpal Yani.

Yani berkeyakinan apa yang diterima oleh ibunya itu adalah buah dari perbuatan jahatnya, siapa yang menabur benih kejahatan dialah yang memanen akibatnya.

"Nomong-ngomong, apa Kosim juga bisa diajari bela diri Bah?" tanya Kosim mencoba menyelami hati Bah Omod.

Ya, Kosim ingat nasihat Mang Koyod tempo hari agar belajar bela diri dari Bah Omod.

"Wah, bisa apa Abah Den Kosim? Kerjaan setiap pagi cuma memberi pakan ayam dan membelah kayu bakar. Cari aja guru yang lain kalau mau bisa bela diri, kamu bisa carikan Yod!" kata Bah Omod merendah.

"Justru aku yang nyuruh agar Den Kosim belajar bela diri ke Abah," kata Mang Koyod membantu melancarkan niat Kosim untuk belajar bela diri dari mertuanya.

"Wah, kamu ini sok tahu. Abah gak bisa apa-apa!" tolak Bah Omod.

"Anak kecil seusia Fitri aja bisa diajari, masa untuk Den Kosim kagak bisa Bah? Den Kosim kan sudah terbiasa kerja berat, kerja keras, takkan sulit mewariskan ilmu bela diri kepadanya!" imbuh Mang Koyod sangat bersemangat mendorong Bah Omod untuk melatih Den Kosim bisa bela diri.

"Ya kalau Den Kosim mau dan percaya kepada Abah, ya enggak apa-apa, Abah siap," akhirnya Bah Omod menyanggupi untuk melatih Kosim piawai bela diri.

"Terima kasih Abah, terima kasih. Kosim ingin punya ilmu bela diri bukan untuk jago-jagoan, bukan untuk gagah-gagahan, tetapi murni untuk menjaga diri mengingat nasib hidup Kosim yang boleh dikata selalu teraniaya karena banyak orang yang ingin mencelakakan," kilah Kosim.

"Iya, Abah maklumi itu Den. Tenang saja, insyaallah Abah bisa mewujudkan cita-cita Den Kosim. Kamu gak ikut seta juga, Yod?"

"Wah enggak ah, takutnya jadi jagoan. Kalau udah jadi jagoan entar berani ganggu istri suami orang, hahaaaa......"

"Sialan ya gak bakal dapat ilmu bela dirinya kalau kamu sudah punya niat buruk seperti itu mah," celoteh Bah Omod.

Setelah semuanya dinyatakan tak ada masalah dan Kosim serta Yani sudah siap menghadapi risiko apa pun jika nanti Amih Iah 'ngontrog' ke sini atas ulah mata-mata yang jadi suruhan Amih, Mang Koyod dan Bi Ich pun pulang kembali ke rumahnya.

"Gitu aja ya Den, Jeng, Mamang dan Bibi ke sini untuk memberi tahu bahwa Amih punya rencana seperti yang telah Mamang katakan tadi. Harap berhati-hati aja," kata Mang Koyod sebelum pergi.

"Siap Mang," ujar Kosim dan Yani.

"Tenang aja Yod.Bilang kepada Pak Haji, Den Kosim dan Jeng Yani akan Abah lindungi kalau ada yang mengganggu, termasuk gangguan dari Bu Haji yang jelas-jelas ingin menghancurkan anaknya sendiri," imbuh Bah Omod.

"Siap Bah. Terima kasih. Entar Koyod bilangin sama Pak Haji," timpal Mang Koyod, lalu bersama Bi Icih pulang menuju rumahnya.

(Bersambung)

1
Hadimulya Mulya
kata org Jawa,minggate adoh pitek
Hadimulya Mulya
org minggat kok ngerepotin org,udh berani keluar rumah harus berani tanggung resiko
Hadimulya Mulya
lelaki kok ngerjain kerjaan di rumah,klo bantu gk papa,lelaki itu cari nafkah
Hadimulya Mulya
lelaki kok ngerjain kerjaan di rumah,klo bantu gk papa,lelaki itu cari nafkah
Hadimulya Mulya
buat crita suaminya bekerja,trs kos atau ngontrak jangan numpang trs
Hadimulya Mulya
lelaki kok gk tanggung jwb,kok malah pusing tempat tgl,itu tanggung jwb suami
Hadimulya Mulya
klo saya yg punya menantu pemangguran,saya pegatin aja,karena tanggung jwb rumah ttg itu ada pada suami,bukan malah cuma berserah diri
Hadimulya Mulya
critamu salah bos,menantu benalu,gk tanggung jwb seharusnya judul nya,
Hadimulya Mulya
ini mantu dan suami gila,walo pun rupamu jelek to miskin yg penting nafkahi istrimu,krj cari uang walo jadi pemulung krj harga diri laki2 krj nyukupi kehidupan rumah ttg
Hadimulya Mulya
ini critanya lelaki gk tanggung jwb,gk beri nafkah istri,z bener klo gk punya harga diri,
Hadimulya Mulya
kok sabar,kn dh rumah ttg harus mandiri lah
Anisa Ratiba Hanum
Alhamdulillah, bagus, bahasa yg sederhana tapi banyak nilai positif nya,, semangat thor untuk menciptakan karya2 baru,, semoga thor sukses selalu,, Aamiin
fendy citrawarga: Terima kasih apresiasinya kak, kakak juga semoga sukses selalu. Aamiin
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
gregetan saya bacanya
fendy citrawarga: Apalagi di Bab 94 Kosim dibilang kejam oleh putrinya dan Yani tak mau terima pemberian Kosim
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
penasaran tingkat dewa ini
fendy citrawarga: Terima kasih dukungan dan setia komennya kak makin semangat menulisnya
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
penasaran kelanjutan nya jangan lama2 up nya/Frown//Frown/
fendy citrawarga: Bab 92 lagi diedit Kak, mungkin baru up entar malam, maaf ya lama menunggu
total 1 replies
sora
hanya ada cerita ke bodohan di novel ini tidak berbobot
Anisa Ratiba Hanum
tambah penasaran
fendy citrawarga: Makanya terus ikuti cerbungnya biar gak penasaran ya kakak, makasih sudah komen/Good/
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
sering 2 di update Thor, perasaan bacanya seperti cinta yg digantung /Sob//Sob/
fendy citrawarga: Siap, siap, diusahakan up-nya berdekatan, trimakasih apresiasinya sahabat
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
lanjut Thor bagus cerita nya,,
fendy citrawarga: Terima kasih, siap lanjut
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
bagus cerita nya Thor,tapi masih sedikit ya, lagi enak2 baca dah putus
fendy citrawarga: tinggal
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!