"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
"Jelaskan dengan singkat, saya tidak punya banyak waktu?!" Arka menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, ia tidak ingin banyak berbasa-basi karena ia masih harus ke perusahaan setelah ini.
Semua diam tanpa ada yang berani berbicara, termasuk Mentari. Bukan ia takut pada Arka atau yang lainya, melainkan ia sedang berdoa semoga rahasia nya tidak terbongkar.
"Kamu!" Arka menunjuk Mita, "Jelaskan!"
Arka ingat jika murid yang satu itu adalah yang masuk tanpa permisi ke ruangannya, ia sudah mendengar dari Nia jika perkelahian itu terjadi karena membahas dirinya.
"Pak.....saya minta maaf."
Arka mengibaskan tangannya dan tidak perduli, kemudian ia menatap Lala, "Jelaskan!"
Lala juga memasang wajah takut, tapi karena Arka terus menatap dirinya Lala mencoba memberanikan diri, "Jadi Pak, tadi......Mita ngotot banget pengen tahu kenapa dan apa alasannya kenapa Mentari bisa sedekat itu dengan Bapak?" Lala berbicara dengan kepala yang menunduk, tidak lupa tangannya juga memeras tangan yang satunya.
Arka menatap Mentari, sesaat kemudian ia menatap Mita, "Apa saya dekat dengan Mentari? Apa kamu mau tahu mengapa saya dekat dengan Mentari? Apa itu perlu?!" tanya Arka.
"Aduh......." Mentari memegang kepala, Mentari merasa takut dan ia ingin semuanya segera selesai tanpa Arka mengatakan apa-apa.
"Lu Napa Tar?" tanya Rika panik.
"Sakit Rika, pala gw aduh....." Mentari berpura-pura sakit kepala hingga semua menatap dirinya.
Arka tahu istrinya itu tengah berusaha menghindar, dan ia pun tahu Mentari pasti tengah merasa takut kalau sampai kepala sekolah tahu tentang status mereka, dan yang paling mengerikan adalah ia takut sekali di keluarkan dari sekolah. Arka tersenyum samar bertapa polosnya Mentari yang tidak mengerti posisinya siapa, padahal posisi Mentari adalah istri pemilik sekolah dan apa yang ia takutkan. Dan hal yang paling membuat Arka ingin tertawa adalah kepala sekolah tahu jika ia adalah istri Arkana Anggara Wijaya, hanya saja tidak dengan guru yang lainnya karena memang Mentari masih bersekolah dan tidak baik bagi murid yang lainnya.
"Aduh Pak Arka.....Tari juga sakit perut," Mentari melihat Arka biasa saja hingga ia beracting dengan cara lain dan salah satunya adalah berpura-pura sakit yang lainnya, "Aduh Pak," Mentari terus berputar-putar kesakitan di hadapan yang lainya.
"Kita ke UKS yuk," Lala dan Rika terlihat panik hingga keduanya bersamaan ingin membawa Mentari.
"Pak, boleh ya kita antar Tari ke UKS?" pinta Rika dengan ragu-ragu.
"Tidak!" kata Arka dengan jelas.
Rika, Lala saling pandang, keduanya merasa Arka tidak punya hati karena tidak mengijinkan Mentari untuk di obati.
"Tapi kasihan Mentari Pak..." lanjut Lala.
"Kalian semua saya minta bersihkan toilet selama satu minggu!" kata Arka tanpa bisa di bantah lagi.
"Satu Minggu?" Mita menatap kuku panjang yang sangat cantik di tangannya, "Pak?" Mita menatap Arka dengan raut wajah melas berharap Arka merubah keputusannya.
"What's.....Kak Lo," Mentari cepat-cepat menutup mulutnya, karena hampir saja keceplosan memanggil Arka dengan panggilan Kakak.
"Kak?" tanya Lala yang merasa tidak salah mendengar, begitu pun dengan yang lainnya.
"Mampus," Mentari bergumam kemudian ia tetap berusaha tenang, "Maksud aku Pak," Mentari merasa ia berhasil mengelabui yang lainnya, "Pak, perut aku sakit banget," kata Mentari lagi dengan wajah yang di buat sepucat mungkin.
Kringggg....
Bel pulang berbunyi dan Arka menata ABG di depannya.
"Mentari kamu ikut saya, yang lainya bubar dan besok bersihkan toilet....Mentari juga besok bersihkan toilet!" kata Arka.
"Tapi Pak kenapa saya sama bapak?" bukan Mentari namanya kalau tidak punya banyak ide untuk membantah.
Yang lainya ikut mendengarkan alasan Arka, karena memang semuanya cukup penasaran, "Kamu mau saya bawa ke rumah sakit, karena kamu bilang sakit dan yang lainnya langsung pulang ke rumah!" perintah Arka.
"Iya Pak..." semua langsung bangun dari duduknya dan keluar dengan langkah cepat, karena tidak ingin membuat hukuman mereka semakin bertambah.
"Pak saya juga permisi," pamit Nia seorang guru namun ia menatap Mentari yang masih berada di ruangan tersebut, "Pak Arka, apa tidak lebih baik Mentari saya saja yang mengantarkan ke rumah sakit?" tawar Nia.
"Silahkan," kata Arka dengan sura dalam dan tertahan nya.
"Emmm.....nggak usah Bu," Mentari cepat-cepat menolak, karena kalau Nia yang mengantarkannya ke rumah sakit ia bisa ketahuan berbohong, "Tari udah baikan kok," lanjut Mentari lagi.
"Kamu yakin Mentari?"
"Yakin Bu, Tari pamit ya Bu," Mentari cepat-cepat keluar dari ruangan Arka, bahkan tanpa ada sedetikpun waktu untuk ijin pada Arka karena ia takut malah akan menyudutkan dirinya kembali.
Kini Mentari berdiri di depan gerbang sekolah, ia menunggu temannya untuk mengantarnya pulang. Namun sayang yang datang bukan teman tapi suaminya sendiri, dan mobil Arka berhenti di hadapan Mentari dan lagi-lagi menjadi perhatian murid lainnya. Arka membuka kaca mobilnya dan menatap Mentari.
"Masuk!"
Mentari menatap kesekitarnya, dimana banyak yang melihat kearahnya.
"Nggak usah Pak, makasih tumpangannya," kata Mentari dengan hati yang takut dan berusaha tetap tenang.
"Masuk!" tatapan Arka terlihat begitu tajam dan mungkin juga ia sedang menunjukan ancaman pada Mentari.
"Tapi Pak," Mentari tetap berusaha menolak, namun karena Arka terus menatap nya dengan tajam terpaksa Mentari naik ke mobil Arka, sedetik kemudian Arka melajukan mobil miliknya meninggalkan sekolah. Di perjalanan Mentari sangat kesal pada Arka, ingin sekali ia menelan Arka hidup-hidup, "Kak, lu apaan sih? Sengaja tadi di kantin bikin satu sekolah geger!" teriak Mentari.
Arka tidak perduli dengan Omelan Mentari, karena suara Mentari sudah menjadi makanan sehari-hari Arkan. Dan mungkin juga ia sudah mulai terbiasa dengan suara heboh Mentari, hingga terlihat tetap tenang.
"Kak ARKANA!!!!!!!" teriak Mentari tepat di gendang telinga Arka.
Citt.
Arka mengerem mobil dengan tiba-tiba, karena suara Mentari yang bisa membuat gendang telinganya pecah. Sesaat kemudian Arka mulai menatap Mentari.
"Dasar bocah, kamu pikir kamu saja yang punya mulut! Saya juga punya!" Arka menjitak kepala Mentari.
"Ish....kan sakit tau Kak!" gerutu Mentari sambil menggosok kepalanya.
"Kenapa kamu hari ini hanya sekali membuat ulah?!"
"Itu semua karena Kakak!" jawab Mentari.
Arka menarikan sebelah alisnya, dan ia menantikan lanjutan dari perkataan Mentari.
"Kakak yang suka banget ngasih tumpangan ke Tari, Kakak juga tadi di sekolah pelit sama Tari Sampek Tari harus berusaha rebut dompet Kakak dan Mita lihat, di tambah lagi pas di kantin," Mentari meremas udara dan ia ingin memukul Arka, "Terus tadi apa? Pas Tari sama yang lainnya di bawa ke kantor Kakak mau bilang kalau Tari ini istri Kakak kan!"
Entah apa yang di pikirkan Arka ia hanya diam sambil melihat semua exspresi Mentari, wajahnya terlihat datar namun sebenarnya ia gemas pada bocah berstatus istri nya yang sibuk mengomel. Dengan dada yang naik turun tidak jelas.
"Kakak denger Tari nggak sih?!" Mentari sadar Arka terlihat santai dan terkesan tidak perduli.
"Brisik!" Arka menyentil dahi Mentari, kemudian ia kembali melajukan mobilnya.
"Sakit!!!!!!" teriak Mentari.
Arka hanya tersenyum dan di hatinya tertawa melihat istri konyolnya, dengan segala perasaan gemas juga.
***
Vote dan Like.....
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.