Amyra wanita muda berusia 21 Tahun, yang terpaksa menikah dengan seorang pria bernama Denny. setelah setahun pernikahan, tak ada kebahagiaan yang didadapatknya.
Suaminya sibuk membahagiakan pelakor, sedangkan Ia harus menanggung derita. ikuti kelanjutan kisahnya ya.
Mampukan ia bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Mendadak
Denny terlihat terburu-buru berangkat bekerja. pagi tadi Rania menelfonnya, jika Ia ngambek karena Denjy sudah lama tidak mengunjungi apertemennya.
Sebenarnya Amyra ingin membicarakan tentang perihal rumah sakit mana yang akan menjadi rujukan mereka saat akan melahirkan nanti. Belum sempat Amyra memberitahunya, Denny sudah terlebih dahulu menghilang dibalik pintu.
Amyra menatap sendu. Ia tidak memiliki teman berbagi, bahkan untuk masalah sepenting ini.
Amyra membersihkannya dirinya dikamar mandi.
Saat membuka underware nya, Ia melihat ada bercak darah dan lendir bening yang keluar dari **** *************.
dari kemarin sore, Amyra merasakan jika terlalu intens buang air kecil.
Dan pagi ini, Ia merasakan ada air yang bening begitu deras serasa seperti buang air kecil.
Minimnya pengetahuan akan tanda-tanda ibu melahirkan, membuat Amyra terlalu ceroboh dan sepele.
Amyra sudah bersiap-siap akan berangkat ke laundry, Ia bergegas keluar dari apertemen.
Saat itu Ia berpapasan denga Sam yang juga baru saja keluar dari pintunya. "kenapa orang ini selalu bisa samaan denganku sih keluarnya..?" Amyra merasa heran, karena Sam selalu saja bersamaan dengannya saat akan berangkat bekerja.
Tidak seperti Denny, yang selalu berangkat lebih cepat. Padahal Amyra selalu berharap mendapat tumpangan dari Denny. Namun semua hanyalah angan belaka.
Amyra mencoba terrsenyum untuk menyapa Sam. Bagaimanapun Sam telah banyak membantunya.
Mereka kini berdua berada dalam satu lift. Tiba-tiba Amyra merasakan perutnya sedikit nyeri, Ia meringis menahan sakit, dengan merapatkan gigi-ginya.
Rasa itu menghilang perlahan. Amyra.kembali tenang.
Sam diam-diam memperhatikan Amyra. "kamu kenapa.? Apa kurang sehat..? Wajahmu terlihat sedikit pucat.." ungkap Sam dengan raut wajah menelisik.
Amyra menggelengkan kepalanya. "tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukankah dokter itu mengatakan jika seminggu lagi akan melahirkan..?" ucap Amyra dengan senyum datar.
"tapi Ia juga mengatakan, jika waktunya dapat maju atau mundur dari perkiraan." jawab Sam mencoba mengingatkan.
Amyra terdiam sejenak. Lalu menatap Sam. "mudah-mudahan tidak meleset dari perkiraan dokter." ucap Amyra penuh harap. Karena Ia belum sempat berbicara kepada Denny, tentang dimana mereka akan merujuk rumah sakit untuk Ia melahirkan.
Sam terlihat sangat khawatir akan kondisi Amyra.
lift terbuka. Amyra berjalan dengan kesusahan. Perutnya yang membesar itu begitu menyulitkannya untuk bergerak.
Sam berjalan mengekorinya, lalu berpisah diparkiran.
Saat Amyra masih menunggu taxy onlinenya, Sam sudah lebih dahulu berada disisinya. Ia kekuar dari mobil, lalu memaksa Amyra masuk ke mobilnya.
Tak ingin menjadi perhatian orang-orang, Amyra akhirnya masuk ke mobil Sam.
saat berada didalam mobil Sam, tanpa sadar Amyra mengeluarkan cairan bening dengan sangat banyak. Cairan itu mirip dengan air seni, tetapi tidak berbau.
Sam mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Amyra gelisah dan juga merasa malu karena Ia tanpa sengaja mengotori jok mobil Sam. Cairan itu kembali keluar lagi dalam jumlah banyak sehingga membuat pakaian Amyra basah.
Ia menatap Sam dengan gugup. Rasa malu membuatnya tergugup.
Sam menoleh kearah Amyra yang tiba-tiba pucat. Jantungnya berdetak lebih kencang karena rasa malu telah mengotori mobil milik Sam.
" Kamu kenapa? Mengapa kamu begitu pucat..?" Sam merasa heran dengan expresi Amyra.
Seeeeerrrr..
cairan bening itu keluar lagi dengan jumlah yang lebih banyak. Hingga akhirnya mata Sam menangkap sesuatu yang tidak beres.
Ia menghentikan mobilnya lalu menepi. Ia memandang Amyra, membuat Amyra ketakutan jika saja Sam memarahinya karena cairan itu.
Sam menyentuh cairan yang menggenang dijok tempat Amyra duduk itu dengan jarinya. lalu Ia mendekatkan ke indra penciumannya.
Dan Seketika matanya terbelalak. " gila.. Ini cairan ketubanmi sudah pecah.!!" Teriak Sam dengan nada panik.
Amyra yang tidak mengetahuinya merasa bingung. "maksud kamu apa..?" ucap Amyra dengan gemetar.
"itu tandanya janin kamu sedang tidak baik-baik saja. Kamu harus kerumah sakit sekarang." ucap Sam lalu memutar mobilnya untuk mencari rumah sakit terdekat.
"tapi aku tidak merasakan sakit diperutku.." sergah Amyra.
"bisa jadi hal lain terjadi, ini akan berbahaya untuk keselamatan kamu dan janinmu" Sam terus melajukan mobinya mencari rumah sakit terdekat.
Amyra merasakan hal uang biasa saja, hanya nyeri sedikit saat di lift tadi. Setelah itu tidak ada rasa kontraksi seperti orang hendak melahirkan.
Sam membawa Anyra kerumah sakit Umum. Hanya itu yang terdekat dari jarak mereka.
Sam meminta perawat membawa kursi ranjang troli untuk pasien.
Setelah perawat datang, Sam membopong tubuh Amyra yang sudah basah dengan cairan ketuban yang membanjiri jok mobilnya. Setelah itu perawat membawanya keruangan UGD.
Sam meminta KTP milik Anyra untuk menyelesaikan administrasi pendaftaran data diri pasien.
"anda ini apanya pasien pak..?" tanya petugas administrasi..
Sam merasa bingung. "saya keluarganya" ucap Sam dengan cepat.
Lalu petugas itu meminta identitas Sam dan mendaftarkannya sebagai keluarga Amyra.
Saat dilakukan pemeriksaan, Amyra telah mengalami kebocoran air ketuban. persediaan air ketuban telah kering, dan mengharuskan Amyra segera melakukan tindakan operasi.
Dokter menanyakan sejak kapan terakhir Amyra makan saat sebelum diantar kerumah sakit.
Amyra mengatakan jika Ia belim sempat sarapan pagi ini dan belum juga meneguk setetespun. Karena setelah mandi tadi Ia langsung berangkat untuk pergi ke laundry.
Maka dijter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi tanpa harus puasa terlebih dahulu. Karena Amyra dianggap sudah berpuasa.
"tetapi saya tidak mengalami kontraksi dok..?" ucap Amyra bingung.
"kami lebih tau apa yang akan kami lakukan bu.." jawab dokter itu.
"tetapi ininkan saya menghubungi suami saya terlebih dahulu, untuk memberikan kabar ink." pinta Amyra.
"bukannya yang membawa ibu kemari tadi itu suami ibu..?" tanya seirang perawat.
Amyra menggelengkan kepalanya sembari tersenyum datar. "dia keluarga saya" jawab Amyra. tidak mungkin Ia mengatakan Jika Sam adalah temannya, maka akan menimbulkan spekulasi yang berbeda dari orang yang mendengarnya.
"baiklah, silahkan hubungi suami ibu lebih dahulu. Kami akan bersiap-siap menunggu diriangan operasi." ucap Dokter itu, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tempat Amyra terbaring.
Amyra berusaha menghubungi Denny. Berkali-kali Ia menelefon Denny, namun tidak tersambung.
Panggilan itu sudah mencapai puluhan kali, namun juga tidak tersambung."kemana sih kamu mas..?" ucap Amyra dengan piku. Hatinya sangat sakit, lalu tiba-tiba Ia tak mampu menahan laju butiran kristal itu jatuh membasahi pipinya.
"mengapa kamu tidak pernah ada saat aku butuhkan mas..?" Amyra berguman lirih.
Seorang perawat datang untuk menjemput Amyra.
Ia sudah tidak dapat lagi menunggu waktu, karena masih banyak yang harus menunggu antrian untuk di operasi.
Amyra dapat segera dioperasi karena Sam telah mengurus semuanya dengan meminta pelayanan terbaik.
Amyra dibawa keruangan operasi, Sam mengikutinya. "kamu harus kuat.." bisik Sam ditelinga Amyra, memberikan kekuatan, agar Amyra tidak takut. Lalu ia terhenti di pintu ruangan operasi, sembari menunggu operasi itu selesai.
Memasuki ruangan operasi yang dingin, dengan wajah-wajah orang asing tang tak ia kenali. rasa takut membayangkan pisau bedah yang akan merobek perutnya membuat Ia mengigil dan tiba2 tekanan darahnya naik.
Lalu dokter meminta perawat memanggil Sam untuk masuk kedalam memberikan semangat kepada Amyra.
Sam yang merasa khawayir lalu mengikuti perawat tersebut. Dokter membisikkan sesuatu kepada Sam. Lalu Sam mengangguk mengerti.
Sam menggenggam jemari Anyra, mengajaknya mengobrol ringan dan bercanda. Saat itu dokter memeriksa kondisi tekanan darah Amyra sudah stabil. Saat Amyra asyik mengobrol, Dokter telah mengangkat seorang bayi mungil dari rahimnya.
Amyra tentu kaget, karena tidak menyadari kapan dokter itu mengoperasinya. Lalu tiba-tiba saja bayi mungil nan cantik sudah ada dihadapannya.
Perawat lalu membersihkan bayi perempuan nan cantik mungil tersebut.
Amyra menangis haru. tanpa sadar Ia menggengam erat jemari tangan Sam.
Dokter mengucap selamat kepada Amyra dan Sam. Mereka lupa jika Sam bukan siapa-siapnya Amyra.
Setelah perawat membersihkan bayi Amyra, lalu memberikan tanda gelang berwarna pink ditangan bayi mungilnya. Disaba tertulis 'nyonya Amyra' .
Lalu perawat meminta Sam untuk meng-iqamahkan bayi perempuan nan mungil itu.
Sam menerima bayi Amyra, lalu tanpa ragu Ia memperdengarkan iqamah ke telinga bayi itu.
Amyra tak mampu membendung laju air matanya. "kemana Denny? Mengapa bukan dia yang melakukannya?.." Amyra tersedu.
Setelah selesai dengan iqamahnya, Sam memberikan bayi itu kedalam pelukan ibunya. Amyra mendekapnya dengan penuh cinta kasih.
Denny bkal menyesal telah bgitu dlm mnyakiti hatimu myra.
Dia nya polos bngt lg😭😭, inget tuan kmu bkal nyesel nyia-nyiain belian sperti Amyra, mungkin disaat Amyra pergi meninggalkanmu kmu baru sadar klo kmu mulai menyukai nya.
Mau liat seberapa kuat Amyra bertahan ya.
Amyra kasiannn bngt ya, iya sih nikah paksa krena bls budi, tp gak gitu juga kli kasih uang 100 rb buat seminggu mn cukup tuan pelit. 😭😢
happy ending
jangan nguntip², nanti ketauan, jd + runyam
jangan² mai n myra melahirkan barengan dan di rumah sakit yg sama
dan juga bantu zain n mai, thor