Gadis berdarah suci ditemukan oleh sang penguasa. Eleanor tidak akan pernah bisa kabur.
Arthur tersenyum menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Hari ke 99
Dengan bibir yang terukir begitu manis di bibirnya, Eleanor mulai melangkah menyeberang jalanan. Kaki dan ujung gaun merahnya basah terkena percikan air.
Jalan di ujung sana jalurnya di tutup, jadi Eleanor harus menyebrang.
Tapi Eleanor tak pedulikan tentang gaunnya yang basah, tatapannya hanya tertuju pada sang suami di seberang jalan sana.
Beberapa langkah mulai Eleanor ambil.
Dahinya berkerut saat melihat Arthur malah berlari ke arah dia, menerjang hujan dan membuat pria itu dalam sekejab basah kuyup.
Dan melihat Arthur yang berlari seperti itu, Eleanor pun mempercepat langkah kakinya untuk bisa menjangkau sang suami
Tapi seperti sebuah takdir yang tak pernah bisa di tebak, tiba-tiba sebuah mobil truk melaju kecepatan tinggi ke arah mereka berdua.
Lampu sorot mobil truk itu menerpa tepat di kedua mata Eleanor, hingga membuat wanita cantik bermata biru itu tergugu.
Hingga dalam sekejab saja, tubuhnya terhempas.
BRAK!!
"ElEANOR!!"
BUGH!
BRAK!
SHAT!!
BRAAKK!!
"ART!!!" pekik Haldez dengan begitu kuat.
Beberapa detik lalu dia pun berteriak memanggil Eleanor, namun kini Hald hanya mampu tergugu.
Arthur hanya sempat mendorong tubuh Eleanor dengan begitu kuat sampai wanita terpelanting cukup jauh, sementara tubuhnya dihantam truk yang melaju cepat.
Kini 2 manusia itu telah terkapar di jalanan yang basah. Bersimbah darrah. Pematta succi di dalam tubuh El terpelanting jauh, darah yang tanpa sengaja masuk ke dalam mulut El membuat permatta itu menghitam.
Kaki Hald gemetar, namun kemudian ingat tentang pesan Arthur. Bahwa di antara mereka Arthur dan Eleanor, yang harus dia selamatkan adalah El.
Berlari di tengah hujan itu, Haldez mendatangi Eleanor, menggendong tubuhnya yang tak berdaya.
"Arthur Hald, selamatkan Arthur," lirih Eleanor, diantara tubuhnya yang tak berdaya.
"Tidak bisa El, aku harus menyelamatkan mu lebih dulu."
Eleanor menggeleng, dengan sisa tenaganya dia bahkan menolak digendong oleh Haldez, dia ingin menghampiri Art dan membawa sang suami ke rumah sakit.
Tapi kaki Eleanor yang terluka benar-benar membuatnya tak bisa bangkit.
Hingga Hald akhirnya menggendong Eleanor dengan paksa dan membawanya untuk menghampiri Arthur.
Ditengah hujan lebat yang menerpa tubuh mereka, Eleanor makin menangis.
Saat belum sempat dia menghampiri sang suami, tubuh Art menghilang seperti kabut.
"Art!"
"ART!!" pekik Eleanor, dia menangis di dalam gendongan Haldez.
Air matanya tak kalah deras dari hujan malam itu.
"Tidak! jangan pergi Art! TIDAK!!" tapi sekuat apapun Eleanor berteriak yang tersisa di sana hanyalah darah merah milik sang suami.
Sementara tubuhnya telah menghilang entah kemana.
Haldez bersimpuh menggunakan lututnya, tak kuasa berdiri melihat kenyataan ini terjadi tepat di depan matanya.
Beginilah nasib siluman yang bermimpi untuk jadi manusia. Pada akhirnya akan menghilang seperti buih.
"Art! ARTHUR!!"
"El, Arthur tidak akan kembali, dia sudah menghilang."
"Jangan asal bicara kamu Hald! permatta succinya ada padaku!"
"Tidak, permatta succi itu juga telah menghilang. Karena itulah kaki mu terluka. "
Tenggorokan Eleanor tercekat, dadanya sesak sekali.
Berulang kali dia menggelang, namun tetap tak bisa membuat sang suami kembali.
"Tidak! ini masih 99 hari, Arthur tidak boleh menghilang!"
"Panggil Arthur, Hald!
"Panggil Arthur!!"
"Aku mohon Hald, aku mohon!!"
Tapi Haldez hanya terdiam, tak peduli meski Eleanor berulang kali memukul dadanya membuat permohonan.
Karena kekuatannya pun tak bisa dia gunakan untuk membawa Arthur kembali.