SINOPSIS :
"Tuan, aku ini diangkat menjadi sekretaris mu atau kucing ini?" Liora tak percaya, mengapa harus mengurus kucing ini? Liora memang suka sekali dengan kucing, tapi Liora heran mengapa ia harus menjadi asisten pribadi seorang owner perusahaan besar hanya untuk mengurus kucingnya.
Billionaire itu melirik Liora, dalam lirikannya dia menampilkan secarik senyuman yg kecil. Sepertinya dia tertarik pada Liora. Tapi ia segera menepis senyuman nya. Ia mengingat kejadian 5tahun lalu, dan ia tidak ingin jatuh kedalam lubang cinta lagi. Terlalu muak rasanya untuknya.
REGRADS,
Cicankyuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Gita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. PROUD OF LIORA
Liora berlari menuruni anak tangga hingga tersedu-sedu. Air matanya mengalir tak terbendung membasahi pipinya yang putih dan mulus. Terlihat sembab, namun Liora tetap menutupi wajah sedihnya itu.
"Apa yang terjadi nona?" Ucap Anna. Anna menghampiri Liora dengan terburu-buru. Anna adalah salah satu maid mansion David. Dia satu-satunya maid termuda disana. Umurnya setara dengan umur Liora sekarang. Liora menatap Anna selalu berusaha tersenyum. Kepalanya menggeleng-geleng lalu melanjutkan langkahnya untuk berlari ke arah luar mansion.
Brukkkkk
"Aww" Sepertinya Liora menabrak seseorang disana. Liora terbangun dari jatuhnya dan berusaha membersihkan pakaiannya.
"Liora sayang?" ketika mendengar itu segera Liora mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa seseorang yang memanggil namanya. Matanya membulat ketika menemukan sang ayah berada di depannya.
"Daddy?" Liora sangat terkejut sekarang. Mengapa tiba-tiba ada ayahnya di sini? Liora segera menutupi wajahnya tentu karena matanya yang sembab. Liora berusaha berhenti menangis saat itu juga.
"Ada apa Liora? Siapa yang telah membuatmu menangis, nak? Apakah David menyakiti mu?" tanya sang ayah melihat dengan tatapan gelisah ketika anaknya menangis di hadapannya.
"Tidak ayah. Hmm bolehkah aku ikut dengan ayah?" Liora kembali berusaha untuk menahan gejolak rasa sesak karena sedih dihatinya. Tangannya mengusap tetesan air mata yang terjatuh dari matanya.
"Tentu, nak. Kenapa tidak? Apakah kau mau pergi sekarang? Sebenarnya Daddy kesini pun bertujuan untuk membawa mu pulang ke London" ucap sang ayah. Tak sengaja Anna mendengarkan seluruh percakapan antara ayah dan anak itu.
"Iya dad" Liora menganggukan kepala lalu tersenyum. Sang ayah tersenyum, memberikan aba-aba untuk mengikutinya langkahnya menuju mobil. Anna sangat bingung dengan situasi itu. Apa yang telah terjadi? Apakah nona dan tuan sedang bertengkar? Batin Anna.
David mengepalkan tangannya. Rahangnya semakin mengeras. Detak jantungnya cepat dan tidak beraturan. Urat-urat yang berada di kepalanya pun menonjol menandakan David sedang sangat emosi.
"Kenapa Liora? Mengapa kau tidak mau jujur kepadaku? Apakah kau benar-benar mencintai Gerald? Apakah kau tidak melihatku sedikitpun?"
"Kenapa Liora? Mengapa kau menyiksaku seperti ini? Aku memang mempunyai banyak kesalahan fatal kepadamu. Tetapi– Ahh.. maafkan aku Liora, maafkan aku"
David terus meracau dari tadi. Tangan yang mengajak ngajak rambutnya, pikirannya kacau, hatinya pun hancur. David segera mencari Liora. Langkahnya menuruni anak tangga yang tersusun rapi, pandangan yang melirik ke kanan dan kiri untuk melihat di mana keberadaan Liora. Tidak ada sedikitpun batang hidung Liora yang terlihat. Pikiran David tambah kalut. David tidak ingin mengulang masa itu lagi. David sama sekali tidak ingin berpisah dengan Liora. David melihat sesosok asisten rumah tangganya berdiri di depan pintu.
"Hei kau!" David berteriak bermaksud untuk memanggil Anna yang berada disana. Anna sangat terkejut, ia segera membalikkan tubuhnya dan melihat David yang sudah berada di belakangnya.
"I– iya tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap anak dengan tergagap-gagap. Anna masih sangat terkejut mendengar suara bariton itu menggema di telinganya.
"Apakah kau melihat wanita ku?" Tanya David serius menatap Anna. Mata Anna membulat, dia pikir Liora pergi dengan sepengetahuan David. Tetapi sekarang David malah menanyakan Liora kepadanya.
"I–iya tuan saya melihat"
"Dimana wanitaku?" David sedikit merasa lega ketika Anna mengucapkan itu.
"No-no– nona pergi bersama ayahnya tuan. Aku sempat mendengar percakapan mereka. Mohon maaf jika aku lancang tuan" kening David mengerenyit mendengar jawaban yang keluar dari mulut Anna. Paman Alden kesini? Bantinnya.
"Maksudmu Mr. Watsons?" Tanya David heran.
"Sepertinya iya tuan. Karena nona Liora memanggil sebutan Daddy kepada pria itu" jawab Anna menundukkan kepalanya.
"Lalu apalagi yang sudah kau dengar?" David melihat ke arah luar pintu.
"Ehm, nona Liora dan ayahnya akan berangkat ke London tuan"
Boom!
Jawaban Anna membuat David sangat emosi. Mengapa Liora tak berpamitan kepadanya? Mengapa Liora seperti itu? Apakah Liora benar-benar membenci David? David membalikan tubuhnya lalu berlari menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil yang tergantung di sana. Langkahnya sangat cepat, setelah itu ia menuruni anak tangga kembali untuk menuju ke garasi mobilnya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Olla" David menancapkan gas lalu mobilnya melaju mengejar Liora.
***
"Daddy, kemana kita akan pergi sekarang?" Tanya Liora kepada Alden sembari menatap sosok sang ayah disampingnya.
"Ke apartemen tempat dad dan mom menginap sayang" Alden tersenyum mengusap kepala sang anak. Liora mengerenyit, kenapa harus apartemen? Bukankan keluarganya memiliki mansion juga disini?
"Loh mengapa tidak ke mansion, dad?" Tanya Liora heran.
"Ah, saat mom dan dad kesini, mom mu meminta bantuan Marco untuk mencarimu. Dan anak buahnya menemukan apartemen yang di duga milikmu. Saat kita datangi ternyata benar itu milikmu tetapi kau tidak ada disana. Saat aku mengajak ibumu kembali ke mansion, ia menolak. Ia ingin tinggal sementara ditempat mu. Karena ia sangat merindukanmu Liora.. Bahkan tak jarang ia menangis karena memikirkan mu" Lirih sang ayah menceritakan kejadian sesungguhnya. Liora sangat merasa bersalah. Pasti kedua orang tuanya sangat sedih ketika ia menjauh dari mereka.
"Maafkan aku dad. Aku tidak bermaksud untuk menjauhi kalian. Aku cuma ingin hidup mandiri tanpa kemewahan milikmu" Liora berbicara dengan tatapan bersalah. Hatinya sangat sesak, mengetahui bahwa ibunya sering menangis karenanya. Liora merasa menjadi anak durhaka sekarang.
"Tidak apa-apa yang penting kau sudah kembali kepada kami, nak. Oh ya, mengapa apartemen mu berbeda dari sebelumnya? Kau pindah?" Tanya Alden.
"Iya dad. Bagaimana tidak, kalian menemukan apartemen lama ku. Bahkan orangku mendatangiku untuk membawa ku pulang atas perintah mu. Jadi saat aku sebelum bertemu David, sahabatku Velyn sudah mengurus kepindahan ku ke apartemen baru" jelas Liora. Alden tersenyum mendengar penjelasan anaknya. Apapun alasannya, Alden tetap bangga kepada anaknya. Disaat anak-anak muda lainnya ingin hidup dengan kemewahan, tetapi anak semata wayangnya itu justru sebaliknya. Ia sangat ingin hidup mandiri dan juga mencoba menggapai ambisi dan cita-citanya sendiri.
"Dad sungguh bahagia memiliki anak seperti mu, Liora" Alden meneteskan air mata haru sembari menatap Liora. Dengan sigap jari Liora mengusap air mata sang ayah.
"Tetapi, apakah apartemen itu membuat kalian nyaman, dad? Untung saja aku menyewa apartemen ternyaman di kota ini. Jika tidak, mungkin kalian akan sangat tidak nyaman" ucap Liora tersenyum.
"Tentu sangat nyaman sayang. Apalagi kami tinggal sementara di kediaman milik putri kami sendiri yang terus berjuang untuk mencapai keinginannya. Katakan, kau mendapatkan uang sebanyak itu dari mana? Bahkan saat itu kau menolak uang pemberian dad dan mom. Dan ku dengar kau baru mendapatkan pekerjaan setelah dua bulan disini" ayahnya bertanya dengan intens.
"Hmm, aku langsung bekerja saat tiba disini, dad. Walaupun hanya sebagai pelayan restoran. Velyn yang memberikan ku pekerjaan. Aku keluar dari restoran itu ketika orangmu sudah mulai mengetahui keberadaan ku. Yah walaupun aku hanya bisa menyewa apartemen itu selama enam bulan, bukan membelinya. Aku gunakan seluruh gaji ku saat bekerja di restoran dan juga separuh tabunganku saat bersekolah hingga berkuliah" Liora dengan percaya diri menjelaskan detail kepada ayahnya.
"Tabungan?" Alden menaikkan sebelah alisnya.
"Oh dad, jangan lupakan bahwa anakmu ini sangat suka menabung!" Liora menggerutu. Alden tertawa mendengarnya. Tentu saja Alden tidak lupa, tetapi ia tidak menyangka putrinya melakukan sejauh ini. Putrinya sangat hebat. Bahkan kehebatannya sudah melampaui dirinya.
"Aku benar-benar sangat bangga memiliki putri seperti kau, Liora" Alden memeluk erat anaknya. Alden sangat berterima kasih kepada Tuhan karena sudah dikaruniai seorang anak yang sangat hebat. Hatinya sangat baik dan tulus. Bahkan sang supir yang mendengar semua itu pun ikut terharu dan juga bangga kepada Liora.
-To be continued-
**Note :
Gimana ceritanya udah semakin seru belum? Oh iya kalau bener-bener banyak peminatnya, banyak yang komentar, like dan juga vote, besok aku mau DOUBLE UP nih. Tapi kalau gamau juga gapapa sih hehehe.
Regrads,
Cicankyuu.
dr td q bc smua ny tnggung2 smw
😢
....
semangat thor
turut berdukacita untuk kucing'nya
turut berduka cita tuk c empus nya..
penasaran...
semangatttttttt