NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Lentera di Tengah Badai

Gerimis malam membasahi aspal jalanan Menteng saat mobil Alphard hitam milik keluarga Atmadja berbelok memasuki gerbang besi raksasa yang dijaga ketat. Di kursi belakang, Vira menyandarkan kepalanya pada bantalan kulit yang empuk. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, napas yang ia embuskan tidak terasa seberat biasanya. Pertempuran di ruang rapat Narendra Group siang tadi memang menguras energi, namun bayangan akan sepasang mata bulat Elvano yang menantinya di ujung jalan ini entah bagaimana menjadi penawar lelah yang instan.

Ketika pintu mobil dibukakan, Vira melangkah turun dan langsung disambut oleh kehangatan lobi rumah utama. Namun, suasana malam ini terasa berbeda dari hari Sabtu lalu. Lampu gantung kristal yang biasanya memancarkan cahaya putih terang kini diredupkan, digantikan oleh pendar kuning temaram yang menciptakan kesan sangat intim. Alunan musik jazz instrumental mengalun lembut dari sudut ruangan.

"Selamat malam, Ibu Vira," sapa Yuda dengan anggun, membungkuk hormat. "Tuan Adrian dan Den Elvano sudah menunggu Anda di ruang makan keluarga. Silakan lewat sini."

Vira mengangguk tipis, merapikan gaun rajut kasual berwarna cokelat muda yang ia kenakan. Dia melangkah mengikuti Yuda melewati koridor panjang yang dihiasi lukisan-lukisan klasik.

Begitu memasuki ruang makan, pemandangan di hadapannya seketika mengunci langkah kaki Vira. Di tengah ruangan yang luas, sebuah meja makan kayu jati panjang telah ditata dengan sangat apik. Berbagai hidangan rumahan aroma bumbu sup buntut, ayam goreng mentega, dan tumis sayur segar menyeruak, membangkitkan selera makan siapa pun.

Namun, yang membuat hati Vira bergetar adalah pemandangan dua sosok pria beda generasi di sana. Adrian Atmadja, sang kaisar bisnis yang ditakuti di dunia korporat, malam ini hanya mengenakan kaus polo hitam santai. Di sampingnya, Elvano sedang duduk di atas kursi tingginya, memegang sendok plastik dengan wajah cemberut yang teramat menggemaskan.

"Tante Cantik!"

Mata Elvano seketika berbinar begitu menangkap sosok Vira. Tanpa memedulikan sendoknya, bocah itu langsung merosot turun dari kursinya dan berlari kencang memeluk kaki Vira.

Vira langsung berlutut, menyambut tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Aroma minyak telon dan bedak bayi yang khas dari tubuh Elvano seketika memenuhi indra penciumannya. "Halo, Jagoan. Maaf ya Tante agak terlambat, jalanannya sedikit macet tadi."

"Nggak apa-apa, yang penting Tante datang." Elvano mengecup pipi Vira sekilas, membuat Vira tertegun sebelum akhirnya tertawa renyah.

Adrian berjalan mendekat, sepasang mata elangnya menatap Vira yang masih memeluk putranya. Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk senyuman hangat yang tidak pernah dia perlihatkan pada dunia luar.

"Dia benar-benar mogok makan lagi sebelum kamu menginjakkan kaki di rumah ini," ucap Adrian. Suaranya yang bariton terdengar seperti melodi yang menenangkan di telinga Vira. Adrian mengulurkan tangannya, membantu Vira berdiri. "Mari duduk. Makanannya keburu dingin."

Makan malam itu berlangsung dengan penuh tawa, sebuah pemandangan yang sangat langka di kediaman Atmadja yang biasanya sunyi. Sebagian besar waktu diisi oleh celotehan Elvano yang menceritakan tentang gambar dinosaurusnya di sekolah. Vira dengan sabar mendengarkan, sesekali menyuapkan potongan ayam ke dalam mulut Elvano yang langsung dikunyah dengan lahap oleh bocah itu.

Adrian sendiri lebih banyak diam, menikmati pemandangan di hadapannya sembari menyesap kopi hitamnya. Bagi Adrian, kehadiran Vira di meja makan ini seolah melengkapi potongan puzzle hidupnya yang sempat hilang selama tiga tahun terakhir. Wanita itu tidak hanya membawa keceriaan bagi Elvano, tetapi juga membawa kedamaian ke dalam jiwanya yang telah lama membeku.

Setelah makan malam usai, Elvano menarik tangan Vira menuju ruang keluarga yang terletak di dekat perapian buatan. Di sana, sebuah karpet bulu tebal telah dipenuhi oleh tumpukan buku cerita bergambar.

"Tante, bacain ini..." Elvano menyodorkan sebuah buku cerita tentang petualangan anak lumba-lumba.

Vira duduk di atas karpet, bersandar pada sofa. Elvano tanpa ragu langsung merebahkan tubuhnya, menjadikan paha Vira sebagai bantal tidurnya yang nyaman. Sentuhan tangan lentik Vira mulai bergerak di helai rambut Elvano, membacakan baris demi baris cerita dengan suara yang lembut dan berirama.

Adrian duduk di sofa tepat di depan mereka, memperhatikan bagaimana putranya perlahan mulai memejamkan mata, terbuai oleh suara Vira yang menenangkan. Hanya dalam waktu lima belas menit, napas Elvano mulai berangsur teratur. Bocah itu telah tertidur lelap, memeluk erat sebuah boneka lumba-lumba kecil di dadanya.

Vira menghentikan bacaannya. Dia menatap wajah tidur Elvano dengan pandangan yang teramat dalam, penuh kerinduan sekaligus rasa syukur yang tak terucapkan.

"Kamu memiliki naluri keibuan yang sangat indah, Vira," ucap Adrian perlahan, memecah keheningan malam yang sunyi.

Vira tertegun, tangannya yang berada di rambut Elvano bergerak pelan. Dia mendongak, menatap Adrian dengan senyuman getir yang tersamar di balik cahaya temaram ruangan. "Tuan Adrian... Anda tahu bahwa saya tidak akan pernah bisa melahirkan seorang anak. Kata 'ibu' seolah menjadi sesuatu yang tabu untuk wanita cacat seperti saya."

Adrian meletakkan cangkirnya, lalu berpindah posisi. Pria bertubuh tegap itu turun dari sofa dan ikut duduk di atas karpet bulu, tepat di hadapan Vira. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Vira bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu.

Adrian mengulurkan tangan kokohnya, menggenggam jemari tangan kiri Vira yang bebas. Sentuhan kulit mereka mengirimkan sengatan hangat yang menjalar langsung ke dada Vira.

"Dengarkan aku, Vira Mahendra," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat serius, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Vira tanpa celah untuk menghindar. "Seorang ibu tidak didefinisikan oleh sebuah rahim yang utuh. Seorang ibu didefinisikan oleh cinta, ketulusan, dan rasa aman yang mampu dia berikan pada anak yang membutuhkannya. Lihat Elvano... dia tidak peduli tentang masa lalumu, dia tidak peduli tentang rekam medismu. Yang dia tahu, kamu adalah tempat ternyaman yang ingin dia tuju setelah ayahnya."

Air mata yang sejak tadi ditahan Vira akhirnya lolos juga, membasahi pipi tirusnya. Kata-kata Adrian bagai gada raksasa yang menghancurkan sisa-sisa rasa tidak percaya diri yang selama ini ditanamkan oleh makian Siska dan Arka di masa lalu.

Adrian mengulurkan tangan kirinya, dengan lembut menghapus air mata di pipi Vira menggunakan ibu jarinya, persis seperti yang dia lakukan pada hari Sabtu kemarin.

"Jangan pernah menganggap dirimu kurang, Vira. Di mataku dan di mata Elvano, kamu adalah wanita paling sempurna yang ingin kami miliki di dalam hidup ini," bisik Adrian. Suaranya merendah penuh perasaan yang mendalam. "Jika kamu mengizinkan... biarkan aku dan Elvano yang menyembuhkan seluruh luka masa lalumu. Kamu tidak perlu berjalan sendirian lagi di kegelapan."

Vira menatap manik mata Adrian, mencari kebohongan atau sekadar rasa kasihan di sana. Namun, yang dia temukan hanyalah ketulusan yang murni, sebuah komitmen mutlak dari seorang pria yang siap mempertaruhkan seluruh dunianya demi melindunginya. Dinding es di hati Vira Mahendra malam itu tidak lagi retak. Dinding itu telah sepenuhnya runtuh, mencair di bawah kehangatan sang kaisar bisnis yang kini resmi menjadi pelindung jiwanya.

Momen manis yang sangat mendalam dan penuh emosi. Hubungan Vira dan Adrian kini telah melangkah ke tahap yang jauh lebih serius.

1
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!