Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rini Sang Hantu Yang Minta Pertolongan Dewi
Pada malam itu juga, Rini mendatangi kediaman dewi. Dewi sedang tertidur lelap ketika Rini datang langsung ke kamar nya.
Rini duduk di tepi kasur Dewi dan menyentuh wajahnya dengan lembut. "Wi... bangun dong," panggilnya perlahan hingga Dewi terbangun dengan terkejut.
"Rin?! Kamu... kamu ada disini?" teriak Dewi dengan suara kecil tapi penuh kejutan. Dia langsung duduk dan meraih tangan Rini, meskipun tidak bisa menyentuhnya tapi rasanya sangat jelas.
"Iya Wi, aku datang " jawab Rini dengan suara lembut. "Aku mau bilang sesuatu padamu tentang Sarah."
Dewi mengangguk dengan serius.
"Aku pernah menemui supir kontainer yang telah menabrakku saat kita naik motor berdua dulu" lanjut Rini, mata nya menyala dengan cahaya pucat. "Tadinya aku sudah siap untuk menakutinya dan bahkan membunuhnya karena dendam... tapi saat dia mulai menangis dan bilang bahwa dia hanya diperintahkan untuk sengaja membunuhku, aku jadi tidak tega."
Dewi terdiam dengan terkejut, menatap Rini tanpa bisa berkata apa-apa.
"Supir itu bilang dia tidak punya pilihan karena anaknya sedang sakit parah dan butuh biaya pengobatan besar," sambung Rini. "Aku mengampuninya.Dari mulutnya baru terungkap semua itu direncanakan oleh Sarah."
"Dia bukan mantan Rizky?" tanya Dewi dengan suara gemetar, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya,," jawab Rini dengan nada penuh kemarahan. "Aku tidak tahu motif dia apa sampai tega membunuhku begitu saja."
"Aku akan balas dendam, Dewi. Aku tidak akan biarkan dia hidup tenang setelah membuat aku harus meninggalkan Rizky dan sudah merenggut kebahagiaan ku dan anakku yang tak punya dosa yang harus nya sudah lahir ke dunia, harus mati juga bersama ku karena ulahnya,aku rela di buat seperti ini, harusnya aku menjadi kecil yang bahagia!" ucapnya dengan suara yang menggelegar.
Dewi segera meraih tangan kosong di udara seolah ingin menahan Rini. "Jangan lakukan hal yang salah ya Rin... mungkin ada cara lain untuk mengatasi semua ini!" pinta Dewi dengan khawatir.
Rini mendekat lagi ke Dewi, wajahnya kini kembali tenang dengan senyuman lembut di bibirnya. "Tolong aku Wi... untuk jaga Rizky dari Sarah," ucapnya dengan suara yang penuh harapan. "Kalo bisa Rizky bisa menjauh dari Sarah sepenuhnya. Aku tidak mau hal buruk terjadi pada Rizky".
Dewi mengangguk dengan tegas, "Iya Rin, aku akan mencoba yang terbaik untuk menjauhkan Rizky dari dia. Aku tidak akan biarkan dia menyakiti orang yang kamu cintai," janjinya dengan suara mantap.
Rini tersenyum lebar, meskipun wajahnya masih tampak pucat sebagai hantu. "Terima kasih ya sahabatku..." ucapnya pelan, lalu melihat ke arah jendela yang mulai terbuka sendirinya.
"Sama-sama Rin," jawab Dewi dengan mata berkaca-kaca, merasa sedih tapi juga kuat karena sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Rini kemudian melayang perlahan ke arah jendela, tubuhnya mulai memudar dan menjadi semakin tembus pandang. Seiring dengan hembusan angin yang lembut, dia perlahan menghilang – hanya menyisakan aroma bunga mawar yang khas dan sepucuk rambut hitam yang jatuh lembut di atas kasur Dewi.
Dewi mengambil rambut itu dengan hati-hati dan menyimpannya di album foto dia bersama rini. Dia melihat pintu kamar yang masih terbuka dan mengambil napas dalam-dalam. "Sekarang giliran aku untuk melindungi mereka, Rin," bisiknya dengan tekad yang kuat.