Bagaimana jadinya jika seorang Mafia berhati dingin memiliki tawanan cantik namun bermulut tajam?
“Arabella, nama yang cukup indah,” gumam Axton dengan nada mengejek. Memang benar nama itu cukup indah, namun tidak dengan nasibnya.
“Nama ku tidak lagi indah saat kau yang menyebutkannya,” desis Arabella dengan tatapan tajam.
Axton tersenyum miring, ia menatap Arabella dengan tatapan kagum. “Tawanan yang cukup menarik, mari kita lihat setajam apa mulut ini dibawah kendali ku.”
Dengan percak-percik yang mewarnani setiap pertemuan mereka, akankah Arabella bertahan dari godaan sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
James Berulah
Arabella duduk disebuah sofa, tak lama suara pintu kamar mandi terbuka, disana Axton sudah mengenakan pakaian yang telah Arabella pilihkan. Jantungnya kembali berdebar tak menentu, wajah Axton terlibat sangat segar, menambah tingkat ketampanan prai itu. Dengan gelisah, Arabella mengalihkan panangannya pada arah lain, dimana ia bisa mengalihkan pikirannya untuk sementara waktu dari Axton.
“Bagaimana tidur mu semalam? Apakah nyenyak tanpa ku?” Tanya Axton. Demi apapun, Arabella mulai menggerutu dalam dirinya, apakah Axton tak merasa malu saat mengatakan hal itu? Apakah Axton merasa dirinya sangat berpengaruh terhadap Arabella?
Arabella menoleh kearah Axton, ia manatap dengan sangat berani sambil berusaha menghapus rasa gugup yang selalu ada jika berada didekat Axton. “Tentu saja tidur ku sangat nyenyak, justru jika bersama mu aku selalu merasa terganggu,” jawab Arabella, ia tampaknya sudah menemukan dirinya kembali. Setelah kejadian panas dua malam kemarin, membuat Arabella sedikit syok dan tak banyak bicara, namun semalam ia sudah meyakinkan dirinya kembali jika ia tak akan pernah terbuai pada pesona Axton!
Mendengar itu Axton terkekeh pelan, ia berjalan mendekati Arabella, “Ku pikir kau merindukan ku, semalam aku tak bisa tidur dan terus memikirkan mu,” ucap Axton pelan, dihadapan Arabella. Tampak jelas Arabella memicikkan matanya beberapa kali, ia terkejut mendengar ucapan Axton. Apakan itu semua benar? Axton memikirkannya?
Dengan cepat Arabella menggelengkan kepalanya keras, ia tidak bisa terbuai begitu saja, Axton pria yang bebas, pria ini memiliki wanita dimana saja, tidak mungkin seorang tawanan seperti dirinya melintas dipikiran pria itu. “Aku benar-benar tidak peduli,” jawab Arabella, dengan sangat pelan ia menelan salivanya, kilatan nakal terlihat di mata Axton, pria itu tersenyum miring.
“Kau memiliki ketertarikan sendiri,” gumam Axton, tubuh tinggi itu membungkuk dihadapan Arabella, wajahnya tampak bersiap menyerbu Arabella.
Namun sebuah deringan ponsel menghentikan Axton, pria itu kembali berdiri tegak dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Wajah pria itu tampak kebingungan dan berjalan kearah balkon, bahkan Arabella melihat Axton menutup pintu kaca itu, seolah memberitahu Arabella untuk tidak keluar dan mendengar percakapannya.
Arabella dengan cepat menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan perlahan, ia harus menenangkan jantungnya yang tak menentu bersama Axton. Harum pria itu masih terasa ada didekatnya, harum yang sedikit segar dengan aroma kayu yang nyaman dipenciumannya.
Sementara Axton, ia menatap taman dibawah sana yang tampak kecil, pikirannya fokus pada informasi yang disampaikan seseorang disebrang sana. “Maaf mengganggu Tuan, hari ini James datang kembali dan ingin bermain judi, ia ingin mendapatkan uang cepat untuk menebus putrinya. Aku sudah menahannya, tapi James terus bersih keras ingin bergabung dimeja.”
Axton mengepalkan tangannya kuat, helaan nafas terdengar keras keluar dari mulutnya. “Apakah dia sudah bodoh?” Gumam Axton. “Awasi terus gerak-gerik James, jika ia sampai berani bermain, bubarkan saja meja itu. Untuk beberapa hari jangan biarkan James masuk ke dalam Casino selama aku tak ada.”
“Baik Tuan, aku mengerti.”
“Dan satu lagi,” ucap Axton, ia menoleh sesaat pada pintu kaca yang memperlihatkan Arabella tengah duduk dengan posisi yang sama. “Carikan saja pekerjaan yang cocok untuk James di markas, beri dia gaji harian seperti yang lainnya,” ucap Axton pelan lalu mematikan panggilan tersebut. Axton menarik nafasnya palan, ia mengibaskan sebelah tangan lalu menekan kuat ponselnya. James benar-benar ayah yang buruk untuk Arabella. Bagaimana bisa Axton memberikan Arabella kembali jika James masih berpikir sempit dalam keuangannya.