BEDA
Sebuah karya yang berangkat dari pengalaman pribadi dan inspirasi lainnya, yang saya kemas dalam bentuk cerita dalam novel. Inilah dia BEDA.
Ezra Christian Nasution, dari namanya saja sudah jelas jika ezra adalah anak keturunan Suku Batak. Suku yang terletak di Provinsi Sumatera Utara yang terkenal dengan salam horasnya.
HORAS!!
Ezra dan dua adik kembarnya, erich dan ernest dibesarkan dikeluarga kristen yang taat dan penuh cinta kasih. Sejak kecil mereka bertiga sudah diajarkan arti TOLERANSI yang sesungguhnya oleh dua orang tua mereka, yang dimana mereka bertiga bersahabat dengan gwen dan gibran yang notabennya beragama islam.
Gwen dan gibran merupakan anak dari sahabat kedua orang tua mereka, sehingga persabatan mereka menurun.
Beranjak remaja, ezra menyayangi gwen lebih dari seorang sahabat. Bahkan ia menjadikan gwen tujuan hidupnya, namun sayangnya kisah cinta merka terhalang oleh dinding penghalang yang kokoh yaitu perbedaan keyakinan.
Akankah ezra dan gwen bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
"Ezra..." Gahizka dan Galen terkejut saat Ezra masuk ke dalam ruang rawat inap putrinya.
"Assalamualaikum Uncle, Aunty." Ezra mendekat ke arah Ghaizka dan Galen, kemudian ia mencium tangan keduanya secara bergantian.
"Walaikumsalam, apa kabar Zra?" tanya Galen.
"Alhamdulillah baik Uncle, aku boleh menjenguk Gwen?" jawab Ezra, kemudian ia meminta izin kepada kedua orang tua Gwen untuk menjenguk Gwen.
"Tentu saja, tapi Gwen baru saja istirahat, tadi ia baru selesai minum obat" Ghaizka meminta Ezra untuk tidak membangunkan putrinya yang baru saja beristirahat.
Ezra menganggukan kepalanya kemudian berjalan mendekat ke arah tempat tidur gwen. Dada ezra terasa sesak melihat wanita yang sangat ia cintai terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat dan terlihat sangat kurus hingga tulang pipinya terlihat jelas, ia duduk di samping tempat tidur Gwen memandangi wajah yang selama ini sangat ia rindukan.
"Cepat sembuh sayang, aku akan terus berada di sini menjagamu" ucap Ezra lirih sambil mengelus tangan Gwen.
Ezra meminta ijin kepada kedua orang tua Gwen untuk menginap dan ikut menjaga Gwen, Ghaizka dan Galen pun mengijinkan Wzra untuk bersama-sama menjaga Gwen. Malam itu Ghaizka tidur di Bed Penunggu, sedangkan Galen dan Ezra tidur di Sofabed yang tak jauh dari tempat tidur Gwen
Pukul 01.00 dini hari Gwen terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling kamar rawat inapnya yang nampak gelap dan sunyi karena lampu utama di matikan, hanya ada satu lampu yang menyala yaitu lampu dinding di dekat televisi.
Di dekat sorot lampu dinding tersebut Gwen melihat sosok yang tak asing baginya tengah melakukan ibadah, namun ia tak berani untuk menebaknya. Saat sosok tersebut meloneh ke kanan mengucapkan salam di penghujung ibadahnya, Gwen sangat terkejut.
"Bang Ezra..." bagi Gwen rasanya seperti mimpi melihat Ezra tengah mengerjakan Shalat.
Menyadari jika Gwen terbangun dari tidurnya, Ezra langsung melipat sajadahnya setelah ia mengakhiri salam keduanya.
Ezra berjalan mendekat ke arah tempat tidur Gwen, sementara Gwen nampak menyakinkan jika yang mendekat ke arah adalah Ezra, begitu Ezra berdiro tepat di hadapannya Gwen langsung berhambur memeluk Ezra dengan erat.
"Bang Ezra hiks...." Gwen menangis sejadi-jadinya di pelukan ezra.
"Please I don't want to wake up from this beautiful dream. hiks..." Gwen menangis sambil memeluk Ezra dengan sangat erat hingga tubuhnya gemetar, ia sangat takut jika apa yang terjadi hanyalah mimpi atau halusinasinya dan kemudian mimpi itu akan hilang.
"Jika aku hanya bisa memelukmu dalam mimpi, aku rela untuk tidak bangun dari tidurku. Hiks..." Air mata Gwen semakin deras mengalir di pipinya.
Ezra mengelus lembut punggung Gwen, menenangkan gadis yang menangis di dalam pelukannya itu, hingga Gwen mulai tenang perlahan Ezra melepaskan pelukan Gwen, ia duduk di tempat tidur Gwen kemudian merangkum wajahnya.
"Sayang ini bukan mimpi, aku benar-benar ada di sini untuk menjagamu hingga kamu sembuh" Ezra menghapus air mata gwen yang membasahi pipinya.
Tangisan Gwen membuat Galen dan Ghaizka terbangun, Galen menyalakan lampu seluruh ruang rawat inap Gwen, membuat terang ruangan.
"Mom, please don't wake me up" ucap Gwen kepada Ghaizka yang mendekat ke arahnya, Gwen kembali memeluk Ezra dengan Erat, ia takut jika yang terjadi hanyalah mimpi.
"Ini bukan mimpi sayang, Ezra memang di sini untuk menjengukmu" Ghaizka duduk di samping kiri Gwen kemudian mengelus punggung putrinya dengan lembut.
"Tapi tadi aku lihat Bang Ezra shalat"
"Beberapa waktu lalu aku memutuskan untuk menjadi seorang mualaf, kini aku sudah menjadi seorang muslim. Nanti pagi akan aku ceritakan semuanya, sekarang masih larut malam kamu istirahat lagi ya" Ezra meminta Gwen untuk kembali istirahat, namun Gwen menolaknya, ia takut jika Ezra akan pergi meninggalkannya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan tetap di sini menemanimu. Percayalah!!" Ezra menatap mata Gwen dalam-dalam.
Gwen pun menganggukan kepalanya, ia percaya pada Ezra karena Ezra memang tak pernah membohongi dirinya. Perlahan Gwen kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, kemudian ia mulai memejamkan matanya.
Melihat putrinya kembali istirahat, Galen menyuruh Ezra untuk beristirahat namun Ezra memilih untuk duduk di kursi di sebelah tempat tidur Gwen sambil menjaganya.
Ezra menghabiskan sisa malamnya untuk menjaga Gwen, menggenggam erat tangannya, agar membuat Gwen lebih tenang.
'Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang' Ezra pikir setelah putus dirinyalah yang paling menderita tapi ternyata justru kebalikannya, Gwenlah yang lebih tersiksa batinnya.
Keesokan paginya Felly dan Rey datang untuk menjenguk Gwen, sekaligus mengantarkan baju ganti untuk putra sulungnya.
"Katanya kangen mama? sudah ketemu Gwen mamanya di lupain" gerutu Felly kepada putra sulungnya yang tengah menyuapi Gwen sarapan pagi, Ezra hanya tersenyum malu-malu tak menjawab pernyataan mamanya.
"Cepat sembuh ya sayangnya mama" Felly memeluk dan mencium kedua pipi Gwen, kemudian ia memberikan buket bunga mawar putih kepada Gwen "Bunga yang cantik untuk anak gadis mama yang paling cantik" ucap Felly.
"Thank you ya Mah, Pah udah jengukin Gwen" ucap Gwen sambil mencium tangan Rey, Rey menganggukan kepalanya.
Sambil menyuapi Gwen, Ezra menjadikan moment berkumpulnya kedua orang tua dirinya dan kedua orang tua Gwen untuk menceritakan proses mualaf dirinya hingga ia bersyahadat di Masjid Islamic Center Washington.
"MasyaAllah, Alhamdulillah. Besok kita juma'atan bareng ya. Kamu jangan segan-segan untuk bertanya atau berdiskusi dengan Uncle atau dengan Aunty, atau juga dengan Gibran" Galen memeluk Ezra dengan hangat, Ghaizka pun memberikan ucapan selamat kepada Ezra.
Galen sangat salut kepada Rey dan Felly yang menerima keputusan putranya dengan lapang dada terlebih dengan Rey yang notabennya adalah seorang pendeta.
"Dia sudah dewasa, ia berhak menentukan arah hidupnya. Dan gue yakin sebelum dia memutuskan ini, ia sudah memikirkan semuanya dengan matang" ucap Rey kepada Galen.
Ditengah obrolan hangat kedua keluarga tersebut, terbesit rasa sedih di dalam diri Gwen 'Apakah ini yang dinamakan ujian menjelang pernikahan? sudah susah payah selama ini aku mencoba melupakan Bang Ezra, tapi mengapa Bang Ezra datang dengan menjadi seorang mualaf menjelang hari pernikahanku?' gumam Gwen dalam hati.
"Kok malah melamun? ngeliatin aku seperti itu? aku makin tampan ya?" tanya Ezra sambil tersenyum membuat Gwen salah tingkah.
"Sini aku minum obatnya" Gwen mengambil obat dan segelas air putih dari tangan Ezra, kemudia ia meminumnya.
Tak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa Gwen, kondisi Gwen berangsur membaik, suhu tubuhnya sudah kembali normal berada di angka 37ºC. dan Gwen juga sudah tidak merasakan sakit di kepalanya.
"Jadi kira-kira kapan dok anak saya bisa kembali pulang?" tanya Felly.
"Dalam satu sampai dua hari ini, jika kondisinya terus membaik seperti ini pasien sudah di perbolehkan untuk kembali pulang" kemudian dokter pamit untuk visit ke pasien lainnya.
"Sehat-sehat terus ya sayang, kami semua sangat mencemaskanmu" Felly membelai rambut Gwen dengan lembut.
Gwen menganggukan kepalanya, ia justru merasakan kekhawatiran. Ia takut setelah ia sembuh dan kembali pulang kebersamaan yang kini terjadi akan hilang karena dirinya akan menikah dan tinggal di Surabaya bersama Fahri.
mobil nya mahal yak harga nya👀
queen ragu itu masang nya, liat gelang salib di pergelangan ezra👀
tp cowok kek ezra nyri dmn sih, keknya setia 🤔
.
izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta