Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Pertama
Dari sebuah kantor berlantai delapan, beberapa karyawan tampak keluar dari gedung tersebut. Hari sudah gelap ketika kelima karyawan itu keluar dari kantor. Mereka terpaksa lembur karena pekerjaan yang menggunung dan harus diselesaikan secepatnya.
“Nilan, kamu pulang naik apa?” tanya rekan kerjanya, Rama.
“Naik bus.”
“Kenapa nggak naik taksi?”
“Nggak apa-apa. Ada yang mau kubeli dulu di minimarket dekat halte.”
“Mau kuantar?”
“Nggak usah.”
“Yakin? Tapi ini sudah malam,” Rama melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Tenang aja, daerah rumahku ramai kok.”
“Ya sudah, hati-hati.”
Rama segera menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Pria itu melajukan kendaraan roda duanya dengan kecepatan pelan.
Sesampainya di dekat Nilan, pria itu semakin memperlambat laju motornya. Dia sengaja menemani rekannya sampai ke halte.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, bus yang ditunggu Nilan tiba. Wanita itu segera masuk ke dalamnya.
Rama masih tetap di atas motornya hingga bus yang ditumpangi Nilan menghilang di tikungan. Karena khawatir pada wanita itu, Rama memutuskan mengikuti dari belakang.
Tidak sampai dua puluh menit, bus yang ditumpangi sudah sampai di halte yang dituju Nilan. Wanita itu segera turun di halte.
Melihat bus di depannya berhenti, Rama pun menghentikan motornya. Matanya terus mengikuti Nilan yang berjalan menuju minimarket dekat halte. “Syukurlah dia sampai dengan selamat. Sebentar lagi dia sampai rumah. Tapi, apa aku ikuti terus sampai rumahnya?”
Ketika Rama masih menimbang, ponselnya berdering. Pria itu segera menjalankan motornya begitu selesai menjawab panggilan.
Usai membeli beberapa barang, Nilan pun melajutkan perjalanan. Jarak dari minimarket ke rumahnya cukup jauh.
Biasanya dia selalu menggunakan ojek pangkalan saat pulang. Namun malam ini, tidak ada satu pun tukang ojek yang berada di pangkalan.
Nilan menunggu beberapa menit sebelum akhirnya dia memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah. Rumah Nilan berada di bagian ujung. Harus melewati jalan lurus yang cukup panjang.
Seratus meter pertama, masih ada deretan perumahan warga. Namun setelahnya, sekitar tiga ratus meter hanya jalanan sepi. Di sebelah kanan terdapat hamparan sawah, sementara di sebelah kiri terdapat kebun jagung, pisang, dan singkong.
Nilan mendongak saat merasakan titik air menimpa kepalanya. Wanita itu mempercepat langkahnya. Perjalanannya masih cukup jauh.
Suasana di sekitarnya semakin sepi. Tidak ada kendaraan, apalagi orang yang melewati jalan yang dilaluinya. Kepala Nilan menoleh ketika telinganya menangkap suara di belakangnya. Namun tidak ada siapa pun di sana.
Nilan melanjutkan langkahnya, mengira kalau tadi dia hanya salah dengar saja. Namun baru beberapa langkah, suara langkah itu terdengar lagi.
Refleks Nilan berhenti dan suara di belakangnya juga berhenti. Perasaan takut mulai menjalari hatinya. Tanpa menoleh lagi, Nilan melanjutkan langkahnya.
Kali ini wanita itu mempercepat langkahnya, apalagi rintik hujan perlahan semakin deras. Dia berlari kecil agar bisa cepat melewati hamparan sawah dan kebun di kanan, kirinya.
Nilan berhenti sebentar untuk mengambil napas. Wajahnya sudah basah oleh rintik hujan, begitu juga dengan pakaiannya.
Ketika wanita itu hendak melanjutkan langkahnya, dari arah belakang muncul seseorang. Dia membekap mulut Nilan sambil menyeretnya ke kebun jagung yang ada di sebelah kiri.
Nilan berusaha berontak, tetapi tenaga pria di belakangnya begitu kuat. Wanita itu menancapkan kukunya ke tangan sang pria, dan berhasil.
Pria itu melepaskan bekapannya dengan kasar, membuat tubuh Nilan terhuyung ke depan dan jatuh terjerembab ke tanah.
Dengan cepat dia berbalik. Di hadapannya sekarang berdiri seorang pria berpakaian serba hitam. Dia tidak bisa melihat wajah sang pria karena tertutup topeng Rahwana. Topeng berwarna merah menyala, mata lebar, dan senyum menyeringai, membuat bulu kuduk Nilan berdiri.
Nilan beringsut mundur ketika pria di depannya mendekat. Wajah wanita itu semakin ketakutan ketika melihat pria di depannya mengeluarkan palu dari balik pinggangnya. “S-Siapa kamu?”
Pria bertopeng Rahwana itu hanya membisu. Hanya langkahnya saja yang semakin mendekat. “Akh!” Nilan memekik kesakitan ketika telapak tangannya menekan batu hingga terluka.
Sementara pria di depannya hanya diam mematung, tapi dari balik topengnya, matanya menatap tajam pada Nilan. Kepalanya dimiringkan ke kanan, seolah sedang mengamati mangsanya. Dari lubang mata topeng Rahwana, tatapannya tak lepas dari Nilan, membuat wanita itu semakin tercekat.
Tanpa mempedulikan luka dan rasa sakitnya, Nilan berusaha pergi. Dia berbalik kemudian merangkak agar pergerakannya lebih cepat. Namun dia tak mampu bergerak lebih cepat dari pria yang mengejarnya. Dalam waktu singkat pria itu sudah berada di dekatnya.
“AARRGGHH!”
Nilan menjerit kencang ketika pria itu memukulkan palu ke pergelangan kakinya. Tubuhnya langsung terjerembab ke tanah. Ketika wanita itu membalikkan tubuhnya, sang pria kembali menghantamkan palu ke kaki Nilan.
Teriakan dan tangis Nilan terdengar memecah kesunyian di kebun jagung tersebut. Namun sayang, tidak ada satu pun yang mendengar teriakannya.
Kedua pergelangan kaki Nilan sudah tidak bisa digerakkan lagi. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit dan takut yang menyerangnya bersamaan.
“S-Siapa kamu? A-Apa salahku? Tolong lepaskan aku,” mohon Nilan sambil menangis.
Tak menghiraukan permohonan Nilan, pria itu kembali menghantamkan palunya berkali-kali. Bukan hanya ke kaki, tapi juga ke tubuh dan wajah Nilan. Darah yang keluar dari luka hantaman menyebar ke mana-mana.
Tanah tempat Nilan berbaring sudah basah oleh darah wanita itu. Tubuhnya juga sudah tidak bergerak lagi. Dia tidak cukup kuat menahan luka hantaman palu di tubuhnya. Nyawanya hilang seketika saat palu menghantam kepalanya beberapa kali.
Melihat korbannya sudah tidak bergerak, sang pria menghentikan aksinya. Dia kemudian menyeret tubuh Nilan memasuki perkebunan jagung lebih dalam lagi. Setelah berada di tengah perkebunan, pria tersebut berhenti.
Dia mengatur posisi Nilan meringkuk, persis seperti posisi bayi di dalam janin. Kemudian dia mengambil spidol dari saku jaketnya. Dia membuat titik kecil hitam tepat di atas telapak ibu jari kaki Nilan. Selesai melakukan itu, pria itu mengambil kamera polaroidnya lalu memotret Nilan.
Dari balik topengnya dia tersenyum melihat hasil jepretannya. Wajahnya menunjukkan kepuasan tersendiri. Setelahnya dia segera meninggalkan tempat tersebut sambil bersiul pelan, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Selang beberapa jam, hujan masih menyirami bumi. Walau hanya hujan kecil, tapi cukup membuat orang malas keluar rumah. Mereka menarik selimut untuk menghangatkan tubuh agar tidurnya tidak terganggu oleh hawa dingin.
Sementara di perkebunan jagung, jasad Nilan masih tergeletak di sana. Tak jauh dari jasad itu berdiri arwah Nilan. Wanita itu menatap tubuhnya yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Untuk beberapa saat, dia hanya terdiam, seakan belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah mati. “Apa salahku? Kenapa kematianku mengenaskan seperti ini?”
Cukup lama Nilan terdiam di sana sebelum akhirnya tubuhnya menghilang tertiup angin malam.
Dapat Nilan rasakan tubuhnya melayang tak tentu arah. Hingga akhirnya dia mendekati sebuah rumah yang terlihat masih ada kehidupan di dalamnya.
Beberapa pemuda tampak masih bermain game dengan ponselnya sambil sesekali terdengar makian pelan dari mulut mereka.
Nilan mendekati mereka. Dia berdiri di depan empat pemuda yang sedang asyik bermain game, tetapi tidak ada satu pun yang menyadari keberadaannya. Tak mau menyerah dia melambaikan tangan sambil berkata, “Apa kalian bisa melihatku? Tolong aku!”
Semua usahanya sia-sia. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari keberadaannya. Nilan meninggalkan mereka. Dia memasuki kamar demi kamar, mencari orang yang bisa melihat keberadaannya, tetapi hasilnya tetap sama.
Akhirnya Nilan berhenti di pintu terakhir. Sambil berharap penghuni terakhir bisa melihatnya, dia menembus pintu tersebut.
Nilan melihat seorang pemuda sedang tertidur pulas. Tubuh Nilan melayang mendekati pemuda itu. Dengan suara lirih dia berbisik di dekat telinga sang pemuda. “Tolong aku.”
Mendengar bisikan halus di telinganya, pemuda itu sontak membuka matanya. Dia terkejut saat melihat di dekatnya berdiri seorang wanita dengan wajah rusak dan berlumuran darah.
“WHUAAAAA!!!”
***
Nino dan Asep come back🤗
Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5 ya, makasih🤗
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/