"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pencuri yang masuk ke rumahku."
-Sandra Ellen-
"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pemilik rumah yang barangnya kucuri."
-Senapati-
Suatu hari, Sandra Ellen mendapati rumahnya disusupi pencuri. Seluruh makanan di dapur, isi kulkas dan kue kering di konternya digasak.
Kali pertama, Sandra membiarkannya, ia berpikir si pencuri cukup aneh karena hanya menyasar dapurnya.
Si pencuri datang lagi sebulan kemudian, kali ini Sandra membekali dirinya dengan cctv, pentungan besi dan ponsel.
Lagi-lagi hanya dapurnya yang disasar.
Sandra mencoba memergokinya. Lalu memberikan si pencuri itu sejumlah uang dengan syarat untuk tidak kembali lagi ke rumah Sandra.
Besoknya si pencuri kembali lagi. Kali ini terang-terangan dari pintu depan, tanpa masker yang menutupi wajahnya.
Astaga, tampan sekali!!
Pikir Sandra.
Sena, si Pencuri, berniat untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya dengan bekerja untuk Sandra, senilai uang yang kemarin diberikan Sandra padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Nia langsung menangkap mata Kang Pur sambil tertegun.
Wanita itu terpaku di tempat.
Kang Pur dan Hassan juga mengernyit.
Kenapa Nia di sini? Dan bagaimana dia tahu kode akses masuk ke ruang perajin?
Pikir Kang Pur dan Hassan.
Kenapa ada orang di ruangan perajin? Kata Pak Sekuriti yang masuk hanya divisi marketing?!
Lalu Nia berpikir.
Tunggu...
Pak sekuriti ngga bilang 'hanya'.
Sial lagi aku!!
"Bu Nia. Lembur juga bu?" Hassan mencoba mencairkan ketegangan.
"Eh.. Sayaaaa..." Nia memutar otaknya. "Masuk kantor karena disuruh mengecek keamanan, siapa tahu masih ada pintu lain yang harus diperbaiki seperti punya ruangan Bu Sandra. Dan sepertinya pintu ruangan ini juga harus diperbaiki."
Nia mengangkat bahunya dengan canggung.
"Hah?" dengus Kang Pur dan Hassan.
"Iya, karena sepertinya tombol kodenya ngga berfungsi. Buktinya saya hanya mengetes pegangannya, langsung terbuka tuh."
"Anuuu..." Hassan menggaruk-garuk kepalanya karena spechless.
"Oh, begitu ya Bu Nia. Sepertinya tadi saya sempat dengar tombol kode dipencet sih bu." sahut Kang Pur sambil melipat kedua tangannya di dada.
Wajahnya langsung dingin saat menatap Nia.
"Pokoknya akan saya masukan ke rencana anggaran bagian umum di bulan ini ya Pak. Terimakasih, silahkan dilanjutkan pekerjaannya." sahut Nia sambil mundur teratur dan menghilang dari balik pintu.
Kang Pur dan Hassan menghela napas sambil menggelengkan kepala saat Nia sudah tidak tampak lagi.
"Sudah tidak bisa dipertahankan kerja kalau ngga jujur begitu..." gumam Kang Pur sambil berbisik, takut Nia masih ada di balik pintu dan menguping.
"Yah, Kang. Tapi kita ngga punya bukti. CCTV kan hanya mengarah ke arah brankas di sana. Lain kali kita pesankan 2 unit saja ya, untuk dipasang juga di pintu."
"Ngajuin kemana? Bagian umum?! Kan Bu Nia yang pegang! Langsung dia akan misuh-misuhin kita!" sahut Kang Pur.
"Mungkin kalau Pak Bima yang minta, langsung diproses Kang?!"
"Ya sudah, saya sekalian telepon beliau, untuk masalah perhiasan New York tadi dan pengadaan cctv. Kita sudahi dulu saja hari ini. Ngga bisa fokus kerja kalau begini."
"Iya, saya pastikan semua udah rapi terkunci." Hassan mulai beres-beres.
*****
"Miaaaa!" Sandra memamerkan piyama bermotif sama dengan yang sekarang dipakainya. Ukurannya lebih kecil, size untuk Mia.
"Waaah tante! Piyamanya samaaa!" seru Mia takjud.
"Iyaaa kita kembaran! Memangnya cuma Kenny sama Kenzo aja yang bisa kembar?! Heheheh!"
"Hehehe!" kekeh Mia.
Tubuh Mia baru saja dibasuh oleh suster pagi ini. Jadi saat yang tepat untuk memakai baju baru. Model yang dipilih Sandra model daster dengan bahan satin dingin yang lembut dan kancing di depan, jadi tidak mengganggu kateter dan alat infus Mia.
"Bang Sena ngga dibeliin yang kembar sama kita juga tante?" tanya Mia.
"Eh? Emmmmm..." Sandra langsung memutar otak untuk menjawab pertanyaan anak usia golden age.
"Sarapan dulu, biar Mia cepat sehat. Mau ke Seaworld kan katanya?" potong Sena sambil menarik meja makan lipat ke depan Mia.
Sandra menarik napas penuh kelegaan.
Pintar juga cara Sena mengalihkan perhatian Mia.
Berbarengan dengan itu, Kenny dan Kenzo meminta perhatian. Jadi Mia makan perlahan sambil menonton Youtube mengenai cara membuat cupcake, sedangkan Sena dan Sandra menggendong si kembar.
"Susu udah bikin?" tanya Sena.
"Belum, tapi Kenzo maunya makan. Udah clap-clap nih mulutnya."
"Aku gendong dua-duanya, kamu bikin susu dan makan."
"Popoknya perlu diganti."
"Baju ganti dimana?"
"Kamu mau mandiin dulu aja? Udah jam 8 ini."
"Boleh juga, kalo udah mandi lebih lahap makannya. Jadi sekarang minum susu dulu buat ganjel perut."
"Nih susunya. Aku siapin air mandi dulu di bak ya, kamu jagain bentar."
Mia memperhatikan Sena dan Sandra bahu-membahu mengurusi si kembar dengan sigap.
Mia tertegun.
Anak seumurnya memang belum bisa lancar mengartikan semua dengan kata-kata. Namun ada perasaan senang melihat Sena dan Sandra berinteraksi.
"Bang Sena... Sini!" sahut Mia sambil melambaikan tangan.
Sena mengernyit sambil mendekat. Di gendongannya terdapat Kenzo dan Kenny, sedangkan Sandra sibuk berkutat dengan susu dan bubur bayi instan di pojok ruangan.
"Apa?" bisik Sena.
"Tante Sandra cantiiik ya? Mia pingin kayak dia kalau udah gede!" bisik Mia.
"Iyaaaa. Nanti kan Mia dipanggilin guru, rajin belajar ya, biar jadi Boss sek si, kayak Tante Sandra." sahut Sena agak malas menanggapi Mia.
"Hihi Boss Sek si." Mia terkikik. Entahlah apa anak itu mengerti arti kata-kata yang ia utarakan barusan.
"Apa?" tanya Sandra saat menyadari kalau Sena dan Mia sedang cekikikan sambil melirik-lirik ke arahnya.
"Mia ngga sabar pingin sembuh, tante. Biar bisa tinggal sama tante Sandra." sahut Mia sambil menyeringai.
"Tante Sandra juga ngga sabar, Sayang." sahut Sandra sambil mencium pipi Mia.
"Tante cepet-cepet aja nikah sama Bang Sena biar kita bisa serumah semua."
Hm.
Sedetik...
Dua detik...
Kenny dan Kenzo menangis protes.
"Susu." sahut Sena.
"Iyaaa..." kata Sandra sambil menggendong Kenny.
*****
"Bima, Kang Pur dan Hassan mau ke sini. Kami mau meeting katanya sangat penting. Boleh?" tanya Sandra saat Sena sedang memandikan Kenny.
Sementara Sandra sedang mengeringkan tubuh Kenzo di atas tempat tidur.
"Kamu barusan minta izinku?" tanya Sena sambil menoleh.
Terlihat kalau pria itu benar-benar bingung dengan pertanyaan Sandra.
"Ja, iya." sahut Sandra.
"Kenapa?"
"Karenaaa... Kamu wali Mia dan Mia adalah pasien, otomatis kamar ini miliknya, yang mana kamu bertanggung jawab atasnya." kata Sandra sambil mengernyit. Ia juga tidak yakin atas perkataannya sendiri.
"Yaaaa. Kamu yang membayar kamar ini, jadi terserah kamu, sebenarnya." kata Sena.
"Hem. Aku perlu memastikan kalau Mia tidak terganggu dengan keberadaan teman-temanku."
Sena tersenyum tipis sambil menggendong Kenny yang sudah selesai ia mandikan, ia menghampiri Sandra.
"Terserah Nyonya saja." kata Sena sambil memghanduki Kenny dengan berdiri tepat di sebelah Sandra.
Lalu hening beberapa saat, hanya terdengar suara Mia dan gamenya.
"Sena." bisik Sandra.
"Hm?"
"Aku semalam mendengkur, tidak?"
"Entahlah, aku tidur nyenyak."
"Aku juga. Entah kenapa terasa hangat dan nyaman. Garnet Grup memang tidak main-main kalau soal fasilitas, semua bermutu tinggi sampai aku berasa tidur di rumah sendiri."
Sena diam.
"Hangat dan Nyaman?" pria itu mengulang perkataan Sandra.
"Iya." Sandra mengangguk.
"Itu mungkin..." Sena meliriknya dengan seulas senyum jahil. "...mungkin karena kamu tidur sambil memelukku semalaman." Bisik Sena.
Sandra langsung diam.
Wanita itu bagaikan mengalami konslet beberapa saat. Otaknya tidak merespon apa pun.
Secara bersamaan lidahnya kelu dan jantungnya langsung berdebar kencang.
"Ha?" tanya Sandra meminta konfirmasi ulang.
"Aku yakin kamu dengar omonganku barusan." bisik Sena sambil tersenyum tipis.
"Aku memeluk kamu semalaman? Tahu dari mana? Kamu yakin? Kamu tidak bermimpi kan? Atau itu jangan-jangan harapan kamu? Berharap aku memelukmu?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari Sandra.
"Aku yakin. Apa perlu kutanya ke Mia sebagai saksi? Dan Suster yang mengganti selang infus Mia tadi subuh?" Tanya Sena masih dengan seringai jahilnya.
Wajah Sandra sangat merah, dan bibirnya merengut.
"Aku tidak mungkin melakukan itu. Kamu bohong." dengus Sandra.
"Oh, ngga percaya? Kutanya Mia nih."
"Udah ngga usah! Ih bawel kamu!" Sandra mencengkeram lengan Sena.
"Hehe." kekeh Sena. "Jadi kamu beranggapan, aku hangat dan nyaman."
"Kannst du die klappe halten, Sena ?!" (Bisa diam tidak, Sena) bisik Sandra.
"Sebagai balasannya, nanti malam aku akan tidur memeluk kamu." Bisik Sena dengan senyum dikul um.
Degg!!
Sandra jadi lebih tegang dari yang tadi.
Sial!
Batin Sandra, antara senang, kaget dan waspada jadi satu.
Sena hanya bercanda atau bersungguh-sungguh?!
"Aku bercanda." tambah Sena.
Rasanya Sandra ingin memukul dinding saat itu juga, kalau saja tidak ada anak-anak di sini.
Kenapa harus bercanda Senaaaa?! Kenapaaaa?!
Jerit Sandra dalam hati.
Sandra menggigit bibirnya tanda geram sambil membalurkan minyak telon ke kaki Kenzo.
"Tapi kalau kamu ingin beneran sih ngga masalah buatku." Desis Sena.
Tetap sambil menyeringai lebar khasnya.
Sudah!
Pekik Sandra dalam hati.
Sudah cukup main-mainnya!
Sandra meletakkan Kenzo di strollernya lalu kembali ke sebelah Sena.
"Nanti malam, kamu yang peluk aku. Aku serius. Jelas?!" desis Sandra.
Tapi ia tetap tidak berani menatap mata Sena. Ia berbicara sambil menatap Kenny.
"Ha?" Sena tampak terperajat.
Wanita ini benar-benar serius?!
Batinnya tidak yakin.
"Gimana? Oke?!" tanya Sandra, namun dengan penuh penekanan dan paksaan.
"Eeerrrh..." gumam Sena, tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menatap Sandra dengan wajah bengongnya.
"Oke, deal." sahut Sandra menyudahi perbincangan yang timpang, sambil meraih Kenny dan mendudukkan anak itu di samping kembarannya, lalu menyambar piring yang berisi bubur bayi instan.
Beberapa saat kemudian, mereka hanya saling diam dengan Sandra yang aktivitasnya menyuapi si Kembar, sampai Mia mengucek matanya karena mengantuk.
"Bang Sena aku pingin bobo lagi." sahut Mia.
"Iya tidur aja. Tapi sebentar lagi dokter datang memeriksa kondisi kamu."
"Iya, nanti Mia bangun." kata Mia sambil menguap.
Sambil memperhatikan Mia, Sena duduk di samping Sandra. Wanita itu baru selesai menyuapi si kembar.
"Kamu..." Sena membuka omongan. "Ngga ada yang marah kan, kalau nanti malam aku tidur peluk kamu?"
Astagaaaa...
Pertanyaan macam apa ini?!
Jantung Sandra terasa mencelot keluar.
"Memang siapa yang akan marah?"
"Entahlah. Pacar? Suami? Gebetan?"
"Aku ngga punya itu semua. Aku fokus kerja selama ini."
"Masa? Orang secantik kamu?!"
"Aku mati rasa sama cowok. Kamu lihat Rama, dan ada beberapa lagi yang mirip dia. Belum kakakku Gerald. Otomatis level kriteriaku terhadap pria sangat tinggi."
"Lalu? Kenapa kamu rela kupeluk? Atau kamu cuma bercanda."
"Tadi kan aku bilang, aku serius."
"Kenapa aku?"
"Kalau aku tanya ke kamu, pertanyaan yang sama. Apa jawaban kamu?"
"Aku ngga tau." kata Sena.
"Aku juga sama. Aku ngga tau." balas Sandra.
"Hm..."
Apa ini tandanya aku bisa berharap?!
Pikir mereka berdua.