Ini masih cerita tentang anggota keluarga Nikolai. Siapkan mental gaesss karena petualangan baru akan segera dimulai.
"Malyshka!!!!" Daryl selalu berteriak setiap kali dia bangun di pagi hari. Atau ketika tak menemukan Nania di dalam rumah.
Tiba-tiba saja semuanya berubah, dan mereka tak mengira akan memiliki hubungan seperti ini. Karena semuanya begitu jauh dari bayangan.
Dan bagi Nania, dialah sebaik-baiknya perlindungan.
"Lalu apalagi yang aku harapkan, jika segalanya ada pada dirimu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan Keluarga
💖
💖
"Umm … Mom, bagaimana kalau misalnya aku mau tinggal di apartemen?" Daryl memulai percakapan saat mereka sarapan bersama.
"Tinggal di apartemen?" Sofia membeo.
"Yeah, aku ingin hidup mandiri. Is that okay?" jawab sang anak. Sedikit ragu, tapi dia mencoba untuk berbicara sekedar untuk mendapatkan privasi untuk kehidupan pribadinya.
"Kenapa kamu ingin hidup mandiri? Apa kamu tidak suka hidup dengan Mama dan Papi?" Sofia kemudian bertanya.
"No, maksudku … independent is good, right? I will learn a lot of things by my self. And i'll take responsible only for me. (mandiri itu bagus, bukan? Aku akan mempelajari banyak hal sendirian, dan aku hanya akan bertanggung jawab untuk diriku sendiri.)"
Sofia dan Satria saling pandang.
"Lagipula Darren sebentar lagi akan menikah, dan rumah akan sangat berbeda." Dia melirik kepada adik kembarnya yang duduk di samping.
"Dan akan lebih berbeda setelah kamu juga pergi." Sofia menjawab.
"Yeah, tapi aku janji akan berkunjung sesekali."
"Lalu mau tinggal di mana?"
"Apartemen sekitar Fia's Secret, Mom."
"Masih di Jakarta dan kamu mengurus usaha Mama, mengapa kita harus tinggal terpisah. Lagi pula kamu masih lajang kan?"
"Orang lain begitu bekerja sudah tinggal sendiri. Apalagi di luar negri sudah mandiri sejak kuliah. Me too, ingat?"
"Ya, mereka tinggal diluar negri, dan bukan anak Sofia Anna." jawab Sofia.
"Waktu kuliah di Moscow juga kami kan tinggal di apartemen. Apalagi waktu menyelesaikan S2?"
"Ya, tapi sekarang kamu tinggal di Indonesia. Bukan di Rusia." Sang ibu tak kehilangan akal.
"Mom, berapa lajang di Jakarta dan mereka hidup mandiri. Jadi aku rasa sekarang sudah tidak ada bedanya lagi."
"Tidak untuk Mama. Selagi kamu belum menikah kamu akan tetap tinggal dengan kami."
"Mom, kenapa harus begitu?"
"Tidak kenapa-kenapa. Mama hanya tidak ingin kehilangan masa-masa itu. Sejak SD kamu di Moscow sampai lulus S2, dan sekarang ketika kalian belum dua tahun pulang Mama harus membiarkanmu pergi lagi? Tidak mungkin." Sofia bersedekap.
"Bukan pergi, tapi hanya tinggal terpisah."
"Ya, bisa. Tapi setelah kamu berkeluarga. Selagi lajang, jangan harap bisa tinggal diluar seenaknya!"
"Mom! Aku ini laki-laki, apa yang Mama khawatirkan?" protes Daryl kepada ibunya.
"Banyak. Kamu itu suka berkeliaran, nongkrong tidak jelas dan membahayakan dirimu sendiri. Kamu itu ceroboh. Kalau tinggal diluar pasti akan dimanfaatkan banyak orang."
"Aku bisa jaga diri."
"Tidak!"
"Aku ini 26 tahun."
"Tidak ada bedanya. Bagi Mama kamu masih sembilan tahun."
"Ini konyol Mom!"
"Lebih konyol lagi kamu yang tiba-tiba minta tinggal sendiri. Ada apa?" Sofia dengan tatapan menyelidik.
"Haha, haha akal-akalanmu ketahuan!" Darren menggerak-gerakkan tekunjuknya ke arah sang kakak.
"Tidak ada Mom."
"Bohong! Kemarin saja selama satu minggu kamu tidak tidur di rumah. Ada rumor juga kalau kamu tidur di kedainya Amara. Apa benar?"
"What?"
"Jangan kamu pikir Mama tidak tahu apa-apa Der." Sofia dengan tegas.
"Kamu mau hidup bebas? Kenapa? Agar bisa berbuat sesukamu tanpa perhitungan? Tidak mungkin. Bukan masalah hakmu yang kamu pikir sudah dewasa dan bisa melakukan apa pun tanpa berpikir hal apa yang akan timbul setelahnya. Tapi motifmu yang sebenarnya."
"Mom! Tidak ada motif!"
"Kenapa kamu menginap di kedainya Amara?"
"Itu urusanku."
"Mau merasakan suasana lain? Kenapa harus di kedai? Kamu bisa memilih hotel, resort, villa. Apa pun. Kamu bahkan bisa menggunakan bangunan di halaman belakang jika kamu mau. Tapi kenapa malah di kedai?"
Daryl bungkam.
"Karena ada Nania?"
Sang anak mendongak.
"Sayang?" Satria buka suara.
"Diam, aku sedang bicara dengan anakku." Sofia tak memalingkan pandangan dari putranya. Membuat siapa pun tak berani mengusiknya, bahkan Satria.
"Kamu sangat menyukainya ya, sehingga sampai segitunya menghabiskan waktumu untuk berada di kedai? Apa sih yang kamu lihat?"
Tiga pria di dekatnya mengerutkan dahi. Tidak biasanya Sofia berkata seperti itu.
"Pulang kerja ke sana, lalu memutuskan tidur di sana. Padahal kami menyediakan rumah yang nyaman untukmu. Apa yang kamu cari?"
"Jangan bicara seperti itu, Mom!" Daryl bereaksi.
"Ada apa denganmu? Seleramu berubah sekarang?"
"Mom! Ini bukan soal selera. I'm just …." Daryl ingat soal ucapan Nania yang tak ingin hubungan mereka diketahui orang-orang.
Dan gadis itu ternyata benar, melihat reaksi sang ibu yang seperti itu membuat nyalinya ciut. Apa lagi jika semua orang tahu, bayangkan seberat apa tekanan yang akan mereka alami, terutama Nania.
"Lalu soal apa? Kesenanganmu menurun, dan seleramu … ckckckck!" Sofia berdecak sambil menggelengkan kepala.
"Tidak menyangka kamu akan seperti ini?"
"Mom, jangan bahas soal ini, aku tidak ingin membahasnya, jadi …."
"Sebesar itu rasa sukamu kepadanya sehingga membuatmu seperti ini."
"Mom, stop!" Daryl tahu arah pembicaraan ini akan bermuara ke mana.
Dia mengerti, mungkin ini yang Nania takutkan. Perbedaan di antara mereka memang sangat jelas dan dia baru menyadarinya. Jadi dirinya harus membuat perlindungan untuk gadis itu.
"Aku tidak suka Nania dan dia tidak ada hubungannya dengan ini. Aku hanya menemaninya karena neneknya baru saja meninggal dan dia sendirian, so stop menggunakan alasan Nania sebagai perubahan sikapku, seleraku atau apa pun Mama menyebutnya. Karena ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan dia."
Ruang makan tiba-tiba saja terasa hening. Darren bahkan menghentikan kegiatan sarapannya sejak percakapan ibu dan saudara kembarnya terjadi.
"She has nothing to do with this. And don't blame her! (Dia tidak ada hubungannya dengan ini, dan jangan menyalahkany!)" ucap Daryl secara tegas.
"Apa?" Sofia sedikit menjengit.
"Jangan salahkan Nania, jangan juga menghubungkan dia dengan urusanku. Kami tidak ada apa-apa, dan aku nggak menyukainya." Daryl dengan begitu jelas. Meski hatinya menyangkal dan pikirannya mengatakan sebaliknya, tapi dia harus melakukannya untuk melindungi gadis itu.
"Mama tidak membicarakan soal Nania lho." ucap Sofia kemudian.
"Maksud Mama kenapa kamu suka sekali berada di kedainya Ara? Apa karena suasananya, makanannya, atau orang-orangnya?" Sang ibu menahan tawa. Dia tahu telah ada yang terjadi dengan putranya yang satu itu.
"What?"
"Kedainya Ara memang bagus, Mama juga betah di sana. Tapi itu tidak membuat Mama ingin menginap juga. Tapi kalau ada Papi sepertinya Mama akan seperti kamu?" Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.
Daryl terdiam. Otaknya berputar mencerna apa yang telah ibunya katakan. Dan napasnya berhenti sebentar ketika dia menyadari sesuatu.
"Mama menjebakku!" katanya, dengan suara rendah.
Sofia tertawa.
"No way!" geramnya dengan kesal. Dia tahu sang ibu telah mengerjainya.
"What? Are you sure?" Darren pun bereaksi.
"Tidak! Maksudku …."
"Berapa umurnya Nania? Kau menyukai anak kecil!"
"No, Darren!"
"Itu benar. Dia bahkan kelihatan seperti anak sekolahan dan kau menyukainya? Ada apa dengan otakmu? Kau punya kelainan?"
"Shut up!" Daryl berujar, sementara kedua orang tuanya hanya tertawa. Satria bahkan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putranya.
"Kau bahkan sering mengejeknya sebagai anak SMP, apa itu maksudnya? Ejekan sayang, heh? Aneh sekali kau ini Dar!"
"Diamlah kau, sialan!" Daryl meneguk kopinya hingga hampir habis lalu dia bangkit.
"Hey, kembali dan jelaskan kepadaku! Apa Nania membuatmu gila?"
"Bukan urusanmu!" Daryl memilih untuk pergi.
"Bawa dia kemari, Sayang!" Sofia setengah berteriak.
"Tidak akan!"
"Atau Mama yang akan mendatanginya ke kedai?"
"Coba saja campuri urusan pribadiku kalau berani, maka aku tidak akan pulang selamanya!" ancam sang putra.
"Apa kamu serius?" Sofia berteriak lagi ketika putranya sudah menghilang dari pandangan.
"Ya, aku sangat serius." Daryl masih balas berteriak meski dia sudah sampai di teras.
"Dia itu serius atau apa?" Darren masih menatap ke arah di mana kakaknya menghilang.
"Apa pernah kamu melihat dia seperti itu?" Satria balik bertanya.
"Tidak. Bahkan dengan Bella saja tak seserius itu, padahal mereka sudah sering tidur bersama." jawab Darren yang kembali melanjutkan kegiatan makannya.
"Apa?" Sofia bereaksi.
"Umm … maksudku …."
"Hubungan mereka sejauh itu?"
"Tidak Mom, maksudku …."
"Telinga Mama ini masih normal, Darren. Dan Mama mengerti maksud ucapanmu!'
"Iya, tapi maksudku … tidak sejauh yang Mama bayangkan. Daryl dan Bella hanya bermain-main saja dan mereka …."
"Aaaa tidak mungkin! Mengapa anak-anakku seperti itu? Apa karena aku? Atau karena kamu?" Sofia menutup telinga dengan kedua tangannya, lalu dia menoleh kepada suaminya.
"Aku kenapa?"
"Jangan-jangan, kamu juga begitu?" Lalu dia beralih kepada Darren.
"Maksud Mama?"
"Kamu juga berhubungan badan dengan perempuan lain sebelum menikah dengan Kirana?" selidiknya kepada Darren.
"No!!! I'm a good boy! Aku sebaik dan sesuci Zen, Mom!" jawab Darren.
"Bohong!"
"Aku serius! Kalau kami jadi menikah, maka Kirana adalah yang pertama untukku. Aku bersumpah."
"Sebaiknya kamu pegang kata-katamu! Kamu satu-satunya Nikolai yang masih suci saat menikah!"
"Astaga!" Satria menyapu wajahnya sambil tertawa.
"I promise. Tinggal dua minggu lagi, masa aku mau merusaknya dengan hal semacam itu?"
"Haha, astaga! Kenapa kakak-kakakmu seperti itu? Sangat mengecewakan!" Sofia mengusap dada lalu meminum teh hangatnya yang disodorkan oleh Satria.
"Tenang Mom, tenang. Jangan marah, nanti wajahmu bertambah kerutannya." Pria itu mengalihkan perhatian.
"Oh, tidak mungkin! Itu tidak boleh terjadi. Anak-anak belum menikah semua dan aku tidak ingin punya keriput sekarang!" Dia menenangkan diri lalu mengusap wajahnya pelan-pelan.
"Maka tenanglah, Sayang." Dan Satria menepuk-nepuk punggung istrinya sambil menahan senyum.
"Kamu pasti tahu soal yang satu ini, aku yakin. Kamu pasti tahu." Perempuan itu menggumam sambil terus menenangkan dirinya.
"Ya, dan aku memilih untuk tidak mengatakannya karena takut kamu akan seperti ini." jawab Satria, akhirnya.
"Apa?" Membuat Sofia kembali bereaksi.
"Tenang, ingat keriput di sudut matamu nanti bertambah?"
"Ah, tidak mungkin! Tidak akan kubiarkan itu terjadi sekarang!"
"Makanya, tenanglah. Jangan marah." Satria tetap menahan senyum.
Lalu dia memberi isyarat kepada Darren untuk pergi.
"Baiklah, aku pergi dulu. Bye Mom, bye Pih." Pria itu pun mengerti.
💖
💖
💖
Bersambung ...
Nah lu ... Udah ketahuan aja. Terus habis ini apaa 🤣🤣🤣🤣
semangat terus kak Fit, tambah sukses dan selalu bahagia 🤲