Perjodohan antara CEO kaya dan tampan dengan wanita bertubuh tambun. Semua itu adalah keinginan dari kakek kedua pasangan tersebut sewaktu mereka masih sama-sama muda.
Karya ini hanyalah fiksi semata. Jadi jika terdapat hal yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dengan keinginan para readers. Mohon dimaafkan. Karena semua cerita ini hanyalah khayalan author semata.
Terima kasih, terus dukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Shaka dan Ines menghadap Erik. Mereka berdua menerima tamparan yang cukup keras dari Erik di bagian pipi mereka masing-masing. Erik sangat marah, karena rencananya kembali gagal.
"Pa, ini negara hukum, kita nggak bisa langsung bun*h dia gitu aja." ucap Shaka mengingatkan Erik.
"Persetan dengan hukum.. Papa kecewa sama kamu yang berusaha melindungi wanita itu." ucap Erik dengan geram.
"Apa kamu suka sama dia?" tanya Erik curiga.
Shaka terdiam. Dia memang sepertinya mulai tertarik dengan Kimora. Itu sebabnya dia tidak bisa menyakiti Kimora. Dan merasa bersalah karena telah membohonginya.
"Dan kamu.."
Plakk...
Erik menampar Ines untuk kedua kalinya. "Kamu memang orang yang tidak tahu diri!!" ucap Erik dengan marah.
Ines memegangi pipinya yang sakit sambil menundukan kepalanya. "Maaf, pa.." ucapnya.
"Kita harus secepatnya mengatur rencana lagi. Kita culik istri Alfarezi untuk memancing Alfarezi masuk ke perangkap kita!"
"Shaka nggak setuju pa!"
"Kenapa? Kamu beneran suka sama dia?" Erik yang kesal, bertanya dengan berteriak.
Prangggg..
Erik juga memecahkan vas bunga untuk melampiaskan amarahnya.
"Alfarezi nggak cinta sama Kimora, jadi meskipun kita culik dia, itu tidak akan mempengaruhinya. Kedua, rencana kita sudah digagalkan oleh orang-orangnya Alfarezi, jadi aku yakin, mereka untuk saat ini telah memperketat penjagaan. Sebaiknya kita tunggu sampai mereka lengah, dan merasa kita sudah kalah." Erik memicingkan matanya. Apa yang dikatakan Shaka memanglah sangat masuk akal.
Mereka perlu mengambil langkah kuda. Mundur selangkah kemudian maju tiga langkah. Erik setuju dengan pendapat Shaka.
"Kalau gitu, kamu boleh pulang!" ucap Erik ke Shaka.
"Untuk kamu, sebaiknya kamu pergi, jangan sampai aku melihat kamu lagi!" ucap Erik dengan sangat kejam kepada Ines.
"Pa, maafin aku pa, jangan usir aku. Aku ngaku aku salah, aku minta maaf pa." ucap Ines berlutut di depan Erik.
"Aku janji akan lakukan semua yang papa perintahkan, aku nggak punya tempat tinggal lagi pa, maafin aku." Ines menangis sembari memegangi kaki Erik. Akan tetapi dengan kejam Erik menendang Ines menjauh darinya.
"Jangan muncul di depan aku, kalau aku nggak panggil kamu! Pergi!" ucap Erik pelan tapi jelas terdengar amarah di dalamnya.
Ines kembali memohon di kaki Erik. Tapi Erik tidak memiliki hati, dia menendang perut Ines sampai Ines terlempar dua meter. "Akh..." erang Ines kesakitan.
Shaka pun merasa kasihan dengan apa yang dialami Ines. Dia pun membantu Ines berdiri dan mengajak pulang ke apartemennya. Karena biar bagaimanapun, Ines seperti itu juga karena dirinya.
Apa yang Ines lakukan hanya untuk membuatnya bahagia. Hanya ingin menunjukan cintanya untuk Shaka.
Ines sudah memikirkan akibatnya sebelumnya. Tapi dia tidak menyangka jika Erik akan sangat kejam dan tak berperasaan.
Akan tetapi disisi lain. Ines merasa bahagia karena dia bisa mendapatkan perhatian dari Shaka. Itu sebanding dengan apa yang telah dia korbankan.
"Kenapa kamu sangat gegabah?" tanya Shaka menyesali semuanya.
"Aku nggak tega lihat kak Shaka terluka." jawab Ines.
"Tapi kamu tahu akibatnya sekarang? Papa ngusir kamu, beruntung kamu tidak langsung dibun*h papa." Shaka masih merasa apa yang dialami Ines itu sangatlah ringan. Shaka bahkan berpikir jika papanya akan langsung membun*h Ines. Seperti itulah yang dia tahu tentang keberingasan Erik.
"Kalau aku terbun*h, apa kak Shaka akan merasa kehilangan?" tanya Ines dengan serius. Dia juga menatap Shaka dalam.
Sementara Shaka terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan Ines, hanya terua fokus mengemudi. Dari awal, dia tidak pernah memiliki perasaan untuk Ines. Ineslah yang berinisiatif membantu Shaka balas dendam.
"Kak Shaka beneran suka sama Kimora?" menghadapi kebisuan Shaka, Ines pun merasa sangat kecewa dalam hatinya.
Shaka masih saja diam. Sampai mereka sampai diapartemen sederhana Shaka. Shaka meminta Ines untuk membersihkan diri dan tidur di kamar sebelah.
"Kenapa kita nggak tidur bareng aja?" Ines mencoba menggoda Shaka dengan trik yang biasa dia lakukan ke Alfarezi.
"Aku udah lama haluin rasanya tidur bareng kak Shaka." Ines mulai membuka bajunya.
Sekarang Ines hanya memakai dalaman saja. Dengan melekuk-lekukan tubuhnya, Ines berjalan mendekati Shaka yang sibuk dengan ponselnya.
Shaka berusaha menghubungi Kimora tapi tidak direspon sama sekali oleh Kimora. Shaka meninggalkan pesan permintaan maafnya. Berharap Kimora akan membaca penjelasannya.
Ines mengalungkan tangannya dan duduk dipangkuan Shaka. Ines juga menciumi Shaka. Saat itu Shaka terlalu malas menanggapi Ines. Dia hanya terus fokus dengan ponselnya.
Tapi, saat Inea dengan lancang merebut ponsel Shaka. Saat itu juga, Shaka mulai marah dan mendorong Ines sampai terjatuh.
"Aw..." Ines memegangi perutnya. Bekas tendangan Erik itu masih terasa sakit.
Shaka kembali bersimpati kepada Ines. Dia membantu Ines berdiri. "Jangan pernah macem-macem, kalau nggak, aku juga akan usir kamu dari sini!" ucap Shaka dengan sangat dingin. Kemudian meninggalkan Ines dan berjalan menuju kamarnya.
****
Kimora tertidur dengan sangat pulas setelah kelelah melayani suaminya. Sementara Alfarezi masih belum bisa tidur. Dia masih menyimpan amarah ketika teringat pengkhianatan Ines.
Tak pernah terpikirkan sama sekali kalau ternyata Ines adalah musuh di dalam selimut. Meskipun dia tidak terlalu merasa sakit. Tapi kenangan yang telah terjadi selama 5 tahun. Tidak mudah untuk dilupakan.
"Brengs*k." gumam Alfarezi kesal. Dia menyayangkan cinta yang telah dia berikan kepada wanita itu. Menyesali pengorbanan yang telah dia lakukan untuk sebuah pengkhianatan.
Tak lama kemudian dia memutuskan untuk menghubungi Boy. Dia ingin mengucapkan terima kasih karena kesetiaan Boy kepadanya.
"Besok aku transfer bonus kamu!"
"Kebetulan, uang aku juga udah habis. Makasih kalau gitu."
"Boy, makasih untuk kesetiaan kamu!"
"Nggak masalah, aku hanya lakuin semua itu demi Kimora." Tentu saja perkataan Boy tersebut membuat Alfarezi kaget sekaligus marah.
"Maksud kamu apa? Kamu suka sama istri aku?" tanya Alfarezi dengan marah.
"Aku hanya ingin lindungi dia." ucap Boy semakin membuat Alfarezi kesal.
"Bercanda." imbuh Boy. Dan seketika membuat Alfarezi bernafas lega.
"Jangan pernah punya pikiran seperti itu! Dia istri aku, aku tidak akan biarin siapapun rebut dia dari aku." Boy tersenyum di balik telepon. Itulah yang ingin Boy dengar dari mulut Alfarezi.
Tapi jika seandainya Alfarezi tidak marah tadi. Faktanya Boy ingin mengatakan kalau apa yang dia ucapkan itu sungguhan. Dia ingin sekali melindungi wanita bertubuh gemuk tersebut.
"Kamu tidur! Bukankah seharusnya ini malam yang indah." ucap Boy tersenyum diseberang telepon.
"Boy, apa kamu nggak pernah punya pikiran untuk menikah?" tanya Alfarezi. Tapi Boy tidak menjawab pertanyaan Alfarezi. Malah justru mematikan teleponnya tanpa pamit.
Tentu saja, apa yang Boy lakukan tersebut membuat Alfarezi tidak puas. Dia mengumpati Boy dari jauh. Tapi memang seperti itulah Boy kalau ditanya soal wanita yang dia suka. Dia akan selalu menghindar dan tidak menjawab.
"Aku yakin, dia sebenarnya memang pecinta lobang kerut." gumam Alfarezi masih kesal karena Boy memutuskan panggilannya begitu saja.
Alfarezi mulai tenang dan tersenyum ketika melihat istrinya yang tidur dengan sangat pulas. Dia ingat janji yang dia ucapkan tadi. Kemudian dengan lembut mengelus rambut Kimora dan mengecup pipi bakpao Kimora.
"Apakah kamu memang takdir aku?" gumamnya.
"Selamat malam endutku." ucapnya lagi.
big no
JENGKEL DGN TOKOH SUAMI LO SI ALFA, TPI KDG2 LBH JENGKEL DGN KARAKTER TOKOH LOO..