Kisah seorang anak yang di buang oleh keluarganya karena memiliki sisik hitam memenuhi sekujur tubuhnya.
Ya, Kania anak itu. Anak yang membuat orang akan takut melihatnya. Akankah dia bahagia atau terpuruk di kehidupan ini. ikuti kisahnya sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. DIGUYUR AIR COMBERAN
Gina dan Rakhel pun segera keluar dari dalam rumah menuju kearah garasi mobil.
Mobil mereka melaju menuju kediaman bi Desi. Jarak tempuh yang tidak terlalu jauh hingga kendaraan mereka tiba juga disebuah rumah sederhana tepat di belakang sekolah dasar tempat dulu Kania dan Rakhel menuntut ilmu.
"Mom, kalau sampai Ayah tahu kalau kita datang melabrak mereka, Ayah pasti sangat marah. Apa Mommy tidak takut dengan ancaman Ayah tadi?,".
"Itu urusan belakang, yang penting babu dan anak sialan itu bisa Mommy beri pelajaran terlebih dulu. Ayo kita keluar dan temui mereka," Gina keluar dari dalam mobil, mau tidak mau terpaksa Rakhel juga ikut walau sebenarnya gadis itu sangat takut dengan ancaman Baron.
Keduanya pun melangkah menuju kearah warung kecil yang berdiri disamping rumah sederhana milik bi Desi.
"Babu, cepat keluar?," teriak Gina saat sudah tiba di depan pintu.
Bi Desi dan Kania yang saat itu sedang berada di dapur segera keluar menemui Gina dan Rakhel.
"Ada apa Nyonya teriak-teriak di sini?, apa Anda tidak malu di lihat dan di dengar oleh para tetangga?,".
"Harusnya Aku yang berkata seperti itu padamu. Dasar babu perusak keharmonisan rumah tangga orang,". balas Gina masih dengan nada meninggi.
"Apa maksud Nyonya?, Saya tidak perna sedikit pun mau mencampuri apa lagi merusak rumah tangga orang. Nyonya pasti sudah salah bila menuduhku seperti itu,".
"Kamu pandai sekali berkilah. Ibu-ibu yang ada di kompleks ini dengarkan baik-baik, perempuan yang berkedok seperti malaikat ini adalah seorang pelakor, dia sudah merayu suamiku dan memberi guna-guna padanya sehingga suamiku tergila-gila dan menelantarkan kami. Jadi tolong hati-hati dan jaga suami kalian darinya,"
Teriak Gina kearah luar, hingga beberapa penghuni di sekitaran sana keluar dari dalam rumah.
"Ternyata Ibu Desi adalah seorang pelakor. Selama ini kita sudah tertipu olehnya. Wajah lugu dan sifat baiknya selama ini hanya kedok belaka untuk menyembunyikan sifat aslinya,". ucap seorang perempuan gembul pada temanya di balik jeruji besi pagar pembatas rumah.
"Aku juga merasa seperti itu, perempuan itu sungguh menakutkan," .
"Kita tidak boleh memponis orang sebelum kita tahu kebenaranya, bisa saja bukan, perempuan kaya itu mengarang-ngarang cerita demi menjatuhkan nama baik Ibu Desi?,".
"Benar apa yang di katakan Bu RT, kita jangan hanya mendengar sepihak. Selama ini Bu Desi itu tidak pernah mencari masalah dengan orang-orang yang ada di kompleks ini, malah dia selalu membantu bila ada diantara kita yang kena musibah, Aku malah curiga perempuan itu ingin menjatuhkan harga diri Bu Desi di depan kita semua,". ujar seorang perempuan yang baru saja datang menghampiri mereka bertiga.
"Rasa kamu babu sekarang?," senyum sinis Gina saat melihat beberapa Ibu-Ibu bergosip ria disana.
"Nyonya Gina dan kamu Nona Rakhel silahkan pergi dari sini sebelum kesabaran Saya hilang,".
Mata bi Desi mulai memerah menahan amarah.
"Memangnya kamu itu siapa berani-beraninya mengusir kami. Ingat Desi, kamu itu hanya babu yang kami angkat menjadi seorang kepala pelayan dulu, jadi kamu tidak ada apa-apanya bagi kami,". tatap sinis Gina.
"Aku hitung sampai tiga kali, kalau kalian masih tidak mau pergi dari sini, maka jangan salahkan Saya bila sesuatu tidak mengenakkan terjadi pada kalian berdua,".
"Coba saja kalau kamu berani,". tantang Gina.
"Baiklah, kalau Nyonya menantang, Kania tolong ambil air comberan bekas cuci piring dan bawa kemari,"
"Baik Bu," Kania yang sedari tadi berdiri disampin Bi Desi segera menuju kearah dapur.
"Mom, Ayo kita pergi dari sini, masa cantik-cantik begini kita harus di guyur air bekas cuci piring mereka," bisik Rakhel pada Gina.
"Kamu tenang saja, mana mungkin mereka berani melakukan hal itu, dulu saja mereka hanya diam bila kita berbuat semena-mena pada mereka," bisik balik Gina yang memang tidak ada takut-takutnya pada ancaman bi Desi.
"Ini airnya Bu," Kania yang datang membawa baskom berisi air bekas cucian piring.
"Terima kasih Nak. Sekarang katakan, kalian mau pergi atau tidak," bi Desi yang sudah mengangkat baskom berisi air dan siap-siap menyiram Gina dan Rakhel.
"Coba saja kalau kamu berani?,".
"Jadi Nyonya masih bersikeras. Baiklah, rasakan ini," bi Desi menyiram Gina dan Rakhel hingga kedua perempuan berpakaian modis itu terguyur habis dengan beberapa sisa nasi dan tulang ikan menempel pada pakaian mereka.
"Mommy," Rakhel mengusap wajahnya sambil meludah kesana- kemari sakin jijiknya dengan aroma yang keluar dari air comberan itu.
"Desi.......," teriak Gina melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Rakhel.
"Kan sudah Saya peringatkan sedari tadi tapi kalian masih bersikeras maka terimalah hasilnya. Kalian sudah bersih seperti piring kotor yang ada di dapur kami ha..ha..ha," bi Desi tertawa senang, baru kali ini dia bisa membalas perlakuan mereka.
"Ibu benar-benar hebat, orang seperti mereka ini memang harus di beri pelajaran agar tidak berbuat semena-mena pada kita. Kania salut pada keberanian Ibu. Rasaain kalian berdua. Dulu kami hanya diam bukan karena kami takut tetapi karena kami menghormati Tuan Baron tapi kali ini kami akan membalas kalian lebih dari ini jika kalian masih berani lagi menggangu ketentraman kami," Kania ikut gembira melihat keadaan kedua perempuan itu yang sudah basah kuyup.
"Kalian berdua benar-benar kurang ajar, Ayo Rakhel kita pulang mandi, Mommy tidak sanggup mencium aroma ini," Gina menutup hidung dan melangkah pergi diikuti oleh Rakhel.
Mobil Gina pergi dengan kecepatan tinggi.
"Ibu merasa sangat bersalah sudah memperlakukan mereka seperti ini," sesal Bi Desi melihat keadaan Gina dan Rakhel tadi.
"Ibu tidak usah menyesal seperti ini, mereka yang sudah keterlaluan berkata yang bukan-bukan tentang Ibu. Siapa pun yang ada di posisi Ibu pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti yang Ibu lakukan tadi. Jika Ibu terus diam maka mereka akan terus memperlakukan Ibu seperti cecungut mereka,".
Kania memijit pundak bi Desi untuk memberikan ketenangan.
Mobil Gina terus melaju dan akhirnya tiba juga di kediaman mereka.
Gina dan Rakhel keluar dari dalam mobil sambil memegangi hidung. Bekas nasi dan beberapa tulang ikan melekat di pakaian keduanya hingga membuat kedua perempuan itu seperti gembel yang ada di emperan toko.
Tuan Baron yang baru saja keluar bersama Arnold seketika menutup hidung melihat keduanya.
"Gina, Rakhel. apa-apaan ini?, kenapa pakaian dan aroma kalian seperti ini," Tuan Baron dengan suara sengau.
"Ini semua gara-gara babu itu. Ayo Rakhel kita masuk membersihkan diri," Gina menarik pergelangan tangan Rakhel masuk kedalam rumah.
"Gina, Rakhel kalian benar-benar tidak ada kapok-kapoknya mengusik kehidupan Desi. Nah, sekarang kalian terima hasilnya, Ayo Arnold kita pergi,".
Keduanya pun segera masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah mewah itu.
JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL TERBARU SAYA DI YOUTUBE. TERIMA KASIH.
semoga saja tuan Baron bisa dengan cepat menyelesaikan urusan nya
apakah Arnold jodoh nya Kania 🤔
dia si Dewi ular 🐍 anak mu bang🤭
tau gak ya kalau Kania itu anaknya Lidia
semangat kak
sukurin lo nyonya GINA yang sombong
wah bisa seru ini cerita nya
semoga Kania dan bi Desi selalu di lindungi oleh ular raksasa itu
aku lanjut aja ah .... semoga tambah seru
kasian bayi itu dia juga tidak mau keluar dengan kulit yang seperti itu