Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memorable 20
Duduk termenung sendirian, hanya ditemani sebungkus rokok. Entah sudah berapa batang yang dihabiskan oleh Jason. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dia pun mengakhiri semua ingatannya, dan mematikan rokok yang hampir habis itu.
Jason masuk kembali ke dalam kamarnya, dilihatnya Naomi masih terlelap. Kemudian dia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terkena asap rokok.
Jason menatap wajahnya dalam pantulan cermin di kamar mandi. Sekelebat bayang Jessica kembali diingatnya, jason pun memejamkan matanya. Dia dapat melihat tatapan sendu Jessica saat menatap dirinya.
Jason membuka matanya, tatapan itu mengapa terus saja ditunjukkan oleh Jessica saat di dalam mimpi dan bahkan saat dirinya teringat dengan semua kenangan kelam sang adik.
Jason mendesah kasar. “Ada apa sebenarnya? Mengapa kamu selalu menghantuiku di dalam mimpiku, Jessica?” kata Jason dengan lirih.
“Apa kamu merindukanku? Maafkan Kakak yang belum sempat mendatangi makam kamu,” Jason teringat semenjak dirinya pindah kewarganegaraan, sudah dua bulan tidak mendatangi makam Jessica.
Rasa sayangnya terhadap sang adik, membuat Jason terus merasa bersalah karena tidak bisa melindungi sang adik.
Janice menuruni tangga, dan menyapa sang Ibu yang asyik menyiapkan sarapan untuk mereka. Janice mencari sang ayah, namun tidak ditemukan.
“Dimana Ayah, Bu?” tanya Janice, sambil membantu sang ibu.
“Sedang menerima telepon dari Calvin,” jawab Naomi.
Mendengar nama Calvin, Janice pun sedikit penasaran. Sebenarnya ada rasa rindu dengan pria itu,sudah lama juga dia tidak berkirim pesan dengan Calvin.
Janice tersenyum saat melihat sang ayah sudah kembali dari taman belakang. Jason pun membalas senyuman sang putri.
“Kak Calvin menelpon?” tanya Janice.
Jason mengangguk, sambil duduk di hadapan Janice. “Iya, sepertinya lusa Ayah dan Ibu akan kembali ke negara P. Ayah rindu Bibi kamu,” jawab Jason, seraya tersenyum.
Janice mengangguk paham, namun hatinya merasa sedikit bimbang. Orang tuanya akan pulang ke negara asal mereka. Ada rasa penasaran dalam hati Janice, penasaran akan kabar seseorang di sana. Dia juga sangat rindu kampung halamannya itu.
Jason mengerutkan dahinya, sepertinya dia tahu apa yang ada pikiran putrinya itu. “Apa kau juga ingin ikut ke negara P?” tanya Jason.
Janice tersadar dari lamunannya, dan menggele cepat. “Tidak, Ayah.” Janice tersenyum membalas pertanyaan sang ayah.
“Aku harus kuliah,” kata Janice, menyambung ucapannya tadi.
Jason mengangguk paham. Mereka menikmati sarapan pagi ini dengan khidmat.
*
Harisa duduk di depan cermin, dengan senyum yang manis dan mata yang berkilau. Dia telah lama menantikan momen ini, momen di mana dia akan menjadi pusat perhatian Stendy, pria yang membuatnya kembali ke negara ini.
Harisa telah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian Stendy kembali, setelah kepergian Janjce. Tapi pria itu selalu tampak tidak peduli. Dia telah mencoba untuk menjadi teman baik, menjadi rekan kerja yang baik, bahkan mencoba untuk menjadi lawan bicara yang menarik. Tapi Stendy selalu tampak tidak terkesan.
Tiba-tiba, Harisa memiliki ide. Dia akan membuat Stendy merasa bahwa dia telah melakukan kesalahan besar, bahwa dia telah salah memilih wanita. Harisa akan membuat Stendy merasa bahwa dia telah kehilangan kesempatan besar, dan bahwa dia harus melakukan apa saja untuk mendapatkan dirinya kembali.
Harisa meraih ponselnya, kemudian menghubungi Stendy. Sambungan pertama tidak diangkat oleh Stendy. Kemudian di sambungan ke dua barulah pria itu menerima panggilan telepon dari Harisa. Harisa mengajak Stendy untuk makan malam di apartemennya, dan pria itu pun menyetujuinya.
Namun, baru saja dirinya hendak menaruh kembali ponselnya. Tiba-tiba saja, benda pipih itu kembali berbunyi. Wajah Harisa berubah pias, rasa takut dan malas menerima telpon tersebut menjadi satu. Berapa kali Harisa menarik nafasnya dalam-dalam, dengan penuh keberanian dirinya pun akhirnya menerima telepon tersebut.
“H-Halo,”
“Apa kabar, Harisa?”
Harisa kembali menarik nafasnya, dan membuangnya perlahan. “A-aku baik… Mama.”
“Baguslah kalau begitu, itu artinya kamu tidak lupa apa yang aku perintahkan padamu.”
Harisa menelan salivanya dengan kasar. “Tentu saja aku sangat mengingatnya, Ma.”
“Ingat! Jika kau berani menentangku, maka kau akan tahu akibatnya.”
Harisa memejamkan matanya, dengan tangan terkepal kuat. Sungguh dia merasa sangat kesal pada dirinya sendiri, sebab tidak berani melawan perintah sang mama. Kalau melawan, dia akan mendapat masalah. Ada nyawa yang harus dijaganya.
“Baik, Ma. Aku tidak akan pernah menentangmu,”
Sambungan telepon pun, berakhir. Ponselnya digenggam erat, air matanya pun keluar. Perasaan marah, kesal dan sedih menjadi satu. Ingin meluapkan semuanya, namun dirinya tidak mampu. Tidak ada sosok yang mampu melindunginya, tidak ada sosok yang mau mengerti dirinya.
Sementara itu di perusahaan Stendy sedang sibuk dengan beberapa berkas yang harus diperiksanya. Wajahnya terlihat sangat kusut, sepertinya pria itu sedang tidak baik-baik saja. Stendy memejamkan matanya, sambil memijat keningnya yang sedikit pusing. Helaan nafas kasar keluar dari bibirnya.
“Apa tidak ada satu pun perusahaan yang mau berinvestasi, Rodez?” tanya Stendy, terlihat sedang kusut.
“Lama-kelamaan perusahaan Ayah-ku bisa bangkrut, kalau terus seperti ini.”
Rodez mendesah pelan. “Sayangnya belum ada perusahaan yang berminat untuk menanam saham di perusahaan ini,” jawab Rodez yang sama pusingnya dengan Stendy.
Rodez lama terdiam, tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Mengapa tidak kau meminta bantuan saja pada Owen, untuk membujuk Paman Leo menanam modal di perusahaan Horizon?” kata Rodez, memberi usulan pada Stendy.
Stendy terdiam sejenak, seolah memikirkan apa yang diusulkan oleh Rodez. Dirinya juga baru teringat dengan sahabatnya satu itu. Kedua alisnya berkerut dan menatap Rodez.
“Aku sudah lama tidak melihat Owen. Kemana dia?” tanya Stendy.
Rodez mengerutkan dahinya. “Kau tidak tahu?”
“Apa?”
Rodez mendesah pelan. “Owen dipindah tugaskan ke negara S,” jawab Rodez.
Stendy memasang wajah bingung. “Sejak kapan? Mengapa aku tidak tahu soal itu?”
Rodez memutar bola matanya malas. “Kau terlalu sibuk dengan dirimu sendiri. Padahal Owen sudah mengatakan hal ini di pesan grup,” jawab Rodez, membuat Stendy merasa tak percaya.
“Benarkah?”
Stendy langsung meraih ponselnya dan melihat pesan grup yang sempat terabaikan olehnya. Dirinya cukup terkejut karena di sana sudah banyak pesan menumpuk. Ada ribuan chat yang belum sempat ia buka dalam grup tersebut. Stendy pun, menghela nafasnya. Dia menyerah, tidak mungkin dia membaca pesan dari awal. Akhirnya dia memilih menyerah dan meletakkan kembali ponselnya.
Ponsel itu baru saja diletakkan Stendy, namun tiba-tiba saja berdering. Nama Harisa terlihat di layar ponsel itu.
“Halo,”
“Sayang, maukah malam ini makan malam di apartemenku?” tanya Harisa dari sambungan telepon itu.
“Hmm, boleh. Nanti aku akan ke sana,” jawab Stendy.
“Baiklah, aku akan memasak makanan enak kesukaanmu. Aku juga akan berdandan cantik untuk menyambut kedatanganmu,”
Stendy tersenyum. “Iya, kau tunggu saja kedatanganku nanti malam,”
Rodez menatap Stendy dengan dahi berkerut. Dirinya hanya bisa menggeleng pelan, dengan tatapan tak percaya.
“Aku bingung denganmu, Stendy.”
Stendy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Rodez, setelah dia mengakhiri sambungan telepon dari Harisa.
“Mengapa bingung? Aku baik-baik saja,” kata Stendy, dengan alis terangkat satu.
Rodez mendesah kasar. “Kemarin kau terus mencari Janice dan sedikit mengabaikan Harisa. Tahukah kau, pada saat malam kau mabuk di club, Harisa terlihat sangat kesal padamu. Karena kau..” ada sedikit jeda pada ucapan Rodez.
“Selalu menyebut nama Janice, dan mengatakan kalau kau melihatnya di club malam itu.” Rodez melanjutkan ucapannya kembali.
Stendy mengerutkan alisnya, dan tak lama dia tertawa kecil. “Itu karena aku sedang mabuk. Lihatlah aku yang sekarang, aku tidak mengingat wanita penganggu itu. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya,” sahut Stendy dengan ego setinggi langit.
Rodez tersenyum sinis. “Ya, baiklah. Mungkin kau benar. Tapi aku ingatkan padamu lagi, jika suatu saat Janice kembali ke kota ini. Aku harap kau tidak pernah mengganggunya atau memintanya kembali padamu,” kata Rodez, berbicara dengan begitu tegas.
Stendy mengerutkan dahinya dan tergelak. “Hei! kau dengar ucapanku ini. Jika wanita itu kembali ke kota ini, aku tidak akan pernah memintanya untuk kembali padaku. Aku juga tidak akan memohon atau berlutut di hadapannya,” jawab Stendy dengan begitu jumawa.
Rodez mengangguk, “Oke. Aku harap kamu bisa membuktikan ucapanmu itu, Stendy.” Rodez berdiri dari duduknya.
“Aku ke toilet dulu,” pamit Rodez, sambil merapikan jas yang dikenakannya.
Sepeninggalnya Rodez ke toilet, Stendy tersenyum sinis. “Ck, sampai kapanpun aku tidak akan meminta Janice untuk kembali lagi ke dalam kehidupanku. Memang seharusnya wanita itu pergi dari kehidupanku, agar tidak mengganggu hubunganku bersama Harisa.”
Malam menjelang, Stendy pun telah tiba di sebuah gedung apartemen dimana Harisa tinggal. Pria itu berjalan memasuki lobby, dan menuju lift. Pintu lift terbuka di lantai 9, Stendy keluar dan berjalan di korong unit apartment.
Stendy menekan tombol unit apartment tersebut, dan masuk ke dalam. Alisnya berkerut saat melihat kondisi apartemen yang ditempati Harisa terlihat remang-remang.
“Harisa,” panggil Stendy pada kekasihnya itu, sambil memasuki apartemen.
Alisnya terangkat satu saat melihat lilit yang berjajar, seakan menyambut kedatangannya. Dari arah dapur dapat ia melihat sosok yang dicarinya. Stendy cukup terkejut saat melihat penampilan Harisa.
Harisa memakai pakaian yang begitu seksi, dan membuat Stendy sulit menelan salivanya. Perlahan wanita itu mendekat dan kini jarak keduanya sangat dekat. Harisa mengalungkan kedua tangannya di leher Stendy. Dengan senyum manis yang menggoda, Harisa mulai menjalankan trik liciknya.
“Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Apakah kau sudah lapar?” kata Harisa, sambil memainkan jemarinya di rambut belakang Stendy.
Stendy menelan salivanya, dan tersenyum tipis. “Kamu ingin menggodaku, hmm?”
Harisa tertawa geli, dan menggeleng. “Tidak. Tapi…” Harisa menjeda ucapannya, sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Stendy. “Jika kamu mulai tergoda denganku, bukankah itu bagus. Artinya kamu sangat mencintaiku,” sambung Harisa, membuat Stendy tak tahan ingin menyecap bibir wanita itu.
Ciuman panas pun, tak terelakkan. Tangan Stendy juga aktif menjelajahi tubuh Harisa yang berbalut dress pendek berbahan satin tanpa lengan. Rasa lapar dalam perut Stendy kini kalah dengan hawa nafsunya. Stendy menggendong Harisa seperti seekor koala, kemudian dia membawanya masuk ke dalam kamar.
Ciuman panas yang sudah menjalar hampir seluruh tubuh Harisa, membuat wanita itu semakin menginginkan Stendy. Kondisi Harisa sudah tanpa benang sehelai pun. Sadar akan kondisi tubuhnya, Harisa pun segera membuka kemeja yang dikenakan Stendy, dan dibantu pria itu.
Suara desahan mendayu merdu memenuhi kamar Harisa. Stendy melebarkan kedua kaki Harisa, dan kepalanya kini sudah berada di tengah-tengah. Lidah pria itu bermain cantik pada bagian inti bawah, menciptakan suara desahan yang merdu. Membuat Stendy semakin ingin bermain liar. Harisa menjambak rambut Stendy, seolah menginginkan lebih.
Stendy pun sudah tak tahan lagi, sudah lama ia menantikan ini. Walau semenjak bertunangan dengan Janice, dia tidak pernah menyentuh wanita itu. Sebab, Stendy lebih memilih bermain dengan wanita lain daripada dengan Janice. Itupun dirinya tak menikmati permainan mereka di atas ranjang. Bagi Stendy, hanya Harisa yang mampu membuatnya puas.
Malam ini, Stendy habiskan untuk bermalam bersama Harisa di apartemen wanita itu. Dahulu, keduanya sering melakukannya di apartemen Stendy saat mereka masih menjadi sepasang kekasih saat sekolah. Namun, mereka tidak melakukanya lagi, sebab hubungan yang kandas karena Harisa lebih memilih pindah keluar negeri bersama sang ibu. Membuat Stendy frustasi, dan akhirnya dia memilih untuk ikut berkuliah di luar negeri. Tapi, beda negara dengan Harisa. Karena berkuliah di luar negeri adalah keinginan Fandy, bukan Stendy secara pribadi.
Sementara itu, di sebuah rumah yang terlihat begitu kumuh telah terjadi pertengkaran. Seorang wanita berusia tidak jauh dengan Naomi dan Irene, sedang beradu mulut dengan seorang pria yang usianya juga tidak jauh dengan Fandy.
“Hentikan obsesimu itu, Maria! Harisa juga putriku, dan aku juga punya hak dalam pengasuhannya,” bentak pria itu.
Wanita bernama Maria itu pun, tertawa. “Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Harisa tinggal bersamamu, Liam. Yang ada dia akan hidup melarat sepertimu. Aku sebagai Ibunya tidak akan membuat anakku hidup dalam kemiskinan.” sahut wanita bernama Maria itu.
Liam menggeleng tidak menyangka bahwa sifat mantan istrinya itu benar-benar sangat keterlaluan. Obsesinya yang begitu sangat menginginkan hidup senang dengan harta yang melimpah, masih saja terus diinginkan wanita itu. Dahulu Liam menikahi Maria, karena suatu kesalahan. Ya, Liam yang tidak lain adalah ayah Harisa itu dijebak oleh seseorang yang berakhir tidur bersama Maria. Dua bulan setelah kejadian, Maria dinyatakan hamil. Karena ingin menjaga nama baik keluarga, akhirnya mereka pun menikah.
“Kau benar-benar wanita serakah, Maria. Tidak seharusnya kau menjadikan pelampiasan atas obsesimu yang menginginkan menjadi orang kaya. Dulu saat kau membawa Harisa keluar negeri dengan alasan meneruskan sekolahnya, aku bisa terima. Tapi setelah aku tahu semua kenyataan yang sebenarnya, kau benar-benar membuatku kecewa, Maria.”
Wajah Liam sudah memerah, matanya menyorot begitu tajam pada sosok wanita di hadapannya saat ini. Nafasnya pun, berburu dengan dada naik turun. Tangannya menunjuk ke arah Maria, dia benar-benar sangat marah.
“Kau malah menikahkan Harisa dengan pria yang lebih pantas menjadi ayahnya, hanya untuk menguasai harta pria itu.”
Tawa Maria semakin kencang. “Iya, kau benar. Memang Harisa aku jodohkan dengan pria tua kaya raya hanya demi hartanya saja. Tapi, apakah kau tahu mengapa aku melakukan itu? Itu karena kau tidak mampu memberikan apa yang selama ini aku inginkan. Karena kejadian malam sialan itu, aku gagal menikah dengan pria kaya yang sudah lama aku incar, dan berakhir menikah dengan pria miskin sepertimu.” Maria terus memaki dan mengungkit kejadian kelam di masa lalunya itu.
“Kau benar-benar gila, Maria. Kau wanita gila!” Liam berteriak memaki Maria yang hanya ditanggapi tawa oleh wanita itu.
“Iya, aku gila. Aku gila karena aku menginginkan kekayaan di dalam hidupku. Hahahaha….!”