Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Mulya, kenapa kamu malah menghentikan preman itu?" ucapku saat ingat bagaimana Mulya muncul dari kegelapan.
Mulya diam, ia melihat lurus kedepan. Melihat jalan yang hanya di terangi lampu jalan yang begitu remang-remang.
"Aku tidak mungkin membiarkan Babang melawan perempuan," kata Mulya sambil terus melihat kedepan.
"Alasan yang sangat lucu dan tidak masuk akal."
"Lalu, apa alasan yang ingin kamu dengar dari aku?"
"Tidak ada."
Sesaat, tidak ada kata yang terucap dari mulut masing-masing. Kami hanya terdiam dengan pemikiran kami masing-masing.
"Aku akan antar kamu pulang sekarang Alin," kata Mulya memecah kesunyian di antara kami.
"Lho, kamu yakin ingin mengantarkan aku pulang kerumah."
"Iya yakin, apa yang harus aku takutkan. Asal kamu tahu, aku ini Mulya, orang yang tidak pernah takut pada apapun."
"Maksud aku bukan itu Mulya. Apa kamu yakin ingin mengantarkan aku pulang? Tidakkah kamu berniat untuk menyandera aku, atau menghabusi aku sekalian?" kataku dengan tatapan dingin.
"Jangan bodoh Alina, aku ini manusia normal dan punya hati. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak bisa di terima oleh hatiku."
"Maksud kamu?"
"Tidak ada. Aku hanya tidak mungkin menyingkirkan seseorang yang tidak ingin aku singkirkan."
"Lagian, aku tahu kalau kamu hanyalah sebuah pion catur," kata Mulya lagi.
"Apa kamu bilang!" kataku sangat emosi sekarang.
"Lupakan saja. Nih pakai apa yang seharusnya kamu pakai," kata Mulya sambil melemparkan rambut palsu yang selalu aku gunakan selama ini.
Tidak habis pikir aku sekarang dengan laki-laki yang sedang duduk di sampingku saat ini.
Ntah apa yang sedang ia rencanakan, aku juga tidak tahu. Karna Mulya tidak mudah di tebak, dan sangat sulit untuk mengetahui apa yang ia pikirkan.
"Mulya, apa yang sedang kamu rencanakan sekarang?" kataku dengan penuh penasaran.
"Aku tidak punya rencana apapun Alina. Hanya saja, aku ingin lihat apa yang sedang mama kamu inginkan. Aku ingin mengikuti apa yang mama kamu rencanakan."
"Apa yang akan kamu lakukan dengan mama ku?"
"Tidak ada," jawab Mulya singkat.
Aku terdiam sekarang, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Mulya pikirkan.
"kenapa kamu terlihat sangat bingung?"
"Tidak, aku tidak bingun kok."
"Hmz, jangan bohong padaku, aku tahu apa yang kamu rasakan. Baiklah, aku punya satu pertanyaan padamu Alina."
"Apa itu?"
"Apakah kamu senang dengan apa yang kamu lakukan sekarang? Aku ingin kamu jawab dengan jujur dari hati kamu yang paling dalam. Jika jawaban kamu benar-benar dari hati dan tidak bohong, maka aku akan berpura-pura tidak tahu, siapa kamu sebenarnya."
"Itu pertanyaan mudah Mulya, kamu tidak perlu meminta aku bohong atau jujur. Yang jelas, aku akan menjawab dengan jawaban yang sesui dengan apa yang aku rasakan."
"Kamu tahu Mulya, aku hanya punya satu pilihan dalam hidupku. Aku tidak bisa memilih untuk jalan hidup yang aku tempuh. Aku tidak suka, melakukan apa yang saat ini aku lakukan. Aku tidak suka membohongi semua orang dengan penyamaran yang aku gunakan saat ini," ucapku sambil berlinangan air mata.
"Aku tahu kalau kamu hanyalah sebuah pion catur. Dari jawaban kamu pertama saja, aku sudah bisa merasakannya."
Aku kaget saat Mulya membantu aku untuk menghapuskan air mataku yang jatuh secara perlahan, dengan sebuah tisu putih. Mulya melakukannya dengan sangat lembut.
Aku tahu sejak awal Mulya bilang aku adalah pion catur. Yang membuat Mulya tidak tertarik untuk melukai aku, mungkin alasannya karna aku adalah sebuah pion.
Aku tidak bisa bilang kalau aku ini bukanlah pion catur yang mama jalankan. Karna pada kenyataannya, aku ini memang tidak bisa berjalan sesui yang aku inginkan.
"Jangan sedih, aku akan antarkan kamu pulang kerumah," kata Mulya dengan suara yang sangat lembut.
Ketika Mulya menyentuh lembut pundakku, aku merasakan perasaan nyaman untuk pertama kalinya.
Laki-laki dengan wajah garang dan terlihat sangat berkharisma ini, ternyata, juga bisa bersikap lembut dan penuh kasih.
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe