Apa jadinya ketika sebuah pernikahan terjadi hanya karena sebuah keterpaksaan semata?
Rumah tangga yang akan mereka jalani secuilpun tak ada cinta, bahkan sebuah kebencian yang lebih dulu hadir di antaranya.
Andini gadis lugu yang belum pernah sekalipun berpacaran. Arsena pria angkuh sekaligus menyebalkan, ia telah lama menjalin hubungan dengan seorang wanita yang selalu sempurna di matanya.
Namun papa tak menginginkan putranya menikah dengan wanita pilihannya, ia malah menjodohkan dengan seorang gadis sederhana yang telah di tolongnya pada suatu hari.
Mungkinkah rumah tangga semacam itu akan berujung bahagia? Ataukah malah berakhir dengan perpisahan.
Yuk ikuti ceritanya guys !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part.28. Malam yang dingin, bikin panas.
Malam telah tiba, bulan nampak purnama, cahayanya begitu bulat sempurna di malam ini. Andini duduk di kursi kecil yang ada di serambi sambil membaca beberapa pesan dari Vanya.
Liburan kuliah membuat mereka saling rindu. Apalagi wisuda tinggal beberapa hari. Pasti perpisahan dengan teman kuliah tak bisa terelakkan lagi.
Arsena juga ikut sibuk berkirim pesan dengan Asisten Doni perihal pekerjaan yang ia tinggalkan seharian ini, sesekali Dia juga membalas pesan dari Lili yang mengajaknya dinner, terpaksa Arsena menolaknya.
"Disini dingin yah ...." Kata Sena sambil menautkan resleting jaketnya mengamati sekeliling rumah yang nampak sepi. "Jam sembilan malam di desa sudah seperti tengah malam saja."
"Iya," jawab Andini singkat tak mengalihkan pandangannya dari benda pipih nya
Sore tadi beberapa orang yang kebetulan lewat menyapanya. Tetangga dan kerabat Andini terlihat ramah, bahkan ia juga terlihat segan kedatangan pria seperti Arsena di kampungnya.
"Di desa, kalau siang juga lebih sejuk, di kota saja yang panas. Gara-gara ada orang sombong macam Anda." Kata Andini yang masih fokus dengan gawainya. Kini ia beralih membaca novel online. Dengan kisah cerita seorang pria yang sangat membenci istrinya, namun ia sangat kehilangan setelah sang istri tak lagi disampingnya.
Banyak membaca membuat Andini mengantuk, ia akhirnya beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Arsena yang tak mau ditinggal sendiri.
"Ngantuk." Jawab Andini singkat. Andini masuk kedalam rumah tanpa mengajak Arsena.
Pria itu yang merasakan tubuhnya semakin kedinginan akhirnya ia masuk ke mobil. Malam ini ia memilih tidur di mobil saja. Dan esoknya ia akan pulang bersama Andini.
"Ndin, Nenek sudah buatkan kopi untuk suami kamu. Mana dia?" Tanya Nenek ketika bersisian jalan dengan Andini. Sambil tangannya membawakan secangkir kopi.
"Ada di luar Nek, lagi cari angin." Kata Andini sambil menguap, matanya sudah tak bisa lagi menahan kantuk.
Nenek mencari Arsena di serambi, seperti yang dikatakan Andini. Nenek tak menemukan cucu kesayangannya itu. Tak lama nenek melihat Arsena sedang duduk di dalam mobil. Pria itu melipat tangan dengan mata terpejam.
"Cu .... Kalian lagi marahan ya sama istri? Kok tidur disini? Arsena yang baru beberapa menit tertidur kembali terjaga begitu mendengar suara Nenek.
"Em, Nenek!" Arsena mengerjabkan matanya.
"Tidur di dalam, Cu. Diluar udara dingin."
"Tapi Nek ...."
"Kalau Andini marah jangan diambil hati. Nenek dulu suka marah, tapi suami nenek suka merayu, ketika akan tidur waktu yang tepat untuk meluluhkan hati seorang istri , Alhasil Nenek nggak jadi marah." curhat nenek mengenang masalalunya. Yang mengira Andini sedang marahan dengan suaminya.
"Baiklah Nek," Arsena turun dari mobil, masih merasa sangat dingin, ia memasukkan kedua tangannya kedalam jaket. Menolak keinginan nenek pasti akan membuatnya sedih.
Arsena, dan Nenek Sumi masuk rumah, berjalan beriringan. Arsena tau kalau kopi di atas meja tamu itu miliknya. Arsena mendekati meja dan meneguk kopi hingga habis.
Nenek Sumi juga tak lekas tidur, Ia memandangi Arsena dengan penuh kasih. Nenek sangat bahagia mengira Andini telah bahagia memiliki suami tampan dan baik seperti Arsena.
"Cu, tidurlah di kamar bersama Istrimu, walaupun ranjangnya sempit, Nenek kira masih cukup kalau hanya untuk berdua."
"I-iya Nek." Arsena terkejut dengan permintaan Nenek.tak menyangka wanita tua itu begitu percaya diri kalau Arsena mau tidur bersama Andini.
Nenek pasti tak mau tidur kalau Arsena tak mau masuk ke kamar. Terlihat ia tetap terjaga menemani Arsena sampai hari makin larut.
"Nek Arsena tidur dulu, pagi-pagi sekali kita harus balik, soalnya Arsena ada pekerjaan di kantor, meeting dengan clien.
"Iya Cu, buruan tidur sana, susul istrimu. Biar pagi tubuhnya seger lagi."
Arsena kini dilanda bingung sendiri, rencana ingin tidur di mobil jadi berantakan, gara-gara nenek Sumi.
Akhirnya Arsena memutuskan masuk ke kamar Andini.
Arsena membuka handle pintu yang sudah rusak itu. ternyata sang pemilik menguncinya dari dalam.
"Ndin ... Udah tidur ya? Buka donk mau tidur nie?"
"Tidur dimobil aja" teriak Andini.
"Buka aja Dulu, ada yang mau aku omongin." Kata Arsena lagi,sekarang suaranya pelan dan sedikit berbisik. Tapi Andini tetap bisa mendengarnya. Ruang yang kecil dan pintu yang sudah tak rapat membuat suara sekecil apapun terdengar.
Andini bangkit dari tidurnya dan membuka pengait karena kunci pintunya sudah lama tak berfungsi.
"Brukk!!" Arsena segera masuk dan merebahkan diri di kasur Andini.
"Malam ini aku tidur di sini," ujarnya sambil menguasai ranjang.
"Lalu aku bagaimana?" Protes Andini.
"Kamu juga disini, di sebelahku."
"Nggak bisa Ars, ranjang ini sempit, aku nggak bisa berbagi dengan orang lain. Belum lagi aku banyak bergerak kalau sedang tertidur.
"Semalam ini saja, aku juga sebenarnya nggak mau, tapi Nenek mengawasi kita terus. Aku nggak mau dia sampai sedih, ngelihat kenyataan hubungan kita."
Andini berfikir sejenak lalu setuju, kata Arsena benar, tak mungkin ia akan tega membuat nenek yang sudah tua harus bersedih.
Kini Andini duduk di tepian ranjang dan Arsena terlentang di sisinya, menyisakan ruang untuk Andini di tengah perbatasan dengan dinding.
"Suatu saat dia juga akan sedih, toh pernikahan ini tinggal beberapa waktu lagi. Sampai kamu jadi direktur aja kan."
"Udah tidur. Semua itu belum pasti."
Andini bingung maksud dari kata Arsena 'belum pasti.' Artinya dia bisa saja berubah.
"Tidur nggak? Ayo cepat naik."
"Aku nggak mau disebelah Anda, entar khilaf."
"Nggak, aku nggak tertarik sama kamu."
Andini kini memilih mengambil gulungan karpet dan menggelar di bawah ranjang.
Arsena membiarkan Andini melakukan yang dimau. Yang penting dia bisa tidur nyenyak malam ini. Melarang Andini yang keras kepala juga tak akan ada hasilnya.
Andini mengambil satu bantal dan selimut yang tergeletak di sebelah Arsena, pria itu tak memakainya karena ia tidur dengan memakai jaket dan celana jeans. Posisinya kini terlentang sambil melipat tangannya diatas dada.
Malam semakin larut, kesunyian tak terelakkan lagi, suara hewan malam sesekali terdengar, embusan angin malam masuk melalui dinding- dinding rumah terbuat dari kayu itu. Angin semakin berubah menjadi monster tak kasat mata. Arsena mulai merasai tubuhnya menggigil kedinginan, padahal kalau di rumahnya sendiri ia tak bisa tidur jika tanpa AC.
Angin yang berhembus begitu alami, semurni wajah gadis desa yang kini sudah mendengkur di karpet tipis nya, walau terlihat nyenyak tapi dilantai akan membuatnya masuk angin. Hati Arsena mulai terketuk untuk tak membiarkan.
"Ndin, dibawah pasti lebih dingin, kamu pindah ke atas saja." Arsena menggoyang tubuh Andini pelan.
"Hmmm .... "
"Ndin ...." Mencoba mengguncang sedikit lebih keras.
"Emmm .... nikmat sekali basonya " Andini malah ngigau, kata aneh itu keluar dari bibir Andini dengan mata terpejam, sambil menggaruk pipinya oleh gigitan nyamuk.
"Apa? Kamu ngigau ya ...." Arsena tertawa.
Dia diam-diam memandangi Andini tanpa sengaja senyum tipis terukir di bibirnya, ia membiarkan gadisnya tetap pada keadaannya tidur miring sambil memeluk guling.
"Kalau kuperhatikan, lama lama kamu manis juga ya?" Gumamnya.
Tak sadar beberapa menit berlalu, dihabiskan oleh Arsena memandangi wanita memakai gaun tidur warna maroon itu. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Arsena kini meraih lengan Andini dan mengalungkan di pundaknya pelan-pelan. Takut tidurnya akan terusik ia melakukannya sangat pelan
Arsena menyusupkan satu tangannya di tengkuk Andini dan satunya memeluk pinggang, Arsena melakukannya pelan dan amat hati- hati.
"Kalau tidur badan kamu berat juga ya?"
Arsena mengangkat tubuh Andini dengan susah payah, walaupun tubuhnya berotot dan kekar tetap saja rasanya bobot Andini terasa berat, orang tidur memang lebih berat daripada ketika bangun.
Andini yang merasakan tubuhnya mengalami goncangan ia memeluk tubuh Arsena sangat erat.
Andini tak sadar kalau tubuhnya sudah berpindah tempat. Yang ia rasakan kini sedang bermimpi berada di atas pesawat dan mengalami goncangan karena pesawat yang ia naiki sedang melintas di awan yang tebal.
Arsena menidurkan Andini disebelahnya, meraih selimut yang tergeletak di karpet lalu menutupnya ke tubuh Andini hingga yang terlihat tinggal kepalanya saja.
"Kenapa jantungku bergemuruh begini ya?" Arsena nampak gelisah menatap leher jenjang seputih susu di depannya,
Mikir apa aku ini, Lili lebih tinggi dan seksi, aku tak boleh memikirkan Andini sedikitpun." Untuk mengatasi semuanya ia meraih ponselnya dan menelepon Galang. pria yang baru menikah beberapa hari lalu.
"Lang, udah tidur belom? Selesaikan berkasnya segera ya? Besok pagi siapkan di meja! Ada clien yang mengajak kita kerja sama."
"Kenapa mendadak sih Bos, gue lagi sibuk bercocok tanam malam ini ... Si Bos bikin gagal rencana aja."
"Sial Lo, jujur banget sih."
"Maklum lah Bos. Pengantin baru, buruan nikah aja biar ada yang nemenin tidur, kayak gue sekarang, apalagi musim dingin begini, selalu butuh kehangatan, Bos."
"Ah gila kamu, Lang, ya udah gue tutup, pokoknya berkasnya besok pagi siap di meja gue."
"Sip, Bos. Jangan ganggu lagi, mau lanjutin ronde kedua soalnya."
"Gila kamu. Dasar ...."
Arsena mendengkus kesal. Niat hati pengen mengalihkan suasana pikiran yang lagi kacau malah ganggu orang yang sedang sibuk mencangkul.
Arsena menyibak rambut Andini dan mengecup pipinya pelan. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di sebelah Andini.
Sebagai pria Normal dan ini merupakan pertama kalinya tidur bersisian dengan wanita, jiwa laki- laki Arsena telah bangkit. Ia sangat gelisah dan sukar tidur.
Arsena memutuskan menutup kelambu dan mematikan lampu, mungkin dalam gelap malam akan memudahkan memejamkan Mata.
Memeluk tubuh Andini dari arah belakang membuat tidurnya nyenyak hingga hari mulai esok.
Arsena terbangun lebih cepat daripada Andini. Ia melihat istrinya begitu pulas. Akhirnya Arsena memutuskan turun dari ranjang untuk mandi terlebih dulu ketika hari masih gelap.
Arsena melihat Ana juga sudah bangun, wanita itu mulai bisa beraktifitas kecil seperti menyapu lantai dan mengelap debu di meja.
Ana tersenyum pada menantunya, melihat ada yang sudah mandi keramas pagi-pagi. Ia mengira tadi malam pasti telah terjadi sesuatu pada Andini dan Arsena.
Ana berdoa dalam hati, agar Andini dan Arsena cepat diberi momongan, supaya ia bisa menimang cucu pertamanya.
*kira kira Do'a Ana terkabul apa nggak gaess?
* jangan bosen-bosen klik, like, komen, Vote.
Kok gak dicerai aj lho istri kyk gitu…
Daripada dengan arsena yg g ada tanggung jawabnya sama sekali
Ayolah din cuekin sedikit aja si sena biar tau rasa dia
Andin d jodokanya
Meskipun km miskin tp kamu punya prinsip, jd lah wanita tangguh….👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽
Udah tau ibu tiri sableng masih aha d turut, anak kuliahan ko bloon ya