NovelToon NovelToon
Mr. Costra

Mr. Costra

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:14.4M
Nilai: 5
Nama Author: DIANAZ

Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.


Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.


Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. What are you doing, Brat!

Musik dari arah aula terdengar berhenti, namun tidak lama karena beberapa saat kemudian, sebuah lagu kembali mengalun merdu. Musik klasik, yang sangat pas mengiringi pasangan untuk berdansa. Vivianne menatap beberapa wanita yang mengulurkan tangan mereka pada wanita lain dengan wajah bahagia. Vivianne berpikir, meski mereka berdansa dengan sesama wanita, tidak mengurangi kegembiraan yang mereka rasakan. Mereka mengulurkan tangan pada ibu, pada sepupu, pada saudara, teman atau sahabat yang segera menyambut dan melangkahkan kaki bersama ke tengah aula untuk mulai berdansa.

Vivianne merasakan tubuh Enrico yang tadi ikut mengintip di belakangnya bergerak. Pria itu sepertinya memutuskan untuk berhenti. Tapi Vivianne belum puas. Ia ingin melihat meski ia tidak bisa melakukannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Vivi mendengar hentakan kaki pelan di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Rico berputar di sebelah sofa, seolah tengah berdansa dengan seseorang.

Vivi menaikkan alisnya heran, lalu tersenyum sambil bertanya, "apa yang Anda lakukan, Tuan?"

Enrico berhenti, lalu menoleh ke arah Vivi.

"Kau lihat sendiri ... aku tengah berdansa. Aku ingin melakukannya di dalam sana agar punya pasangan, tapi aku akan segera diusir dari sana, bukan begitu?"

Vivi tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

"Anda terlihat aneh, Tuan."

Enrico malah berputar tanpa malu, seolah punya pasangan dansa yang berputar bersamanya.

"Tidak lebih aneh dari para wanita di dalam sana. Mereka punya pria di rumah mereka. Tapi mereka berdansa di sini dengan sesama wanita."

Vivianne tertawa merdu, membuat Enrico tiba-tiba berhenti dan mencoba peruntungannya dengan mengulurkan tangan.

"Mau mencobanya denganku?"

"Apa? ... ah, maksud Anda ... berdansa? Di sini?"

"Ya ... tidak akan ada yang melihat,' ucap Enrico, menunggu tangannya disambut dengan jantung mulai berdebar.

Berdetaklah dengan normal, jantung bodoh! batin Enrico dalam hati.

"Aku mungkin akan menginjak kaki Anda," pancing Vivianne, tawa merdunya terdengar lagi.

"Aku sungguh tidak keberatan," ujar Enrico dengan raut wajah serius.

Ayolah ... sambut saja tanganku, Vivi.

"Aku mungkin pasangan yang buruk," ucap Vivianne, namun kakinya perlahan mendekat.

"Aku mungkin lebih buruk lagi,"  sahut Enrico. Tangannya terasa kebas, namun ia tidak menurunkannya. Matanya tajam menatap kaki Vivianne yang terus maju mendekat.

"Baiklah. Jangan salahkan aku kalau kaki Anda jadi sakit karena kuinjak."

Vivianne menyambut tangan Enrico, secepat kilat Pria itu menggenggamnya, lalu menariknya mendekat.

"Kau tahu ini waltz bukan? Aku akan memegangmu seperti ini."

"Tentu."

"Kita mulai?"

"Ya."

Dengan jawaban persetujuan itu, Enrico mulai melangkahkan kakinya dengan iringan musik dari arah aula. Mereka berdansa memutari sofa di tengah ruangan, bersama-sama menikmati dansa. Bibir Vivianne tersenyum lebar. Sudah lama ia tidak melakukannya. Terakhir di malam pesta saat kelulusan. Ia berdansa dan menari bersama beberapa teman pria yang satu kampus.

Pikiran Vivianne terbang ke saat indah ketika ia berdansa bersama seorang laki-laki berambut pirang dan bermata biru, seorang yang sungguh memujanya, yang bahkan belajar berdansa agar bisa layak menjadi pasangan dansa Vivi saat pesta tahun baru. Kenangan indah menari bersama pria itu membuat wajah Vivi makin berbinar dan senyumnya makin indah.

"Apa yang kau pikirkan?" Enrico sejak tadi menatap intens wajah Vivianne tanpa sedikit pun beralih. Meski mereka berputar di ruangan tersebut. kakinya seperti sudah hapal akan setiap centi lantai yang ia lewati, sehingga dengan mudah ia membimbing Vivianne yang sepertinya larut dalam kenangan akibat dansa yang mereka lakukan.

"Oh ... Ap ... apa? Anda tadi ...."

Senyum Enrico tampak penuh pengertian, namun matanya makin tajam menatap ke dalam mata Vivianne. Ia menghentikan langkah kakinya. Membuat Vivianne ikut berhenti dan terpaku memandangnya.

"Siapa yang ada di dalam pikiranmu saat ini?" Rico mengubah pertanyaannya.

"Oh, itu ... saya hanya teringat masa lalu," sahut Vivi sambil menunduk, memutuskan kontak matanya dengan Enrico.

"Apakah dia pria?"

Tawa serba salah terdengar dari bibir Vivianne. Rico jadi tahu tebakannya benar.

"Jangan bilang dia berambut pirang dan bermata biru. Kau pernah bilang kau suka tipe yang seperti itu pada Alan saat pertama kali melihat bocah itu."

Tidak ada jawaban, Enrico menarik tangan Vivianne, lalu memindahkan tangan satunya ke arah pinggang gadis itu.

"Ayo, lanjutkan berdansa lagi, sebelum musiknya berhenti."

Vivianne menurut, namun entah kenapa nada suara Rico membuatnya tidak enak hati. Ia terus menatap ke arah kemeja pria itu selama berdansa, tidak lagi berani menatap ke arah wajah. Mereka terus berdansa sampai musik akhirnya berakhir.

Satu hembusan napas Enrico terdengar ketika musik berakhir. Pria itu mengkritik dirinya sendiri yang entah kenapa merasa marah. Vivi bebas memikirkan siapa pun yang ia sukai, tidak ada larangan baginya, bahkan ketika ia sedang berdansa dengan pria yang sangat tampan menurut banyak wanita,

Karena Enrico belum juga melepaskan tangannya dari pinggang Vivianne, gadis itu akhirnya bergerak sendiri untuk keluar dari rekuhan lengan Enrico. Namun Rico menahannya, pria itu malah memegang kedua bahunya, menatap dalam-dalam ke mata gadis itu, hingga membuat napas Vivianne tersentak, meski ingin melihat raut wajah Enrico, vivianne menahan kepalanya agar tetap menunduk.

Melihat Vivianne terus menunduk, Rico melepas satu tangan dari bahu, lalu mengulurkan jarinya mengangkat dagu gadis itu, sehingga mata mereka saling berpandangan. Enrico melihat pandangan tidak nyaman di mata cokelat Vivianne dan kembali mengutuk dirinya sendiri.

"Maafkan aku. Itu sebenarnya bukan urusanku. Jangan merasa tidak nyaman. Aku yang tidak tahu batasan."

Pandangan mata Enrico terlihat lebih pekat, menatap Vivi kembali dengan sorot yang tidak berani Vivi artikan. Kini Vivianne merasa seolah tidak bisa mengalihkan kedua bola matanya. Keduanya saling tatap seperti tengah terbelit sebuah mantra.

Jari Enrico yang semula berdiam di dagu Vivianne tanpa sadar mulai bergerak, perlahan menelusuri dagu dan berhenti ketika tiba di bibir gadis itu. Ia mengelus bibir mungil yang kerap tersenyum dan mengeluarkan tawa merdu, mata Enrico otomatis berpindah dari mata Vivianne ke arah bibirnya ketika jarinya merasakan tekstur lembut di sana.

Merasakan jari Enrico mengelus bibirnya membuat kedua bola mata Vivianne terbelalak lebar, namun tubuhnya kaku untuk dibawa bergerak. Ia menahan napas, menunggu apa yang sebenarnya akan dilakukan selanjutnya oleh atasan sepupunya itu.

Enrico terlihat mengembuskan napas panjang, kemudian menelan ludah sebelum berucap, "astaga, Vivi. Kau ...."

Ucapan Enrico terpaksa berhenti karena sebuah suara yang datang menegurnya dan juga tawa geli yang terdengar dari suara yang lain.

"Apa yang kau lakukan di sini, Anak Nakal!?" tegur Olivia.

"Apapun itu, Anda sebaiknya berhenti, Tuan. Dia bukan santapan yang bisa Anda  makan," gurau Alona sambil tertawa geli."

Ia menoleh cepat dan mendapati Bibi Olivia dan Alona pemilik kedai sudah berada di ruangan itu, mereka menatapnya dengan sorot mata geli, keduanya terlihat senang karena menagkap basah dirinya.

Enrico segera melepaskan Vivianne, lalu ia mengusap wajahnya sendiri sambil menggerutu, "kalian sungguh  pandai memilih waktu, Bibi Oliv, Alona."

 

**********

From Author,

Tidak bosan-bosannya author ingetin buat tekan like ya, bagi yang sudah baca chapter ini. gretong gak pake bayar, cuma itu aja tanda mata untuk author yang pegel jarinya ngetik ini buat Reader tersayang, heheheh. Kasih jejak juga dengan komentar kalian meski hanya nagih up, wkwkwkw. Yang belum kasih rate, bantu author juga dengan kasih rate bintang lima ya Readers, klik Favoritenya juga. Yang punya Poin, boleh bantu dengan vote seikhlasnya. (Pasti ada yang ngomel ini author banyak maunya, hahahahahah)

Nantikan kisahnya lagi di chapter selanjutnya.

Terima kasih yang sedalam-dalamnya. Sedalam lautan dalam. Luv you...

Salam hangat , DIANAZ.

 

 

 

 

1
MoonChild7
entah kebarapa kali baca Mr.Costra dan selalu jatuh cinta sm playboy yg satu ini 😍😍😍
Tikus Tikus
engga bosen bacanya...sudah berulang kali bacanya ...
MPit Mpit MPit
aku mau seneng novel kaya ginih sat set sat set gak belibed..tp maniiiiis ih dr awal
MPit Mpit MPit
manissss ih
MPit Mpit MPit
kok maniiiis amat yah bab inih 😄
destiana
Luar biasa
Puspa Ayundari
hhhhhhh gue suka gaya loe ,tuan rico...
Ran Aulia
Luar biasa, te o pe banged kak , berasa nonton film romance ❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Kios Flio
omo omo...😅🤣🤣🤣🤣 ngakak thorr....
Qiao Jingjing
Dari banyaknya novel, menurutku novel ini sangat pantas diberi rating bintang ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.
YuWie
agak2 bingung dengan nama2nya
Besse Sulfiani
Kapan ada karya barunya kk. aku udh bolak balik bacanya. udh gk terhitung. jatuh cinta dengan semua ceritanya yang berlatar LN. semoga sehat, semangat dan dimudahkan rejekinya 🤲
posutara ramli ramli
Luar biasa
Fatmawatiiska Fatmawatiiska
kk dianaz,kenapa karya ngak ada lagi,ada dilapak lainnya,ini udah kesekian kalinya aku baca yg ini kk,kayak nya udah lama aku ninggalin lapak ini,pertama buka maka nama dianaz di klik, berharap ada karya yang baru,tapi Taka ada😚😚😚
Yuli Yuliana
Kecewa
Ummu Shezan
Luar biasa
guest1053764442
udah baca yg k 2 kali 🤗🤗
🥑⃟вуυηgαяι
ah rsany blm pen brhenti baca 😩😩 ada kh sekuelny😅🙈
🥑⃟вуυηgαяι
ah manizzzz kek gula2
🥑⃟вуυηgαяι
asli bkin ngekek 😅😅🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!