Siapa yang tak mengenal seorang bernama belakang Alfonso?
Maximo Alfonso adalah laki-laki bergaris keturunan bangsawan Alfonso yang saat ini mengambil alih tugas pekerjaan gelap ayahnya.
Seorang mafia terkenal kejam dan sering bergonta-ganti wanita. Siapa sangka, dirinya terpikat oleh salah satu budaknya yang sangat cantik hingga membuatnya meninggalkan kebiasaan bermain dengan banyak wanita.
Wanita itu bernama Alea, gadis yang sangat malang. Akibat iri hati saudara tirinya membuatnya tega menjual Alea sebagai seorang budak hingga jatuh ke tangan Maximo.
Akankah Alea dan Maximo bersatu menuju ikatan suci? Ataukah hanya sebatas hubungan budak dan majikan?
Ikuti terus kelanjutannya!
CEKIDOT!😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Azzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Merindu
"Alea, awas..!!"
Byurr..
Hahaha...
Tawa menggelegar dari seorang pria yang baru saja membuat tubuh Wilia basah terkena deburan ombak.
"William!" Pekik Alea kesal saat sekujur tubuh nya terkena air membuat pakaian putih nya sedikit menerawang.
"Salah sendiri, lagian kenapa dari tadi melamun terus? Bukan kah kau merindukan pantai ini? Kenapa setelah ke pantai kau justru banyak diam?" Pria itu menatap kesal Alea yang masih menghadap lautan dengan kedua tangan memeluk tubuhnya.
Aku memang ingin ke pantai, Wiliam. Tapi itu juga yang membuat ku semakin mengingat nya. Kenapa begitu susah hati ku menghapus nya? Ya, Tuhan. Kenapa kau tanamkan rasa ini pada ku, sedangkan kau tahu dia tak mungkin bisa bersama satu wanita? Sahutnya dalam hati.
Alea hanya mampu menatap deburan ombak seraya menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh. Di saat begini, rasa rindu pada sang tuan semakin membuncah. Dia tak tahu harus bagaimana lagi cara membuat hati nya bisa melupakan pria itu.
Tanpa terasa, setetes air mata jatuh ke tanah, menyatu dengan air laut yang sedang bergantian pasang surut menerjang kaki nya.
Ya, Tuhan. Kenapa hatiku sakit sekali? Sebenarnya apa yang terjadi pada ku?
Alea menekan-nekan dada nya yang terasa sesak. Tak lama setelah nya, dia kembali ke daratan dan duduk di bawah pohon kelapa. Meski berada di tempat keramaian, nyatanya tak membuat hatinya yang sepi ini terobati. Dia justru semakin merindukan nya, ingin sekali rasanya berada di sini lalu dipeluk oleh nya. Sayangnya, untuk saat ini dia hanya bisa memeluk angin seraya berangan-angan kalau Tuan nya lah yang dia peluk. Mungkin ini yang dinamakan hampa, cinta tak terbalas membuat seseorang hampa. Semua gemerlap dan keindahan dunia tak serta merta membuat hatinya bahagia.
"Alea, kau sebenarnya kenapa?" William menetap sendu Alea yang sejak mereka bertemu sampai sekarang sulit sekali di dekati. William merasa bukanlah seperti Alea nya yang dulu, yang selalu ceria dan berbagi cerita.
"Kita sudah jauh-jauh datang ke sini, Alea. Tapi kenapa kau tampaknya tak menikmati? Bukan hanya itu, tapi kau juga mengacuhkan ku." Wiliam duduk disamping Alea. Dia berusaha mengerti dengan sikap Alea kali ini. Namun keinginan Alea yang tiba-tiba ingin datang ke Bali membuat harapan Wiliam yang sudah melambung tinggi mendadak kecewa. Pria itu mengira Alea ingin ke Bali karena ingin libur berdua, namun faktanya Alea bahkan sering murung seorang diri. Bahkan saat William mengajak bicara, Alea justru tak mendengarnya karena sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Susah payah William membatalkan semua jadwal kerjanya untuk menemani wanita yang begitu dicintai, namun ternyata tak menghasilkan apapun.
"Maafkan aku, Wiliam. Aku tidak bermaksud mengacuhkan mu, aku hanya sedang banyak pikiran." Alea menatap sendu pemandangan. Meksi bibirnya mengatakan maaf, namun tatapan nya justru melihat ke arah lain.
William menghela nafas berat, dia tahu kalau Alea mungkin sudah mencintai laki-laki lain. Terlihat dari sikapnya yang sudah tidak seperti dulu lagi membuat Wiliam merutuki diri sendiri karena telat mencari Alea. Andai dia bisa menemukan Alea sedari awal, mungkin wanita itu belum memiliki perasaan terhadap laki-laki lain. Entah siapa laki-laki yang berhasil membuat Alea jatuh cinta, karena sampai sekarang Alea bahkan belum menceritakan apa yang terjadi dengan nya selama beberapa bulan ini.
.
.
.
Disisi lain, Tuan Maximo yang telah menghabiskan 6 piring makanan, kini kembali terbang ke Bali. Akibat keterangan Petro yang menceritakan tentang pulau Bali membuat laki-laki itu sangat mengidam-idamkan untuk pergi ke sana. Bahkan mereka sampai belum istirahat dan sudah kembali melakukan penerbangan. Untung saja penerbangan kali ini hanya membutuhkan puluhan menit, bukan puluhan jam, membuat Petro dan pengawal lain tak banyak mengutuk Tuan nya.
"Tuan, kita sudah sampai." Petro mencoba membangunkan tuan nya karena pesawat berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali.
"Apa sudah sampai di pantai?" Tanya Tuan Max yang begitu antusias ingin segera ke pantai. Padahal jelas-jelas mereka baru saja mendarat.
"Belum, Tuan. Kita baru saja sampai di bandara." Sahut Petro masih dengan ekspresi nya yang datar meski sebenarnya ingin sekali menjedotkan kepala Tuan nya ke kabin pesawat.
"Ck, kenapa lama sekali? Harusnya bangunkan aku kalau sudah sampai di pantai!" Tuan nya berkata ketus tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sepertinya Tuan nya ini benar-benar sudah tidak normal, bagaimana mungkin ingin dibangunkan saat sampai di pantai?
Memang nya dia orang sakit yang harus digotong sampai ke mobil?
"Ck, sudahlah! Sudah terlanjur bangun. Minggir!" Tuh kan, Tuan nya ini sensitif sekali seperti wanita sedang pms saja.
Petro sampai mengusap dadanya melihat tingkah Tuan nya yang seperti kerasukan.
Akhirnya mereka hanya mengikuti Tuan nya dari belakang. Setelah sampai di mobil, Tuan Max kembali terlelap. Namun sebelum itu, dia menatap kearah Petro terlebih dahulu.
"Aku ingin kita ke pantai ini dulu." Tuan Maximo menyodorkan ponsel yang memperlihatkan gambar pantai dan terdapat keterangan tulisan yang tertera di sana.
"Baik, Tuan." Lagi-lagi Petro mengumpat kesal karena hanya bisa menuruti kemauan Tuan nya. Pantai yang ditunjuk Tuan nya termasuk pantai terjauh dari titiknya saat ini, dan membutuhkan waktu yang sedikit lama. Tapi apa boleh buat? Jika Tuan nya sudah berkehendak maka siapa pun tak bisa mencegah nya.
.
.
.
Mobil yang ditumpangi tuan Max sudah sampai ditujuan, meksi begitu Matahari sudah hampir terbenam sempurna dan sebentar lagi gelap.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita ke resort saja? Matahari sudah terbenam sepenuhnya dan angin juga sangat kencang." Petro mengingatkan, namun sepertinya tuan Max tak mendengar perkataan nya.
Pandangan Tuan Maximo justru memicing ke arah wanita yang sedang membelakangi nya dengan rambut terurai dan gaun warna putih tulang yang menerawang. Sekilas dilihat dari belakang seperti Alea, tuan Max tertegun melihat nya. Hatinya tergugah untuk berjalan kearah wanita itu, dia ingin memastikan apakah itu Alea nya atau bukan.
Dengan penuh semangat, dia berjalan cepat agar tak kehilangan jejak wanita yang sedang berjalan pelan di sana. Saat jarak nya tinggal sepuluh meter, ternyata wanita itu dijemput seorang pria. Pria itu memakaikan jaket untuk wanita itu. Sontak saja Tuan Max menghentikan langkah nya. Dia menatap sendu dua manusia itu.
"Ternyata aku salah, dia bukan Alea." Gumam Tuan Maximo dengan perasaan sedih.
Andai kau masih berada disamping ku, Alea. Mungkin kita akan bahagia seperti dua pasangan itu. Batin nya seraya menatap dua orang yang sedang tertawa dan berjalan bergandengan tangan setelah memakaikan jaket wanita nya.
hanya kurang melow melow saat mereka pertemukan,,andai anaknya sudah berusia 3 tahun dengan wajah bak pinang di belah 2..hehehee mau ku thorr..kependekan kisahnya..😀