“DIMAAAAAAS!!”
Setiap hari lengkingan itu selalu didengar Dimas Tanurahardja. Suara Bossnya, Meilinda Bataragunadi, selalu mewarnai hari-hari penuh tantangan di kantornya.
Kamu kok kerjanya nggak beres, kamu pernah sekolah tidak sih? Kamu bikin ginian saja nggak bisa! Kata-kata semacam itu selalu menyerang pria berusia 30 tahun itu.
Sampai pada suatu hari, ia memegang Kartu AS Meilinda. Aib terbesar wanita itu.
Dan ia semakin terjun lebih dalam saat memutuskan untuk meladeninya, sampai berurusan dengan keluarga Bataragunadi, Konglomerat paling disegani di negara ini.
Dan perasaannya terhadap Meilinda semakin lama semakin special, timbul di tengah kekacauan di sana-sini.
Note : bukan novel menye-menye. Cari yang sedih dan penuh konflik tidak akan ketemu di cerita ini.
Semoga menghibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antar Jemput
“Pacar? Kamu nembak saya?” tanyanya dengan nada meremehkan.
“Iya Bu,” desisku.
“Kamu tahu siapa saya, kan?!”
Aku benci pertanyaan itu.
“Kamu tahu siapa kakak saya,kan?” dia bertanya lagi.
Aku juga tidak suka pertanyaan yang itu.
“Kamu tanya ke saya mau jadi pacar? Atau maksud kamu ‘bodyguard’? Karena jelas tidak ada orang yang berani sama saya,”
Oke, dia ternyata mengerti maksudku.
“Bodyguard,” jawabku.
“Kurang ajar kamu,” cibirnya.
“Kita saat ini dalam posisi simbiosis mutualisme loh bu, saling menguntungkan. Pacar Bu Meilinda sudah punya istri dan anak, ibu bisa pasang tampang ganteng saya di instagram untuk membalasnya. Di lain pihak, saya butuh ibu untuk menjauhkan ‘mereka’, Terus terang saja saya mulai takut sama fans fanatik,” Aku mencoba merayunya.
Bu Meilinda menghela nafas panjang, lalu menengadahkan kepalanya menghadap ke atas, ke arah plafon.
“Saya ini jelek banget ya?” bisiknya.
Aku sampai menaikkan alisku ke atas.
“Maksudnya...?” tanyaku keheranan. Bagaimana kalimat semacam itu bisa terlontar dari mulutnya? Dia yang begitu cantik berpengaruh, bisa juga merasa tidak percaya diri.
Bu Meilinda menghela nafas panjang.
“Saya tidak beruntung soal cinta. Sejak remaja, saya tidak pernah punya pacar, semua mendekati saya hanya karena saya Bataragunadi. Setiap ada cowok yang mendekati saya, kakak saya selalu ikut campur dan akhirnya semuanya mundur. Tapi dia memang benar, semua cowok itu hanya berharap menjadi bagian dari keluarga saya,”
Kudengar nada suaranya mulai bergetar.
“Lalu saat saya dikenalkan dengan Jeffry, Pihak sana ingin segera dinikahkan saja. Keluarga saya setuju, saya juga tak pikir panjang karena usia saya sudah menginjak 34 tahun. Tapi sekarang saya tahu kenapa pria setampan itu masih jomblo di usianya yang sudah kepala 3, dan kenapa keluarganya ingin kami cepat-cepat menikah,”
Aku mendengarkan dengan tenang. Kurasakan miris sekali kehidupan Bu Meilinda sebenarnya.
“Dan saat saya menemukan seseorang yang saya pikir benar-benar care sama saya, dia sudah punya istri... Kalau ketemu saya akan benar-benar mencakarnya, saya juga akan jambaki istrinya!” seru Bu Meilinda.
“Jadi itu tujuan kita ke Bandung besok? Ibu mau berbuat kekerasan?”
“Gunawan tak akan membalas saya, dia punya banyak kepentingan bisnis!”
“Ya tapi jangan gitu juga,”
“Nggak usah ikut campur, Dimas,”
“Iyaa, iyaa...” desisku.
“Dan sekarang ada yang nembak saya, tapi cuma ingin memanfaatkan pengaruh,” sindirnya sambil mennatapku dari atas ke bawah.
“Setidaknya saya jujur di awal,”
“Jujur, saya cantik atau jelek?”
Giliranku yang menghela nafas panjang, “Tapi nggak usah ngomel,” desisku.
“Ternyata saya jelek,” itu kesimpulannya.
“Ibu sangat cantik, saking sempurnanya jadi menakutkan. Kami kaum lelaki kurang suka diperintah ini-itu. Kami dilahirkan untuk memimpin. Menikah dengan sosok seperti Bu Meilinda sama saja mencoreng harga diri kami,” kataku blak-blakkan. “Bayangkan kalau istri sendiri saja tidak bisa bekerja sama dalam berumah tangga dan selalu meneriaki suami. Lebih baik kami mencari istri lain, bu...”
“Kalian laki-laki terlalu angkuh, maunya memimpin padahal tidak capable,”
“Kata-kata itu yang membuat ibu jadi tidak menarik di mata kami,”
“Astaga, sialan kamu!” Bu Meilinda memijat dahinya.
“Ibu sudah janji tidak ngomel ya, tepati janji,” desisku.
“Hanya kamu yang bisa bicara begitu dengan saya,”
“Ini hanya karena saya peduli sama Boss sendiri,” kataku, “Tolong itu Memo Internal pengajuan insentif saya segera diajukan,” aku menyeringai.
“Katanya nggak butuh...”
“Butuh,” desisku, “Mengingat semua penderitaan saya selama ini,”
“Ya sudahlah, kita pacaran. Saya tak ingin berpura-pura tapi ya, kita pacaran beneran,”
“Ada tapi-nya nggak?”
“Ada,”
“Apa itu?”
“Kakak saya akan segera mengetahui hubungan ini, kita harus siapkan alasan yang masuk akal untuknya. Kalau ia tidak menerima alasannya maka ada 2 kemungkinan, kita akan dinikahkan atau kamu akan dipenggal. Jadi saya tidak bisa menjamin keselamatan kamu,"
Lagi-lagi Bapaknya Trevor.
Aku menghela napas. “Sebat dulu,” Aku menenangkan diri.
“Jangan lupa besok malam kita ke Bandung, kamu pagi-pagi jemput saya ke rumah,”
“Jemput ibu? Maksudnya?”
“Begini rencananya biar hidup kamu agak tenang,” Bu Meilinda mencondongkan tubuhnya padaku memperlihatkan belahan dada-nya yang sepertinya hangat dan empuk.
**
Esok Paginya.
Maka langkah awal untuk ‘melindungi’ aku dari para fans fanatik sekaligus ‘membungkam’ mulutku perihal aib Bu Meilinda, kami akhirnya berencana untuk pulang dan pergi kerja berbarengan. Seperti layaknya orang pacaran.
Jadi, aku bangun lebih pagi, rencananya akan naik KRL ke rumah Bu Meilinda di Darmawangsa, baru dari sana kami akan menggunakan mobilnya dan berangkat bareng ke kantor.
“Tumben to le jam segini wis tangi," (Tumben Nak jam segini sudah bangun) sahut ibuku saat aku memasukkan nasi uduk buatannya ke tas ku.
“Nggih Bu, wonten proyek. (Ya bu, ada proyek)” Sahutku sambil mencium pipinya.
Kakakku, Bram, keluar dari kamarnya sudah dengan setelan kerjanya yang bergaya eksekutif muda. Dia sampai sekarang keukeuh naik mobil dari rumah kami di Bekasi, ke kantornya di daerah Kuningan walaupun macetnya Naudzubillah.
“Ono meeting, Mas?" (Kamu ada meeting ya bro)
“Ora mas," bisikku sambil melipir ke dinding, takut ketahuan ibuku. "Aku arep nang omah e Bu Meilinda," (nggak mas, aku mau ke rumahnya Bu Meilinda)
“Bu Meilinda? Kamu bikin masalah apa Mas?!” tampangnya jadi was-was.
Bossku memang sudah terkenal di kawasan eksekutif muda seantero kota sebagai wanita dengan perangai yang menyebalkan.
Saat pertama Bram mendapati aku diterima di Garnet Bank, dia sudah mewanti-wantiku agar tak bikin masalah ke Bu Meilinda.
Tapi sialnya, aku malah ditempatkan tepat di bawah Divisinya.
“Kalau sama Bu Meilinda sih tiap hari pasti ada masalah,” Aku menyeringai sambil mencium tangannya. Lalu berangkat menyambut hari yang penuh intrik.
KRL jam 6 pagi dari arah Bekasi – Sudirman (transit dulu di Manggarai), tidak terlalu penuh tapi tetap saja tidak dapat tempat duduk. Aku berdiri di sebelah pintu dengan hoodie dan maskerku, earphone terpasang mengalunkan lagu Dewa 19.
Iya aku tahu memang jadul, tapi kalau kaum milenial seusia macam aku ya dengerin musiknya yang legend-legend.
Aku melihat segerombolan anak sekolah, genk ciwi-ciwi, melirik ke arahku sambil berbisik-bisik lalu cekikikan.
Aku langsung memeriksa kelengkapan tubuh. Resleting tertutup sempurna kan? Nasi udukku tidak berhamburan kan? Sepatuku nggak lain sebelah kan? Sejauh ini normal-normal aja.
Jadi kuanggap saja cekikikan mereka karena sedang membicarakan hal lain.
Saat di stasiun Klender, si ibu-ibu yang biasa naik sambil membawa tas dagangan, menyenggol-nyenggol lenganku dan minta tolong kepadaku untuk membantunya menurunkan dagangan. “Makasih ya, Mas Ganteng!” desisnya. “Maskernya turun tuh, duh mukamu itu jadi bikin ibuk berasa muda lagi!”
Oh, gara-gara itu.
mungkin cewek-cewek yang saat ini sedang menatapku lekat-lekat juga berpikiran sama dengan si ibu.
Gawat deh!
Aku langsung menaikkan maskerku sampai hampir mendekati mata.
Aku cukup mengerti sih kenapa Bram tidak ingin naik angkutan umum. Selain akan menarik perhatian karena wajahnya juga capable jadi model peragaan busana di Paris Fashion Week, dia bisa menikmati paginya dengan sarapan di mobil, ngopi sambil menyetir, duduk nyaman di ruang sempit ber-AC tanpa berdesak-desakan kuatir dompet atau henpon hilang.
Tapi gajiku cuma receh kalau dibandingkan dengannya, jadi ya ini alternatif yang paling efisien.
Aku sampai di rumah... eh, istana, milik keluarga Bu Meilinda pukul 7 kurang dan menyampaikan maksudku bertamu, sekalian kenalan sama pak security agar urusan dipermudah.
“Ibu kayaknya lagi sarapan. Sampeyan wis ditunggu dari jam 4 pagi Loh.”
Aku menyeringai.
Jam 4 pagi sih aku masih di alam bawah sadar, memimpikan naik gaji dan jalan-jalan ke luar negeri.
“Sip Pak, ” desisku sambil berjalan ke arah pintu masuk yang bikin menghela napas. Jaraknya sekitar beberapa puluh meter di ujung sana dan tidak disediakan mobil golf atau minimal sepeda gitu buat ke pintunya yang jauh banget.
Besok kubawa saja sepeda lipatku buat jalan ke pintu.
Saat sudah menapaki tangga dan membuka pintu utama sambil terengah-engah. Seseorang menyambutku di ruang tamu di depan pintu.
“Kamu siapa?”