Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin
Aku terbangun sangat terlambat hari ini, tidurku terasa lebih nyenyak dari biasanya, mungkin karena aku terlalu lelah belakangan ini, tetapi jantungku kembali berdegub kencang ketika mengingat ciuman itu, aku merasa seperti gadis yang tengah jatuh cinta lagi, tapi aku buru-buru menepis pikiran itu, karena aku tahu posisi kami yang tak memungkinkan.
Dreeet Dreeettt, getar ponselku menyadarkanku dari lamunanku tentangnya,
Mas Arlo Calling….
“Heeem” jawabku
“Assalamualaikum jutek” sapanya yang membuat aku sebal
“Wa’alaikumsalam” jawabku dengan nada malas dan serak khas seperti orang baru bangun tidur
“Baru bangun tidur ya? Ih tuh beleknya bersihkan dulu” ledeknya
“Ihhhh apa’an sih” balasku sambil cemberut
“Gak usah pake cemberut, aku cium lagi low ya” katanya menakut-nakutiku
“Yeeee itu sih mau mu”
“Memanggg, tapi ada yang keenakan juga tuh” ledeknya yang sukses membuat aku semakin malu
“Aku tutup nih teleponnya” ancamku karena sudah terlanjut malu
“Hahahaha iya iya maaf jutek” katanya meminta maaf tapi tetap mengataiku “jutek”
“Ada apa mas telepon?” Aku mencoba menetralkan suaraku
“Duh manis banget suaranya kalau begini hehehe” katanya mencoba merayu “masih jadi pengajuan perceraian? Atau mau dibatalkan?” Tanyanya
“Jadi, jadi mas” jawabku cepat
“Cepet banget jawabnya, hahaha. Ya udah aku minta buku nikah mu sama ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani, kamu bisa ke kantorku? Atau mau aku suruh pak Aman yang ambil berkasmu?”
“Tapi buku nikahku ada dirumah Bagas mas, nanti aku minta tolong mbak Sari buat ambil ke rumah sana dulu ya”
“Ok kalau gitu nanti siang atau sore aja berkasnya kamu tanda tangani”
“Mas, aku takut ketemu Bagas kalau kekantormu” aku menjelaskan jika aku malas bertemu Bagas jika aku harus kekantornya
“Hahaha, kamu kesini setelah jam pulang kantor aja, Bagas biasanya pulang tepat waktu kok, aku lembur hari ini dan pak Aman aku tugaskan mengambil berkas yang ada di luar kota, kamu gak pa pa kan kesini sendiri?”
“Iya mas gak pa pa, kalau gitu nanti aku hubungi kalau aku sudah mau berangkat” kataku
“Ok jutekku, Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” aku meletakkan ponselku di tempat tidur dan berjalan keluar kamar mencari mbak Sari yang ternyata baru keluar dari kamar mama
“Mama mau makan mbak?” Tanyaku pada mbak Sari
“Hanya dua suap non” jawab mbak Sari dengan sedih
“Ya udah gak pa pa mbak, nanti disuap lagi aja” kataku kemudian
“Iya non” kata mbak Sari yang akan berjalan kedapur
“Eh iya mbak” kataku menghentikan langkah kaki mbak Sari
“Boleh minta tolong gak mbak?” Tanyaku pada mbak Sari
“Tolong apa non?” Tanya mbak Sari penasaran
“Tolong mbak Sari kerumah, ambilkan surat-surat berharga saya yang ada di laci lemari saya, dan semua perhiasan yang saya simpan di kotak didalam lemari gantungan baju mbak” kataku menjelaskan
“Insyaallah bisa non, sekarang atau nanti non?” Tanya mbak Sari kemudian
“Mbak Sari siap-siap aja dulu nanti saya pesankan ojek online kalau sudah siap”
“Baik non saya siap-siap sebentar” kata mbak Sari dan berlalu pergi menuju kamar tamu
Tak lama berselang mbak Sari sudah siap untuk pergi dan aku memesankan ojek online dan berpesan pada mbak Sari untuk segera menghubungi ku jika semua sudah selesai di ambil, agar aku bisa memesankan ojek online kembali.
Dua jam berselang dari mbak Sari pergi, mbak Sari menghubungi ku untuk segera di pesankan ojek online, karena dia sudah selesai mengambil pesananku.
Setelah mandi aku menemui mamaku,
“Mama” sapaku pada mama yang sedang melamun di tempat tidur
“Iya nak” jawab mama sambil menoleh ke arahku
“Mama makan yang banyak ya, aku gak mau mama sakit, aku cuma punya mama aja sekarang” kataku sambil memeluk mama dan bersandar dipundak mama
“Masa depanmu masih panjang nak, kejarlah cita-citamu, jadilah dirimu sendiri, jangan terpengaruh apapun yang ada disekitarmu yang berusaha ingin membuatmu jatuh, tugas papa dan mama sudah selesai mengantarkanmu sampai kamu dewasa” kata mama menerawang jauh
“Aku masih butuh mama, butuh semua doa mama, butuh peluk mama” kataku kemudian
“Doa mama akan selalu menyertai langkahmu, jangan pernah terpuruk dalam kesedihan, sesungguhnya yang datang pasti akan pergi hanya waktu dan caranya yang berbeda”
Aku hanya terdiam tak ingin menjawab mama lagi, aku hanya ingin memeluk mama erat.
Mbak Sari sudah datang dan menyerakan semua barang yang aku pesan tadi. Aku mulai menyiapkan berkas yang mas Arlo minta, memasukkannya ke dalam map dan meletakkannya pada meja ruang tamu agar tak lupa untuk ku bawa.
Pukul 16.00 aku bersiap-siap mandi agar tak terlalu malam aku sampai ke kantor mas Arlo.
Pukul 16.45 aku sudah selesai bersiap-siap, dan aku menghubungi mas Arlo,
“Assalamualaikum jutek”
“Wa’alaikumsalam mas, ih masa dipanggil jutek mulu padahal udah gak jutek” jawabku kembali dengan nada jutek
“Hahaha tuh masih jutek”
“Ya udah aku gak jadi kesana deh” jawabku pura-pura marah
“Lho jangan dong, sini gih ni berkas-berkasnya siap di tanda tangani low, biar cepat di proses” katanya merayu
“Ya udah aku berangkat ke sana sekarang mas, Assalamualaikum”
“Iya sayang, Wa’alaikumsalam” jawabnya yang kemudian memutuskan panggilan telepon
‘Apa’an sih nih orang pake sayang-sayang segala, genit banget sih’ kataku pada diriku sendiri dengan jantung yang berdetak kembali kencang mendengar kata-kata gombalan itu
“Ma aku pamit ngurus kerjaan dulu ya” pamitku pada mama, beralasan mengurus pekerjaan karena aku tak ingin membuat mama terbebani dengan urusan perceraianku
“Iya nak, semoga lancar dan berhasil ya nak” kata mama
“Aamiin” jawabku sambil mencium tangan mamaku, dan kemudian keluar dari kamar mama
“Mbak Sari, titip mama ya. Aku mau ke kantor mas Arlo nyerahin berkas perceraianku sama Bagas” aku menitipkan mama pada mbak Sari
“Iya non, semoga semua berjalan lancar ya non dan semoga non bisa mendapatkan kebahagiaan kembali” ucap mbak Sari
“Aamiin, mbak tolong jangan bilang mama soal perceraianku, tadi aku bilang pergi ngurus kerjaan” jelasku pada mbak Sari.
“Siap non, hati-hati di jalan” aku tersenyum dan mengacungkan jempolku pada mbak Sari
“Mbak jangan lupa suapin mama ya” kataku setengah berteriak dari depan teras rumah
“Siap non” jawab mbak Sari juga setengah berteriak
Aku melajukan kendaraanku menuju kantor mas Arlo. Di perjalanan aku memikirkan kenapa mas Arlo semakin baik padaku? Kenapa dia semakin perhatian? Kenapa dia yang aku tahu pendiam ternyata jadi orang yang cerewet? Kenapa dia tak sedingin yang selama ini aku lihat saat bertemu di acara keluarga? Dan semakin-semakin yang lainnya….
Bersambung……